Eternal Promise

Eternal Promise
Part 74


__ADS_3

Asmira seorang diri di apartemen siang itu. Karena Bu Ida pergi menjemput Evano sekolah, sementara Rose menemani Brandon jalan-jalan bersama Ryu. Sudah 2 Minggu mereka di sana, tapi belum sempat jalan-jalan, dikarenakan Ryu sibuk bekerja.


Setelah mengganti popok si kembar dan menidurkannya. Asmira turun ke bawah, ia nyalakan televisi lalu duduk di sofa. Ia merasa bosan sendirian di rumah. Setelah televisi menyala, pandangan Asmira lurus ke depan, ia bukan sedang menikmati acara yang sedang disiarkan, melainkan pikiran yang sedang kacau balau. Semuanya itu disebabkan karena esok merupakan hari persidangan pertamanya. Hari yang ia takutkan telah tiba.


•••


Keesokan harinya. Hari yang telah di nanti-nanti oleh Rose telah tiba. Pagi itu, ia sibuk membantu Evano menyiapkan peralatan sekolahnya, serta mengganti popok si kembar. Setelah semuanya beres. Asmira yang ditemani Bu Ida turun ke bawah. Rose melambaikan tangannya ketika ibunda si kembar menghilang di balik lift. Mereka akan segera berangkat menuju kantor Pengadilan Agama.


Saat keduanya sedang menunggu taksi yang lewat, tiba-tiba Asmira teringat bahwa ponselnya tertinggal di atas. Bahkan ia lupa di mana letak ponselnya dengan pasti.


“Bu, ponsel aku ketinggalan,” ujar Asmira ketika mengecek tasnya.


“Sebentar Ibu ambilkan, ya?” Lalu Bu Ida kembali ke lantai 16.


Sembari menunggu Bu Ida, Asmira duduk di pos satpam dan berbincang-bincang dengan kedua lelaki yang sudah lama bekerja di sana. Mereka cukup ramah, terlebih karena Asmira merupakan nyonya Darwin.


Tiba-tiba berhenti sebuah mobil mewah tepat di depan mereka bertiga, lalu turun seorang wanita yang tidak asing bagi Asmira. Wanita tersebut mengenakan baju setelan kantor dengan kaca mata hitam serta tas mewah di tangannya.


“Yunita ...” lirih Asmira.


“Pagi ...” sapa Yunita tersenyum lebar pada Asmira. Istri Darwin itu mencoba tersenyum.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Yunita, “Di mobilku saja,” lanjutnya lagi.


Yunita kembali masuk ke mobilnya, Asmira masih terdiam, ia sedang berpikir, kali ini apa yang sedang direncanakan Yunita lagi. Setelah cukup lama berpikir, ia mengikuti Yunita masuk ke mobilnya.


“Apa yang ingin kau katakan, aku buru-buru,” ujar Asmira membuka suara.

__ADS_1


Yunita membuka kaca mata yang melekat di wajahnya, ia menatap Asmira tanpa berkedip. Lalu ia tersenyum kecut dan kembali membuang pandangannya ke depan. Asmira menyipitkan matanya tak mengerti kenapa Yunita menatapnya seperti itu.


“Aku heran, apa yang spesial darimu, kenapa Darwin begitu tergila-gila denganmu,” ujar Yunita masih dengan tatapan lurus ke depan.


“Katakan, apa yang ingin kau bicarakan, aku buru-buru!” Ulang Asmira sekali lagi.


“Kau yakin ingin bercerai dari suami yang benar-benar mencintaimu, hanya karena pria yang baru kau kenal, yang belum kau ketahui dengan pasti sifatnya?” tanya Yunita. Kali ini ia terlihat serius, ia menatap Asmira.


Asmira tersenyum kecut, ia tak habis pikir dengan wanita licik di hadapannya kini. Dulu, wanita tersebut yang menghancurkan rumah tangganya, sekarang ia datang kembali dengan berbagai pertanyaan yang belum jelas ke mana arah pembicaraannya. Asmira tak menanggapi pertanyaan Yunita.


“Aku ingin minta maaf padamu, aku bersalah telah menghancurkan rumah tangga kalian,” ujar Yunita.


“Kau sudah puas?” tanya Asmira.


“Tidak, Mira. Aku mengaku bersalah, kali ini aku mohon, kau cabut gugatan cerainya, atau aku akan menjadi orang paling bersalah di muka bumi.” Yunita menggenggam lengan Asmira.


