
Asmira sangat senang menerima bunga dari suaminya. Satu kecupan ia berikan untuk suami sebagai tanda sayang.
“Aku mandi dulu, kau siap-siaplah ...” ujar Darwin membelai lembut pipi Asmira.
Tepat Jam 18:30 mereka berangkat. Keluarga kecil itu meluncur ke sebuah Cafe milik keluarga Darwin yang telah di siapkan Darwin dari siang tadi.
Tiba di sana mereka di jamu cukup baik, terlihat wajah Asmira tersenyum berseri-seri. Makanan kesukaan dirinya dan Evano pun di antar oleh pelayan. Darwin telah menyiapkan malam itu sesempurna mungkin untuk dua orang yang ia sayang tepat di hadapannya itu.
“Sayang, makan yang banyak ya?”
“Ya dong Papi, biar Vano cepat gede jadi Vano bisa bantu Papi di kantor ...” ujar Vano kecil.
Kedua orang tuanya tertawa mendengar ucapan polos anaknya. Masih sekecil itu ia sudah berpikir sangat jauh ke depan.
“Siapa nih, yang ajari anak Papi baik begini?”
“Bu Ida, makanya Vano enggak nakal lagi di sekolah. Kalau Vano bodoh kan enggak bisa bantu Papi,” lanjutnya lagi.
Darwin tertegun mendengar siapa yang telah mengajarkan banyak hal pada putra semata wayangnya itu. Pratiwi tidak salah memilih orang tua itu untuk ia tempati di rumahnya.
Sedang asyik mereka menyantap makan malam itu, manajer Cafe tersebut datang. “Silakan di lanjut Pak, saya hanya mampir sebentar,” ujarnya saat Darwin bangun dari duduknya.
“Dari mana saja, Pak?” tanya Darwin pada manajer yang memang beda usia jauh darinya.
“Dari Cafe cabang kita, Pak. Ada sedikit masalah, tapi telah saya bereskan,” jawabnya tersenyum ramah.
“Baguslah, semuanya baik-baik saja.”
“Evano, sudah selesai makan? Ayo ikut Paman ke bawah, ada Shakira di sana ...” ajak manajer itu lagi.
Dengan senang hati Evano menuruti kemauan manajer itu, ia sudah beberapa kali bertemu dengan orang tua itu di rumah Marco.
“Jangan nakal ya, Nak!” ujar Asmira saat Evano berlari kecil menuju lantai bawah bersama sang manajer.
Asmira kembali melanjutkan makannya, ia sudah menghabiskan sisa makanan Evano dan suaminya. Ia begitu lahap, Darwin tersenyum kecil sambil menghapus sisa makanan di bibir sang istri dengan ujung jemarinya.
“Sudah kenyang? Mau lagi?”
__ADS_1
“Sudah, Mas.” Asmira menghembuskan nafasnya perlahan karena kelelahan makan.
Asmira bangun dari duduknya, ia melangkah menuju tembok balkon, ia lihat ke taman di bawah. Di sana ada Evano dan Shakira yang sedang bermain kejar-kejaran. Ia tersenyum manis sembari mengelus-elus perutnya.
Darwin memeluk Asmira dari belakang, ia kecup pelan tengkuknya. “Apa kau bahagia?”
“Tentu, aku sangat bahagia,” jawab Asmira, kemudian ia memutar tubuhnya menghadap ke Darwin.
“Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik dari anak-anakku,” ucap Darwin lembut.
“Itu anakku juga, Mas. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai ibu dan istri semampuku, selebihnya Mas yang menilainya.”
“Wah, kalian di sini juga?” ucap seseorang di belakang keduanya, Darwin segera melihat siapa gerangan pemilik suara itu.
“Pak, Haris ....”
Asmira memeluk lengan Darwin, ia berbisik pelan menanyakan siapa pria itu. Tidak lama kemudian Yunita pun tiba di sana, Asmira baru saja ingin membuka mulutnya, namun Yunita menarik tangannya mengajak ia mengobrol di tempat berbeda.
“Mbak yang kemarin ke rumah saya, kan?” tanya Asmira begitu mereka tiba di taman.
