Eternal Promise

Eternal Promise
Part 79


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah kepulangan Yunita dari rumah sakit. Aktivitas kembali berjalan normal bagi Darwin dan Asmira. Namun, keberadaan Yun masih misterius. Polisi tidak menemukan jejaknya. Entah ke mana putra Takao Shuji itu pergi, yang jelas, seluruh kota A telah mengetahui apa yang terjadi pada Yunita beberapa hari lalu.


Berita itu sampai ke telinga ayah Yun, Takao Shuji. Ia kembali menyalahkan Bu Ida dengan berbagai sumpah serapah yang ia lontarkan pada wanita paruh baya itu. Persis seperti kejadian dahulu kala, saat Yun bertengkar hebat dengan anaknya. Semuanya ia libatkan Bu Ida serta perangainya pun disamakan Takao Shuji. Tanpa menjawab, Bu Ida hanya meneteskan air matanya.


“Bu, ada apa?” tanya Asmira. Bu Ida menekan tombol merah, lalu ia sembunyikan ponsel di punggungnya. diseka air mata dengan punggung tangannya sembari tersenyum.


“Aku tahu, ibu pasti merindukan Mas Yun, kan?” tanya Asmira lagi, kali ini peluk Bu Ida direbahkan kepalanya di pundak wanita itu.


“Aku pun sama, Bu. Aku tahu, semua ini terjadi karena aku, harusnya dari awal aku tidak memberinya harapan. Aku juga tahu, Mas Yun orang yang baik.”


Asmira menyesalkan tindakannya dulu, Yun terlampau kecewa. Semua kejahatan itu terjadi karena upaya ia melampiaskan kekesalannya. Namun, semuanya telah terlambat. Andai saja, sekali Asmira bertemu dengan Yun. Ia akan meminta maaf sebesar-besarnya pada pria telah banyak membantunya dulu. Niat tersebut, ia utarakan pada Bu Ida.


Bu Ida menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berkata, “Kau serius ingin bertemu dengannya?” tanya Bu Ida kemudian. Asmira menganggukkan kepalanya.


“Datanglah ke alamat rumah lamamu, deretan 5 dari rumahmu dulu, itulah tempat tinggal Yun,” ujar Bu Ida kemudian.


Asmira mengerutkan keningnya. Ia bangun dari duduknya lalu menyilang kedua tangan di dadanya. “Sekarang aku mengerti,” ucapnya. Asmira tersenyum sinis saat Bu Ida tak melihatnya. Ia berhasil memancing Bu Ida agar mengatakan keberadaan Yun.


“Panjang jika diceritakan, Mira. Mengertilah, semua ini karena dirimu. Cuma kau yang bisa membuat semuanya kembali seperti semula.” Bu Ida kembali terisak ketika mengingat semua yang telah dilakukan Yun. Jika saja nyawa Yunita tak tertolong, Bu Ida pasti akan sangat menyesal. Asmira memeluk Bu Ida, dalam hati ia berkata maaf yang sebesar-besarnya.

__ADS_1


Asmira berangkat seorang diri menuju alamat rumah lamanya. Semua tentang masa lalu kembali mencuat di ingatannya. Ia teringat bagaimana saat Yun, pria pendiam yang melamar pekerjaan di rumahnya sebagai sopir. Pratiwi yang mengurus semua tentangnya tidak tahu menahu apa pun tentang informasinya. Belakangan setelah Yun membawa Asmira ke pulau B. Darwin baru mengetahuinya. Entah bagaimana caranya, Yun berhasil masuk ke rumah Asmira.


Bulan pertama ia bekerja, semuanya berjalan normal. Hingga suatu hari Asmira mencium kebohongan Darwin yang mulai bermain api di belakangnya. Yunita telah bersekongkol dengan Yun untuk menghancurkan rumah tangga Asmira. Keduanya bermain cukup profesional. Tidak ada yang curiga kalau keduanya saling kenal. Yun yang tak banyak bicara, menunjukkan sisi baiknya kala itu. Asmira kecewa yang teramat sangat pada suaminya. Dirinya yang tak tahu apa-apa, percaya begitu saja pada semua yang berlaku.


Yun berhasil membawanya pergi Asmira, serta menghasut Darwin secara terus menerus. Asmira semakin benci terhadap suaminya. Hingga setelah keguguran Yunita pun, seakan kebencian tak mau pergi dari Asmira. Semua tentang suaminya ia kubur dalam-dalam. Perlahan-lahan, ia mulai jatuh hati pada kebaikan Yun tanpa curiga sedikit pun.


