Ellena

Ellena
55


__ADS_3

Jakarta, Indonesia..


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dari Inggris, Ellena terbang lagi menuju Jakarta setelah mengecek semua berkas yang penting.


Launching galery baru ini sangat dia idam idamkan, tapi sayang anaknya harus terpisah benua dan juga lelaki itu juga tak akan bisa datang.


Setelah Leo menelpon saat dia baru merebahkan badannya. Mungkin disana sekarang pukul empat sore, mengingat disini sudah pukul 10 malam.


Mereka sedang apa?


Seandainya jarak Manchester dekat tak perlu 15 jam perjalanan, Ellena dengan senang hati pulang sekarang.


Anak anaknyapun tadi hanya mengiriminya pesan saja.


Mereka apa tak merindukan ibunya.


Tok tok tok...


Lamunannya hilang saat pintu hotelnya diketuk oleh seseorang.


Ellena berjalan kearah pintu dan mengintipnya lewat lubang khusus yang dipasang dipintu. Walaupun ini hotel bintang lima tapi tetap harus waspada bukan.


Seorang pelayan hotel.


Ellena segera membuka pintu, dan terlihat pelayan perempuan itu tersenyum.


"Selamat malam"


Ellena mengerutkan dahinya saat perempuan itu mengucapkan bahasa asing yang sama sekali tak dia mengerti.


"Hah... english please..."


Dan sekarang perempuan pelayan itu yang terlihat panik dan khawatir.


"Hmm ini..Ada kiriman flowers to miss Ellena Russel"


Ellena mengerutkan keningnya, ayolah perempuan ini masih muda dan dia juga bekerja di hotel berstandart internasional, bagaimana bisa dia tak lancar berbahasa Inggris?


"Oh... thank you... wait!!"


Ellena mengambil bunga itu dan berlari kedalam kamarnya, mengambil dompetnya, sedangkan pelayan itu bingung, kenapa pintu kamar ini masih dibuka saat orangnya didalam, tapi dari kata kata tadi, sang pelayan mendengar kata 'wait' yang artinya tunggu,kan.


Tak berapa lama Ellen keluar danĀ  memberinya uang sebesar 100 dollar. Dia lupa menukarkan uang. Apalagi semua keperluannya diurus oleh asistennya, jadi hal itu dia lupakan.


Ellena melihat pelayan itu begitu girang dan mengucapkan terima kasih berkali kali.


Ellena mengangkat alisnya, apa 100 dollar begitu berharga?


Tak mau ambil pusing, Ellen masuk dan segera melihat siapa yang mngiriminya bunga tengah malam.


We will found again, sweetheart...


D


Ellena menegang, siapa ini? D? apa ada orang yang mendendam? Bunga mawar merah ini lebih ke kesan teror dari pada ungkapan cinta.


Ellena melempar bunga itu melewati balkon, Ellena tak akan mau tahu siapa yang akan terkena bunga yang jatuh dari lantai 17 itu.


Segera tidur adalah pilihan baik.


*****


Saat terbangun kepalanya begitu pusing, mengingat semalam dia meminum wine yang tersedia dikamarnya.


Ponselnya terus saja berdering, siapa yang mengganggu tidurnya.


"Ya...."


"Nyonya apa kau lupa, kau harus mengecek kembali persiapan launching kita"


'Ini masih pagi"


"Apa gorden kamar hotelmu hitam? Inu sudah pukul 10 pagi"


"Apa? Aku akan bersiap"


Ellena segera membilas tubuhnya dengan kilat, dan memakai make up serta mini dressnya. Ellena mau memberi kesan glamour dan jug tegas pada setiap riasannya.


Ellena segera keluar dan segera menemui supir pribadinya yang mengantar jemput Ellena saat di Jakarta.

__ADS_1


Ellena mengeluh, uhh macet.


"Masih lama?"


"Belum tahu nyonya, ini sangat panjang"


"Oh..."


Ellena segera menyenderkan tubuhnya lagi, dan mengambil macbooknya dari dalam tas.


Mengecek email, dan saat itu pula kedua anaknya melakukan panggilan video.


"Hai kembarnya mommy"


"Mommy aku merindukanmu"


"Mommy juga .. kalian sedang apa?"


"Emmm... kami sedang menunggu kakek dan nenek untuk lari pagi"


"Apa menyenangkan disana?"


"Lumayan, setidaknya tak ada pengasuh sok cantik itu"


"Ella tak boleh berbicara seperti itu"


"Aku tahu mom.."


"Daddy mu dimana?"


"Emm daddy sepertinya masih tidur, semalam daddy tak tidur gara gara pekerjaannya"


"Oh.. bilang pada daddy mu untuk tak terlalu lelah"


"Tenang mom... daddy sangat tahu itu"


"Mommy sedang naik mobil?"


