
Semalam Asmira makan banyak, ia menghabiskan 5 jagung bakar sekaligus. Darwin menelan ludah melihat istrinya makan besar semenjak kehamilannya itu. Setelah kenyang, ia tertidur pulas hingga pagi hari Darwin membangunkannya.
“Sayang, bangun ....” Darwin menggoyangkan tubuh istrinya yang masih tidur pulas dengan mata terpejam.
“Sayang, bangun, kamu lupa janjimu semalam?” tanya Darwin berbisik di telinga Asmira.
Asmira membuka matanya sedikit. “Mas, aku masih ingin melanjutkan tidur,” ujar Asmira pelan.
“Sayang, aku menginginkannya ....”
Asmira tersenyum tipis mendengar rengek manja suaminya yang menagih janji semalam. Ia sengaja menggoda suaminya.
“Mas coba saja, jika aku tidak bernafsu, maaf ...” lirih Asmira, kemudian ia tersenyum puas tanpa di ketahui Darwin.
Tanpa menunggu lama, Darwin segera melancarkan aksinya setelah mendapat lampu hijau dari sang istri tercinta. Asmira salah besar jika menganggap itu hal yang sulit bagi suaminya, dari ujung kaki hingga ujung rambut menjadi sasaran empuk Darwin, tubuh Asmira bergetar menerima semua rangsangan dari suaminya.
Sejauh ini belum ada permasalahan yang signifikan terhadap urusan ranjang. Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Meski Darwin sering menggoda Asmira menyangkut dengan Perjanjiannya dulu, namun di anggap angin lalu oleh Asmira.
Akhirnya keduanya sama-sama klimaks, hasrat mereka terpuaskan. Darwin tersenyum puas melihat Asmira yang terkulai lemas di pelukannya.
“Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku selama 7 tahun belakangan ini, sayang,” ujar Darwin. Ia kecup pelan kening istrinya.
“Aku yang harusnya terima kasih, Mas. Kamu dan Vano adalah hal terindah yang kupunya.” Mata Asmira berkaca-kaca.
“Ini juga hadiah terindah untuk ulang tahun pernikahan kita.” Darwin mengelus perut istrinya.
“Ya, Mas.”
Setelah obrolan hangat pagi itu selesai, keduanya segera mandi dan berpakaian santai. Benar-benar sunyi, tidak seperti biasanya. Di mana biasanya, pagi hari Darwin akan mendapat telepon dari Pratiwi, ia akan menerima jadwal untuk kerja seharian. Namun kini, benar-benar liburan yang sangat menenangkan.
Asmira membuka pintu kamarnya, ia ingin segera turun dan sarapan pagi, ia sangat lapar. Namun saat pintunya terbuka, Asmira melangkah keluar, ia kaget bukan main.
“Happy Anniversary!!!!!” teriak mereka semua.
Asmira menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena kaget. Perlahan air mata menetes di pipinya, hal yang tidak pernah bisa ia lupakan ketika bahagia adalah, ia takut akan datangnya penderitaan.
__ADS_1
Jessica, Valen dan mertuanya hadir di sana memberi kejutan untuknya. Dengan ruangan yang sudah di hias sedemikian rupa dengan balon pink berbentuk cinta menghiasi seluruh ruangan.
“Kalian kenapa bisa di sini?” tanya Asmira, ia menuruni tangga di papah oleh Darwin.
“Kejutan dong!” ujar Jessica, ia cium kedua pipi adik iparnya dengan penuh kasih sayang.
“Semoga bahagia sampai kakek nenek sayang,” ujar Martha juga, ia peluk erat menantu kesayangannya itu.
Air mata Asmira mengalir deras. Semua mengucapkan selamat padanya hingga pelukan terakhir dengan Evano. Semua tumpah ruah, ia salurkan semua dengan diam dalam dekapan erat itu.
“Mami kenapa nangis?” tanya Vano, ia seka air mata ibunya.
“Tangis bahagia, sayang,” ujar Asmira, ia mengusap rambut Evano dengan lembut
“Sudah dong!” Marco menepuk tangannya memecahkan suasana haru pagi itu, ia mengajak mereka makan bersama.
