
Usia kehamilan Asmira sudah masuk bulan ke 9, ia menikmati hari-harinya dengan tenang, waktu persalinannya semakin dekat. Sejenak, ia mulai melupakan segala persoalan yang mengganggu pikirannya, ia tak mau hal itu memperburuk kondisinya.
Pagi itu, saat Asmira ingin berangkat ke Mall dengan Bu Ida, ia merasakan perutnya keram. Belakangan, ia sangat gemar membeli peralatan bayi. Meski ia tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi yang ia kandung, ia tetap saja membelikannya. Setiap kali periksa kandungan, ia hanya menanyakan kondisi janin serta letak bayinya, selebihnya ia percaya pada takdir Tuhan, apa pun jenis kelamin anaknya kelak, tentu anak itu akan sangat kuat, sejak dalam kandungan ia sudah menerima berbagai cobaan.
“Bu sebentar,” pinta Asmira, ia merasakan perutnya sangat sakit. Asmira duduk di tangga teras.
Darwin datang, niatnya pagi itu ia ingin mengantar Evano sekolah, namun sayang ia terjebak macet. Darwin segera masuk saat melihat Asmira seperti kesakitan.
“Kau kenapa?” tanya Darwin panik.
“Perutku tiba-tiba sakit, Mas,” sahut Asmira sembari terus mengelus-elus perutnya.
Darwin mengusap lembut perut istrinya, ia merasakan tendangan anaknya yang begitu keras. Asmira merasa perutnya nyeri. lalu sakitnya berangsur-angsur membaik.
“Sepertinya ia suka kehadiranmu, Mas,” ucap Asmira tersenyum tipis.
“Boleh aku menciumnya?” tanya Darwin ragu-ragu, ia tidak ingin membuat Asmira merasa tidak nyaman dengan tingkahnya yang gegabah. Asmira menganggukkan kepalanya.
Darwin mendekatkan wajahnya ke perut Asmira yang hamil tua, ia kecup pelan serta ia mendekatkan telinganya, ia pejamkan matanya mendengar aktivitas bayi yang ada di kandungan Istrinya itu, bayinya sangat aktif.
“Nak, ini papi,” ucap Darwin pelan.
Tanpa sadar, Asmira mengusap dengan lembut kepala Darwin yang sedang duduk di hadapannya. Darwin menengadah menatap wajah Asmira. Seketika Asmira menarik tangannya.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
“Aku mohon, biarkan aku di posisi ini sebentar saja,” pinta Darwin masih menatap Asmira.
Asmira tidak menolak, bayinya sepertinya suka dengan kehadiran ayahnya di sana.
•
Asmira belanja sepuasnya, kartu kredit yang diberikan Darwin ia terima dengan senang hati. Toh itu juga untuk keperluan anak mereka. Asmira juga tidak lupa membelikan untuk Evano, putranya itu dari kemarin ingin dibelikan mainan baru.
__ADS_1
Setelah puas belanja dan makan-makan, Asmira mengajak Bu Ida pulang. Sekali-kali keduanya terkekeh karena kesulitan membawa belanjaan yang begitu banyak.
“Tidak sekalian saja Mall ini kau bawa pulang, Mira?” goda Bu Ida.
“Jika saja bisa, sudah kulakukan, Bu,” sahut Asmira menimpali dengan santai, lalu mereka kembali tertawa.
Tiba di tempat parkir, Asmira melihat Yun. Pria itu turun dari mobilnya lalu dengan tergesa-gesa segera masuk ke Mall itu.
“Bu, tunggu sebentar, ya? Ada yang kelupaan.” Asmira segera mengikuti Yun, ia penasaran Yun ingin bertemu dengan siapa di sana.
Yun menemui seorang wanita, yang sudah menunggunya di sana. Asmira ingin mengetahui siapa wanita tersebut, namun ia tidak bisa melihatnya, karena wanita itu duduk membelakangi Asmira.
“Katakan apa yang aku inginkan?” tanya Yun, tatapannya dingin.
“Aku ingin mereka bercerai,” sahut wanita itu.
“Jika itu tidak terjadi, aku akan membongkar rahasia kau!”
“Ya, aku akan mengatakan yang sebenarnya, kalau kau pria kaya raya yang menyamar menjadi sopir pribadi yang punya maksud terselubung,” ujar wanita itu menantang.
