Eternal Promise

Eternal Promise
Part 44


__ADS_3

Asmira tidak seceria dulu lagi, ia berubah jadi pendiam. Ia menghabiskan hari-harinya dengan duduk termenung di teras rumah Bu Ida, entah apa yang ada di pikirannya sehingga membuat ia begitu tak berdaya.


Sudah beberapa hari berlalu mereka meninggalkan kota, Evano tidak pernah menanyakan Darwin sekali pun. Hari ini, untuk yang pertama kalinya, ia bertanya pada Bu Ida. “Papi kenapa enggak jemput aku sama Mami kemari, Bibi?” tanya ia polos. Ia bergelayut manja di pangkuan Bu Ida.


“Ada apa sayang? Kau rindu papimu?”


Evano menggelengkan kepala, ia menatap Asmira dari kejauhan. “Mami jadi seperti itu bukan gara-gara papi kan, Bik?”


“Sayang, lihat Bibi. Kau tidak usah berpikir macam-macam, Mami papimu baik-baik saja. Hanya saja ada persoalan yang perlu mereka selesaikan. Kau tidak bertemu papimu untuk sementara waktu tidak apa-apa, kan?” tanya Bu Ida dengan lembut pada putra Asmira itu. Evano mengangguk sambil tersenyum manis, giginya berjejer rapi.


“Bagus, anak pintar. Sana main lagi.” Evano berlari kecil, ia kembali bermain di halaman rumah Bu Ida.


Bu Ida menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan, ia sedih melihat Evano. Saat-saat seperti itu ia harusnya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi takdir berkehendak lain, ia kehilangan masa-masa itu.


Bu Ida mendekati Asmira, ia usap lembut rambutnya. Asmira merebahkan kepalanya ke pundak wanita yang sudah berjasa dalam perjalanan hidupnya itu. Perlahan air mata jatuh di pipinya. Hari-hari Asmira penuh dengan air mata, ia tidak bisa menahan tangisnya setiap kali mengingat bahtera rumah tangganya hancur karena hadirnya orang ketiga.


“Sayang, kalau Darwin menemui di sini, bagaimana tanggapan kau?”


“Aku tidak ingin melihatnya lagi, Bu. Apalagi untuk bertemu,” sahut Asmira.


“Kau tidak ingin mendengar penjelasannya?”


Asmira menggelengkan kepalanya, ia kembali teringat perkataan Pak Yun dan Pratiwi kemarin di rumah sakit. Hari libur yang seharusnya suaminya habiskan bersama ia dan anak mereka di rumah, tapi Darwin memilih bertemu dengan Yunita di sekolah mereka dulu, bahkan ia mengenakan baju yang khusus di belikan wanita itu. Sakit hati Asmira semakin parah saat ia menemukan secarik kertas di tong sampah yang di buang oleh Darwin. Asmira tidak mampu berkata-kata lagi kala mengingat itu semua, hanya air mata yang terus berjatuhan di pipinya.


“Bu, Mas Yun kerja apa, sih?” tanya Asmira kemudian, ia seka air mata dengan punggung tangannya.


“Ibu tidak tahu, sayang. Kenapa?”


“Enggak, aku hanya bertanya. Mungkin Mas Yun sibuk kali ya, Bu, ia tidak sempat mengunjungi kita,” ucap Asmira kemudian.


“Kau merindukan, Yun?” tanya Bu Ida.


Asmira tertawa kecil, ia usap air mata di pipinya. “Ibu ada-ada saja, aku mau mandi dulu sudah sore.”


Bu Ida menatap punggung Asmira yang menghilang di balik pintu, lalu ia panggil Evano masuk ke dalam. Hari sudah semakin gelap, sore berganti malam.


••

__ADS_1


Bu Ida menyuapi Evano makan, sementara Asmira sedang menonton televisi, ia sudah makan lebih dulu setelah mandi tadi. Televisi yang usianya sudah puluhan tahun itu, ukurannya juga sangat kecil, setidaknya bisa menghilangkan rasa bosan Asmira selama ia di sana.


Tok ... tok ...


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Asmira bangun dari duduknya. Ia sangat bersemangat. “Bu, biar aku saja. Pasti Mas Yun,” ucapnya. Ia berlari kecil menuju pintu depan. Dan benar saja, pria usianya sama dengan Kelvin itu datang mengunjungi Asmira.


“Mas, mari masuk,” ajak Asmira.


Yun melangkah masuk ke dalam. Evano berhamburan ke pelukannya. “Kau makan banyak?” tanya Yun saat melihat bekas nasi di mulut Evano.


“Iya, aku makan banyak. Kata Om aku harus cepat gede biar bisa jagai Mami, kan?”


