Eternal Promise

Eternal Promise
Part 35


__ADS_3

Asmira menyiapkan pakaian seperti biasa untuk suaminya jika ingin bertemu dengan tamu penting. Sembari menunggu Darwin mandi, ia menyiapkan makan siang bersama Bu Ida di dapur.


Selesai mandi, Darwin segera mengenakan pakaiannya satu persatu. Ia mengambil baju yang di berikan Yunita, lalu ia kenakan di tubuhnya. Setelah selesai, ia segera turun menemui Asmira untuk makan siang bersama.


Asmira menatap Darwin ketika suaminya itu menuruni tangga. “Mas, baju baru?”


“Ya sayang, bagus?”


“Bagus, cocok Mas yang pakai,” sahut Asmira tersenyum, ia merapikan lengan kemeja Darwin, lalu ia gulung sampai siku.


Tanpa sadar, lagi-lagi ia telah membohongi istrinya demi menutupi semua kebohongannya. Tanpa menaruh rasa curiga, Asmira pun tidak menanyakan apa pun, meski terlihat aneh di hari itu libur Darwin tetap saja mengatakan ada pertemuan dengan klien.


Kemudian mereka makan bersama dengan tenang. Di sela-sela itu, tetap saja Darwin merasa gelisah, rasanya ia ingin segera tiba di sana menemui Yunita. Entah kenapa ia seperti merasa terpanggil oleh wanita itu.


Baru saja beberapa suap ia masukkan nasi ke mulutnya, ia bangkit dari duduknya.


“Mas, habiskan dulu makan mu,” pinta Asmira.


“Aku sudah kenyang, sayang. Aku buru-buru harus segera pergi, nih.”


Asmira cuma bisa mengiyakan ucapan Darwin, ia menemani suaminya hingga teras.


“Sayang hati-hati, ya,” lirih Asmira. Darwin mencium kening Asmira sebentar sebelum ia berangkat.


“Maafkan aku sayang,” gumam Darwin dalam hati merasa bersalah.


Asmira baru kembali ke dalam setelah Darwin menghilang dari pandangannya.


Darwin melaju dengan kecepatan tinggi menuju sekolah lamanya itu. Ingatannya kembali fresh ketika mobilnya memasuki pekarangan sekolahnya itu. Cukup banyak perubahan yang terlihat, gedungnya semakin tinggi, tapi halamannya tetap saja masih indah seperti dulu, penuh dengan bunga-bunga.

__ADS_1


“Kenapa gerbangnya tidak di kunci, ya?”


Darwin turun dari mobilnya setelah ia parkir dengan benar. Kemudian ia melangkah menuju halaman belakang sekolah, tempat di mana ia dan Yunita berjanji akan bertemu di siang itu. Danau yang indah nan romantis itu letaknya tepat di belakang sekolah itu.


Darwin menyusuri jembatan yang menggantung di sepanjang danau. Ia mencari di mana keberadaan Yunita, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Darwin memutar pandangannya ke seluruh tempat, ia mencari di mana wanita itu namun tetap saja tak terlihat batang hidungnya di sana.


Berada di sana membuat ingatan Darwin kembali ke masa putih abu-abunya dulu. Danau itu menjadi tempat persembunyian Yunita kala ia di hina teman-temannya. Seolah-olah tempat itu mampu membuat dirinya tetap aman. Jika seperti itu, maka Darwin akan datang ke sana dan membujuknya untuk kembali ke kelas.


“Apa mungkin ia tidak datang?” ucap Darwin merasa putus asa setelah mencari ke sana-kemari keberadaan Yunita tapi tidak ada.


Tiba-tiba seseorang memeluk Darwin dari belakang, yang tak lain merupakan Yunita. Terdengar Isak tangisnya di punggung Darwin. Tangis itu begitu pilu.


“Aku kira kau tidak akan datang, Win. Aku tak percaya kau benar-benar datang,” lirih Yunita di sela tangisnya. Pelukannya masih erat, ia enggan melepaskan kehangatan itu.


Darwin terpaku. Entah mengapa ia juga merasa kehangatan yang sama, Darwin memejamkan matanya, embusan angin perlahan menerpa wajahnya, Darwin mendongakkan kepalanya. Rasanya begitu damai, pelukan itu terasa menyejukkan hati Darwin. Kemudian ia mengubah posisinya menghadap Yunita.


