
“Mira, sayang ... dengarkan Mbak, ayo kita pulang ke sana. Kau di sini seorang diri dalam keadaan hamil begini, aku tidak tenang. Aku tidak memaksakan kau kembali bersama Darwin, aku hanya mengajakmu pulang.”
Jessica terus membujuk Asmira. Ibu Evano itu diam seribu bahasa, Jessica terhanyut dalam emosinya. Sudah cukup lama ia merindukan adik dan keponakannya, begitu mendapat berita dari Pratiwi, ia bergegas terbang ke sana bersama Valen.
Asmira cukup lama terdiam, ia menatap Evano yang sedang bermain bersama Elia. Sementara dari kejauhan, terlihat Yun sedang mengobrol dengan Valen. Lalu ia menengadah pandangannya ke langit yang bersinar cerah hari itu. “Aku pikirkan dulu, Mbak. Pulanglah dulu, aku harap Mbak bisa mengerti apa yang aku rasa,” ucap ia kemudian.
Jessica terdiam mendengar keputusan Asmira, ia tahu, adiknya itu bukan tipikal wanita keras kepala. Tapi keadaan yang membuat ia begitu, Asmira wanita penyayang dan pemaaf, jika sekarang sikap dan perilakunya berubah, tentu ia sudah cukup kenyang dengan persoalan yang menimpanya.
Sementara Darwin, ia telah kembali ke kota A kemarin sore setelah mendapatkan panggilan dari Pratiwi. Ada pertemuan dengan klien penting yang tak bisa diwakilkan. Dengan perasaan campur aduk, ia kembali ke sana. Harapannya, Jessica bisa membujuk istri dan anaknya kembali ke kota A.
Namun harapan tak seindah kenyataan, Jessica juga kembali dengan tangan kosong, ia tak berhasil membujuk Asmira. Namun ia merasa lega, akhirnya ia mengetahui keberadaan Asmira. Martha juga gembira menerima berita bahwa menantu dan cucunya baik-baik saja. Tak lupa, ia mengirimkan uang untuk kebutuhan mereka tentunya untuk si jabang bayi yang masih dalam kandungan. Asmira tidak bisa menolak ketika Jessica memberikan itu semua.
“Yun, jaga adikku baik-baik, ya?” pinta Jessica ketika mobil jemputan mereka datang, ia akan kembali ke kota A. Yun hanya tersenyum dan mengangguk.
“Berjanjilah, kalau ada apa-apa hubungi, Mbak,” lanjutnya lagi.
“Aku janji,” sahut Asmira, ia peluk erat kakaknya itu.
Lalu mereka pergi meninggalkan indahnya pantai pasir putih serta Asmira dan Evano yang masih di sana. Setelah mobil yang membawa mereka menghilang dari pandangannya, Asmira kembali tempat penginapannya, ia gandeng tangan Evano.
“Mami ...” panggil Evano pelan.
“Mmm ... ya sayang,” sahut Asmira tersadar dari lamunannya. Sementara Yun mengikuti mereka di belakang.
“Apa kita bisa pulang ke kota A, aku janji gak akan nakal lagi,” ucap Evano membuat langkah Asmira terhenti.
“Kau ingin kembali ke sana?” tanya Asmira lembut, ia berlutut di depan putranya. Evano mengangguk lemah.
__ADS_1
“Aku rindu Nany, Grandpa, dan semuanya.” Evano menundukkan kepalanya serta memainkan kakinya dengan pasir. Mendengar jawaban anaknya, Asmira memeluk Evano serta mencium pucuk kepalanya berkali-kali.
“Minta bantuan, Om, Mi. Kita kembali ke sana gak harus bertemu papi, kan? Ayo Om bantu Mami.” Evano menggenggam kedua tangan Yun serta mengayunkannya, ia menatap kedua mata Yun tanpa berkedip.
Asmira menutup mulut dengan tangannya. Bahkan, putranya tahu jika ia membenci Darwin. Kemarin Evano mendengar semua sumpah serapah yang di ucap Asmira terhadap Darwin. “Sayang, jangan bicara seperti itu, walau bagaimanapun ia papimu. Soal Mami dan papi, kau tidak mengerti, itu urusan orang dewasa,” ucap Asmira.
