
Marni sedang menyiram bunga di halaman depan. Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di pintu gerbang, lalu turun Yun dan Evano. Begitu mengetahui siapa yang datang, dengan tergopoh-gopoh Marni masuk ke dalam mencari Martha.
“Buk Nyonya, Buk!” panggil Marni.
“Ada apa Marni? Kenapa kau teriak-teriak?” tanya Martha begitu melihat Marni terengah-engah.
“Ada Tuan kecil Buk Nyonya,” sahut Marni sembari menata nafasnya.
“Apa yang kau katakan?” tanya Martha sekali lagi.
“Tuan kecil Evano ada di depan,” ucap Marni kemudian.
Martha segera menuju ke depan untuk memastikan apakah benar Evano di sana. Hatinya begitu gembira melihat cucunya ada di sana. Evano segera berhamburan ke pelukan Martha. Air mata bahagia menetes di pipi Martha, ia mencium kening cucunya bertubi-tubi.
“Aku rindu Nany,” ucap Evano.
“Nany juga sayang,” sahut Martha, ia tak akan melepaskan pelukan itu.
Yun terharu melihat pertemuan cucu dan nenek itu, mereka sudah lama terpisah, ia bisa bayangkan bagaimana rindu Martha terhadap Evano.
“Nak, Yun. Terima kasih sudah menjaga mereka dengan baik,” ucap Martha kemudian.
“Sama-sama, Buk.”
“Mari masuk dulu,” ajak Martha.
Yun melangkah masuk, ia tak sampai hati menolak ajakan ibunda Darwin itu. Tiba di dalam, Yun dijamu cukup baik.
“Grandpa mana?” tanya Evano, ia memutar pandangannya ke sekelilingnya. Biasanya Marco duduk di pojok ruangan dekat teras samping, ia menghabiskan waktu berjam-jam dengan membaca di sana.
Martha tertunduk, ia mengusap kepala Evano dengan lembut. “Grandpa di kamar sayang, kau mau masuk?” tanya ia kemudian. Evano mengangguk, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Nak, Yun. Kau ikut, Mari?” ajak Martha.
Yun sedikit kaget, kenapa Martha mengajaknya masuk. Yun pun tidak membantah, ia mengikuti Martha dan Evano.
__ADS_1
Tiba di depan kamar, dengan ragu Martha membuka pintu perlahan. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam.
“Grandpa, Vano datang,” ucap Evano.
Yun terkejut melihat Marco dalam keadaan seperti itu, ia memalingkan wajahnya ke samping. Evano memeluk erat Martha, rupanya ia ketakutan melihat Marco dalam keadaan seperti itu.
“Tidak apa-apa sayang, Grandpa lagi sakit, sini sayang,” bujuk Martha agar Evano tak takut.
“Pa, ini cucu kita Vano,” ucap Martha membelai pipi Marco.
Perlahan air mata menetes di pipi Marco, ia menggerakkan tangannya terlihat ia mencoba tersenyum. Martha juga tak bisa membendung tangisnya.
“Grandpa senang melihat Evano di sini,” ucap Martha. Evano mendekati Marco, ia genggam tangan kakeknya itu. Rasa takutnya menghilang.
“Nany keluar saja sama Om, Evano masih mau di sini temani Grandpa,” ucap Evano, ia terlihat menggemaskan.
Tiba di ruang tamu, Yun masih syok dengan pemandangan baru saja. Yun tak menyangka semuanya akan berakhir seperti itu. Sulit untuk dimengerti bagaimana jalan pemikiran orang tua, sehingga membuat mereka jadi seperti itu, mereka harus menanggung beratnya beban atas kesalahan fatal yang telah di perbuat anak-anaknya.
“Dokter spesialis sudah mengecek kondisinya. Tapi tidak mudah untuk mengembalikan kondisi papa Darwin kembali normal, Nak,” beritahu Martha kemudian.
Tidak lama kemudian Yun berpamitan, ia akan menjemput Evano kalau Martha sudah menghubunginya nanti. Yun biarkan Evano melepaskan rindunya dengan kakek neneknya.
