
Sore harinya Rose pulang dengan wajah yang tak bersahabat. Asmira tidak berani menyapanya, kakaknya itu pasti sudah mendengar kabar bahwa dirinya telah kembali ke pelukan Darwin. Rose tentu kecewa karena Asmira tak melakukan seperti apa yang ia pinta. Namun apa boleh dikata, semua keputusan ada pada Asmira, dan ia telah memilih jalannya sendiri. Rose tidak bisa ikut campur terlalu jauh mengenai persoalan rumah tangga adiknya.
Sementara Asmira asyik menemani Evano bermain, si kembar sudah tertidur pulas. Tiba-tiba terdengar ponsel Asmira berdering. Ia bangun dari duduknya lalu melihat panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Asmira mengerutkan keningnya sebelum meletakkan ponsel ke telinganya. Ketika Asmira menyapa, ia baru mengetahui bahwa Darwin yang menghubunginya sore itu. Ponsel Darwin lowbat, ia menghubungi Asmira menggunakan ponsel Pratiwi. Darwin meminta Asmira tampil cantik malam nanti, ia akan mengajaknya makan malam berdua. Malam nanti ia akan menjemputnya setelah pulang kerja.
Asmira senyum-senyum sendiri. Kebahagiaan yang selama ini menghilang darinya, kini kembali menyapanya. Hidupnya serasa telah kembali sempurna seperti dahulu lagi. Setelah panggilan itu berakhir, ia kembali menemani Evano sampai matahari tenggelam di ufuk barat, hari telah berganti malam. Ia pun segera berkemas untuk dinner dengan suaminya malam ini.
•••
“Bu, aku titip si kembar dan Evano, ya?” pinta Asmira. Bu Ida mengangguk lemah sembari menggendong keduanya. Ada rasa keberatan, tapi ia tidak mengutarakannya.
Sebelum berangkat, ia tak lupa menciumi putra-putrinya. Kemudian Asmira segera berlalu, Darwin telah menunggunya di bawah. Ia tampil cantik dengan gaun pas yang melekat di tubuhnya. Membuat jakun Darwin naik turun saat melihatnya. Rindu kepada sang istri sudah lama terpendam. Darwin menghirup aroma wangi tubuh istrinya, lalu ia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja, Asmira berada di belakangnya.
Darwin membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuan putri masuk. Dengan malu-malu, Asmira masuk. Darwin menatap Asmira tak berkedip. Hingga Asmira salah tingkah dibuatnya.
“Mas, kita jadi berangkat?” tanya Asmira, ia menundukkan kepalanya malu-malu.
Darwin gelagapan, ia tersadar dari lamunannya. Kemudian mereka segera berangkat menuju sebuah restoran yang telah ia booking. Dalam perjalanan, keduanya tak banyak bicara. Hanya pandangan yang sekali-kali beradu. Keduanya sama-sama canggung, seakan bak remaja yang sedang kencan pertama.
“Apa yang Yunita katakan padamu?” tanya Darwin, ia terus menyantap hidangan di hadapannya dengan lahap, begitu pula Asmira.
“Sudahlah, Mas. Semuanya telah berlalu, maafkan aku yang terlalu membiarkan egoku di depan. Harusnya, dari awal aku selidiki terlebih dulu,” sahut Asmira, ia diam sesaat, terdengar ia menarik nafasnya dengan pelan.
“Apa pun yang Yunita katakan, aku benar-benar menyesal dengan kejadian itu.” Darwin mengeluarkan secarik kertas yang sudah lusuh dari sakunya.
“Kau masih dengan ingat perjanjian kita?” Darwin memberikan pada Asmira.
__ADS_1
Asmira tertawa kecil melihat tulisan tangannya itu, surat yang ia tulis beberapa tahun silam tersebut, masih di simpan suaminya. Marco pernah marah besar karena surat konyol itu.
“Janji kita abadi, sayang. Kau percaya takdir? Tuhan telah menakdirkan kita bersama, untuk selamanya.” Darwin menggenggam tangan Asmira, lalu ia kecup pelan dengan penuh kasih sayang.
“Berjanjilah padaku, Mas. Kita akan terus bersama, hanya maut yang dapat memisahkan kita?” pinta Asmira, matanya berkaca-kaca. Darwin menganggukkan kepalanya, ia membelai pipi Asmira.