Bu Ida telah menyiapkan banyak sarapan pagi itu, mereka semua makan bersama dengan lahap, sekali-kali terdengar canda tawa mereka. Asmira menjadi sasaran empuk bahan candaan mereka, pagi ini ia menghabiskan dua piring nasi goreng dengan 4 telur mata sapi setengah matang.
“Dedek bayi jangan nakal dong! Aku enggak mau Mami gendut,” ujar Evano mengelus-elus perut Asmira. Semua tertawa mendengar keresahan Evano.
“Mas ...” panggil Asmira. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Darwin.
“Ya, sayang,” sahut Darwin, ia cium kening istrinya.
“Aku tidak ingin sedetik pun kebahagiaan ini hilang, Mas.”
Darwin menatap dalam wajah istrinya, ia mengelus pipinya dengan ujung jemari, kemudian ia kecup pelan di sana.
“Aku akan menjaga kebahagiaan ini sampai kapan pun sayang,” ujar Darwin.
Angin berembus pelan menerpa wajah cantik Asmira dengan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai begitu saja. Darwin menyibakkan rambut istrinya yang menutupi wajah cantiknya itu. Tampak kekhawatiran di wajahnya, entah apa yang bersarang di benaknya.
“Sayang, kamu jangan banyak pikiran, ya?” Darwin tidak ingin Asmira stres.
Siang harinya mereka makan di bawah pohon rindang. Bu Ida menggelar tikar di atas rumput, kemudian ia menghidangkan masakan nikmat yang baru saja ia masak.
__ADS_1
Villa yang mereka inap berhadapan langsung dengan perkebunan teh, perkebunan luas milik salah satu orang terkaya di kota itu. Pemandangan indah dengan hamparan perkebunan di depan Villa sungguh sangat memanjakan mata. Udara sejuk nan damai menambah asyik makan siang hari itu.
Kebersamaan itu mereka habiskan hingga sore hari. Tanpa terasa siang berganti malam, udara semakin sejuk ditambah dengan rintik hujan yang turun sore itu.
“Evano, Elia!” panggil Martha. Keduanya asyik main kejar-kejaran di depan Villa.
“Ayo, masuk!” panggil Martha lagi. Namun keduanya tidak menggubris, hujan semakin deras, tapi mereka tidak ingin menyudahi permainan mereka. Valen menghampiri keduanya, ia gendong mereka masuk dengan paksa.
“Syukurlah kamu datang Valen, aku sudah memanggil mereka sedari tadi,” ujar Martha.
Malam harinya, setelah makan. Mereka lanjutkan dengan tonton bersama. Valen telah membawa beberapa film pilihannya ke sana. Ia sudah mengatur acara itu sedemikian rupa, kebahagiaan adiknya, kebahagiaan ia juga.
Film pertama selesai, Elia dan Vano tertidur pulas di sofa, kemudian Jessica mengangkat mereka ke kamar. Sementara yang lainnya masih melanjutkan film berikutnya yang tak kalah seru dari film yang baru saja usai.
“Sayang? kenapa matamu sembab?” tanya Darwin saat ia memapah Asmira ke kamar.
“Enggak, mana ada,” sahut Asmira berkilah.
“Bohong, kamu pasti sedih karena film tadi, kan?” tanya Darwin lagi, ia menidurkan Asmira kemudian menyelimuti tubuhnya.
“Iya, Mas. Sedih banget filmnya, apalagi pas adegan ada pelakornya. Aku ingat banget kejadian aku sama Ritha dulu,” ujar Asmira.
“Sudah sayang, jangan sedih lagi. Ritha juga sudah tenang di alam sana.” Darwin menarik nafasnya perlahan.
“Ya Tuhan, maafkan aku, Mas. Aku hanya terbawa suasana saja.”
“Ya sayang, aku tahu. Tapi kesalahpahaman itu tidak akan terjadi lagi, aku janji!” Ia mengacungkan kelingkingnya, di sambut oleh Asmira dengan manja.
“Kamu janji, ya?” ucap Asmira meyakinkan.
“Janji!” jawab Darwin lantang.
Lalu mereka segera istirahat, tidak butuh waktu lama mereka segera tertidur pulas setelah seharian lelah beraktivitas.
Jangan lupa like ya..
__ADS_1