
Setelah pertemuannya dengan Yunita sore tadi, pikiran dan hati Darwin tidak tenang, ia merasa bersalah pada Asmira. Ia merasa telah mengkhianati istrinya. Tapi ia tidak tega melihat Yunita terisak dalam tangisnya seperti itu. Hatinya terenyuh mendengar semua kejujuran putri sulung Pak Ferry itu.
“Mas, apa ada masalah di kantor?” tanya Asmira, ia berbaring di lengan suaminya dengan manja.
“Tidak sayang, kau tidurlah. Kau tidak lupa minum vitamin serta susu tadi, kan?”
“Enggak lupa kok, Mas.”
“Ya sudah, istirahatlah.”
Tanpa berkomentar apa pun lagi, Asmira memejamkan matanya. Tidak lama kemudian ia pun terlelap di pelukan suaminya. Kehangatan itu membuatnya dengan mudah terbuai ke alam mimpi.
Besok hari libur, Darwin bangkit dari tidurnya untuk meneruskan pekerjaannya yang belum terselesaikan siang tadi. Setelah ia rasa Asmira benar-benar telah tertidur, ia bangun perlahan-lahan agar istrinya tidak terbangun.
“Mas ... jangan sekali-kali kau rusak kepercayaan ku!”
Langkah Darwin terhenti, ia menatap Asmira yang masih tertidur dengan mata terpejam, Istrinya itu cuma mengigau. Tapi entah kenapa, rasanya seperti bukan mimpi, perkataan itu cukup membebani pikiran Darwin.
Darwin melangkah masuk ke ruang kerjanya. Jam menunjukkan pukul 22:00 malam, ia membuka laptopnya dan membereskan semua pekerjaan yang sempat ia terlantarkan tadi siang.
Namun sudah setengah jam ia mencoba fokus, tapi lagi-lagi gagal, pikirannya tidak tenang, ia teringat akan kata-kata yang Yunita ucapkan siang tadi.
“Aku benar-benar mencintaimu Darwin, memandangi wajahmu saja sudah lebih dari cukup. Kau tidak perlu terbebani dengan semua rasaku, aku tidak meminta balasan darimu. Aku tahu kau begitu mencintai istrimu. Tapi aku mohon, sekali saja ... beri aku kesempatan, aku ingin pergi bersamamu ke suatu tempat.”
“Tempat? Tempat apa itu?” tanya Darwin.
“Danau di belakang sekolah kita. Kau ingat di hari kelulusan aku mengirimkan pesan untukmu? Aku menunggumu hingga jam 18:00, tapi kau tidak datang.”
“Ya Tuhan, kau benar-benar menungguku di sana, Maafkan aku.”
“Sebagai gantinya, kali ini datanglah. Aku akan menunggumu di sana besok siang. Ku harap kau datang.”
Lalu Yunita melepaskan pelukannya, sebuah kecupan melayang di pipi Darwin beberapa detik. Kemudian ia melangkah keluar dari Coffe shop tersebut. Tinggallah Darwin yang masih terpaku dengan bibir sedikit menganga.
“Ya Tuhan ... kenapa aku harus janji!” umpat Darwin kesal kala mengingat kejadian tadi siang.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia benar-benar gelisah, ia bangun dari duduknya. Lalu ia mondar-mandir di ruangannya. “Haruskah aku datang besok?” gumam ia pada diri sendiri.
Lalu Darwin berpikir, sebaiknya ia datang saja menemui Yunita esok hari. Mungkin saja setelah permintaan Yunita ia turuti, wanita itu akan melupakan dirinya dan sudah harusnya semua cinta ia berikan pada Haris suami sahnya.
“Tapi bagaimana dengan Asmira?” gumam Darwin lagi, ia menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
__ADS_1
Kemudian ia turun ke lantai dasar, ia menuju dapur, ia basuh wajahnya dengan air dingin yang ia ambil dari kulkas, namun tetap saja pikirannya tidak tenang.
“Tuan ...” panggil Bu Ida.
Darwin terkejut, hampir saja gelas di tangannya terjatuh. “Bu Ida, mengagetkan saja.”
“Maaf Tuan, saya cuma ingin mengambil minum,” ucap Bu Ida.
Kemudian ia tuang segelas air ke gelas di tangannya. Namun sebelum berlalu ia berkata, “Hampir saja saya lupa Tuan, tadi sore ada paket untuk Tuan, apa pak Yun sudah memberikannya?”
