
“Tiwi, kau ke ruangan ku sekarang,” pinta Darwin di balik telepon.
Setelah menerima panggilan dari Darwin, Pratiwi segera menuju ke ruangan bosnya itu, Darwin baru saja tiba di kantor, pagi ini ia tiba lebih awal dari biasanya.
“Pagi, Pak,” sapa Pratiwi.
“Pagi, silakan masuk.”
Pratiwi melangkah masuk ke dalam. Ia duduk berhadapan dengan Darwin. Menunggu sang atasan memulai pembicaraan.
“Kau kenali nama dan tanda tangan ini?” tanya Darwin, ia menyodorkan ponselnya kepada Pratiwi.
Pratiwi tersenyum lalu berkata, “Ini nama aslinya pak Haris, Pak.”
Darwin terbelalak mendengarnya. “Kau yakin, Tiwi?”
“Benar, Handika Riski beliau singkat menjadi Haris.”
Darwin mangut-mangut, ternyata benar tebakan ia semalam. Haris yang berada di balik itu semua, ia tidak habis pikir dengan pria yang usia lebih muda dari dirinya itu. Pria itu benar-benar ingin bermain-main dengannya, bahkan setelah diingatkan sekali pun.
“Atur pertemuan dengan Pak Ferry, saya ingin bertemu dengannya,” titah Darwin.
“Baik, Pak. Ada pesan dari Tuan Kelvin untuk Anda, beliau menghubungi saya via WhatsApp tadi malam,” beritahu Tiwi.
“Kelvin? Apa yang ia sampaikan?”
“Beliau meminta Anda untuk berhati-hati dengan pak Haris, beliau curiga ini ada hubungannya dengan ibu Fenita.”
Darwin tercengang mendengar pesan Kelvin. Pasti ia sungkan untuk memberitahukan langsung padanya, setelah kemarin terjadi cek-cok antara keduanya.
“Bagaimana kabar wanita itu?” tanya Darwin kemudian.
“Kebetulan anak saya dengan Dini, Pak. Saya rencananya mau memperkerjakan dia sebagai pengasuh di rumah saya.”
“Kau yakin ia bisa di percaya?”
“Yakin, Pak. Kalau semuanya sudah beres, saya kembali bekerja.”
__ADS_1
“Baik, silakan.”
•
Jam makan siang tiba, Darwin segera berangkat menuju sebuah restoran kawasan Mangga, pak Ferry telah menunggunya di sana. Berhubung pertemuan kali ini tidak menyangkut soal pekerjaan, ia berangkat seorang diri.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, ia tiba di restoran tersebut. Setelah memarkirkan kendaraannya, ia segera masuk mencari keberadaan pak Ferry.
“Mari ikut saya, Pak,” ajak salah seorang karyawan begitu Darwin tiba di sana.
Pak Ferry telah menunggunya di sebuah ruangan khusus, tidak banyak orang di sana, hanya tamu-tamu penting yang berada di ruangan itu.
“Maaf membuat Anda lama menunggu, Pak,” ucap Darwin merasa tidak enak.
“Santai saja, kebetulan saya baru saja pulang dari Sekolahmu dulu bareng Ayu, kau masih ingat?” tanya Pak Ferry. Darwin tertawa kecil lalu ia menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka sama-sama menikmati hidangan lezat yang di sediakan pelayan restoran tersebut. Menu spesial sengaja di pesan oleh Pak Ferry khusus untuk Darwin.
Beberapa menit suasana hening, yang terdengar hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring.
“Ada apa, mengapa tiba-tiba kau mengajakku bertemu?” tanya Pak Ferry setelah menyudahi makannya.
Pak Ferry tertawa kecil. “Sudah, tidak perlu sungkan seperti itu, katakanlah,” ucapnya sedikit mendesak.
“Begini, Pak. Ini mengenai kerja sama antara saya dan perusahaan Anda,” ujar Darwin.
“Lalu? Apa ada masalah, Ayu membuatmu kerepotan?”
“Tidak, Pak. Sama sekali tidak. Ini menyangkut dengan suaminya.”
Pak Ferry mengerutkan keningnya mendengar ucapan Darwin. “Kenapa dengan pria itu?” tanya pak Ferry tersenyum sinis, raut wajahnya menampakkan ke tidak sukaannya terhadap menantunya itu.
“Saya sedikit terganggu dengan cara kerja beliau, saya berniat ingin membatalkan saja kontrak di antara perusahaan kita. Saya mohon Anda jangan salah paham dulu, kita kapan saja boleh bekerja sama lagi, asalkan bukan Haris yang menanganinya.”