Darwin melihat Asmira dari lantai atas penuh cemas, ia tak ingin wanita picik bersama istrinya membawa berita yang kurang pantas di dengar, terlebih Asmira sedang mengandung, ia tidak boleh stres.
“Itu suami, Mbak?” tanya Asmira lagi.
“Ya, suami pelampiasan cintaku!”
“Maksud, Mbak?” tanya Asmira menyipitkan matanya.
“Lupakan, saya hanya bercanda. Bagaimana kabarmu, baik?” tanya Yunita.
“Ya, aku baik,” sahut Asmira, ia bingung dengan tingkah Yunita.
“Darwin sangat tampan malam ini, ia terlihat keren menggunakan kemeja itu,” ucap Yunita.
Benar-benar ucapan yang tidak pantas yang diutarakan Yunita, di depan Asmira ia berani memuji Darwin dengan tatapan yang sendu melihat ke arah suami Asmira itu.
“Ya, itu kemeja pilihanku,” sahut Asmira sedikit tidak senang.
__ADS_1
“Oh, selera mu bagus. Kau juga tampil cantik malam ini, tidak seperti kemarin saat aku ke rumahmu, aku hampir saja mengira kau adalah pembantu.” Lagi-lagi tanpa berpikir Yunita mengucapkan kata-kata yang membuat hati Asmira terasa sakit.
“Apa kau marah?” tanya Yunita melihat Asmira menundukkan kepalanya. Asmira hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“Mami, ayo pulang ...” rengek Evano mendekati Asmira, lalu benamkan wajahnya di pangkuan sang ibu.
“Loh, kenapa? Shakira mana?”
Tiba-tiba Sang manajer datang, ia mengatakan Shakira mengantuk, mereka akan segera pulang. Evano melambaikan tangannya ketika mobil pak manajer meninggalkan Cafe.
“Ayo Mami kita pulang,” ajak Evano lagi.
“Ya, sebentar Mami SMS Papi dulu.”
Tidak lama kemudian Darwin turun bersama Haris. Yunita memeluk Asmira sebentar sebelum mereka berlalu meninggalkan Cafe terlebih dahulu.
“Senang bertemu denganmu, aku rasa kita bisa menjadi teman yang baik,” ucap Yunita. Asmira memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
Dalam perjalanan pulang, Evano tertidur di jok belakang, terdengar ia mendengkur halus, Darwin tertawa kecil mendengarnya. Asmira membelai lembut pipi Evano.
Tiba di rumah, Darwin menggendong Evano ke kamarnya, lalu Bu Ida segera mengambil alih menidurkan Evano yang sudah sangat terlelap itu.
Asmira terlihat tidak baik-baik saja, sejak pulang tadi ia tidak berbicara sepatah kata pun. Selesai mengganti pakaian ia menghapus makeup di wajahnya lalu ia segera rebahkan tubuhnya di ranjang, semua itu tidak luput dari pantauan Darwin. Namun ia sengaja mendiaminya untuk malam ini, jika di pancing pasti Asmira akan meledak dan itu akan membuat ia stres.
“Benar-benar wanita licik, pasti ada yang ia katakan sehingga membuat Asmira begini,” batin Darwin.
Kemudian ia berbaring di sebelah istrinya, ia kecup pelan keningnya. Asmira sudah terlelap, dibelainya rambut istrinya kemudian ia berbisik pelan.
“Percayalah, tidak akan kubiarkan seorang pun merusak kebahagiaan kita. Tidurlah ....”
Darwin mengusap-usap lembut perut Asmira, buah hatinya yang ada di kandungan Asmira yang membuat ia semangat untuk berjuang keras mengungkapkan keburukan Yunita dan suaminya.
Kemudian ia melangkah masuk ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar. Ia memeriksa emailnya, dan benar saja, ada sebuah video yang di kirimkan Pratiwi sore tadi.
Dalam video yang berdurasi kurang dari satu menit itu menampilkan seorang wanita yang sedang menyapu halaman di depan sebuah rumah yang cukup megah, Darwin menyipitkan matanya, ia tidak mengerti kenapa Pratiwi mengirimkan video tersebut. Siapa wanita ini? Pikir Darwin.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1