
Sementara di lain tempat, saat Asmira mulai bangkit dari keterpurukannya, Darwin malah semakin kacau. Bukan karena ia masih berlarut-larut dalam kesedihannya, tapi karena ia kalah saing bisnis. Darwin yang sudah sekian tahun mengembangkan sayapnya di dunia bisnis. Kini usianya tak lagi muda, mungkin itu adalah salah satu penyebab perusahaannya tak lagi di minati banyak orang. Kini setiap tahunnya semakin banyak lulusan desainer terbaik dari berbagai negara-negara hebat. Wajar bila, kemampuannya dalam mendesain sedikit tergeser. Tidak hanya di bidang itu saja, dari perusahaan infrastruktur pun ia mulai sedikit tergeser karena tidak pandai mengelola dana, sehingga satu proyek kecil saja ia bisa menghabiskan dana terlalu besar. Sementara untuk saat-saat seperti ini, banyak proyek sedang berlomba-lomba memenangkan tender yang mengutamakan ide dengan pengeluaran dana yang sedikit.
“Pak, saran saya kita perlu merekrut karyawan baru agar perusahaan kita bangkit lagi,” ujar Pratiwi mengagetkan Darwin.
Akhir-akhir ini Darwin tak banyak bicara, hanya pikirannya yang bergejolak, semuanya hancur setelah kepergian Asmira darinya. Darwin ingat betul, dulu saat awal-awal mereka menikah, bisnis Darwin maju pesat, baik dari perhotelan maupun dari perusahaannya yang lain. Tapi kini, semuanya seperti terenggut darinya.
“Kau atur saja Tiwi,” sahut Darwin lesu.
Pratiwi menyodorkan map berisi data-data karyawan yang ia rekomendasikan pada bosnya itu. Darwin meraih serta membukanya lembar demi lembar, ia baca dengan teliti.
“Kau bisa memanggil beberapa dari mereka yang sudah aku beri tanda,” ujar Darwin ketika ia mengembalikan map itu pada Pratiwi.
Saat Pratiwi ingin keluar dari ruangannya, Darwin kembali memanggilnya. “Bagaimana email dari perusahaan Jepang? Sudah ada balasan? Ini sudah sebulan lebih.”
Pratiwi menghentikan langkahnya, ia kembali duduk. “Sudah saya coba kirim lagi, tapi belum ada respons, Pak. Rasanya, kita perlu bekerja sama dengan mereka untuk menaikkan kembali nama perusahaan kita, tapi ya begitulah, Pak.”
“Apa perlu aku sendiri yang mengirim email pada mereka?” tanya Darwin kemudian.
Pratiwi terdiam, dari kemarin ia juga berpikir demikian. “Anda coba saja,” sahut Pratiwi.
Sembari menunggu kedatangan karyawan baru dengan lulusan terbaik universitas ternama luar negeri itu. Darwin memutuskan untuk mengirimkan email kepada perusahaan Jepang tersebut.
Namun sudah 2 hari, belum juga ada respons. Darwin tidak bosan untuk terus mengecek email. Darwin sangat berharap bisa bertemu dengan anak Takao Shuji dan bekerja sama dengannya.
Setelah lama menunggu akhirnya penantian Darwin tidak sia-sia. Sore itu saat hendak pulang kantor, ia sempatkan untuk mengecek email-nya, ia sangat terkejut sekaligus senang mendapatkan balasan email dari perusahaan Jepang itu.
Mari kita atur jadwal Minggu ini
__ADS_1
Darwin tersenyum membaca email tersebut.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Darwin sudah tampil rapi, ia sangat bersemangat untuk bertemu dengan putra Takao Shuji. Keduanya telah membuat janji siang hari ini di sebuah Cafe.
••••
Hari terus berganti, bulan terus berlalu, tanpa terasa sudah 2 bulan perpisahan Darwin dengan Asmira berlangsung. Kehamilan Asmira sudah semakin besar, tapi itu tidak membuat aktivitasnya surut, ia tetap giat bekerja walau uang selalu di kirim setiap bulannya oleh Yun.
Sejak semalam tubuh Asmira kurang fit, namun ia tetap menyiapkan pesanan untuk pagi ini. Bu Ida sudah melarangnya kerja pagi itu, namun Asmira tetap saja kekeh ingin membantu Bu Ida.
Baru 10 menit Asmira masak, tiba-tiba matanya berkunang-kunang, ia merasakan pusing dan lemas. Bu Ida panik melihat keringat Asmira bercucur di keningnya, ia memapahnya ke sofa ruang tamu.