Namun tetap saja. Yang namanya kejahatan. Tuhan tidak akan membiarkan semua itu terus berlaku. Segalanya berubah saat si kembar lahir ke dunia ini. Walau telah berjanji ia akan hidup bersama dengan Yun setelah perceraiannya selesai. Namun, hatinya berkata lain. Hari demi hari, ia mulai merasakan ada hal yang berbeda dari Yun.


Syukur selalu Asmira panjatkan pada Tuhan yang telah mengubah kebenciannya kembali menjadi cinta. Satu-persatu mulai terbongkar semuanya. Suaminya pria yang baik, tidak ada sedikit pun niat untuk melukai dirinya. Asmira memejamkan matanya mengingat semua kejadian itu.


Asmira menghubungi polisi untuk segera menuju alamat tersebut. Ia akan masuk terlebih dulu, lalu ketika ia memberikan aba-aba. Polisi segera mengepung rumah Yun.


Tiba di sana. Suasana sangat sepi. Tidak terlihat adanya kehidupan di sana. Asmira memantapkan langkahnya untuk masuk ke dalam. Perlahan diketuk pintu olehnya.


Asmira mondar-mandir di teras. Yun tak bergeming. Namun, Asmira tak mau menyerah begitu saja. Ia terus memanggil Yun, ia mencoba meyakinkan Yun agar memberinya peluang masuk.


“Mas, aku mohon. Keluarlah, aku tidak menyalahkanmu. Aku tahu, kau terlalu mencintaiku ...” ujar Asmira sembari terus mengetuk pintu.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam. Akhirnya, Asmira berhasil memancing Yun keluar. Perlahan, Yun membukakan pintu untuk Asmira.

__ADS_1


Asmira segera memeluk Yun erat serta menanyakan kondisinya, tapi Yun terlihat baik-baik saja ia tampak heran dengan sikap Asmira yang tidak seperti biasanya. Namun dalam hati kecilnya, ia gembira bisa memeluk Asmira serta menatapnya sedekat itu.


“Ibu bersamamu?” tanya Yun kemudian. Asmira menganggukkan kepalanya.


“Aku tahu, kau akan menjaga Ibuku dengan baik, terima kasih,” ucap Yun lagi.


Yun mengajak Asmira masuk. Asmira menurutinya agar Yun tidak menaruh curiga padanya. Walau terlihat jelas Asmira panik dan risi, ia sembunyikannya.


“Mira, katakan pada Ibuku, aku minta maaf padanya. Aku telah mengecewakannya.” Yun menggenggam tangan Asmira. Asmira tampak gemetar, tangannya dingin. Yun bangkit dari duduknya. Ia rasa, ada yang tak biasa dari Asmira. Yun menyentuh pipi Asmira, tapi Asmira membuang pandangannya ke samping.


“Kau takut padaku?” tanya Yun. Ia melangkah menjauh dari Asmira sebentar, lalu ia kembali mendekatinya.


“Aku tidak akan melukaimu, Mira. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.” Yun meraba wajah Asmira dengan ujung jemarinya. Ia menatap Asmira tak berkedip. Asmira merapatkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan wajah berpaling dari Yun.


Jantung Asmira berdegup kencang. Bukan karena ia grogi berada di dekat Yun. Melainkan ia takut terjadi sesuatu padanya. Asmira terlalu nekat mendatangi Yun seorang diri. Asmira menekan alarm kunci mobilnya. Itu merupakan kode yang telah Asmira janjikan pada polisi.


Yun bangun dari duduknya. Ia tahu telah membuat Asmira takut. Tanpa rasa curiga, Yun berdiri mematung di hadapan Asmira. Polisi mulai menyelinap masuk ke rumah Yun serta mengepungnya.


Cukup lama terjadi keheningan di antara Yun dan Asmira. Lalu Asmira bangkit dari duduknya seraya berkata, “Maafkan aku, Mas. Aku janji akan menjaga ibumu dengan baik.”

__ADS_1


Yun mengerutkan keningnya. Lalu tanpa sadar, polisi muncul di belakangnya serta mengangkat senjata padanya. Yun mengangkat kedua tangannya, ia menatap Asmira penuh kecewa. Ia tak menyangka jika Asmira telah menjebaknya dengan berpura-pura datang berkunjung padanya. Air mata menetes di pipi Yun. Asmira menjauh dari Yun. Lalu polisi mengiringnya keluar serta mengamankannya ke kantor polisi.


Jangan lupa like ya....


__ADS_2