Eternal Promise

Eternal Promise
Part 31


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 15:30, mereka baru tiba di kantor Haris karena jalan lumayan padat sore itu. Namun belum sempat Darwin turun, ia menerima panggilan dari Pratiwi.


“Tunggu sebentar, asistenku telepon,” pinta Darwin pada Kelvin.


“Halo, Pak. Anda lagi di mana?” tanya Pratiwi.


“Aku di depan kantor Haris bersama Kelvin. Katakan ada apa?”


“Baru saja Pak Haris mengirim email, Anda harus membayar denda karena kesalahan dalam menangani proyek, mereka tidak mau ambil risiko rugi besar.”


“Denda apa lagi? Kenapa merugikan mereka?” Darwin menggaruk keningnya, emosinya semakin memuncak.


“Mengenai File yang hilang kemarin, mereka sudah meminta desainer hebat lainnya untuk menutupi kecacatan file kita, Pak. Jadi sebagai gantinya, ya mereka minta ganti rugi.”


“Arghhh!!!” teriak Darwin. Pratiwi menjauhkan telepon dari telinganya karena teriakan sang bos yang penuh amarah itu terdengar.


“Jika mereka ingin, seharusnya bisa meminta kita yang mendesain ulang, kenapa harus mencarikan yang baru lalu meminta ganti rugi pada kita!?”


Tanpa bersabar lagi, Darwin turun dari mobil setelah ia menutup panggilan sebelah pihak dengan Pratiwi, Kelvin mengikutinya. Kelvin merasa sangat bersalah, kemarin ia sudah bercerita banyak mengenai Darwin pada Haris, ia tidak tahu akan begitu kejadiannya. Ia tak menyangka sepupunya itu mempunyai niat terselubung kepada sahabatnya Darwin.


“Anda tidak boleh masuk, Pak. Tuan Haris sedang meeting,” ujar salah seorang karyawan yang menghalangi Darwin. Namun bukannya menggubris perkataan karyawan tersebut, Darwin langsung masuk begitu saja.


Brakk!!!


Darwin membanting pintu ruangan Haris cukup keras, wajahnya memerah, hidungnya mengembang, nafasnya memburu.


“Maaf. Pak. Saya sudah melarang beliau ~” Belum selesai wanita itu berkata, Haris mengangkat tangannya. Wanita itu segera berlalu dari ruangan itu.


“Pak Darwin, silakan masuk. Oh, ada kau juga Kak.” Wajah Haris seketika berubah ketika ia melihat Kelvin juga di sana, keringat dingin perlahan keluar membasahi keningnya.


Darwin menatap tajam manik mata Kelvin, ia berharap Kelvin segera menyelesaikan permasalahan itu jika ia ingin Darwin mempercayainya bahwa bukan dialah pelakunya.


“Kenapa kau menjebak ku?” tanya Kelvin menatap Haris tanpa berkedip.


“Apa yang kau katakan, Kak?”


“Kenapa kau menyuruhku menghubungi wanita pelayan Cafe itu? Apa kau ingin menghancurkan persahabatan antara aku dan Darwin!”

__ADS_1


“Tunggu, apa yang kau maksud? Kenapa jadi menyalahkan aku begini, aku hanya menerima perintah mu saja, Kak. Bukankah kau yang menyuruhku menjemput wanita itu?”


Kelvin menghela nafasnya dengan berat. “Kau jangan coba-coba mengelabuhi ku, ku bunuh kau!” teriak Kelvin ia mencengkeram erat kerah baju Haris.


Darwin melerai keduanya, ia menatap Haris dan Kelvin bergantian, lalu ia tersenyum kecut. Ia datang ke sana dengan tujuan mendengar semua penjelasan Kelvin yang membenarkan dirinya. Namun bukan jawaban yang ia temui, keduanya saling menyalahkan dan tidak ada yang mengakui siapa yang bersalah.


“Atas dasar apa Anda meminta ganti rugi pada perusahaan kami?” tanya Darwin kemudian.


“Saya rasa asisten Anda salah mengartikan email saya, denda berbeda dengan ganti rugi. Denda ini untuk menutupi kecerobohan Anda dalam menangani proyek besar ini, saya mencoba menutupi kesalahan Anda dari perusahaan ternama lainnya, seharusnya Anda berterima kasih kepada saya!”


Darwin tersenyum kecut mendengar jawaban Haris yang seolah-olah telah membantu Darwin dari padangan perusahaan lain yang ikut bekerja sama di proyek besar itu.


“Dengan cara menyuruh orang lain mencuri fileku, lalu menghapus rekaman Cctv lalu membawa wanita itu ke rumahmu!”