“Bu, saya pusing,” ucap Asmira, ia terus memijat pelipisnya.
“Sudah aku bilang, kau jangan terlalu lelah, kasihan anak yang di perutmu,” protes Bu Ida.
“Aku tidak menyuruhmu jadi wanita lemah, cuma aku menyarankan agar kau mencari seseorang yang bisa membantumu masak kau bayar dia per bulan,” ucap Bu Ida lagi.
“Maksud Ibu aku cari karyawan begitu?”
Bu Ida mengangguk, ia kasihan melihat Asmira tampak kelelahan dengan perut buncitnya. Saat periksa ke dokter kemarin, dokter mewanti-wanti agar ia tidak kelelahan dan banyak pikiran. Namun Asmira masih saja tidak menggubrisnya.
Asmira meminta Erna membantunya mencarikan seseorang yang pandai masak dan mau tinggal di rumahnya. Karena mereka harus masak pagi-pagi, tidak mungkin nantinya orang tersebut harus datang ke rumahnya pagi-pagi buta. Tentu itu akan sangat merepotkan.
Setelah membagikan info ke grup sosial media pribadinya, akhirnya Erna menemukan seseorang yang pandai masak dan bersedia tinggal di rumah Asmira. Wanita itu sedikit lebih muda dari Bu Ida.
Setelah memperkerjakan wanita tersebut di rumahnya, akhirnya Asmira tak perlu lagi bangun pagi-pagi. Tugasnya setiap hari hanya mengantar jemput Evano sekolah saja.
__ADS_1
Aktivitas yang mereka lakukan itu-itu saja setiap hari, sehingga membuat Evano bosan. Malam itu ia merengek pada Asmira, ia mengajak maminya jalan-jalan, ia merasa kesepian setiap harinya hanya bermain di rumah saja.
“Besok aku libur sekolah, ayo kita jalan-jalan,” rengek Vano sembari bermanja-manja pada Asmira. Dari kejauhan Bu Ida menatap keduanya, ia merasa iba melihat evano seperti itu. Ia menghubungi Yun dan memberitahukan berita tersebut kepada pria itu tanpa sepengetahuan Asmira.
“Kau mau jalan-jalan ke mana?” tanya Asmira.
“Terserah Mami, yang penting keluar rumah, aku bosan!”
Keesokan harinya, Asmira membawa Evano jalan-jalan, walau hanya berdua, Evano terlihat sangat bahagia. Evano menggandeng erat tangan Asmira, seolah-olah ia tak ingin genggaman tersebut lepas dari tangannya.
Setelah seharian lelah bermain dan jalan-jalan, akhirnya Evano minta pulang, namun sebelum keduanya kembali, Evano mengajak Maminya makan es krim. Untuk pertama kalinya, Asmira menuruti kemauan putranya itu.
Karena terlalu lelah bermain, Evano tertidur saat dalam perjalanan pulang. Hari semakin gelap, Asmira melaju cepat mobilnya di tengah-tengah hingar-bingar kota B. Asmira mengusap lembut kepala Evano, perlahan air mata menetes di pipinya. “Maafkan Mami, Nak. Kau harus menderita karena sikap ayahmu, maafkan Mami yang membuat kau terpisah dari orang-orang yang menyayangimu,” gumam Asmira dalam hati.
Keduanya tiba di apartemen. Asmira kesulitan menggendong Evano, perutnya yang hamil tentu menjadi penyebab utamanya. Asmira tak sampai hati jika harus membangunkannya, ia usap dengan lembut kepala anaknya. Dengan susah payah Asmira tetap mencoba untuk menggendong Evano.
“Biar aku saja,” ucap Yun mengagetkan Asmira.
“Mas, kau di sini?”
Tanpa menjawab, Yun menggendong Evano naik lift menuju lantai 16. Evano benar-benar terlelap, ia sama sekali tidak terbangun dari tidurnya. Tiba di kamarnya, Yun mengusap lembut kepala Evano serta menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Kau tidurlah, besok kita akan ke pantai,” ujar Yun dengan sengaja agar Asmira mendengarnya. Lalu ia bergegas keluar meninggalkan Asmira yang masih berdiri di sana.
Asmira mengekor di belakang Yun. “Tapi, Mas. Besok Vano masuk sekolah, aku sudah mengajaknya bermain wahana tadi, kau ~”
“Aku sudah meminta izin untuk 2 hari ke depan pada pihak sekolah,” potong Yun. Asmira terdiam, dari kejauhan, Bu Ida tersenyum menatap keduanya.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...