Eternal Promise

Eternal Promise
Part 70


__ADS_3

Bu Ida menemui Asmira. Wanita itu menangis tersedu-sedu di kamarnya. Bu Ida membelai lembut kepalanya. Asmira memeluk Bu Ida erat, ia menangis pilu di pelukan wanita yang sudah begitu baik terhadapnya.


“Menangislah agar kau lega,” ujar Bu Ida.


Bu Ida sangat mengerti bagaimana perasaan Asmira kini, namun ia tidak tahu harus membela yang mana. Kedua pria itu sama-sama mencintai Asmira. Bu Ida terus membelai lembut rambut Asmira menenangkannya.


“Aku benci mereka berdua, Bu,” ujar Asmira.


“Semua pria sama saja, mereka cuma bisa menyakiti hati wanita,” lanjut Asmira di sela tangisnya.


“Besok Ibu mau ajak kau ke suatu tempat,” ujar Bu Ida, ia mengusap kedua pipi Asmira dengan lembut.


“Ke mana?”


“Besok kau akan tahu, sekarang ... tenangkan dirimu, semuanya baik-baik saja, ikuti kata hatimu, karena hati tidak pernah berbohong,” ujar Bu Ida lagi. Asmira mencoba tersenyum mendengar petuah dari wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Keesokan harinya, setelah menitipkan si kembar dan Evano pada Jessica. Asmira dan Bu Ida pergi menggunakan taksi ke suatu tempat yang masih menjadi rahasia. Sekalian, ia juga ingin membeli keperluan si kembar dan Evano. Lagi pula, ia sudah sebulan lebih tidak keluar rumah.


Mobil yang membawa mereka terus berlaju kencang menerobos ramainya kota, hingga tidak lama kemudian sopir taksi tersebut belok kiri menuju tempat pemakaman umum dan berhenti di sana. Asmira mengerutkan keningnya tak mengerti kenapa Bu Ida mengajaknya ke sana. Tanpa bertanya, ia mengikuti Bu Ida masuk ke pekarangan pemakaman tersebut.


Bu Ida menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah makan wanita yang bernama Naomi. Asmira menatap Bu Ida, ia mencari jawaban dari tatapannya. Lalu Bu Ida mengeluarkan foto dari tasnya, ia perlihatkan pada Asmira.


“Aku seperti pernah melihat foto ini, tapi di mana, ya?” gumam Asmira, ia mencoba mengingat.

__ADS_1


“Di dompet, Yun?” tanya Bu Ida. Asmira menganggukkan kepalanya, ia pernah melihat foto wanita tersebut di dompet Yun.


Kemudian Bu Ida mulai bercerita bahwa Naomi adalah cinta pertama Yun. Keduanya sama-sama kuliah di luar negeri, mereka berpacaran sejak SMA. Keduanya seakan tak bisa terpisahkan, ke mana-mana berdua. Hingga setelah sama-sama lulus dari perguruan tinggi, mereka pun bertunangan.


Namun setahun kemudian, Naomi terkena kanker payudara. Yun terus memberi semangat agar Naomi tidak putus asa dalam menghadapi penyakitnya. Naomi menjalani perawatan cukup lama, namun ia tak jua sembuh, keluarganya telah melakukan berbagai upaya untuk penyembuhannya, namun tak jua membuahkan hasil. Hingga pada tahun 2003 ia menghembuskan nafas terakhirnya. Yun sangat terpukul, ia tidak bisa terima Naomi pergi untuk selamanya dari sisinya. Yun seperti gila, ia terus mendekap jasad Naomi yang telah meninggal dunia.


Tahun demi tahun berlalu, ia berubah menjadi pria yang dingin, ia tidak gairah melakukan apa pun lagi, ia berkelana mencari ketenangan jiwa. Hatinya kosong, jiwanya seakan ikut terkubur bersama jasad Naomi. Hari demi hari terus berlalu, bahkan ia tidak mau melanjutkan pekerjaannya, kelulusannya sebagai predikat terbaik hanya tinggal nama, ia sama sekali tidak mau bekerja di perusahaan mana pun. Kegiatannya sehari-hari hanya duduk berdiam diri dari satu tempat ke tempat lainnya. Kadang-kadang, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam seorang diri di taman.


