Eternal Promise

Eternal Promise
Part 11


__ADS_3

Asmira kaget ketika Jessica membawanya ke rumah mereka. Tiba di sana, tanpa memberi kesempatan Asmira untuk bertanya, Jessica segera mengantar adiknya itu ke kamar tamu. Kemudian Jessica menyuruh Valen untuk menjemput anak-anak di rumah kakeknya.


Pikiran Asmira tidak enak, pasti ada sesuatu hal yang membuat sang kakak meradang. Namun Asmira menyimpan seribu pertanyaan yang bersarang di pikirannya.


Jessica menyiapkan bubur untuk Asmira dan meletakkan vitamin di nakas. Ia mengusap pipi Asmira pelan seraya bibirnya tersenyum merekah.


“Percayalah, semua yang Mbak lakukan untuk kebaikanmu,” ujar Jessica ia belai lembut kepala adiknya.


Kemudian Jessica berjalan keluar, ketika ia ingin menutup pintunya ia sekali lagi berkata, “Kalau ada apa-apa Mbak di bawah, Mbak mau siapkan makan siang.” Kemudian ia berlalu ke dapur.


Asmira menghela nafasnya perlahan. Kemudian ia habiskan semangkuk bubur yang Jessica buatkan serta meminum vitaminnya juga. Setelah makan, ia sangat kekenyangan, ia menguap berkali-kali, ia tidak dapat menahan kantuknya, mungkin pengaruh obat-obatan yang baru saja ia minum. Tanpa menunggu lama, ia tertidur pulas.


“Jeje ...” panggil Evano yang baru tiba.


“Sayang, gimana mainnya di rumah Grandpa, seru?” tanya Jessica, tangannya sibuk menyiapkan makan siang.


“Seru, seru banget. Mami mana?”


“Mami udah tidur, kalau Vano mau lihat silakan. Tapi jangan di ganggu, ya?” pinta Jessica tersenyum lebar.


Evano mengangguk kemudian ia segera berlari ke kamar di mana Maminya tidur. Perlahan ia buka pintu dan masuk secara pelan-pelan agar Maminya tidak terbangun.


Jessica berbisik pada Valen saat suaminya itu membantu ia meletakkan makanan di meja.


“Mas, apa aku selidik melalui Evano saja, ya?” bisik Jessica.


“Jangan dong! Kok anak kecil dibawa-bawa, sih?”


“Mas, anak kecil itu enggak bisa bohong tahu enggak, sih?”


“Iya, Mas tahu.”


“Ya, makanya.”


Valen menggeleng-gelengkan kepalanya, ia biarkan saja semua keputusan pada istrinya sendiri. Setelah semuanya siap, mereka makan siang bersama tanpa membangunkan Asmira yang tertidur.


“Sayang, mami lagi berantem ya sama papi?” tanya Jessica kemudian.


“Enggak, mau berantem sama siapa, papi pergi pagi pulang malam. Aku saja sudah hampir 2 Minggu enggak ketemu papi,” ujar Evano polos, namun ada guratan pilu di wajahnya ketika ia ucapkan semua kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya itu.


Jessica menarik nafasnya dalam-dalam, ia menengadah ke atas mencoba menahan air matanya yang sebentar lagi akan lolos di pipinya.

__ADS_1


Valen terdiam, ia mengusap pelan kepala keponakannya itu dan menyuruhnya untuk menyelesaikan makan siangnya agar ia bisa bermain dengan Elia lagi.


Jessica merebahkan kepalanya di bahu Valen, mereka asyik melihat Elia main kejar-kejaran dengan Vano di halaman belakang. Pikirannya berkelana ke mana-mana memikirkan nasib rumah tangga adiknya.


“Sayang,” panggil Valen.


“Mmm ...” sahut Jessica dingin.


“Keputusan kamu ini sudah kamu pikirkan matang-matang?” tanya Valen ragu-ragu.


“Aku berhak, Mas. Satu sisi, saat ini cuma aku yang Asmira punya, dan satu sisi Darwin adik kandung aku, Mas. Aku benci dia punya watak begitu,” ujar Jessica mengusap muka dengan tangannya.


Memang benar, Rose adalah kakak kandungnya, namun kini mereka berjauhan. Cuma Jessica yang ada untuknya kapan saja.


