
“Halo, Ma,” sapa Darwin.
Darwin sedang meeting bersama karyawannya, tiba-tiba ia mendapat panggilan masuk dari Martha, tidak biasanya mamanya itu menelepon di jam kerja, pasti ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
“Maaf Mama mengganggu, sayang.”
“Enggak apa-apa, Ma. Katakan ada apa?” tanya Darwin.
“Mama lagi di Mall bareng bik Marni, tadi Mama lihat ada orang mirip Fenita, mirip sekali, Nak. Ia bersama seorang wanita cantik.”
“Oh, itu memang Tante Fenita kali, Ma. Aku lupa beritahu Mama, Rose sudah membebaskan Tante Fenita,” jelas Darwin.
Martha sedikit terkejut mendengar bahwa Rose sudah membebaskan Fenita, kenapa ia segegabah itu dalam mengambil keputusan? Pikir Martha. Namun semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya ia pendam saja, ia tidak mau terlalu lama mengganggu Darwin.
“Iya, mungkin saja Fenita. Ya sudah, lanjutkan pekerjaan mu. Daah ... sayang.” Martha mengakhiri panggilan itu.
Siang ini Darwin ada pertemuan di luar dengan Haris, namun ia belum menerima laporan apa pun dari Pratiwi, di mana Haris ingin bertemu.
Sembari menunggu Haris mengirim lokasi pertemuan, Darwin menghubungi sahabatnya Kelvin. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
“Lagi di mana?”
“Di dekat kantormu, baru saja ingin kuhubungi kau, sudah kau hubungiku lebih dulu,” jawab Kelvin di balik telepon.
“Mari bertemu.”
“Ayo, aku punya waktu sejam,” sahut Kelvin sebelum ia menutup panggilan itu.
Tidak lama kemudian mereka sudah bertemu di sebuah Cafe cukup dekat dengan kantor megah Darwin. Kelvin baru saja usai melakukan pertemuan dengan kliennya, begitu Darwin telepon, ia menyuruh sekretarisnya pulang terlebih dahulu.
“Bagaimana kabar istri dan anakmu?” tanya Darwin sembari menyeruput secangkir kopi.
“Mereka baik, kau sendiri bagaimana?”
Darwin meraup wajahnya dengan tangan. “Kau tahu sendirilah wanita hamil seperti apa,”sahutnya kemudian.
Kelvin menepuk bahu Darwin, ia tertawa kecil. “Kau belilah mesin yang bisa mengatur mood istrimu itu.”
“Andai saja ada.” Lalu keduanya sama-sama tertawa kecil.
Cukup lama mereka mengobrol, berbagai persoalan mereka perbincangkan bersama. Begitulah keadaan sekarang, sudah jarang sekali mereka bisa berjumpa dan nongkrong bersama seperti dulu lagi.
“Kapan-kapan kita bertemu lagi, ya,” ujar Kelvin saat ia melangkah menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.
“Ya, salam untuk istri dan anakmu,” ujar Darwin. Kemudian mereka berpisah di Cafe tersebut. Darwin segera meluncur ke tempat yang baru saja di share oleh Pratiwi, Haris sudah menunggunya di sana.
__ADS_1
•••••••
“Maaf sedikit terlambat,” ujar Darwin begitu tiba di restoran seafood.
“Tidak masalah,” sahutnya tersenyum. Haris sudah menunggu Darwin sekitar 20 menit yang lalu.
Darwin melihat di hadapannya telah siap dengan berbagai macam makanan, kebetulan pertemuannya kali ini bertepatan dengan jam makan siang. Haris sudah memesankan beberapa jenis masakan untuk mereka berdua.
“Mari kita isi perut dulu, setelah itu baru kita mulai meeting,” ajak Haris.
“Maaf, Pak Haris, tapi saya tidak berselera dengan masakan ini semua,” tolak Darwin halus.
“Tidak apa-apa, mari pesan yang lain saja.”
Darwin tersenyum, ia mengangguk sambil memanggil pelayan. “Nasi goreng putih satu, pakai udang, udangnya di tumis dulu agar matangnya sempurna, ya?” pinta Darwin.
Tidak lama kemudian pesanan Darwin tiba. Mereka makan siang bersama tanpa ada obrolan sepatah kata pun sampai keduanya sama-sama menyelesaikan makan siang itu.