Pak Ferry tercengang mendengar keputusan Darwin sebelah pihak, ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan itu. “Bisa kau perjelas bagaimana maksudmu?”
“Saya menemukan kecurangan dalam kerja pak Haris, Pak.”
__ADS_1
“Tunggu, saya tidak memperkerjakan dia di perusahaan saya. Bagaimana bisa kau katakan dia mencurangimu?”
Darwin sedikit terkejut mendengar penuturan Pak Ferry. Kemudian Ayah Yunita itu mulai menceritakan semuanya kepada Darwin, bahwa ia tidak merestui hubungan anaknya dengan Haris. Dari awal ia tidak menyukai perawakan Haris yang angkuh, namun Yunita tetap bersikukuh ingin membina rumah tangga dengan pria itu.
“Saya kecewa mengapa Ayu membohongi saya. Tunggu sebentar saya akan menghubunginya untuk mendapatkan jawaban apa alasan ia melakukan ini semua.”
Pak Ferry sedikit menjauh ketika ia menghubungi putrinya. Ia terlihat berdebat dengan Yunita yang memang mempunyai watak yang keras.
“Sudah, Pak?” tanya Darwin ketika Pak Ferry kembali bergabung dengannya.
“Atur pertemuan dengan Ayu, ceritakan semua kronologis padanya, rupanya pria itu sudah bertindak terlalu jauh, ia telah menyalahkan gunakan jabatan yang ia pegang.”
Setelah semuanya selesai Darwin segera kembali ke kantor. Dalam perjalanan pulang, pikirannya tidak tenang, ia memikirkan Yunita, ia telah salah menilainya. Persepsinya tentang wanita cantik itu melesat jauh, ia merasa sangat bersalah. Hatinya menjadi tidak tenang.
Ia kembali teringat dengan kata-kata Valen, bahwa Yunita pernah menghubungi seseorang setelah pertemuannya terakhir kali. Darwin harus mengetahui siapa itu, tapi hanya ada satu cara agar ia mengetahui semuanya. Yaitu ia harus bersikap sebaik mungkin dengan wanita itu.
“Harusnya kemarin aku dengar saran Kelvin, andai saja aku sedikit lebih sabar dalam menghadapi Yunita. Pasti semua ini tidak akan terjadi,” gumam Darwin dalam hati.
Tanpa menunggu besok, ia menepikan mobilnya. Darwin segera menghubungi wanita itu, ia mengajaknya bertemu di sebuah coffe shop dekat dengan kantor.
Darwin tiba di sana, tidak lama kemudian Yunita pun datang. Tanpa menunggu lama, setelah pesanan mereka di antar, Darwin memulai pembicaraan.
“Maafkan aku, Ayu.”
Yunita mendongakkan kepalanya. “Kenapa tiba-tiba minta maaf, di sini harusnya aku yang minta maaf. Aku telah membawamu kepada orang yang salah, aku minta maaf, Win.”
Ternyata Darwin kembali salah menilai Yunita. Ia berpikir pasti akan sangat susah untuk menggali informasi dari wanita itu, namun kenyataannya ia tidak perlu menanyakan sepatah kata pun. Yunita berkata bahwa semuanya adalah ide Fenita.
“Lalu kenapa kau bersedia melakukannya, bukankah dulu kita berteman dengan baik?” tanya Darwin. Ia bingung dengan sikap plin-plan Yunita, ia mengatakan senang bekerja sama dengannya lalu kenapa ia berniat menghancurkan perusahaannya.
“Kau tahu alasannya, Win?” tanya Yunita menatap Darwin dalam. Darwin menggelengkan kepalanya.
“Semua ini aku lakukan karena aku mencintaimu.”
Sebuah pengakuan besar yang telah di sembunyikan Yunita puluhan tahun itu akhirnya terucap juga di bibirnya, bertepatan hari ini dengan ulang tahunnya, ia telah mengutarakan isi hatinya kepada pria yang ia cintai itu.
Darwin bangkit dari duduknya setelah Yunita selesai berbicara, ia berniat pergi dari sana. Ia telah salah memberikan harapan kepada Yunita, pasti ia akan kecewa untuk yang kedua kalinya lagi. Namun Yunita memeluk erat Darwin dari belakang.
__ADS_1
“Jangan pergi, aku mohon. Ini hari ulang tahunku, setidaknya kali ini saja ...” lirih Yunita di pelukan Darwin.
Jangan lupa like yaa ..