Lalu beberapa tahun kemudian setelah hatinya sedikit lebih tenang, ia bekerja menjadi sopir taksi, ia menyukai pekerjaan tersebut. Walau pekerjaan tersebut melenceng jauh dari harapan orang tuanya. Yun menikmati hari-harinya sebagai sopir taksi yang mengelilingi kota A.


Hingga pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang wanita cantik yang anggun dan lemah lembut. Wanita itu begitu memikat hatinya, ia begitu tergila-gila dengan wanita tersebut. Gairah hidupnya kembali, ia kembali menjalani hari-harinya penuh warna. Seakan semuanya telah kembali seperti semula saat ia bersama Naomi dulu.


“Dan kau tahu, wanita itu adalah dirimu, Mira,” ujar Bu Ida mengakhiri ceritanya.


“Lalu siapa wanita yang bersama Mas Yun di Mall kemarin, Bu?” tanya Asmira.


“Aku dengar jelas mereka sedang mengatakan tentang rencana jahat untuk rumah tanggaku,” lanjut Asmira lagi.


“Kau hanya salah paham, Yun sangat mencintaimu,” ujar Bu Ida.


Asmira masih saja terdiam, mereka telah jauh meninggalkan tempat pemakaman tersebut, namun ia masih saja tidak bicara sepatah kata pun. Hatinya bimbang setelah mengetahui masa lalu Yun.


Satu sisi, ia memikirkan nasib anak-anaknya, di sisi lain ia masih belum melupakan pengkhianatan Darwin untuknya. Sementara Yun, apakah benar pria itu mencintainya dengan tulus?

__ADS_1


Pikirannya cukup kacau. Asmira memutuskan untuk pulang, ia tidak jadi berbelanja, waktunya tidak tepat. Bu Ida menyadari kegalauan Asmira, ia menggenggam tangan Asmira erat.


“Ikuti kata hatimu, Nak.”



Waktu terus berlalu, Asmira mulai membuka perasaannya, ia tidak membiarkan hatinya terus menerus terbelenggu. Yun semakin sering mengunjunginya, begitu juga Darwin. Asmira seperti terjebak di antara dua pria itu. Tentunya Darwin lebih beruntung dengan status masih sah, ia bisa kapan saja datang mengunjungi si kembar dan Evano.


Asmira tidak tahu lagi dengan perasaannya, ia begitu bahagia saat melihat Darwin menggendong kedua putri mereka dan bermain-main dengan Evano. Sementara Yun, pria itu sangat perhatian terhadapnya, ia terlihat begitu tulus mencintainya.


Tanpa sepengetahuan Asmira, Darwin mengetahui semuanya. Bahwa Yun sering datang berkunjung dan membawanya berbagai hadiah yang membuat Asmira begitu luluh dan suka terhadapnya.


Darwin terbakar api cemburu, ia melampiaskan semuanya pada kakaknya Jessica, ia luapkan segala emosi yang bersarang di pikirannya. Hatinya begitu panas saat melihat Asmira begitu bahagia dengan Yun.


“Kau juga bisa melakukan hal yang sama, bukan?” tanya Jessica.


Darwin tersenyum kecut seraya berkata, “Aku tidak akan melakukan itu semua, Mbak. Akan ku serahkan semuanya pada Asmira, biarkan hati yang berbicara, jika memang ia sudah tak lagi mencintaiku, aku akan melepaskannya, biarkan ia bahagia bersama pria pilihannya, aku sadar aku tidak bisa membahagiakannya.”


Jessica tak percaya mendengar ucapan Darwin, ternyata adiknya itu sudah cukup dewasa dalam menghadapi prahara rumah tangganya. Jessica tak berkomentar apa pun lagi, ia biarkan adiknya mengambil keputusannya sendiri. Barangkali itulah yang terbaik untuk keduanya, ia tak punya hak apa pun untuk melarangnya.


“Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan, Win,” ujar Jessica menepuk pundak Darwin.


Jangan lupa like, ya...

__ADS_1


__ADS_2