Asmira menutup mulut dengan tangannya, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata benar, Yun orang kaya, pantas ia mampu memfasilitasi mereka dengan mewah.
Asmira ingin pergi dari sana, ia tak mau mendengar lebih lanjut, ia takut tidak sanggup. Saat ia membalikkan badannya ia tak sengaja menabrak pelayanan, dua gelas kopi jatuh ke lantai.
“Maaf, Mas. Saya tidak sengaja,” pinta Asmira.
Yun melihat Asmira di sana, ia kaget bukan main. Saat mengetahui Yun sudah sadar dengan kehadirannya di sana, Asmira bergegas pergi. Yun mengejarnya di belakang.
“Mira tunggu, aku bisa jelaskan semuanya,” panggil Yun. Namun Asmira tidak menggubrisnya, ia terus berlari kecil.
Air mata jatuh berlinang di pipinya, ia baru saja percaya bahwa tidak semua pria itu jahat. Kebaikan Yun, membuat ia luluh, bahkan dengan mudah ia melupakan sakit yang diberikan Darwin untuknya. Tapi sekarang mengetahui kebohongan Yun, entah kenapa ia merasa begitu sakit hati, ia merasa telah di tipu, Yun telah mengkhianatinya, pria itu telah merusak kepercayaannya.
“Mira, aku benar-benar mencintaimu!” teriak Yun.
__ADS_1
Asmira tidak peduli, ia berlari kecil menuruni eskalator, ia tak mau Yun punya kesempatan untuk membenarkan dirinya. Namun tiba-tiba Asmira terpeleset, Asmira berteriak keras saat kakinya tak menginjak eskalator lagi, ia terjatuh ke bawah. Yun berteriak histeris saat melihat Asmira terjatuh.
Asmira merasakan punggungnya nyeri, kepalanya sakit karena terbentur keras dengan lantai, matanya berkunang-kunang dan ia tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir di pahanya.
Yun sangat panik, ia segera melarikan Asmira ke rumah sakit, air mata jatuh di pipinya, jika sesuatu terjadi pada Asmira, ia tidak bisa memaafkan dirinya.
Bu Ida sudah cukup lama menunggu Asmira di luar, ia khawatir terjadi sesuatu dengan Asmira, akhirnya ia putuskan untuk mencarinya. Namun baru saja Bu Ida pergi beberapa langkah, tiba-tiba Yun berlari menggendong Asmira keluar dari Mall.
“Apa yang terjadi?” tanya Bu Ida syok.
“Bu, ayo kita ke rumah sakit, Asmira terjatuh. Hubungi Darwin,” pinta Yun.
Yun melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memikirkan apa pun, sekali-kali ia menatap Asmira, semuanya terjadi karena ulahnya, ia tidak bisa membayangkan hal buruk menimpa Asmira.
Tiba di rumah sakit, Asmira segera di bawa ke ruang persalinan. Bayi Asmira harus segera di keluarkan. Asmira terjatuh dengan posisi tengkurap, air ketubannya pecah, dokter harus segera melakukan operasi Caesar agar bayi tidak keracunan ketuban.
Darwin tiba di sana, ia sangat khawatir begitu mendapat telepon dari Bu Ida, wajahnya pucat.
“Keluarga nyonya Asmira?” tanya dokter.
“Ya, Dok. Saya suaminya,” sahut Darwin, Yun hanya bisa terdiam.
“Kita harus segera melakukan operasi, Pak. Bayi nyonya Asmira dalam bahaya, semoga tidak terjadi sesuatu dengan mereka berdua,” ujar dokter.
“Dok, lakukan yang terbaik, saya mohon selamatkan istri dan anak saya” pinta Darwin, tanpa terasa air mata meleleh di pipinya.
Dokter segera melakukan tindakan selanjutnya setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga.
Darwin mondar-mandir di depan ruang operasi, tangannya dingin, air matanya tak bisa berhenti, ia tidak mau terjadi sesuatu degan anak dan istrinya.
“Tuhan ... selamatkan mereka berdua,” lirih Darwin, ia pejamkan matanya, jantungnya berdetak kencang, ia tak bisa tenang sebelum dokter keluar membawa kabar gembira.
Jangan lupa like ya..
__ADS_1