Eternal Promise

Eternal Promise
Part 61


__ADS_3

Setelah kembali dari rumah sakit, Yunita segera melaporkan Haris ke kantor polisi. Bersamaan dengan itu pula, sidang perceraian pertamanya di mulai dalam Minggu itu jua.


Siang harinya Darwin mendapat panggilan dari Yunita. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya ia mengangkatnya. “Win, temani aku ke sidang pertama, ya?” pinta Yunita tanpa basa-basi.


Darwin mengerutkan keningnya. “Apa hubungannya denganku?”


“Aku belum siap bertemu Haris setelah apa yang ia perbuat padaku, Win,” sahut Yunita.


“Aku tidak peduli, itu bukan urusanku, aku sibuk, tolong jangan ganggu aku!”


Darwin mematikan ponselnya. Sudah berulang kali ia peringatkan agar Yunita tak menghubunginya lagi. Namun wanita itu tidak menggubris perkataannya, meski nomor pribadinya telah diblokir, namun ia tetap menghubungi dengan nomor yang berbeda. Darwin mendengus dingin.


Sementara itu, ia masih belum lelah membujuk Asmira. Setelah mengetahui di mana keberadaan istrinya berada. Tanpa hentinya ia datangi, setiap hari ia sempatkan untuk datang dengan alasan mengunjungi Evano. Namun Asmira tetap bersikeras, ia tak mau menemui Darwin, meski setiap hari suaminya datang, Asmira tetap mengacuhkannya.


Pintu hati Asmira seakan telah tertutup rapat untuk suaminya itu, semuanya bermula kala ia mengetahui Yunita hamil. Asmira tak menyangka sejauh itu perbuatan keduanya saat berlibur kemarin, ibunda Evano itu belum siap bertatap muka dengan Darwin, apalagi untuk bicara dengannya. Namun, meski demikian, ia tak pernah melarang Evano bertemu dengan Darwin dan keluarganya.


Waktu terus berlalu, hari demi hari terus berganti. Kehamilan Asmira semakin membesar, seiring itu jua, ia mulai mengidam berbagai jenis makanan. Asmira beruntung, di kehamilannya yang kedua ini, ia tak merasakan mual dan muntah.


Suatu pagi. Setelah bangun dari tidurnya ia bergegas mandi. Seperti biasanya, setelah mandi paginya selesai, ia segera sarapan. Asmira menuruni tangga dengan bersenandung kecil, tiba-tiba ia mencium aroma yang sangat wangi, ia pejamkan matanya, ia hirup aroma tersebut berulang kali. Dari kemarin, ia suka mencium bau wangi, bunga-bunga yang sedang bermekaran di halaman depan, ia cium tanpa henti.


“Kau kenapa?” tanya Yun.


Asmira kaget, ia membuka matanya lalu ia teruskan langkahnya menuruni tangga dengan senyuman menghiasi bibirnya. Aroma wangi yang ia suka semakin dekat, ia terus menghirupnya. Wanginya membuat ia terasa lebih tenang. Asmira baru menyadari ternyata bau harum yang ia sukai adalah parfum milik Yun.


“Kau wangi sekali, Mas,” ucap Asmira semakin mendekati Yun.


Yun mengerutkan keningnya, setiap hari ia menggunakan parfum itu. Bahkan, beberapa bulan yang lalu ia juga menggunakan parfum yang sama, lalu kenapa baru sekarang Asmira mengatakan itu wangi?


“Aku menyukainya,” sambung Asmira lagi.

__ADS_1


“Oya, ada di mobil, mau aku ambilkan?” tanya Yun. Asmira mengangguk sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian, Yun kembali ia membawa apa yang Asmira inginkan. Yun melihat Asmira sedang sarapan dengan lahap di dapur, Yun menghampirinya serta ikut sarapan dengannya.


“Mau jalan-jalan?” tanya Yun kemudian saat mereka sedang asyik sarapan.


Pagi itu ia tidak terlalu sibuk, ia lirik arloji mahal di tangannya, ia mempunyai waktu senggang sekitar 1 atau 2 jam. Asmira menghentikan makannya. Lalu ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum semringah, ia segera menghabiskan sarapannya dengan lahap. Setelah selesai sarapan, keduanya jalan-jalan menggunakan mobil Yun.


“Kau mau coklat panas?” tanya Yun saat dalam perjalanan. Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Asmira, Yun berhenti di depan sebuah Cafe.


