Eternal Promise

Eternal Promise
Part 12


__ADS_3

Darwin pulang dengan segala rasa kehampaan. Ia tidak mengetahui di mana keberadaan sang istri dan putranya kini. Rasa khawatir dan rasa bersalah melebur menjadi satu.


“Mengapa aku begitu bodoh!” umpat Darwin kesal dengan sikapnya akhir-akhir ini.


Darwin tahu, jika dalam dua Minggu belakangan ini ia sangat sibuk mengerjakan proyek kerja samanya dengan Yunita. Namun ia tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya sedikit terburu-buru, ia ingin mengambil cuti beberapa hari setelah memenangkan tender proyek besar itu. Tapi belum sempat terwujud, semuanya terlanjur kacau.


“Sayang, ini semuanya hanya salah paham.” Darwin meraup wajah dengan kedua tangannya.


Tanpa menunggu esok, malam itu juga Darwin menghubungi Pratiwi menyuruh semua anak buahnya mencari di mana keberadaan Asmira.


“Baik, Pak.”


Setelah menghubungi semua anak buah Darwin, Pratiwi kembali menghubungi Darwin.


“Bagaimana Tiwi, ada kabar?” tanya Darwin tak sabar.


“Belum, Pak.”


“Suruh mereka cari ke mana pun, walau ke ujung dunia sekalipun mereka harus temukan Lestariku!”


“Iya, Pak. Tapi maaf, apa Bapak tahu apa penyebabnya?” tanya Tiwi dengan ragu-ragu.


“Tidak, Tiwi.”


“Yunita, Pak. Beliau adalah penyebabnya.” Terdengar Tiwi menarik nafasnya dalam-dalam.


“Maksudmu?”


“Apa Anda tidak sadar, Pak. Dengan sengaja ibu Yunita selalu menyuruh Anda bekerja dengan waktu full time agar Anda tidak punya waktu untuk Evano.”


Walau bagaimanapun Tiwi harus mengatakan yang sebenarnya, ia tahu bosnya telah terbuai dengan keuntungan yang akan di berikan Yunita.


Darwin terdiam, kenapa ia sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya jika semuanya telah Yunita rencanakan. Tapi untuk apa? Bukankah tidak untungnya untuk perusahaan atau hal lainnya? Lalu mengapa ia ingin menjauhkan Darwin dengan keluarganya? Semua pertanyaan itu muncul di benak Darwin.


“Bu Yunita menaruh rasa terhadap Anda, Pak,” ujar Pratiwi kemudian karena ia tidak mendapat respons dari Darwin.


“Apa? Saya tidak merasakan apa pun, bagaimana bisa?” tanya Darwin merasa tidak percaya dengan apa yang Pratiwi simpulkan.

__ADS_1


“Ya Tuhan, Pak ...” ujar Pratiwi. Ternyata benar seperti yang ia pikirkan, Darwin sama sekali tidak memiliki rasa apa pun terhadap Yunita.


Panggilan mereka berakhir, Darwin kembali memikirkan kata-kata Pratiwi, ada benarnya. Jika menyangkut dengan harta, tidak mungkin. Yunita berasal dari keluarga kaya. Tapi soal suka, apa mungkin? Bukankah ia juga sudah berkeluarga? Untuk apa ia merecoki kehidupan pribadi Darwin. Darwin benar-benar stres.


Keesokan harinya, Darwin masih belum mendapatkan berita apa pun mengenai keberadaan Asmira ia berangkat kerja dengan perasaan yang kalut.


“Apa jadwal saya hari ini? Bacakan!”


“2 jam lagi akan ada pertemuan dengan Yunita ....” Pratiwi diam sejenak, ia berharap Darwin akan memutuskan semua kerja sama yang berhubungan dengan Yunita.


“Oke, atur semuanya kita berangkat 2 jam lagi.”


“Tapi, Pak ~”


Darwin berlalu meninggalkan Pratiwi. Ia tak habis pikir apa yang ada di pikiran bosnya itu. Pratiwi segera membereskan semua file untuk pertemuan nanti.


Di rumah Jessica.


“Sayang. Vano, bangun Nak.” Jessica membangunkan Evano untuk sekolah.


“Tapi bagaimana kalau Darwin bertemu, Vano?” tanya Valen.


Setelah sarapan Valen segera berangkat ke kantor sekalian mengantar Evano sekolah. Setelah berpamitan pada maminya yang masih enggan beranjak dari tempat tidur itu, dengan semangat ia berangkat ke sekolah.