Yun tertawa kecil. Ia mengacak-acak rambut Evano gemas, lalu ia berikan makanan kesukaan Vano yang ia belikan tadi, Evano meraihnya lalu ia berlari kecil menuju dapur.


“Hati-hati, Nak!” teriak Asmira.


“Ini untukmu.” Yun memberikan makanan favorit Asmira.


Asmira sudah lama tidak makan makanan itu, dulu saat di kos-kosan itu menjadi santapannya sehari. Asmira tersenyum sembari meraih pemberian Yun.


“Makanlah, mumpung masih hangat.”


“Mas, mau?” tanya ia sembari menyodorkan sendok berisi mie ke hadapan Yun.


“Tidak, kau makanlah.”


“Aku paksa, Ni. Ayo buka mulutnya, aaa ....”


Yun terpaksa mengikuti kemauan Ibu Evano itu, ia membuka mulutnya lebar-lebar, rasanya memang nikmat, apalagi di santap saat cuaca dingin, rasanya pasti jauh lebih nikmat.


“Sudah cukup, kau makanlah. Itu aku bawa banyak, tapi jangan makan setiap hari, nanti kau gendut!” ucap Yun santai, ia membawa satu kardus Indomie serta bumbu halus yang telah ia masukkan ke kulkas.


“Biar saja aku gendut, memangnya kenapa? Kalau pun gendut aku masih tetap cantik!” sahut Asmira, ia paling tidak suka di katakan gendut. Ia lipat kedua lengan di dadanya.


Yun tertawa kecil, tidak anak, tidak Ibu, sama saja, keduanya sama-sama mudah tersinggung. Yun mencuil hidung Asmira.


“Sudah jangan marah, aku hanya bercanda. Makanlah, ada yang mau aku sampaikan,” ucap Yun seraya bangun dari duduknya. Asmira tersenyum, ia segera menghabiskan makannya dengan lahap.

__ADS_1


Setelah Asmira selesai makan, keduanya duduk di teras rumah. Sementara Bu Ida sedang menemani Evano belajar, walau tidak sekolah, ia tidak meninggalkan kegiatan belajarnya setiap malam.


“Kau betah di sini?” tanya Yun membuka obrolan.


“Betah enggak betah si, Mas,” sahut Asmira, ia memangku kedua lututnya.


“Kalau kau sudah sedikit lebih tenang, ayo kita pergi dari sini. Aku sudah mendaftarkan Evano di sekolah yang baru, kalau kau sudah siap, kita segera pergi.”


“Ngomong-ngomong soal siap, aku enggak tahu kapan, Mas. Ini tidak mudah bagiku. Tapi Evano sudah terlalu lama libur sekolah, itu yang aku pikirkan sekarang,” sahut Asmira, ia menatap wajah Yun yang sedang melihat ke depan dengan tatapan serius. Tiba-tiba Yun memalingkan wajahnya, kini tatapan keduanya saling beradu, Asmira salah tingkah di buatnya.


“Memangnya kita akan pindah ke mana?” tanya Asmira kemudian.


“Sejauh mungkin, tempat di mana Darwin tidak akan menemukan kau!” ucap Yun tegas ia menatap dalam kedua mata Asmira.


“Terima kasih, Mas. Kau sudah mengerti apa kemauanku, siap enggak siap, aku harus memulai hidup yang baru!”


“Jangan berterima kasih, ini semua tidak gratis, kau akan membayar ini semua saat kau sudah bekerja, kan?” ujar Yun kemudian yang membuat Asmira terbelalak.


“Mas ....”


Yun tertawa terbahak-bahak, ia mengacak-acak rambut Asmira. “Sudah, aku hanya bercanda. Hidup kau terlalu serius, cobalah untuk sedikit lebih santai,” ucap ia kemudian.


“Enggak lucu!”


“Sudah, masuklah. Malam semakin larut, kau tidur yang nyenyak, besok pagi aku ajak kau dan Evano ke suatu tempat,” ujar Yun mendorong pelan tubuh Asmira dari belakang.


Asmira mendongakkan kepalanya. “Ke tempat kemarin?”


“Rahasia!”


“Ya sudah,” jawab Asmira, ia memonyongkan bibirnya kesal sembari melangkah masuk ke kamarnya.


“Eits, tunggu dulu,” panggil Yun.


Asmira menghentikan langkahnya sembari memutarkan badannya menatap Yun. “Apa lagi?” tanya ia kesal.


“Kau sudah minum susu?” tanya Yun. Asmira menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ya sudah, kau masuklah. Aku buatkan dulu, nanti biar Bu Ida yang antar ke kamar,” pinta Yun masih dengan tatapan dan mimik wajahnya yang dingin. Asmira meneruskan langkahnya masuk ke kamar.


Jangan lupa like ya...


__ADS_2