Yun segera kembali ke rumah, ia tak sabar ingin segera memberitahukan Asmira perihal apa yang terjadi pada Marco. Namun dalam perjalanan tiba-tiba ia melihat mobil Darwin melaju kencang menerobos lampu merah, untung saja tidak terjadi sesuatu dengannya. Karena penasaran, Yun mengikuti mobil Darwin, rupanya ia menuju rumah sakit.
Tiba di sana, terlihat Darwin menggendong seorang wanita lalu ia segera masuk ke rumah sakit. Yun mengikuti Darwin secara mengendap-endap. Darwin terlihat sangat panik, kemudian dokter segera menangani wanita itu.
Darwin menghubungi Ferry, ia mondar-mandir di depan ruangan itu. Tidak lama kemudian Ferry datang, ia terlihat begitu kacau. Ferry begitu menyesal ketika dihubungi Yunita tadi ia tak sempat mengangkat panggilan tersebut karena sedang bertemu dengan kliennya.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ferry saat dokter keluar dari ruang gawat darurat.
“Maaf, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan janinnya,” ucap dokter terlihat menyesal.
“Apa! Maksud dokter anak saya keguguran?” tanya Ferry tak percaya. Dokter mengangguk dengan lemah. Ferry segera masuk menemui Yunita.
Yunita membuka matanya perlahan, ia mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya, lalu tiba-tiba ia menjerit histeris. Ferry memeluknya erat, serta menenangkannya.
__ADS_1
“Papa, Haris, Pa. Dia mau bunuh aku dan anakku, Pa!” teriak Yunita histeris.
Ferry tak tahu harus berkata apa, bagaimana kalau Yunita tahu ia sudah keguguran, pasti ia akan sangat syok. Ferry terus membelai kepala Yunita dengan lembut. Perlahan-lahan, ia mulai sedikit lebih tenang.
Darwin masih terpaku di sana, ia tahu dengan perasaannya, haruskah ia bahagia di atas penderita Yunita, atau ia bersedih karena ia baru saja kehilangan anaknya seperti yang dikatakan Yunita.
“Apa ini semua perbuatannya Haris?” tanya Ferry. Yunita menganggukkan kepalanya.
Yunita mengusap perutnya dengan lembut, ia tidak merasakan apa-apa. “Pa, kenapa tidak terasa apa-apa,” ucap ia kemudian.
Ferry terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Yunita mulai panik, ia teringat pagi tadi ketika Haris mendorongnya dengan kasar, hingga ia terjerembap ke lantai. Yunita melihat ke depan dengan pandangan kosong.
“Pa, anakku!” teriak ia kemudian, ia peluk ayahnya erat, ia menangis sejadi-jadinya.
Darwin terenyuh melihat Yunita. Wanita itu begitu menginginkan seorang anak, 10 tahun ia menikah bersama Haris, namun Tuhan tidak menitipkan amanah pada mereka karena Haris mandul.
“Pa, aku mau anakku kembali, Pa!” teriak Yunita.
“Sayang, tenang, ya?” bujuk Ferry.
“Ini semua gara-gara Haris, tangkap dan penjarakan Haris, Pa!!”
Yunita terus menangis histeris, ia begitu syok mengetahui dirinya keguguran. Kini tak ada lagi alasan ia menahan Darwin untuk tetap berada di sisinya. Darwin pasti akan menolak untuk menikah dengannya.
“Kau cepat sembuh,” ucap Darwin dingin, ia tak tahu harus berkata apa. Lalu Darwin melangkah keluar dari ruangan, namun Yunita menarik tangannya.
“Jangan pergi, Win,” pinta Yunita.
Darwin melirik Yunita sekilas, lalu ia tepis tangan wanita itu sembari berkata, “Maaf Ayu, aku harus kembali ke kantor. Cepat sembuh,” ucap Darwin.
Ferry tidak bisa menahan Darwin untuk tetap di sana, ia juga tak lupa berterima kasih pada pria itu, karena ia telah membawa Yunita ke rumah sakit tepat waktu.
“Tidak perlu sungkan, Om. Kalau begitu saya permisi dulu.” Kemudian Darwin melangkah keluar dari rumah sakit dan bergegas pergi dari sana.
Jangan lupa like ya.
__ADS_1
Please dong, buat kalian mampir di novel baru aku, cek di profil aja. Sumpah jadi sedih gak ada yang mau mampir 😭😭. Aku tunggu ya?