"Iya, mommy akan kekantor"


"Semangat mom...byeee..."


Panggilan itu terputus, hah... Ellena semakin rindu.


Seandainya dia bisa menghabiskan waktu yang santai dengan keluarga kecilnya.


Keluarga kecil?


Tentu!! Leo, Dirinya, Ello dan juga Ella.


Tak dipungkiri bukan, kalau Ellena memang berharap pada lelaki matang itu. Usia hampir 37 bukan kendala.


Ya bukan kendala...


Mapan, matang, karir bagus dan menurut pengalaman seranjangpun tak mengecewakan.


Sial.. hanya satu kendalanya, mereka berbeda kepercayaan.


"Pak..."


"Ya nyonya"


"Dimana aku bisa membahas dan bertanya tentang Islam?"


Sopir paruh baya itu mengerutkan keningnya sedikit kaget dengan pertanyaan sang majikan.


"Untuk apa?"


"Hanya ingin berdiskusi"


Berdiskusi? Sopir itu semakin heran, wanita pendatang ini ingin bertanya apa tentang Islam saat dirinya sudah ada dinegara mayoritas Islam.


"Saya tak terlalu tahu nyonya, tapi disekitar sini banyak masjid besar dan memiliki ustads besar"


"Ustads?"


"Guru"


"Oh....baiklah terima kasih, bapak beragama apa?"

__ADS_1


"Islam nyonya"


"Apa bapak bahagia?"


"Bahagia, setiap kebahagiaan dan kesedihan tergantung rasa bersyukurnya masing masing individu"


"Bersyukur?"


"Ya, apa hari ini nyonya sudah berterima kasih pada Tuhan karena nyonya masih bernafas? Setidaknya kami memiliki kewajiban yang mengharuskan kami beribadah pada Tuhan kami sehari 5 kali"


"Apa malah tak merepotkan?"


"Itu tergantung dengan hati masing masing nyonya"


"..."


"Kadang orang lain berkata apa yang harus disyukuri? Kenapa masih saja bertahan? Kenapa tak cari jalan pintas saja?"


"..."


"Semua itu terlintas dibenak saya, tapi saat menatap istri saya yang masih bernafas dan tersenyum walaupun seluruh hidupnya dihabiskan diatas kursi roda membuat saya sadar, saya memiliki hal yang indah saat putus asa.... saat saya ingin berbohong dan mencari jalan keluar dengan instan tapi itu tindak kriminal, saya ingat anak anak saya yang mencium tangan saya saat saya akan berangkat bekerja serta istri saya yang mendoakan saya dengan tulus"


"..."


"Saya punya kemampuan berbahasa Inggris lancar, mungkin dengan keadaan sekarang ini saya bisa saja membodohi para klien saya, tapi saya tak bisa, karena setiap saat saya melihat wajah istri saya dan kedua anak saya dengan wajah ceria dan masih bernafas"


"..."


"Saya takut, kalau saya berbohong, membodohi orang lain ataupun berhenti bersyukur, Tuhan marah dan mengambil mereka"


"Bapak... terima kasih"


"Untuk apa Nyonya, saya malah terlalu banyak berbicara"


"Tidak pak... saya berterima kasih telah memberi saya petunjuk"


Ellena sebenarnya terkesiap setiap sopir itu mengucapkan fakta fakta tentang hidupnya.


Dan berkat cerita itu, Ellena menjadi takut, bagaimana kalau Leo dan juga kedua anaknya diambil karena tak mau bersyukur selama ini.


Melihat sopir itu, dia harus berjaga setiap saat karena klien yang menyewanya adalah para pebisnis yang setiap saat pergi kemanapun untuk rapat ataupun meninjau proyek tapi dia tetap bersyukur.


Sedangkan Ellena, dia bahkan bisa saja mandi uang tapi kenapa rasa syukur itu jarang terucap.


Ellena merogoh ponselnya, dan mengirimi Leo pesan singkat.


To: My Dominic


Terima kasih Leo, kamu sudah mau menemaniku yang buruk ini...


*****


Dominic mansion, Old Trafford


Leo mengerutkan keningnya, saat menerima pesan dari Ellena, kenapa dengan wanita ini?


"Liam.. siapkan jet pribadi"


"Baik..."


"Persiapkan tiket liburan"


"Kemana?"


"Bali, 2 orang"


"Kita?"


"Kalian tunggu perintah selanjutnya"


"Selalu saja..."


"Shadow of love...?"


"Siap"


"Baik.. tunggu perintah selanjutnya..."


"Baik...."

__ADS_1


***********


__ADS_2