
Malam harinya sepulang Darwin dari kantor, Asmira masih belum tertidur. Ia sengaja menunggu suaminya pulang kerja. Karena ada hal yang ingin ia bicarakan mengenai permintaan Evano dan juga berita kehamilannya.
Asmira sengaja minum kopi agar ia tidak ketiduran. Ia masih setia dengan novelnya, halaman demi halaman ia baca sembari menunggu Darwin.
Asmira mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, ia mengintip dibalik gorden jendela kamarnya. Darwin segera masuk, karena ia punya kunci duplikat.
“Sayang, tumben belum tidur.” Ketika Darwin masuk ke kamarnya ia mendapati Asmira masih terjaga.
“Ya, aku menunggu Mas pulang,” sahut Asmira, ia bangun dan menyambut kepulangan suaminya seperti biasanya.
Selesai mandi dan memakai baju tidur, Darwin membaringkan tubuhnya di sebelah Asmira.
“Aku lelah banget sayang,” ujar Darwin sembari memejamkan matanya.
“Ya Mas, besok weekend, Mas bisa istirahat.”
“Enggak bisa sayang, besok aku turun lapangan,” jawab Darwin dengan mata masih terpejam dan suaranya semakin melemah.
“Tapi Vano mau jalan-jalan, Mas.”
Darwin tidak menjawab omongan Asmira, ia sudah tertidur karena kelelahan. Asmira menggoyangkan tubuh suaminya. Namun ia menghentikan aksinya, tidak ada gunanya. Darwin benar-benar sudah tertidur.
Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, entah kenapa semenjak ia hamil, perasaannya lebih sensitif, emosinya tidak stabil, ia bisa tiba-tiba bahagia dan seketika ia bisa sedih.
Asmira memutuskan untuk segera tidur, walau pikirannya tidak tenang dengan sejuta bayang-bayang aneh yang terus muncul di kepalanya. Setelah beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya namun ia sama sekali tidak bisa tertidur.
“Ya Tuhan, kenapa aku begini,” gumam Asmira. Ia meneguk air putih, dan beberapa kali menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ia hempaskan perlahan-lahan.
Asmira turun dari ranjang, ia menuju kamar Evano. Setibanya ia di kamar putranya, ia tersenyum melihat Evano terlelap dalam tidurnya dengan wajah yang sangat menggemaskan. Ia kecup pelan kening putranya.
Asmira berbaring di samping Evano. Dan tidak lama kemudian, ia menguap, ia merasa sangat kantuk, tanpa menunggu waktu lama ia langsung tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00.
Pagi harinya Darwin bangun seperti biasanya, sang istri tidak berada di samping karena sibuk mengurus keperluan ia dan Vano.
Selesai mandi dan berpakaian rapi Darwin turun ke dapur. Namun ia sangat terkejut melihat suasana dapur yang sepi dan Asmira tidak berada di sana.
“Sayang,” panggil Darwin. Namun Asmira tidak menyahut karena ia masih terlelap bersama Evano.
Darwin naik ke lantai dua, ia masuk kamar Evano. Dan ia melihat Asmira tertidur pulas di samping putranya. Darwin mendekati mereka, ia kecup kening keduanya, kemudian ia segera berlalu pergi.
__ADS_1
Evano kaget saat ia terbangun mendapati sang Mami berada di sebelahnya dalam keadaan masih tertidur.
“Mi, bangun Mi ....” panggil Vano. Namun Asmira masih saja tertidur pulas.
“Mami, ayo bangun,” panggil Vano lagi.
Ia belai lembut pipi Asmira, Evano terkejut dan sangat panik ketika menyentuh kening Maminya karena demam. Evano segera berlari keluar berharap Darwin berada di kamarnya.
“Papi,” panggil Evano.
Evano menangis histeris ketika melihat Darwin tidak di rumah, mobilnya juga tidak ada. Ia segera menghubungi Jessica memberitahu bahwa Asmira sedang demam tinggi dan ia sendirian di rumah.
Sembari menunggu kedatangan Jessica, Evano terus memanggil Asmira dan mengelus-elus pipinya.
“Mami bangun, aku enggak mau Mami kenapa-kenapa.” Air mata Vano berlinang di pipinya.
