
Jessica tidak menerima Darwin di rumahnya sore itu. Setelah ia ungkapkan semua kekecewaannya ia mengusir adiknya pergi. Dengan berat hati ia lakukan semua itu untuk memberi Darwin pelajaran agar ia bertanggung jawab atas perbuatannya.
Darwin kembali ke rumah barunya. Ia menginap di sana. Untuk pertama kalinya, ia habiskan malamnya tanpa Asmira di sampingnya.
Malam itu terasa sangat panjang. Darwin tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Angin malam terasa dingin hingga ke tulang. Darwin sengaja membuka jendela kamarnya, ia membiarkan buruknya cuaca malam menerpa tubuhnya yang seperti mati rasa.
“Bagaimana jika aku tidak menemukan Asmira? Bagaimana jika ia pergi selamanya dari kehidupan ku?”
Darwin kembali histeris kala mengingat itu semua, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Martha tahu, menantu dan cucunya pergi. Semua pikiran itu berkumpul menjadi satu di otaknya yang membuat ia frustrasi.
•
Pratiwi mengerutkan keningnya saat ia lihat pintu ruangan bosnya terbuka. Ia mendekat, ia intip di balik pintu. Ternyata Darwin sudah kembali dari liburannya. Pratiwi ingin kembali ke ruangannya namun Darwin memanggilnya.
“Masuklah!”
“Anda sudah kembali, Pak,” ujar Tiwi merasa canggung karena ketahuan mengintip.
“Tolong kau lacak keberadaan Asmira terakhir kali.”
“Apa, Pak?” tanya Pratiwi terkejut, ia tak menyangka semua kejadian itu akan membuat istri bosnya memilih untuk pergi.
Pratiwi menelan ludahnya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada dirinya.
Namun Darwin tidak mau mengulangi lagi perkataannya. Ia terdiam, pandangannya kosong. Lalu ia mengalihkan pembicaraan, ia menanyakan bagaimana kantor selama ia tinggalkan 3 hari yang lalu.
“Saya minta maaf, Pak. Saya libur 2 hari karena anak saya sakit,” ucap Tiwi kemudian.
“Sakit, sakit apa? Tidak biasanya kau libur, tentu anakmu sakit parah?” tanya Darwin, ia tahu bagaimana kinerja Pratiwi.
“Keracunan makanan. Evano juga salah satu korban kecelakaan itu, Pak. Anda tidak tahu?” tanya Tiwi.
“Apa!?” Darwin terkejut mendengar perkataan Pratiwi.
__ADS_1
Pratiwi mengambil koran 2 hari yang lalu, ia berikan pada bosnya. Darwin menghela nafasnya dengan berat setelah mengetahui kejadian beberapa hari yang lalu. Ia tak hanya melakukan kesalahan kecil, tapi kali ini ia benar-benar melakukan kesalahan yang fatal. Di saat seperti itu harusnya ia mendampingi Istrinya serta menguatkannya. Tapi ia malah bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana.
“Bagaimana kondisi anakmu sekarang?” tanya ia kemudian, matanya mulai berkaca-kaca, ia khawatir bagaimana kondisi Evano kini.
“Anak saya belum sembuh, Pak. Tapi ia sudah mendingan.”
Darwin menarik nafasnya, ia menengadah ke langit-langit ruang kerjanya. Perlahan bulir air mata mengalir di pipinya. Pratiwi menahan nafasnya, untuk pertama kalinya ia lihat bosnya rapuh seperti itu.
“Temukan Asmira, Tiwi,” lirih Darwin, ia tak bisa lagi menahan tangisnya, bahkan di depan Pratiwi sekali pun.
Pratiwi bercerita pada Darwin tentang kejadian hari itu di rumah sakit, ia meminta maaf atas kecerobohannya dalam berbicara. Jika saja ia tak menanyakan apa pun pada Asmira, mungkin saja semua itu tidak akan terjadi.
“Anda mengatakan ingin berlibur, saya mengira Anda akan berlibur dengan Ibu Asmira, Pak. Maafkan saya yang terlalu ikut campur. Kalau Anda mau pecat saya, silakan, Pak.”
Darwin terdiam, semuanya sudah terjadi, semua salah ia sendiri, yang harusnya bertanggung jawab atas semua kesalahan itu ialah dirinya. Tidak seharusnya ia melibatkan siapa pun.
“Saya menyesal telah pergi berlibur bersama Yunita, Tiwi,” ucap Darwin.