“Kau boleh membenciku, tapi aku mohon, kau jangan bercerai dengan suamimu ...” ucap Yunita dengan lemah lembut, ia memelas pada Asmira.


“Apa hak kau mengatur hidupku, setelah semua yang telah kau lakukan dengannya? Apa dia yang memintamu datang membujukku? Wow!!” Asmira bertepuk tangan, tanda bahwa ia benar-benar geram dengan Yunita dan Darwin.


“Tidak, Mira. Darwin tidak menyuruhku, aku mohon, jangan lakukan itu, Mira.” Yunita menggenggam tangan Asmira, lalu ia letakkan di dadanya. Sembari memelas, tiba-tiba ia meneteskan air matanya.


“Aku tidak punya waktu melihat akting kau yang cukup berbakat ini. Minggir, aku buru-buru!” Sekali lagi Asmira menepis tangan Yunita, lalu ia bergegas turun dari mobil Yunita, dan berlari kecil menjauhinya.


“Mira, tunggu!” teriak Yunita.


Asmira menghentikan langkahnya, ia berpaling ke belakang menatap Yunita. Lalu Yunita kembali mendekatinya.

__ADS_1


“Darwin tidak bersalah, aku yang menjebaknya dengan memberinya pil perangsang ....”


Asmira terpaku, ia menatap Yunita tanpa berkedip, begitu pun sebaliknya. Asmira menggoyangkan tubuh Yunita dengan keras seraya berkata, “Katakan kau berbohong, jangan menipuku lagi!”


Yunita kembali meneteskan air matanya. Ia mulai bercerita pada Asmira tentang kejadian beberapa bulan yang lalu saat ia mencoba membuat Darwin jatuh ke pelukannya.


Awalnya, Yunita hanya ingin menjatuhkan bisnis Darwin. Tapi semakin dekat keduanya, ia semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Cinta lama bersemi kembali di hatinya. Perlahan-lahan, ia mulai melupakan rencana awal suami dan ayahnya.


Puncak masalah, semuanya bermula saat mereka berlibur ke pulau B. Malam terakhir mereka di sana, Yunita memasukkan pil perangsang ke dalam minuman Darwin. Sehingga pria itu tak bisa menahan hasratnya. Tanpa sadar, Darwin mulai mencumbu Yunita dengan ganas, karena di matanya hanya Asmira yang terlihat. Bahkan saat mereka bercinta, Darwin tetap saja memanggil Asmira berkali-kali.


Setelah kepulangan mereka dari sana, Haris mulai mencurigai gerak-gerik Yunita Darwin. Sehingga ia marah besar. Ferry juga sangat kecewa dengan sikap putrinya. Hingga keadaan yang kembali membuat Yunita menjalani siasat awalnya. Namun semuanya berakhir saat Darwin mengetahui bahwa ia berbohong dengan mengatakan tahu di mana Asmira bersembunyi. Setelah kejadian itu semuanya berakhir begitu saja. Hingga perceraian dengan suaminya selesai, Darwin masih saja tak peduli dengannya, tak mau memandangnya walau hanya sebelah mata.


“Jika bukan karena video yang ku rekam. Darwin tetap bersikukuh bahwa ia tidak tidur denganku. Karena ia benar-benar tidak sadar bahwa itu aku, aku minta maaf padamu, Mira ...” Yunita berlutut di hadapan Asmira. Ia menangis sesenggukan di hadapannya.


“Aku mohon, kau jangan bercerai dari suamimu ...” lanjut Yunita lagi.


Asmira terdiam, mulutnya terbuka sempurna. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja tanpa permisi. Asmira menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tak bisa menahan suara tangisnya.


“Aku bersumpah, Mira. Darwin tidak bersalah, walau bagaimanapun aku merayunya, ia tak akan jatuh ke pelukanku, ia benar-benar mencintaimu ....”


Asmira berlari kecil, lalu ia menyetop taksi dan bergegas meluncur ke kantor Pengadilan Agama. Dalam perjalanan, ia sama sekali tak bisa menahan isak tangisnya. Sopir taksi tersebut meliriknya di balik kaca spion.


“Mbak, apa Anda baik-baik saja?” tanya sopir tersebut.


“Pak, bisa lebih cepat?” tanya Asmira saat ia melirik jam milik pak sopir.


Sopir taksi mengangguk sambil terus menancap gas menuju kantor Pengadilan Agama.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2