Tidak lama kemudian Jessica tiba, kebetulan hari ini ada Valen, karena hari ini merupakan hari libur. Mereka segera membawa Asmira ke rumah sakit.
“Dokter bagaimana keadaan adik saya?” tanya Jessica saat dokter Lidya keluar dari ruang pemeriksaan.
“Suaminya mana?” tanya dokter Lidya.
“Ada Bu, sedang menuju kemari,” sahut Jessica berbohong.
Jessica teringat, kemarin Asmira mengatakan ia periksa sendiri kandungannya. Jadi Darwin tidak mengetahui apa pun.
“Memangnya ada hal serius yang menimpa adik saya, Dok?” tanya Jessica.
“Justru itu yang ingin saya tanyakan pada suaminya, apa dokter Razia tidak memberitahu agar ibu Asmira tidak boleh banyak aktivitas dan banyak pikiran. Kandungannya lemah,” ujar dokter Lidya geram.
“Jadi bagaimana kondisinya sekarang, Dok?” tanya Valen.
“Ibu Asmira masih belum sehat, ia harus banyak istirahat. Jika tidak, kemungkinan akan terjadi keguguran sangat besar,” lanjut dokter Lidya lagi.
Dokter Lidya memberikan resep obat pada Valen, kemudian ia segera permisi.
Mereka segera menemui Asmira yang baru saja siuman. Jessica benar-benar kesal pada adiknya, bahkan hari libur ia sibuk bekerja. Jessica merasa ada hal yang mengganggu rumah tangga keduanya.
“Mbak, aku di mana?” tanya Asmira.
__ADS_1
“Sayang, tenang ya. Kita lagi di rumah sakit,” sahut Jessica.
“Mas Marcell mana, Evano?” tanya Asmira.
“Ssttttt!” Jessica meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
“Kamu istirahat saja dulu, Evano aman bersama Mbak, Marcell lagi menuju ke sini.” Lagi-lagi Jessica harus berbohong.
Tidak lama kemudian Martha dan Marco tiba di rumah sakit, begitu mereka datang.
“Sayang, kamu sakit apa?” tanya Martha.
“Enggak kok Ma, cuma demam biasa, dokter bilang itu hal yang wajar di awal kehamilan,” sahut Asmira.
“Kamu hamil lagi, sayang?” tanya Martha. Ia sangat senang mendengar kabar bahagia itu.
“Pa, kita akan punya cucu lagi.” Martha sangat girang, begitu juga Marco.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol Jessica langsung keluar, ia ingin menghubungi Pratiwi tanpa sepengetahuan dari mereka semua. Ia tak mau membuat keadaan semakin rumit.
“Halo Pratiwi,” sapa Jessica dengan nada sedikit tidak bersahabat.
“Ya, Bu Jessica, ada yang bisa saya bantu?” sahut Tiwi di balik telepon.
“Bisa tolong sampaikan pada Darwin agar ia segera kembali karena istrinya sedang sakit,” ujar Jessica.
“Maaf, Bu Jessica. Hari ini saya tidak masuk, kebetulan pak Darwin juga sedang kosong.”
Deg.
Jantung Jessica berdegup kencang mendengar jawaban Pratiwi. Lalu jika kosong, ke mana ia sekarang? Jessica tidak habis pikir dengan adiknya itu.
“Oke terima kasih Tiwi.”
Jessica memutuskan panggilan dengan asisten Darwin itu. Kemudian Valen pulang, ia baru saja menebus obat di apotek.
Tidak lama kemudian dokter memperbolehkan Asmira pulang, dengan syarat ia tidak boleh kelelahan dan banyak pikiran.
“Ma, Pa, titip Elia dan Evano dulu, ya. Bilang sama Vano Asmira tidak kenapa-kenapa. Aku akan mengantar Asmira pulang dulu, setelah itu aku jemput mereka.”
__ADS_1
Jessica segera mengajak Asmira pulang bersamanya. Awalnya Asmira menolak, ia ingin menunggu Darwin tiba di sana, namun karena sikap Jessica yang tegas, Asmira tidak berani membantahnya lagi.
jangan lupa like, ya