Darwin benar-benar geram dengan sikap Haris, ternyata sebuah kesalahan besar ia pernah meremehkan rivalnya itu.


Kemudian Haris mengambil sebuah map dari meja kerjanya, ia berikan pada Darwin. “Ini hasil desainer ternama, Valen.”


Mata Darwin terbuka lebar mendengar sebutan nama Valen keluar dari mulut Haris, ia berharap nama itu bukan Valen kakak iparnya. Namun kenyataannya berbeda, desainer hebat itu memang benar Valen. Darwin menggaruk tengkuknya.


“Kenapa harus kau, Mas,” gumam Darwin dalam hati.


Darwin mendekati Haris, ia menatap kedua manik mata miliknya. Lalu sebuah senyuman ia paksakan di bibirnya.


“Anda telah keluar dari zona aman Anda Pak Haris. Jangan lupa, Anda sedang berhadapan dengan siapa,” ujar Darwin lalu ia menepuk bahu Haris.


“Anda terlalu buruk menilai saya, Pak. Jangan salah, terkadang orang yang kita percaya bisa jadi ia yang telah mengurangi kita.”


Baru saja ucapan itu keluar dari mulut Haris, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Haris. “Tutup mulutmu, Haris!” teriak Kelvin.


Haris meringis kesakitan, dasar segar keluar dari ujung bibirnya. “Sudah gila kau Kak!” teriak Haris.


“Sebaiknya aku permisi, aku sedang tidak ingin menonton drama Korea!” Darwin bergegas keluar dari ruangan Haris, sekali lagi ia banting pintu cukup keras.


“Win, tunggu!” Kelvin mengikuti langkah Darwin yang cepat.


“Kak! terima kasih. Berkat kau aku berhasil mengelabuhi sahabatmu itu. Ha ha ha Aku sangat puas!” Haris tertawa terbahak-bahak, ia berhasil mempermainkan Darwin untuk waktu yang sangat singkat.

__ADS_1


“Ternyata kau tidak sehebat itu Darwin,” gumam Haris.


“Win, tunggu!” teriak Kelvin lagi.


“Sudahlah, Vin. Apa pun yang ingin kau katakan, aku tidak percaya lagi padamu!”


“Win, aku tidak mungkin melakukan ini semua!”


Namun Darwin tidak menggubris semua ucapan Kelvin. Ia sama sekali tidak menemukan jawaban bahwa bukan sahabatnya itu pelakunya. Ia memanggil sebuah taksi lewat.


“Aku berjanji akan membantu mu!” teriak Kelvin saat Darwin naik taksi tersebut dan berlaju meninggalkan ia yang masih di sana.


Kelvin terpaku, ia melangkah lemas menuju mobilnya. Ia tak menyangka akan begitu akhirnya, kemudian matanya kembali terbuka sempurna ketika ingatannya kembali kepada orang tuanya Fenita.


“Apa ini ada kaitannya dengan mama?”


Fenita saat ini sedang berada di rumah adiknya yaitu orang tua Haris. Ia tak percaya jika masalah kali ini kembali ada orang tuanya di belakang itu semua.



Darwin tiba di kantor jam 17:15. Ia berpapasan dengan Pratiwi di tempat parkir, Darwin terlihat buruk, ia sangat kacau.


“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya Pratiwi. Darwin menggeleng, lalu dengan gontai ia melangkah masuk ke kantornya. Pratiwi mengurungkan niatnya untuk pulang, ia menghubungi suaminya agar tidak menjemputnya terlebih dulu.


“Kau tidak jadi pulang?” tanya Darwin saat melihat Pratiwi ikut masuk lift. Pratiwi menggelengkan kepalanya.


“Mereka mempermainkan saya Tiwi ...” ujar Darwin sendu.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?”


“Tidak ada yang terjadi Tiwi, semuanya hanya permainan. Semuanya baik-baik saja, kau tahu siapa yang desainer yang di pilih Haris? Mas Valen, suami kakakku.”


Pratiwi tersenyum kecut, Haris benar-benar licik. Ia menutup rapi semua kesalahannya, setelah ia membuat semuanya kacau, lalu ia selesaikan dengan baik, seolah-olah dialah penyelamatnya. Terlebih dengan hebatnya ia berhasil membuat Kelvin jadi tumbalnya.


“Batalkan saja kontrak dengan mereka Tiwi,” ujar Darwin saat pintu lift terbuka.


“Membatalkan kontrak di denda 2,2 Triliun, Pak,” ucap Pratiwi.

__ADS_1


“Apa!?”


JANGAN LUPA LIKE YA....


__ADS_2