Eternal Promise

Eternal Promise
Part 16


__ADS_3

Pagi hari, sebelum berangkat kerja Darwin mengantar Evano sekolah. Tugas yang biasa dilakukan oleh Asmira itu di ambil alih olehnya. Karena ia tidak mau istrinya melakukan aktivitas yang akan membuat janinnya kenapa-kenapa.


“Belajar yang benar ya, Nak?” pinta Darwin ketika Evano turun dari mobil ia mengangguk dan melambaikan tangan pada Ayahnya.


15 menit kemudian Darwin tiba di kantor. Pandangannya sedikit terganggu dengan kehadiran Yunita yang menunggunya di tempat parkir.


“Ada apa lagi wanita licik itu kemari,” lirih Darwin ketika langkahnya terus mendekat dengan Yunita.


“Selamat pagi Pak Darwin,” sapa Yunita tersenyum manis.


“Ada apa?” tanya Darwin dingin.


“Aku hanya ingin memberikan file ini.”


Yunita menyodorkan sebuah map pada Darwin, ia raih map tersebut dan membacanya. Darwin mengerutkan keningnya, sesaat kemudian ia selesai membacanya.


“Baguslah! aku lebih senang bekerja sama dengan pria,” ucap Darwin.


Map yang Yunita berikan merupakan profil tentang seorang pria yang akan menggantikannya menangani proyek besar yang sedang mereka garap bersama.


“Ya, Pak Darwin. Kemungkinan besar, besok beliau akan tiba di tanah air,” ujar Yunita lagi.


Darwin tersenyum simpul, masih dengan aura Direktur yang khas, ia sangat elegan dan berkelas.


“Baik, saya permisi dulu.” Kemudian Darwin segera melangkah masuk meninggalkan Yunita yang masih berdiri di sana.


Sementara di rumah Asmira, ia sedang asyik menonton video tentang kehamilan yang sengaja di unduh oleh Darwin untuk menghilangkan kejenuhan Asmira di rumah.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dengan sedikit bermalas-malasan ia bangun menuju pintu depan.


Sebelum membuka pintu ia mengintip dibalik gorden jendela, seorang wanita paruh baya dengan tas jinjing besar di tangannya berdiri di depan pintu. Perlahan Asmira membuka pintunya, ia tersenyum ramah pada wanita tua itu.


“Cari siapa ya, Buk?” tanya Asmira ramah.


“Apa benar ini rumah tuan Marcell Darwin?”


“Oh, benar. Itu suami saya,” jawab Asmira tersenyum.


“Kenalkan Nyonya, saya Ida pembantu baru di rumah Nyonya.” Bu Ida menjulurkan tangannya pada Asmira.

__ADS_1


Asmira tidak menyambut tangan Bu Ida, ia mengerutkan keningnya sembari berkata, “Saya tidak mencari pembantu baru, Buk?”


Bu Ida tersenyum, ia memberikan secarik kertas yang Pratiwi berikan padanya. Kemarin Darwin menyuruh Pratiwi mencarikan pembantu rumah tangga yang profesional untuk menemani Asmira hingga melahirkan.


Asmira menjabat tangan Bu Ida, ia tersenyum setelah membaca surat tersebut.


“Ayo mari masuk, Buk.” ajak Asmira.


Bu Ida merasa sedikit canggung melihat sikap Asmira yang begitu ramah padanya seorang pembantu. Asmira menunjukkan kamar tamu pada Bu Ida dan menyuruhnya menaruh semua pakaiannya di lemari.


“Nyonya jangan, saya cuma pembantu.” Bu Ida menolak dengan lembut.


“Loh, kenapa? Di rumah saya tidak ada kamar yang lain,” ujar Asmira.


“Tidak apa-apa Buk, saya tidur di dapur juga boleh ...”


Belum selesai Bu Ida menyatakan keberatannya terhadap permintaan Asmira, ia segera menarik tangan Bu Ida dan mengajaknya masuk ke dalam kamar itu.


Asmira menemani Bu Ida mengemasi barang-barangnya di kamar. Mereka asyik mengobrol dan saling menceritakan tentang kehidupan masing-masing. Asmira terlihat bahagia ketika ia menceritakan semua tentang suami dan anaknya. Tawa renyah selalu tersungging di bibirnya.


“Oya, keluarga Ibu di mana?” tanya Asmira.


Mata Bu Ida terlihat berkaca-kaca, wajahnya sendu, Asmira mengelus-elus bahu wanita tua itu ia mencoba menenangkannya.