Yun masih saja terdiam walau Evano terus merengek padanya. Sebenarnya ia lebih senang mereka berdua tinggal di sana. Walau ia bersusah payah pulang pergi kota A, namun ia tetap bahagia melakukan itu semua.
“Kalau kau mau, kau bisa tinggal di rumahku sementara waktu, aku akan mencarikan apartemen untukmu,” ucap Yun kemudian.
“Bagaimana bisa kita serumah, Mas,” sahut Asmira.
“Kan, ada Bibi Ida,” ucap Evano.
Asmira terdiam, setelah cukup lama berpikir. Akhirnya ia mengiyakan permintaan putranya, dan ia menerima tawaran Yun. Dan lagi-lagi, ia berhutang budi pada pria itu.
Asmira menarik nafasnya dalam-dalam. Rasanya ia tak percaya, ia kembali menapakkan kakinya di kota tersebut. Akankah itu keputusan yang benar? Lalu bagaimana jika bayang-bayang tentang Darwin kembali memenuhi pikiran dan hatinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yun menggandeng tangan Asmira, membuat wanita itu terkejut.
“Apa keputusanku sudah benar, Mas?” tanya Asmira.
“Ikuti kata hatimu, maka kau akan mendapatkan jawabannya,” sahut Yun. Ia mengacak-acak rambut Asmira. Tidak lama kemudian. Mereka segera berangkat menuju rumah Yun, setelah mobil jemputan datang.
•••
“Yunita mencari Anda 2 hari belakangan, Pak,” beritahu Tiwi saat mereka dalam perjalanan menuju sebuah restoran.
__ADS_1
“Ada perlu apa ia terus mencari ku?”
“Saya kurang tahu, Pak,” sahut Tiwi.
Jalanan cukup macet, Darwin merasa jenuh. Berkali-kali ia menekan klakson mobilnya, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu setengah jam terpaksa kini mereka harus bersabar karena 45 menit waktu sudah tersita karena jalanan macet siang itu.
Darwin memutar radio, terdengar suara penyanyi Rocks yang membuat telinga terasa sakit, ia terus mengganti saluran. Pratiwi hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat bosnya.
Kembali lagi bersama kami di radio Radja FM. Siang hari ini berita terbaru datang dari dalam negeri. Pagi tadi, awak media menciduk Ayu Nita putri Ferry pengusaha ternama di kota A kedapatan mendatangi kantor pengadilan agama. Apakah ia menggugat cerai suaminya? Atau ada keperluan lain yang mengharuskan ia ke sana? Kita tunggu saja kabar selanjutnya, ya?
Oke baiklah. Sekarang kita putar satu senandung, lagu cinta, lupakan segala kegalauan dan keresahan, sambutlah hari baru dengan asa yang baru. Saya yang bertugas mengucapkan, selamat mendengarkan.
Darwin terdiam mendengar berita tersebut. Yunita serius dengan ucapannya, ia pernah mengatakan akan menggugat cerai suami Haris, dan ia benar-benar melakukannya. Lalu untuk apa ia mencari ku? Darwin bertanya-tanya dalam hatinya.
“Sepertinya aku harus bertemu dengan Yunita, Tiwi,” ujar Darwin kemudian. Pratiwi hanya diam, ia tahu ada permasalahan yang belum selesai di antara mereka berempat.
Setelah meeting dengan klien, Darwin segera meluncur pergi. Yunita telah menunggunya di sebuah taman kota. Begitu tiba di sana, ia melihat wanita itu cukup kacau, matanya bengkak serta lebam di pipinya.
“Kau kenapa?” tanya Darwin kaget. Tanpa menjawab, Yunita memeluk erat Darwin, ia menangis kencang di pelukan pria itu.
Yunita tidak bisa berkata-kata, ia larut dalam tangisannya. Sementara Darwin tidak tahu harus berbuat apa, ia bingung.
Cekrek ... crek ....
Tiba-tiba terdengar suara potret dari kejauhan. Darwin mencari dari mana arah suara tersebut, dan ia melihat ada seseorang di balik pohon yang mengambil foto mereka berdua.
“Hei kau!” teriak Darwin. Dan pria itu berlari kencang menjauh dari sana.
__ADS_1
Jangan lupa like, and happy reading....