Jessica punya andil besar dalam hidup Asmira, mereka telah bersama selama 23 tahun lamanya. Hingga Asmira menikah pun dengan adik kandung Jessica, seakan semakin mempererat hubungan mereka walau tanpa ikatan darah.


“Mas enggak kasih tahu Mama kan Asmira di sini?” tanya Jessica.


“Enggak, aku juga ingin Darwin sedikit peduli pada keluarganya. Setidaknya Evano,” ujar Valen. Perlahan-lahan ia mulai menyetujui kemauan Jessica walau tanpa tahu sebab mengapa keputusan Jessica demikian.


Valen, suami yang sangat pengertian. Ia selalu mengatakan pada Jessica untuk memberitahukannya segala hal, jika ada hal yang tidak bisa ia katakan maka Valen pun tidak akan membahas apa pun persoalan itu. Persis seperti yang terjadi kini.


“Sayang ...” panggil Darwin.


Namun tidak ada yang menjawab, ia segera masuk ke kamarnya mencari keberadaan istrinya. Ia menyangka Asmira sudah terlelap seperti biasanya saat ia pulang. Saat masuk kamar ia tidak melihat Asmira, ponselnya tergeletak di nakas di samping ranjang.


Darwin mulai panik saat ia tidak menemukan Asmira maupun Evano di rumah. Ingatannya kembali ke masa lalu saat Rose meninggalkan Kelvin terbang ke Jepang.


Deg.


“Enggak mungkin, enggak ....”


Jantung Darwin berdegup kencang, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari meraih ponselnya. Ia menghubungi orang tuanya, namun tidak ada jawaban.


Ia segera keluar dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tuanya.


“Ma ...” panggil Darwin sedikit berteriak saat Marni membukakan pintu untuknya.


“Tuan ...” panggil Marni.


Namun Darwin tidak menjawab, ia terus memanggil Martha. Marni tidak punya kesempatan untuk berbicara.

__ADS_1


“Ma, Lestari mana, Ma?” tanya Darwin lagi, ia mondar-mandir mencari Martha.


“Tuan, nyonya tidak ada di rumah,” ujar Marni yang juga panik melihat tingkah Darwin.


“Mereka ke mana, Bik?” tanya Darwin.


Marni menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu, Tuan.”


Darwin kembali mencoba menghubungi Martha, namun masih saja tidak bisa tersambung. Darwin keluar dari rumah mamanya ia segera pergi tanpa tujuan yang pasti.


“Ya tuhan, ke mana kamu, sayang?” gumam Darwin. Air matanya berlinang membasahi pipinya.


Setelah melihat Darwin pergi, Martha turun dari lantai dua bersama Marco. Marni yang masih bingung dengan majikannya itu bertanya, “Sebenarnya ada apa, Buk Nyonya?”


Martha menggeleng. “Aku juga enggak tahu, Bik. Jessica yang meminta kami melakukan ini,” sahut Martha.


“Sudah, Ma. Jangan bersedih, pasti ada tujuannya mengapa Jessica melakukan seperti ini,” ujar Marco merangkul bahu Martha yang merasa sedih telah membuat Darwin kalang kabut.


Mereka di hubungi oleh Jessica sekitar dua jam yang lalu. Jessica berubah pikiran, awalnya ia tidak ingin memberitahukan keduanya, namun setelah berpikir lagi, ia tidak mau Martha kenapa-kenapa, bukan Darwin saja yang akan kena dampak nantinya.


Evano sudah terlelap bersama Elia, setelah meninabobokan keduanya, Jessica keluar. Ia melihat Asmira sebentar sebelum ia kembali ke ruang televisi bergabung dengan suaminya.


“Gimana Asmira, sayang?” tanya Valen.


“Sudah tidur, Mas.”


Namun tiba-tiba bel berbunyi, Darwin tiba di rumah Jessica.


“Itu pasti Darwin, sayang.”


“Yuk kita temui,” ajak Jessica.


Begitu pintu terbuka Darwin tampak sangat panik ia segera menanyakan Asmira.


“Apa!” teriak Jessica berpura-pura terkejut.


“Aku juga enggak tahu dia ke mana Mbak.”


Darwin putus asa ketika ia mendengar bahwa Asmira juga tidak berada di sana.


jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2