Eternal Promise

Eternal Promise
Part 46


__ADS_3

Jessica mengajak bertemu Pratiwi di sebuah taman. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Asisten Darwin itu tiba di sana.


Jessica masih terngiang-ngiang akan kata-kata Valen kemarin. “Apa kau sudah yakin dengan sikap diammu! Kalau sudah, tidak lama lagi kau akan lihat kehancuran Darwin.”


Jessica tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sekarang Darwin masih tidak mengerti bahwa jabatan dan kesuksesannya sedang di pertaruhkan, ia dikelilingi oleh orang-orang licik.


“Apa yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Tiwi menyadarkan Jessica dari lamunannya.


“Kau jangan berbohong padaku. Kau pasti tahu keberadaan Asmira, kan?”


“Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud berbohong, hanya saya belum sempat menghubungi, Mbak.” Asisten Darwin itu sedang sibuk-sibuknya dalam beberapa hari ini. Pasalnya semua pekerjaan dilimpahkan kepada ia oleh bosnya.


“Lupakan, Tiwi. Biarkan Asmira tenang untuk sementara waktu. Aku mengajak kau bertemu bukan untuk membahas itu,” ujar Jessica.


Jessica mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sikap adiknya. Darwin tetap saja menganggap bahwa Yunita bukan dalang dari semua permasalahan itu. Kemarin Valen melihat Ferry dan Haris di sebuah hotel. Bukankah Darwin berkata jika keduanya tidak akur? Lalu jika memang ia, apa yang sedang di obrolkan oleh dua orang yang sedang tidak baik-baik saja. Bukankah itu tidak normal?


“Itu yang sedang saya selidiki, Mbak. Tapi tidak mudah, rencana mereka tersusun rapi, sepertinya ini telah di persiapkan dengan matang.”


Kecurigaan Pratiwi terhadap Haris semakin nyata. Tidak mungkin pria itu diam saja ketika mengetahui istri dan musuhnya sedang berlibur. Pasti ada rencana terselubung di balik itu semua. Bukti itu semakin kuat ketika Valen juga melihat kebersamaan mereka. Sepertinya mereka sengaja mengirim Yunita untuk mengalihkan perhatian Darwin, agar aksi mereka tetap lancar. Dan bodohnya Darwin, ia terkecoh dengan semua akting Yunita. Proyek besar kemarin hanya umpan kecil untuk memancing Darwin, bahkan setelah semua kontrak tersebut di batalkan, justru kedekatan Yunita dan Darwin semakin bertambah. Semua bukti-bukti tersebut membuat Jessica dan Pratiwi berpikir keras, bagaimana cara mereka membuat Darwin sadar akan hal itu.


“Kau punya mata-mata yang bisa menyelesaikan ini semua?” tanya Jessica kemudian.


“Aku sudah mengirimkannya, Mbak,” sahut Pratiwi, ia sudah gerak cepat setelah melihat banyak kejanggalan yang terjadi.


Lalu pertemuan mereka kali ini terpaksa harus selesai karena jam makan siang telah usai. Pratiwi harus segera kembali ke kantor, segudang pekerjaan telah menantinya.


Dalam perjalanan pulang Jessica melihat mobil Darwin terparkir di depan sebuah restoran cepat saji. Setelah menepikan mobilnya, Jessica masuk ke dalam restoran tersebut.


Seketika emosi Jessica kembali memuncak saat ia lihat Darwin bersama seorang wanita yang tak lain adalah Yunita. Dengan emosi yang sudah tak terbendung lagi, Jessica menarik bahu Yunita, lalu menamparnya dengan keras.

__ADS_1


“Mbak, apa yang kau lakukan!” teriak Darwin, ia mengelus pipi Yunita.


“Aku tidak hanya akan menamparnya, Win. Aku bisa saja membunuhnya jika ia masih di sini!” teriak Jessica sudah tidak terkontrol, semua mata melihat ke arahnya. Yunita meraih tasnya lalu ia berlari kecil keluar dari restoran tersebut.


“Kau sudah gila, ya! Bisa-bisanya kau asyik berduaan dengan wanita lain sementara istri dan anakmu masih belum jelas di mana keberadaannya!”


“Kau salah paham, Mbak. Justru Ayu yang menemaniku mencari Asmira, aku baru saja dari sekolah Evano. Barang kali Asmira mengurus kepindahan Evano,” sahut Darwin.


“Kau tahu? Jika Asmira melihatmu dengan wanita itu, ia tidak akan memaafkanmu seumur hidup?” Jessica tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membuat Darwin sadar akan kebodohannya itu.