Suami Bu Ida telah meninggal 5 tahun silam karena sakit paru-paru, Bu Ida berjuang keras banting tulang untuk menyembuhkan penyakit suaminya. Namun sayang, 2 tahun menjalani pengobatan, takdir berkata lain, nyawa beliau tak tertolong lagi.


“Bu, bapak sudah tenang di alam sana,” ujar Asmira bersedih.


“Ya Nyonya,” Bu Ida mencoba tersenyum di sela tangisnya.


Kemudian mereka menyiapkan makan siang bersama. Bu Ida sangat humoris, Asmira dibuat tertawa cekikikan olehnya dengan tingkahnya yang lucu. Bu Ida masak makanan kesukaan Evano sesuai permintaan Asmira.


Asmira melirik jam di layar ponselnya, ia tampak gelisah. Bu Ida melihat kegelisahan di wajah majikannya itu.


“Ada apa Nyonya?” tanya Bu Ida.


“Ini loh Bu, biasanya jam segini saya sudah menjemput Vano. Tapi suami saya melarang saya untuk melakukan itu lagi mulai hari ini,” ungkap Asmira mengenai kegelisahannya.


“Kalau begitu Nyonya sabar, ya. Mungkin sebentar lagi tuan kecil pulang.”

__ADS_1


Baru selesai Bu Ida berkata, terdengar suara klakson mobil di depan gerbang rumah. Asmira bergegas menuju ke depan. Ia tersenyum ketika melihat suami dan anaknya pulang.


“Mas, aku khawatir banget.”


“Kenapa sayang?” tanya Darwin sembari mengecup pelan kening Asmira.


“Aku pikir kamu lupa jemput Vano, Mas.”


“Mana mungkin aku lupa sayang, ayo kita masuk?” ajak Darwin merangkul bahu Asmira.


Melihat ada orang baru di rumahnya Evano sedikit terkejut, ia menatap dalam-dalam Bu Ida tanpa menyapa. Melihat tingkah Evano demikian membuat Bu Ida tertawa kecil.


“Halo Tuan kecil, perkenalkan saya Bu Ida pembantu baru di rumah Tuan.” Bu Ida tersenyum ramah ketika menyapa Evano dengan sedikit berjongkok.


Asmira mendekati Evano, ia menyuruh anaknya menyalami tangan Bu Ida dengan sopan. Bu Ida tersenyum pada Darwin, ia menganggukkan kepalanya dengan hormat.


“Tidak perlu sungkan begitu Bu, semoga Ibu betah di sini, ya?” Darwin tersenyum ramah.


Kemudian mereka makan siang bertiga dengan makanan yang sangat lezat yang telah Bu Ida siapkan. Sementara Bu Ida menolak ajakan mereka dengan alasan ia ingin segera menunaikan ibadah Shalat Dzuhur.


“Pi, kita udah lama ya, enggak makan siang bareng,” ujar Evano.


Darwin terdiam mendengar ucapan Evano, selama ini ia terlalu sibuk bekerja, untuk sekedar makan siang bersama saja ia tak punya waktu. Melihat wajah Darwin sendu, Asmira mencoba memberi pengertian pada sang anak.


“Papi kerja sayang, kantor Papi dengan rumah kan berjauhan, kasihan Papi kecapaian harus pulang pergi,” ujar Asmira.


“Kalau begitu kita pindah saja ke rumah yang dekat dengan kantor Papi,” timpal Vano kemudian.


Darwin tertawa kecil mendengar usulan anaknya itu. Sementara Asmira membulatkan matanya pada Darwin, seketika tawa Darwin menghilang.


“Ayolah Pi kita pindah, masak orang kaya seperti Papi rumahnya sekecil ini,” ujar Evano dengan mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Darwin kembali tertawa mendengar ocehan anaknya.


“Sayang, cepat habiskan makananmu!” ujar Asmira mengatupkan kedua bibirnya.


Evano menunduk, ia melirik Darwin dengan ujung matanya lalu keduanya diam-diam kembali tertawa kecil. Begitulah tingkah keduanya yang selalu menggoda Asmira.


Darwin sudah berulang kali mengajak Asmira pindah rumah. Namun tetap saja ia bersikukuh untuk tetap mendiami rumah minimalis yang berukuran tidak terlalu besar itu. Padahal rumah megah 3 lantai telah Darwin belikan jauh-jauh hari, namun Asmira belum bersedia pindah.


Jangan lupa like ya.

__ADS_1


__ADS_2