
Pagi-pagi Yunita sangat bersemangat. Setelah bangun dan membereskan tempat tidurnya, ia bernyanyi riang di balkon. Yunita terus membelai lembut perutnya yang hamil muda, ia menengadah ke atas, ia biarkan hangatnya mentari pagi menerpa wajahnya. Angin bertiup sepoi-sepoi menyibakkan rambutnya. Tiba-tiba suara langkah kaki mengagetkannya yang asyik bersenandung kecil.
“Kau sudah bangun?” tanya Ferry sembari terus mengetuk pintu kamar Yunita.
“Sudah, Pa.” Yunita melangkah masuk ke kamarnya dan membuka pintu.
“Kau terlihat lebih baik pagi ini?” tanya Ferry lagi.
“Ya dong, Pa. Oya, udah rapi, mau ke mana Papa?” tanya Yunita.
“Kau baik-baik di rumah, jangan ke mana-mana dulu. Papa mau pergi ketemu klien sebentar,” pinta Ferry. Ia mengecup kening putrinya sebentar sebelum berlalu pergi.
Setelah mandi dan berpakaian santai, Yunita turun untuk sarapan, ia terus memanggil pembantunya. Namun tidak ada jawaban, rumah yang besar bak istana itu. Tampak sepi, tidak ada seorang pun di sana selain Yunita. Baru saja sekitar 15 menit yang lalu, Inah pembantunya keluar rumah untuk belanja, di antar oleh sopir pribadi mereka.
Jam menunjukkan pukul 10:00 pagi, Yunita sarapan dengan tenang di meja makan. Suasana sangat sepi, yang terdengar hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring hingga membunyikan suara khasnya.
“Kenapa aku merasa seperti ada yang mengawasi ku, ya?” gumam Yunita. Lalu ia kembali meneruskan makannya tanpa berpikiran aneh-aneh lagi.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Yunita segera menoleh ke belakang mencari sumber suara, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Yunita mulai panik, ia menyudahi makannya lalu bergegas naik ke kamarnya. Tiba di sana, ia kunci pintu kamarnya serta menghubungi ayahnya.
“Kenapa aku naik ke kamar, harusnya aku pergi dari rumah,” gumam ia gelisah.
Suara langkah kaki semakin jelas terdengar. Kali ini seperti seseorang sedang menaiki tangga. Yunita duduk di pojok kamarnya, ia memeluk kedua lututnya, keringatnya bercucuran. Yunita terus mencoba menghubungi Ferry. Namun tidak tersambung, Yunita semakin panik.
Tok ... tok ....
Awalnya, hanya ketukan pintu biasa. Lalu perlahan mulai seperti orang menggedor dengan keras.
Dung! Dung, dung!!!
Yunita menjerit di kamarnya, orang yang masih tidak di ketahui siapa itu, terus menggedor pintu. Yunita semakin takut, tangannya dingin seperti es. Jantungnya berdegup kencang. Yunita kemudian menghubungi Darwin, ia sudah tidak punya pilihan lagi. Ia menggenggam erat ponsel di tangannya, ia berharap Darwin mengangkat panggilannya.
__ADS_1
“Mmm ....” terdengar suara ketus Darwin di balik telepon.
“Win, tolong aku Win, seseorang meneror ku,” bisik Yunita.
“Bicara apa kau? Aku tidak mendengarnya,” sahut Darwin dengan mengerutkan keningnya. Merencanakan apa lagi wanita ini. Batin Darwin.
“Win, tolong aku. Aku dalam bahaya, kau tidak peduli dengan anakmu, kau boleh membenciku, tapi bagaimana dengan bayi yang tidak berdosa ini?” Yunita mulai terisak dalam tangisnya.
Suara pintu semakin kencang. Mungkin sebentar lagi pintu itu akan terbuka secara paksa. Bagaimana dengan nasibku, pikir Yunita.
“Aku tidak peduli apa pun yang terjadi denganmu, kemarin aku sudah mengatakannya, bukan?” ucap Darwin.
Yunita putus asa, ia pasrah, ia matikan panggilan yang sama sekali tidak membantunya itu. Yunita menangis pilu, sembari mengelus perutnya yang masih rata.