•
“Masuk dulu, Mas?” ajak Asmira saat mereka tiba di apartemen.
“Besok saja. Selesai berkemas, hubungi aku, aku akan menjemput kalian,” sahut Darwin.
Asmira menganggukkan kepalanya, ia melambaikan tangannya ketika Darwin berlalu. Darwin tidak ingin bertemu Rose, wanita itu sudah terlanjur salah Paham. Darwin sedang tidak ingin berdebat.
“Kau yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Rose, ia duduk dengan melipat kedua tangan di dadanya. Asmira kaget dibuatnya. Ia baru saja tiba sudah mendapatkan interogasi sedemikian rupa. Asmira mendekat, lalu ia duduk di samping kakaknya.
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?” Rose bertanya dengan pandangan yang tak berkedip. Jiwa seorang kakak terlihat jelas dari aura wajahnya.
"”Aku masih mencintai suamiku, Mbak. Aku tahu Mbak khawatir, tapi percayalah, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Asmira.
Rose kehabisan kata-kata, ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Jika Asmira telah yakin, ia bisa apalagi. Rose mengusap kepala adiknya, ia peluk erat tubuh mungil Asmira.
“Kalau ada apa-apa, ceritakan. Jangan di pendam, ujung-ujungnya tidak baik,” ucap Rose memberikan sepucuk nasihat untuk adiknya itu.
Asmira masuk ke kamarnya usai berbincang-bincang dengan Rose. Namun sebelum melihat si kembar, ia sempatkan melihat Evano dulu. Malam ini ia tidak membacakan dongeng untuk putranya itu, Asmira membuka pintu dengan hati-hati agar Evano tak terjaga.
__ADS_1
“Maafkan Mama, Nak. Sekali lagi, aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu.”
Asmira mendengar suara Bu Ida, kamar Evano bersebelahan dengan kamar Bu Ida. Asmira mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Evano. Ia mendekati kamar Bu Ida.
“Maafkan Ibu, nasib buruk selalu menimpa kita. Setelah tak di anggap oleh ayahmu, sekarang untuk kedua kalinya kau kembali terluka persoalan asmara, semuanya karena Mama, coba saja waktu itu, saat ayahmu meminta kau ikut dengannya kau mau, tentu semuanya tak akan seperti ini.”
Air mata membasahi pipi Bu Ida. Ia menangis sesenggukan, Asmira mengintip di balik pintu. Bukankah kemarin Bu Ida mengatakan ia seorang diri? Suaminya meninggal karena penyakit menahun, lalu dengan siapa beliau berbicara? Seribu pertanyaan bermunculan di benak Asmira.
“Jangan, Nak. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan, itu perbuatan dosa. Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal seumur hidup.”
Asmira semakin penasaran, apa yang sedang mereka bicarakan. Siapa gerangan orang yang sedang berbincang dengan Bu Ida.
“Yun, dengarkan Mama. Jangan lakukan apa pun pada Yunita, kalian sama-sama gagal mendapatkan cinta kalian, lalu apa yang kau harapkan setelah membunuhnya?”
Deg!!!
Jantung Asmira berdegup kencang. “Apa! Mama? Yun anak Bu Ida?” Gumam Asmira, mulutnya terbuka sempurna, ia tak menyangka jika Bu Ida telah membohonginya.
“Yun mau bunuh Yunita? Oh, tidak, itu tidak boleh terjadi.” Asmira sangat panik setelah mendengar itu semua. Tanpa sengaja, Asmira menyenggol pintu. Sehingga membuat Bu Ida kaget bukan main melihat Asmira di depannya. Beliau gelagapan.
“Nak, nanti Mama hubungi lagi,” bisik Bu Ida. Lalu ia menekan tombol merah. Beliau menyembunyikan ponsel mewah di balik punggungnya.
“Mira, kau sejak kapan di situ?” tanya Bu Ida tersenyum manis.
Asmira menatap tajam Bu Ida, wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri, tega membohonginya dengan seribu kepalsuan. Beliau melakoni sandiwara sedemikian rupa, dan betapa bodohnya ia tak mengetahui sedikit pun kepalsuan ibu dan anak itu. Asmira kecewa pada Bu Ida, ia tak percaya dengan semuanya.
__ADS_1
Jangan lupa like, ya...