Selesai makan siang, mereka pun mulai membahas satu persatu tentang proyek kerja sama mereka yang sudah memasuki 40 persen tahap pembangunan.
Sejauh ini cukup baik, ide yang Darwin kembangkan selalu diterima dengan baik oleh Haris. Darwin sama sekali tidak kewalahan, seakan ide briliannya tidak pernah habis.
“Untuk hari ini saya rasa cukup,” ujar Haris menjabat tangan Darwin.
“Ya, kalau ada sesuatu segera hubungi pihak kami,” ucap Darwin.
Bruukk!!
Berkas Darwin berhamburan ke lantai, ia menabrak seorang wanita.
“Maafkan saya,” ucap Darwin setelah memungut berkas-berkasnya di lantai.
“Tidak apa-apa, saya juga minta maaf.”
Wanita itu memberikan beberapa lembar milik Darwin yang ia pungut di lantai, ia tersenyum ramah. Kemudian ia segera berlalu meninggalkan Darwin yang masih membereskan mapnya.
“Ada apa?” tanya Haris.
“Tidak apa-apa, Pak. Sudah?”
“Sudah, Mari,” ajak Haris.
Darwin segera kembali ke kantor, Pratiwi menunggunya. Ada beberapa file yang harus ia tandatangani segera.
Ponsel Darwin berdering, ia tidak bisa mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya, celananya lumayan sempit. Darwin menepikan mobilnya untuk menerima panggilan.
__ADS_1
“Lestari ... halo, sayang,” sapa Darwin.
“Mas, aku ke rumah mama, ya. Ni di jemput sama pak Samsul,” pinta Asmira.
“Ada acara apa memangnya, sayang?”
“Aku pun enggak tahu, Mas. Mungkin mama rindu Vano,” sahut Asmira.
“Baiklah, hati-hati. Nanti aku jemput, ya.”
Setelah panggilan itu selesai, Darwin segera meluncur ke kantor.
Sementara di rumah Asmira, ia segera siap-siap begitu pak Yun pulang bersama Evano. Setelah makan siang dan beres-beres mereka segera berangkat.
“Pak Yun, saya mau ke rumah mertua saya sebentar, saya titip rumah, ya?”
Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dari pak Yun, Asmira menyuruh pak Samsul segera berangkat. Dalam perjalanan mereka bercanda bersama, selera humor Bu Ida lumayan mengocok perut pak Samsul.
“Mama enggak habis pikir dengan Rose,” ujar Martha. Ia asyik menatap Marco bermain dengan Evano di halaman belakang.
“Kenapa, Ma?” tanya Asmira tidak mengerti.
“Tadi Mama bertemu dengan Fenita di Mall.”
“Oh, itu ... kasihan Tante Fenita, Ma. Biar lah dia kembali menghirup udara bebas menikmati masa tuanya,” ujar Asmira.
“Kalian terlalu baik untuk seorang penjahat seperti Fenita,” lirih Martha khawatir.
“Sudahlah, Ma. Semoga saja Tante Fenita sudah berubah, Mama jangan terlalu khawatir, ya?”
“Mama berharap juga begitu, sayang. Mama enggak mau ada masalah lagi di keluarga kita. Mama ingin menikmati masa tua Mama dengan indah.”
Asmira memeluk Martha, ia tahu kekhawatiran mertuanya begitu besar. Tidak mudah baginya untuk memaafkan Fenita setelah apa yang ia perbuat kan dulu terhadapnya, terlalu banyak luka yang telah Fenita goreskan di hati mertuanya.
“Sayang,” panggil Martha dengan lembut.
“Iya, Ma.”
“Berjanjilah pada Mama, apa pun yang terjadi terhadap rumah tangga kalian, kamu enggak boleh percaya dan terpengaruh begitu saja. Belajarlah dari pengalaman yang sudah-sudah, kuatkan pendirianmu dengan begitu tidak mudah bagi orang untuk menggoyahkan rumah tangga kalian berdua.”
Asmira terdiam mendengar semua nasihat mertuanya, ia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
“Sudah dong, Ma. Aku jadi takut nih,” ujar Asmira.
Martha mengusap kepala Asmira, ia tersenyum ramah pada menantunya itu.
__ADS_1
“Mama enggak menakuti mu, sayang. Mama hanya ingin kalian bahagia selamanya. Kuncinya cuma satu, sabar.”
jangan lupa like ya...