“Diamlah ... bukankah aku sudah datang?” tanya Darwin. Ia menyeka air mata Yunita dengan ujung jemarinya.


Yunita mengenakan rok dan baju SMA. Ia sengaja mengulang masa-masa itu. Seperti permintaannya kemarin, ia tidak akan mengganggu rumah tangga Darwin lagi sampai kapan pun. Sebagai gantinya ia meminta agar Darwin bersedia memenuhi permintaannya untuk bertemu di sana. Dan betapa bahagianya Yunita, Darwin benar-benar hadir di sana, bahkan Darwin memakai baju yang ia berikan.


“Tepat di sini, Win. Beberapa tahun silam, aku menunggumu hingga matahari terbenam, tapi kau tidak datang!”


“Maafkan aku,” ucap Darwin.


“Lupakanlah. Boleh aku memelukmu, sebentar saja?” tanya Yunita. Tanpa menunggu persetujuan Darwin, ia peluk erat tubuh kekar itu. Ia benamkan wajahnya di sana. Ia luapkan segala emosi yang selama ini ia pendam.


Perlahan-lahan Darwin mengangkat tangannya, ia mulai membalas pelukan itu. Setelah cukup lama ia terpaku melihat cinta yang Yunita tunjukkan untuknya. Ia belai rambut wanita itu, tanpa sadar, satu kecupan ia berikan di kening Yunita.


Yunita mendongakkan kepalanya, pandangan keduanya beradu. Satu bulir air mata kembali lolos di pipinya, ia tidak bisa menahan gejolak di dadanya. Yunita tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia benar-benar mencintai pria di pelukannya itu.

__ADS_1


Yunita menarik tengkuk Darwin, ia lingkarkan tangannya di sana. Pandangan keduanya semakin dekat, nafas Darwin terasa hangat menerpa wajah Yunita. Tanpa sadar ia kecup bibir Darwin sebentar, ia pejamkan matanya untuk beberapa saat.


“Biarkan aku tetap memendam rasa ini, Win,” ucap Yunita setelah ia melepaskan ciuman itu. Darwin terdiam, ia terpaku melihat wajah cantik Yunita yang hanya jauh beberapa senti di depannya kini.


“Aku akan segera cerai dengan Haris, Win. 10 tahun aku belajar mencintainya, tapi tetap saja gagal,” beritahu Yunita. Darwin masih terpaku dengan pelukan tidak terlepas dari keduanya.


“Ayo kita duduk di sana,” ajak Yunita menunjukkan sebuah kursi di pinggir danau. Ia lepaskan tangannya yang melekat di tubuh Darwin setelah puas berpelukan dengan pria yang ia cintai itu.


Yunita menggenggam tangan Darwin saat mereka menyusuri jembatan gantung yang membentang sepanjang danau. Yunita kembali merebahkan kepalanya di bahu Darwin saat mereka duduk di kursi panjang itu.


“Kau pasti terpaksa datang kan, Win?” tanya Yunita.


“Tidak, sama sekali tidak,” sanggah Darwin cepat.


Yunita menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia tidak akan melupakan kejadian hari itu sampai kapan pun. Hatinya sangat bergembira, itu menjadi hadiah terindah di ulang tahunnya.


“Kau mau hadiah apa dariku?” tanya Darwin kemudian, satu pertanyaan yang cukup mengagetkan Yunita.


“Tidak perlu, Win. Kau datang saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku bahagia sekali,” ucap Yunita.


“Kau yakin?” tanya Darwin lagi.


“Kemauan ku terlalu konyol, Win. Kau tidak akan menurutinya,” sahut Yunita.


Kemudian ia tersenyum malu-malu. “Ah, lupakanlah, Win ...” ucapnya lagi.


“Kalau kau tidak mengatakannya, aku pulang saja.” Darwin bangkit dari duduknya. Namun Yunita mencegahnya. Ia menarik tangan Darwin, lalu ia genggam dengan erat.


“Aku ingin tidur denganmu, Win,” bisik Yunita di telinga Darwin. Kemudian ia berlalu meninggalkan Darwin yang terdiam mendengar permintaan Yunita. Sementara Yunita telah jauh meninggalkannya dengan berlari kecil kembali ke sekolah.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2