Di seberang jalan, tepat di depan Cafe ada sebuah toko bunga. Asmira terus menatapnya tanpa berani meminta Yun untuk membelinya seikat bunga. Tidak lama kemudian, Yun datang dengan dua cangkir coklat panas di tangannya.


“Enak ...” lirih Asmira sambil terus menyeruput coklat panas itu.


“Pelan-pelan,” ujar Yun.


Suasana pagi itu cukup ramai, lalu lalang kendaraan bermotor serta anak-anak sekolah cukup membuat pagi itu tampak lebih hidup. Keduanya duduk menghadap jalan.


“Selama beberapa hari belakangan aku tidak berkunjung, aku mendapat kabar dari Bu Ida, ia terus menghampirimu?” lanjut Yun.


Asmira menarik nafasnya dalam-dalam. “Entahlah, Mas. Jika aku punya pilihan lain, aku lebih memilih untuk tidak melihat bahkan mendengar namanya lagi!”


“Kau yakin? Aku rasa kau hanya sedang mencoba melawan hati dan pikiranmu saja, Mira,” ucap Yun.


Asmira terdiam, ia tak menyangkalnya. Yun sedikit kecewa karena Asmira tidak menolak dikatakan seperti itu olehnya.


“Bagaimana dengan Santi, Mas?” tanya Asmira kemudian.


Yun tersenyum kecut, Asmira masih saja menyangka dirinya masih berhubungan dengan adik Nindy itu. “Santi baik,” sahut Yun singkat.

__ADS_1


“Santi beruntung mendapatkan pria baik sepertimu, Mas. Aku harap kalian sampai ke jenjang pernikahan,” ucap Asmira kemudian yang membuat Yun cukup kaget. Yun terdiam, ia tidak berhenti menatap Asmira.


“Apa kau akan kembali bersama Darwin?” tanya Yun memberanikan diri.


Asmira tersenyum kecut, lalu ia berkata, “Untuk sekarang tidak, Mas. Jika ia berubah lebih baik darimu aku bisa berpikir ulang,” sahut Asmira.


“Apa aku sebaik itu di matamu?” tanya Yun.


Asmira menganggukkan kepalanya. “Jika aku lebih dulu mengenalimu, mungkin aku akan memilihmu sebagai calon ayah dari anak-anakku,” sahut Asmira berani, ia menatap Yun tanpa berkedip.


Jantung Yun berdegup kencang. Mimpi apa pria itu semalam, pagi-pagi seperti itu ia mendapatkan sanjungan dari wanita yang ia cintai. Ucapan Asmira sangat tulus, ternyata selama ini Asmira juga menaruh simpati padanya, Yun tidak berani mengatakan suka, bisa saja Asmira hanya tersentuh dengan kebaikannya.


“Kau terlalu berlebihan, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan saja,” ucap Yun tersipu malu.


“Boleh aku tahu apa alasanmu membantuku sejauh ini, Mas?” tanya Asmira.


Yun gelagapan, ia tak tahu harus berkata apa. Baru saja kemarin pertanyaan serupa ia dengar dari Bu Ida. Kini, Asmira juga mempertanyakan hal yang sama.


“Apa aku harus mempunyai alasan dulu baru boleh membantu seseorang?” tanya Yun.


Asmira memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Bangun Mira! Jangan bermimpi, Santi lebih beruntung darimu, bukankah kau sendiri yang menjodohkan keduanya? Yun, hanya iba padamu. Tidak lebih!” Umpat Asmira pada dirinya sendiri.


Yun bangkit dari duduknya. “Kau tunggu di mobil, ya?” kemudian ia melangkah menuju kasir. Asmira segera keluar menuju mobil yang terparkir di depan.


Emosi Asmira cukup bergejolak pagi itu, coklat panas yang ia seruput tak cukup membuat otaknya kembali segar, ia semakin tak mengerti dengan perasaannya sendiri akhir-akhir ini.


Tidak lama kemudian, Yun masuk mobil, seikat mawar putih di tangannya, ia berikan untuk Asmira. Lagi-lagi Asmira tak suka. “Kenapa aku masih berharap Mas Yun memberikan seikat mawar merah untukku! Dasar bodoh!” gumam Asmira, ia sambut bunga yang diberikan Yun.


“Sabar Yun, tidak lama lagi kau akan memberinya seikat mawar merah,” gumam Yun, ia menjalankan mobilnya dengan senyum menghiasi bibirnya.

__ADS_1


jangan lupa like and vote ya..


__ADS_2