“Hati-hati, ya Nak.” Asmira mencium kening Vano.


“Daahhh ... Mami cepat sembuh, ya?”


Setelah mengantar Vano sekolah, Valen langsung tancap gas menuju sebuah Cafe, ia ada meeting dengan sebuah perusahaan tekstil yang sedang berkembang pesat ia telah siap dengan berkas-berkas yang semalam ia kerjakan.


20 menit Valen menunggu, akhirnya klien yang ia tunggu tiba. Ia menunjukkan hasil kerjanya, desain terbaik yang ia punya hasil semalaman bergadang. Valen merupakan lulusan terbaik desain mode tekstil di Pontedera, Italia. Hasil karyanya tidak bisa di ragukan lagi.


“Saya suka hasil karya Anda.”


“Terima kasih, Pak.”


“Semoga kerja sama kita berjalan lancar,” ujar klien tersebut tersenyum lebar.

__ADS_1


“Jadi maksud Anda?”


“Ya, Mr. Valen selamat, kami memilih hasil desain Anda untuk perusahaan kami.”


Setelah makan siang pertemuan mereka selesai, Valen menjabat tangan kliennya saat mereka berlalu pergi meninggalkan ia di depan Cafe Kejora.


“Loh, ini bukannya mobil Darwin?”


Valen mendekat, ia melihat lebih saksama. Ia yakin itu mobil Darwin, berarti ia sedang berada di Cafe yang berukuran cukup luas itu juga. Valen masuk mencari di mana keberadaan Darwin. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat Darwin sedang meeting dengan seorang wanita cantik.


“Jadi gimana, Win?” tanya Yunita.


Valen menguping pembicaraan mereka. Ia sedikit terkejut. Sedekat itukah? Dipanggil nama oleh klien? Bukankah itu sangat tidak pantas dengan seorang CEO besar seperti Darwin?


“Saya sudah cukup lama bermain-main dengan perusahaan kecil kamu ini, Ayu.” Darwin menatap serius wajah Yunita.


Yunita sedikit terkejut dengan ucapan Darwin. Perusahaan kecil katanya? Perusahaan orang tuanya merupakan ketiga terbesar di kota A.


“Maksudmu?”


“Dua Minggu belakangan saya sudah menghabiskan banyak waktu untuk satu proyek ini. Rasanya hasilnya kurang memuaskan, saya berniat ingin membatalkan kerja sama ini.” Darwin menatap Yunita tanpa berkedip.


Yunita tersenyum kecut, ia tidak percaya dengan keputusan sebelah pihak dari Darwin.


“Enggak bisa begini dong, Win. Aku udah keluari banyak duit setiap kali kita mengadakan pertemuan maupun lembur.”


“Oh, itu bukan urusan saya. Sebenarnya proyek kita telah rampung seminggu yang lalu. Namun saya tidak tahu pasti apa tujuan Anda membuat semuanya serumit ini.”


Yunita menelan ludahnya. “Sial!” umpat Yunita dalam hati.


Yunita lupa ia sedang berhadapan dengan siapa. Darwin merupakan salah seorang Direktur yang cukup disegani, di usia muda ia telah berhasil mengepang sayap di dunia bisnis.


Darwin tersenyum tipis, ia telah berhasil memojokkan Yunita. Darwin menempatkan wanita cantik itu dengan perasaan yang cukup runyam. Di satu sisi ia sudah memilih perusahaan Darwin untuk bekerja sama dengannya, di sisi lain Darwin meminta lebih. Sementara uang perusahaan telah keluar banyak 2 Minggu belakangan, jika ia menuruti kemauan Darwin dari mana ia akan mendapatkan uang lagi, jika Darwin membatalkan, Direktur sekaligus ayahnya sendiri pasti akan mengamuk.


“Saya beri waktu dua hari untuk berpikir, saya permisi.” Darwin bangun dari duduknya, ia melangkah keluar dari Cafe tersebut.


“Win, tunggu, enggak bisa begini, dong!” Yunita mencoba mengejar Darwin yang langkahnya cepat. Namun sia-sia, Darwin bergegas meninggalkan Cafe tersebut dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Sementara Valen menatap kepergian adik iparnya itu dengan rasa cukup penasaran. Pasti wanita itu ada sangkut pautnya dengan kepergian Asmira dari rumah, pikir Valen.


Jangan lupa like ya.


__ADS_2