Eternal Promise

Eternal Promise
Part 39


__ADS_3

Di tempat lain, Jessica dengan penuh amarah mendatangi sebuah Cafe, ia sudah membuat janji bersama Pratiwi. Valen juga sudah menunggunya di sana. Setelah menitipkan Elia kepada Martha, ia bergegas ke sana.


Jessica tidak memberitahukan apa pun kepada orang tuanya. Ia tak ingin Marco jantungan karena masalah itu. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi Darwin namun tetap saja tidak tersambung. Jessica benar-benar geram dengan tingkah Darwin.


“Sayang, kau tenang dulu,” pinta Valen, begitu melihat Jessica datang dengan wajah penuh amarah.


“Bagaimana aku bisa tenang, Mas. Adikku sendiri menyakiti wanita yang sangat aku sayangi. Asmira itu adikku juga, Mas. Jauh sebelum mengetahui siapa orang tuaku. Asmira satu-satunya yang aku punya!” jawab Jessica berapi-api. Dalam sikapnya yang keras, perlahan air matanya jatuh berderai membasahi pipinya. Ia peluk erat Valen, ia luapkan segala emosinya di pelukan yang paling nyaman itu.


Pratiwi terpaku melihat Jessica begitu terpukul, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan bosnya yang begitu berani keluar dari zona nyaman. Untuk beberapa saat, suasana menjadi begitu memilukan, suara tangisan Jessica begitu sendu.


“Aku akan datang ke pulau itu, Mas!” ucap Jessica kemudian setelah tangisnya mulai mereda.


“Kau serius?” tanya Valen.


“Kalau Anda serius, akan saya berikan alamat penginapan mereka di sana,” ujar Pratiwi.


Mendengar kata penginapan, Jessica menyunggingkan senyum sinis di bibirnya. Ia mengepalkan tangannya penuh amarah.


Rthhhhh ... rthhhhh.


Suara getar ponsel Jessica membuat obrolan mereka terputus.


“Siapa?” tanya Valen.


“Mama, Mas. Mungkin Elia cari aku,” sahut Jessica. Kemudian ia mengangkat panggilan tersebut.


Baru sebentar ponsel ia letakkan di telinganya, aura wajahnya seketika berubah. “Mama jangan bercanda ...” lirih Jessica pelan, ia menutup mulut dengan tangannya. Perlahan air mata kembali menetes di pipinya. Ia letakkan kembali ponsel di depannya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia kembali sesenggukan.


“Sayang, ada apa? Katakanlah!”



30 menit yang lalu di rumah keluar Marco.


Elia asyik bermain bersama Pak Samsul. Ia menaiki punggung pak Samsul yang merangkak di atas rumput di halaman depan. Elia tertawa cekikikan, ia sangat suka bermain kuda-kudaan.


“Sayang, turun. Kasihan Kakek Samsul,” pinta Martha yang baru keluar dari dalam.


“Sudah, Buk Nyonya, tidak apa-apa.”


Martha senang melihat Elia begitu lincah, tiba-tiba ia jadi teringat cucunya satu lagi yaitu Evano. “Apa kabar ya Evano cucuku,” gumam Martha dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba suara klakson di depan pintu gerbang, membuyarkan lamunan Martha. Pak Samsul segera berlari membuka pintu gerbang, sementara Martha melihat dari kejauhan penuh penasaran.


“Pak, benar ini kediaman Tuan Marco Antonio?” tanya sopir truk yang membawa barang-barang Darwin.


“Ya benar, ada apa ya, Pak?” tanya Pak Samsul.


“Saya mengantar semua barang-barang ini dari alamat Anggrek,” sahut sopir itu lagi.


Karena tidak sabar, Martha keluar mengeceknya, ia menggendong Elia. “Ada apa ini?” tanya Martha melihat satu truk penuh dengan barang-barang seperti orang pindahan.


“Ini, Bu. Saya mengantar semua barang ini dari alamat Anggrek.”


“Anggrek? Itu kan alamat rumah Asmira dan Darwin,” gumam Martha.


“Saya buru-buru, mau saya turunkan segera, Bu?” pinta sopir itu.