“Aku hanya menganggapnya teman, tidak lebih, sumpah demi apa pun itu, hatiku sepenuhnya untuk Asmira, Mbak!” sanggah Darwin.


“Terserah kau Win, aku sudah mengingatkanmu berulang kali, jangan sampai kau menyesal!” Lalu Jessica pergi meninggalkan Cafe tersebut. Ia sudah terlalu lama meninggalkan Elia bersama babby sitter di rumahnya.


Setelah Jessica pergi, Darwin duduk termenung seorang diri. Kenapa semua orang salah menilai Yunita? Atau aku yang salah menilainya? Darwin bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Darwin tidak tinggal diam saja, ia mencari keberadaan Asmira ke mana saja ia bisa. Ia tidak hanya menunggu kabar dari Pratiwi. Bahkan semua stasiun, bandara dan tempat transportasi lainnya, semuanya ia datangi demi mencari istri dan anaknya. Tapi semua itu di anggap salah oleh keluarganya. Karena itulah Yunita mengambil celah untuk mendekati Darwin dengan seolah-olah menghiburnya. Darwin mengikutinya tanpa sadar.


“Cuma kau yang bisa buat aku terlihat seperti orang bodoh, Lestariku!” teriak Darwin. “Arggghhh!!!” teriak ia lagi. Ia jambak rambutnya dengan keras, kepalanya sakit terasa ingin pecah.



Keesokan harinya, seperti biasa, lagi-lagi Darwin kesiangan. Setelah selesai berpakaian, ia raih tas kantornya untuk segera berangkat. Ia kaget melihat ada makanan di meja makan.


“Sayang, kau sudah pulang!” panggil Darwin, ia mencari Asmira ke seluruh ruangan. Namun tidak ada siapa pun di sana selain ia sendiri. Secarik kertas tergeletak di samping gelas.


“Makanlah, semoga kau cepat menemukan istri dan anakmu.” Sepucuk surat ditulis oleh Martha. Walau bagaimanapun kesalnya seorang ibu terhadap anak, tetap saja ibu mana pun tidak ingin anaknya kenapa-kenapa. Darwin melahap semua sarapan itu sebelum ia bergegas berangkat ke kantor.


Dalam perjalanan Yunita menghubungi Darwin. Setelah beberapa kali Darwin tidak menjawabnya, Yunita masih saja menghubungi berkali-kali. Akhirnya dengan terpaksa Darwin menepikan mobilnya.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Darwin kesal.


“Kenapa marah begitu, kalau kau tidak senang aku matikan saja,” ujar Yunita.


“Bukan begitu, kau jangan marah.”


Sesaat hening, Yunita tidak menanggapi permintaan maaf Darwin. “Katakan ada apa?” tanya Darwin kemudian.


“Aku hanya ingin mengatakan padamu, ada orang yang melihat keberadaan istrimu,” sahut Yunita.


Darwin tersenyum, ia senang bukan main. “Benarkah? Di mana?”


“Aku tidak tahu, karena itu aku ingin mengajakmu menemui orang tersebut, itu pun kalau kau bersedia.”


“Tentu saja aku bersedia, demi anak dan istriku,” ujar Darwin kegirangan.


Setelah memutuskan panggilan, Darwin segera menjemput Yunita, mereka akan segera menemui orang yang melihat keberadaan Asmira.


Mereka telah menempuh perjalanan cukup jauh, Darwin sangat lelah, namun belum juga tiba di tempat tujuan. Sekali-kali Darwin menguap, semua badannya terasa pegal.


“Yu, kenapa jauh sekali. Kenapa tidak orang itu saja yang kau bawa padaku,” Darwin mengeluh dengan kondisi jalanan yang semakin parah.


Tiba-tiba ponsel Yunita berdering, orang suruhannya menelepon. "Ada apa? Kami sedang dalam perjalanan.


“Kau jangan bercanda! Kami sudah berjalan cukup jauh!” teriak Yunita tiba-tiba, Darwin segera menepikan mobilnya.


“Ada apa Ayu?” tanya Darwin.


Yunita menjauhkan ponselnya. “Orang tersebut menghilang, anak buahku kehilangan jejaknya.”

__ADS_1


Seketika semangat Darwin kembali hilang saat ia mendengar semua perkataan Yunita. Ia sudah sangat gembira saat mengetahui akan bertemu Asmira, tapi kini ia kembali patah semangat.


Jangan lupa like ya..


__ADS_2