“Belum, saya tidak menerima paket apa pun.”
“Coba Tuan tanyakan, mungkin saja pak Yun lupa,” ucap Bu Ida. Kemudian beliau berlalu menuju kamarnya.
Darwin keluar rumah menuju pos tempat Pak Yun istirahat. Lampu kamarnya masih menyala, terlihat layar televisi juga menyala, berarti ia belum tidur, pikir Darwin. Ia melangkah menuruni tangga teras rumahnya.
Tok ... tok.
Terdengar suara langkah kaki Pak Yun membuka pintu, ia sedikit canggung ketika mengetahui siapa yang mencarinya.
“Mari silakan masuk, Tuan.”
“Tidak, saya tidak ingin mengganggu Anda Pak Yun. Kata Bu Ida, ada paket untuk saya?”
Darwin meraih kotak tersebut, kemudian ia permisi meninggalkan Pak Yun yang masih menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu.
Tiba di ruang tengah, Darwin membolak-balikkan kotak tersebut. Tidak ada nama pengirimnya, kemudian ia membuka kota tersebut. Ada sepucuk surat di dalamnya.
*Pakai baju ini, jika besok siang kau berkenan pergi menemui ku. Baju ini spesial aku belikan untukmu tahun lalu ketika aku pergi ke London.
Dari yang mencintaimu
Ayu Nita*.
Darwin melipat surat tersebut, ia hembuskan nafasnya perlahan. Kemudian ia genggam kertas tersebut hingga remuk. Pikirannya semakin kacau, ia lirik sekilas baju di kotak tersebut, warna kesukaannya.
Setelah membuang kotak serta surat tersebut, Darwin kembali kamarnya, ia letakkan baju tersebut di lemari, kemudian ia naik ke ranjang dan tidur di samping istrinya.
__ADS_1
•
“Mas, bangun ...” panggil Asmira. Darwin membuka matanya sebentar, kemudian ia pejamkan kembali.
“Mas, sudah siang bangun!” teriak Asmira lagi.
“Hah? Apa? Siang?” Darwin bergegas bangun, ia raih handuknya dan berlari ke kamar mandi.
Asmira tertawa geli melihat tingkah suaminya. Jika tidak di bohongi seperti itu, ia pasti tidak akan bangun. Setelah suaminya bangun, ia kembali ke dapur membantu Bu Ida menyiapkan sarapan.
“Pasti Yunita sudah lama menungguku,” gumam Darwin. Ia basuh tubuhnya dengan tergesa-gesa, setelah selesai ia segera keluar untuk berpakaian.
Ting!
Bunyi pesan masuk, Darwin meraih ponselnya yang terletak di nakas. Ia membukanya, ternyata pesan dari Pratiwi. Darwin tersenyum simpul ketika melihat jam menunjukkan pukul 07:30.
“Dasar Asmira, ia jail sekali,” gumam Darwin.
“Mas! Cepatlah! Kami menunggumu!” teriak Asmira di bawah.
Darwin bergegas berpakaian, kemudian ia segera keluar setelah selesai.
•
Darwin menemani Asmira belanja di supermarket dekat kompleks perumahan mereka, jam sudah menunjukkan pukul 11:45. Namun Asmira belum selesai belanja, ia sudah tidak sabar pulang dan segera menemui Yunita.
“Sayang, bagaimana sudah semua?” tanya Darwin.
“Bentar, Mas. Kenapa sih buru-buru banget?”
“Bukan begitu, Mas ada janji setelah jam makan siang,” ujar Darwin.
“Sepenting itukah?” tanya Asmira memonyongkan bibirnya karena kesal.
Darwin terpaku mendengar pertanyaan Asmira. Kenapa aku begitu buru-buru? Kenapa seolah-olah pertemuan ini sangat penting untukku? Darwin bertanya-tanya dalam hatinya
“Mas!” teriak Asmira membuat Darwin terjaga dari lamunannya.
“Bukan masalah penting atau tidaknya sayang, tapi janji adalah hutang, kan?” Sahut Darwin berkilah, ia mencubit hidung mungil Asmira.
Setelah membantu Asmira belanja, kemudian mereka segera pulang ke rumah. Darwin bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menemui Yunita tanpa sepengetahuan Asmira.
__ADS_1
Jangan lupa like ya ....