“Sebentar, Pak. Saya masih bingung kenapa semua barang-barang ini di pindahkan kemari?” ujar Martha lagi penuh tanda tanya.


“Wah, kalau itu saya kurang tahu, Buk. Saya hanya melakukan tugas saya.”


Kemudian Martha menyuruh mereka menurunkan semua barang-barang tersebut. Ia mencoba menghubungi Darwin namun tidak tersambung, begitu pun dengan Asmira. Hatinya menjadi gelisah. “Ada apa ini, Pa?”


“Coba Mama hubungi Jessica,” pinta Marco.


“Mama jangan bercanda.”


“Serius, sayang. Kau pulanglah,” pinta Martha. Suaranya berubah menjadi parau, ia menahan isak tangisnya.



Jessica menghubungi Asmira, telepon tersambung tapi tidak ada yang mengangkat. Jessica mondar-mandir di hadapan Pratiwi dan Valen. Ia sangat khawatir dengan kondisi Asmira yang sedang mengandung.


“Mas, ayolah kita ke rumahnya. Untuk apa kita terus berdiam diri di sini,” ajak Jessica.


“Ya sudah ayo. Tiwi, kalau ada informasi apa-apa segera hubungi kami. Maaf mengganggu waktumu.”


“Tidak apa-apa Pak Valen,” sahut Tiwi.


Tidak lama kemudian Jessica tiba di rumah Asmira. Ia bergegas turun dari mobilnya, ia menaiki tangga teras rumah itu dengan tergesa-gesa. Hampir saja ia terpeleset.


“Sayang, hati-hati,” ucap Valen.

__ADS_1


Tok ... tok.


Jessica mengetuk pintu berkali-kali. Ia terus memanggil Asmira, namun tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba datang seorang pria tua, yang merupakan tetangga Asmira.


“Nak, rumah ini sudah di jual. Pemilik barunya adik saya,” ucap pria itu.


Kemudian keluar seorang wanita tua di belakangnya. “Benar, Nak. Saya yang beli rumah ini,” ucapnya.


“Bu, Ibu tahu tidak ke mana pindah pemilik rumah ini?” tanya Jessica mendekati wanita tua itu. Ia berharap ada jawaban.


“Maaf, Nak. Saya tidak tahu.”


“Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu,” ucap Valen.


Jessica benar-benar frustrasi. Ia tidak membayangkan jika Asmira akan pergi dan menjual rumah itu. Jika saja ia tahu semua itu akan terjadi ia tidak akan meninggalkan rumah sakit begitu saja. Ia akan menjaga dan memberikan kekuatan kepada adiknya itu.


“Aku bodoh, Mas. Aku bodoh!” teriak Jessica. Ia menangis begitu keras, ia tidak berdaya mengetahui ponakan dan adiknya pergi entah ke mana. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya, lututnya pun tak kuat menyangga tubuhnya.


Valen memapah tubuh Jessica menuju mobil, ia menenangkan istrinya yang begitu kacau.


Jessica benar-benar putus asa. Puluhan kali ia telah menghubungi Asmira namun tidak ada yang menjawab panggilannya.


“Please Mira, angkat!”


Ting!


Pesan masuk.


*Asmira.


Aku baik-baik saja, Mbak. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Salam untuk Mama Papa, aku berjanji akan menjaga cucu mereka dengan baik, bahkan jika nyawa taruhannya aku rela. Mbak tidak perlu khawatir, aku tidak tahu kapan waktunya, nanti aku akan memberitahu alamatku*.


Setelah membaca pesan tersebut, Jessica menghubungi Asmira lagi. Namun sayang, nomor tersebut di luar jangkauan. Jessica benar-benar histeris ia menjerit-jerit.


“Mira! Adikku!”


Tangisannya pecah, matanya sampai sembab karena ia tidak berhenti menangis sejak siang tadi. Valen mendekap erat tubuh istrinya.


“Asmira butuh waktu sayang, kau tenanglah. Dia akan baik-baik saja,” ujar Valen.


“Kau tahu, Mas. Dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri, siapa pun yang akan menyakiti Asmira, akan berhadapan langsung denganku dan kini adikku sendiri orangnya, Mas.”

__ADS_1


Jangan lupa like ya..


__ADS_2