“Siapa pun di luar sana, tolong jangan ganggu aku! Ambil saja semuanya, tapi jangan ganggu aku!” teriak Yunita.
Sementara Darwin, ia jadi gelisah setelah mendapatkan panggilan dari Yunita, ia mondar-mandir di ruangannya. “Bagaimana kalau Yunita benar dalam bahaya?” gumam Darwin ikut gelisah.
“Ah, tidak mungkin. Pasti wanita itu sedang merencanakan sesuatu bersama ayahnya!” lanjut Darwin.
Darwin meraih kunci mobilnya lalu ia berlari kencang menuju lift. Darwin berubah pikiran, ia segera meluncur pergi ke rumah Ferry untuk mengecek kondisi Yunita.
Sementara di rumah Ferry, Yunita terus berteriak minta tolong. Ketakutannya semakin menjadi, saat engsel pintu sudah hampir terlepas seluruhnya. Yunita membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Lalu terdengar suara.
Brakkkkkk!!!
Pintu berhasil terbuka. Suara langkah mendekati Yunita, wanita itu tak berani mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang telah mengganggunya. Lalu tiba-tiba seseorang menjambak rambut Yunita, ia meringis kesakitan, kini ia menatap pria bertopeng di hadapannya.
“Jangan sakiti aku!” teriak Yunita memelas, air mata jatuh di pipinya. Pria itu melepaskan cengkeraman tangannya.
Yunita melihat pria itu mengenakan sepatu, ia kenal betul dengan sepasang sepatu yang di kenakan pria itu. Yunita bangkit dari dan berdiri dengan berani di depan pria itu.
__ADS_1
Plaakk!!
Sebuah tamparan keras ia layangkan di pipi pria bertopeng itu. “Buka topengmu, Haris!!” teriak Yunita sembari tersenyum sinis, ia menyeka air matanya.
Yunita ingin menampar Haris lagi, namun kali ini tangannya yang kecil itu di hadang oleh Haris, lalu pria itu menghempaskan tubuh Yunita dengan keras ke lantai. Yunita menjerit kesakitan.
Haris menarik topeng yang melekat di wajahnya. “Kau berani menamparku!” Haris kembali menjambak rambut Yunita dengan kasar.
“Kau sudah menggugat ku, apa lagi yang kau mau, Haris?” teriak Yunita lagi.
“Kau kira semuanya akan selesai dengan kita bercerai?” tanya Haris tertawa terbahak-bahak.
“Tidak semudah itu, sayang,” lanjutnya lagi, sambil bermain dengan pisau kecil yang ia ambil di balik sakunya.
“Kau mau membunuhku?” tanya Yunita melemah, ia gemetar melihat pisau lipat di tangan Haris.
Haris menggumam, seperti sedang berpikir lalu ia tertawa sambil berkata, “Sepertinya ide kau bagus juga.”
“Kau jangan gila, Haris!”
Kemudian mata Yunita berkunang-kunang, ia merasakan pusing, peluh membasahi keningnya, lalu ia jatuh terkulai ke lantai. Haris panik, ia menepuk-nepuk pipi Yunita yang pingsan. Namun tetap saja Yunita tidak sadarkan diri, karena ketakutan, Haris pergi dari rumah Ferry.
Tidak lama kemudian, Darwin tiba di rumah Ferry. Rumah itu tampak sepi, pintu depan terbuka lebar. Darwin langsung masuk tanpa permisi, ia terus memanggil nama Yunita. Namun tidak ada jawaban, Darwin mencari keberadaan Yunita, ia masuk ke setiap kamar yang ada di rumah itu. Lalu tiba-tiba ia naik ke lantai dua, salah satu pintu kamar terbuka, ia segera masuk.
“Ayu!” teriak Darwin, ia segera mendekati Yunita dan mengangkat tubuh wanita itu.
“Ayu, bangunlah!”
Darah segar mengalir di paha Yunita. Darwin merinding melihatnya, ia segera melarikan Yunita ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Yunita membutuhkan perawatan intensif.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1
Oya, baca novel baru aku ya, Judulnya 'HIDUP TAPI MATI' genre misteri.
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya. Aku tunggu kalian di sana, luph u guys 😘😘