“Kenapa Anda memilih pergi dengan musuh kita di banding keluarga Anda sendiri, Pak?” tanya Tiwi tak habis pikir. Dari dulu ia tak pernah melihat Darwin salah mengambil langkah, tapi kali ini ia mengakui, untuk pertama kalinya ia kecewa dengan sikap atasannya tersebut. “Apa tujuan Anda hanya untuk mengetahui tentang Haris?” tanya Tiwi. Namun Darwin menggeleng kepalanya. “Apa Anda tidak merasa curiga dengan Yunita dan pak Ferry, Pak?” tanya Tiwi lagi.
“Kalau dia baik, dia tak akan mengganggu rumah tangga Anda, Pak,” ujar Tiwi.
“Bukan dia yang salah Tiwi, tapi saya. Di sini saya yang harusnya di salahkan,” bela Darwin lagi. Pratiwi menggelengkan kepalanya tak percaya, Darwin benar-benar telah di cuci otaknya oleh Yunita.
“Itu menurut Anda, tidak dengan Ibu Asmira, beliau pasti sangat terluka, Pak.”
“Saya tahu Tiwi, saya tahu!” Darwin menjambak rambutnya sendiri, ia benar-benar telah melakukan suatu kesalahan besar.
••
Darwin melaju kencang dengan mobil kantornya, ia menuju kampung halaman Asmira, ia mendatangi rumah Rose, ia tak mungkin berdiam diri menunggu informasi dari Pratiwi, ia harus mencari anak dan istrinya. Beberapa kali ia hampir menyenggol pesepeda motor, ia membawa mobil dengan sangat tidak hati-hati.
Beberapa jam kemudian ia tiba di rumah Rose. Ia memantapkan langkahnya untuk masuk. Walau apa pun yang terjadi nanti ia telah siap dengan segala risikonya.
__ADS_1
“Permisi! Rose!” teriak Darwin sembari menekan bel berkali-kali.
“Win, silakan masuk,” pinta Rose setelah membukakan pintu, ia memutarkan pandangannya mencari keberadaan Asmira.
“Kau sendiri, Asmira mana?” tanya Rose.
Deg. Jantung Darwin berdegup kencang. “Asmira tidak ke sini, Rose?” tanya Darwin, nafasnya terasa berat. Asmira bahkan tidak ke sana, rumah kakak kandungnya sendiri, lalu ke mana ia sebenarnya. Batin Darwin.
“Tidak, aku bahkan sangat merindukannya,” sahut Rose. Ia menyipitkan matanya kemudian ia berkata, “Jangan bilang ia pergi dari rumah!”
Darwin terdiam, ia menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Rose. Dengan keras Rose memukul bahu Darwin.
“Kau apa kan adikku! Kau cari dia sampai ketemu, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Rose membanting pintu rumahnya dengan keras.
“Pergi kau!” teriak Rose dari dalam.
Darwin terpaku di depan rumah Rose, ia kembali ke mobilnya, perlakuan Rose tak jauh beda dari kakaknya, Jessica. Bahkan ia tak sempat menjelaskan apa pun pada Rose, kakak Asmira itu terlanjur marah padanya.
Hingga malam tiba. Darwin masih betah di kantornya. Malam itu ia memilih menginap di kantor. Percuma saja ia pulang tanpa anak dan istrinya di rumah. Pikirannya semakin kacau saat Pratiwi menghubunginya mengatakan ia tidak menemukan jejak Asmira. Terakhir kali ia hanya melihat Asmira di rumah sakit, setelah itu tidak ada yang mengetahui ke mana Asmira pergi.
“Tidak mungkin Tiwi, tanya ke seluruh orang yang ada di kota A. Beri mereka uang bila perlu!”
“Maaf, Pak. Ini bukan soal uang,” sahut Pratiwi tegas di balik telepon.
Darwin memutuskan panggilan sebelah pihak, ia banting keras ponselnya ke lantai, ia jambak rambutnya dengan kasar.
“Aaargghhh!!!!” teriak Darwin keras.
Ia hempaskan tubuhnya di sofa ruangannya. Andai bisa ia putar waktu kembali, sungguh ia tak akan pergi bersama Yunita, ia memilih menemani istrinya periksa kandungan dan ia akan ada saat Evano di timpa musibah. Namun sayangnya, nasi telah menjadi bubur, penyesalan hanya tinggal penyesalan, semua tak ada gunanya lagi.
“Aku mohon, kembalilah sayang,” lirih Darwin. Ia usap foto pernikahan dirinya dan Asmira yang terletak di meja kerjanya ia peluk dan cium pigura tersebut.
“Aku tidak bisa hidup tanpa mu, sayang.”
__ADS_1
Jangan lupa Like ya...