
Malam harinya, di sebuah gang sepi, seorang wanita berlari kencang, sekali-kali ia menengok ke belakang sembari terus berlari, Ia seperti di kejar oleh seseorang di belakangnya. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berdiri tepat di hadapannya.
“Cepat masuk!” teriak pria yang menyetir mobil hitam itu.
Wanita tersebut bergegas naik ke dalam mobil, nafasnya terengah-engah begitu mobil yang ia tumpangi sedetik kemudian meluncur dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat sepi tersebut.
“Sial! Kita kehilangan jejaknya,” ujar salah seorang dari tiga pria berbadan tegap yang mengejar wanita tadi.
“Siapa sebenarnya mereka, Pak Haris?” tanya wanita itu.
“Kamu tidak perlu tahu, sekarang kamu aman!”
•
Setelah mendapatkan informasi dari orang suruhannya, Pratiwi menghubungi Darwin.
“Maaf, Pak. Kita gagal menemukan wanita itu.”
“Tidak masalah, pantau terus!”
Darwin buru-buru menekan tombol merah begitu Asmira masuk kamar. Ia tidak ingin membuat istrinya curiga bahwa dirinya sedang dalam masalah. Ia tersenyum manis menyambut segelas air dan vitamin yang dibawakan Asmira.
“Sayang, aku senang banget!” ujar Asmira tersenyum lebar.
“Ada apa, coba ceritakan.”
“Pak Yun tadi siang kencan sama Santi, aku senang banget ....”
Darwin mencubit hidung Asmira, ia tidak habis pikir dengan istrinya. Ia sangat peduli dengan orang-orang di dekatnya. Ia akan sangat bahagia apabila orang yang ia sayangi bahagia, Darwin mendengus pelan, ia kecup kening Asmira.
“Jangan terlalu lelah, jaga kesehatan dan anak kita,” ujar Darwin.
“Iya, aku tahu. Aku cuma mau Santi menemukan yang terbaik, Mas. Tapi aku jamin, aku enggak akan kenapa-kenapa.” Asmira kembali melebarkan sebuah senyuman di bibirnya. Darwin mengacak-acak rambut Asmira.
•
Keesokan harinya Darwin buru-buru berangkat ke kantor begitu Pratiwi menghubunginya. Ia bahkan tak sempat mengantar Evano sekolah.
“Sayang, suruh Pak Yun antar Vano sekolah, ya?”
Kemudian ia segera berangkat. 30 menit kemudian ia tiba di kantor. Pratiwi dengan sedikit tergopoh-gopoh segera ke ruangan Darwin begitu mengetahui sang direktur tiba.
“Masuk!”
“Selamat pagi, Pak,” sapa Pratiwi.
__ADS_1
“Ada apa lagi kali ini?” tanya Darwin langsung pada permasalahan.
“Pak Ferry mengajak Anda bertemu, Pak.”
Darwin menatap tajam Pratiwi tanpa berkedip. Ia seakan tak percaya, kenapa tiba-tiba ayah Yunita mengajaknya bertemu. Bukankah ia sudah mempercayakan kepada menantunya Haris?
“Siapa yang kirim email, Haris?”
Pratiwi menggeleng. “Beliau sendiri, Pak.”
Setelah Pratiwi keluar, Darwin masih terpaku, ia menggaruk pelipisnya. “Apa lagi ini, apa keputusan yang salah aku bekerja sama dengan perusahaan mereka?” Darwin meraup wajah dengan kedua tangannya, ia menghela nafasnya kasar.
•
Darwin tiba di sebuah hotel bersama Pratiwi. Ferry mengajak mereka bertemu di sana, bukan tidak ada maksud, barang kali ia ingin lebih private.
“Selamat datang, silakan masuk ...” ujar wanita cantik di pintu masuk hotel.
Lalu seorang wanita cantik lainnya mengantar mereka ke ruangan yang telah di tunggu oleh Ferry. Hotel ini sama megahnya dengan hotel milik keluarga Darwin. Hanya saja, hotel yang sedang mereka datangi kini, sudah sangat lama. Darwin mengarah pandangannya ke seluruh ruangan.
“Marcell Darwin ... mari silakan duduk,” ujar Ferry menepuk-nepuk pundak Darwin, ia tersenyum ramah.
Darwin sedikit canggung, ia mengikuti kemauan Ferry. Kemudian mereka di jamu dengan segelas kopi nikmat dengan aroma sangat menggugah selera.
“Kemarin saya turun lapangan, saya sangat puas dengan hasil kerja kalian, sejauh ini cukup baik.”
Pratiwi melirik Darwin. Bukankah kemarin Haris mengatakan ada sedikit masalah karena file Darwin hilang?
“Sebenarnya tidak ada masalah, saya hanya ingin bertemu denganmu. Saya hanya penasaran kenapa Direktur sukses di tanah air mau bekerja sama dengan perusahaan kami,” ungkap Ferry.
Darwin kembali menemukan kejanggalan dari ucapan Ferry. Kemarin Yunita mengatakan ayahnya yang memilih perusahaan Darwin sebagai orang yang mereka percaya dalam menangani proyek besar itu.
“Bagaimana kerja Yunita? Saya harap ia tidak mengecewakan. Saya sangat senang, saat ia bergabung di perusahaan, sudah sejak lama saya bujuk, namun ia selalu menolaknya. Tapi berkat kau, ia mau bekerja di perusahaan.”
“Apa yang saya lakukan, Pak?” tanya Darwin penasaran, ia merasa tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap teman lamanya itu. Ia baru saja bertemu dengannya bulan lalu.
“Ia mau bekerja jika saya berikan proyek besar ini ia yang tangani.”
Darwin mangut-mangut, kini ia tahu semua persoalan yang terjadi. Ternyata semua rencana ia dan suaminya, bahkan Ferry tidak tahu menahu dengan semua yang anak dan menantunya lakukan.
Dalam perjalanan pulang, Pratiwi mengungkapkan semua unek-uneknya. “Dari awal saya sudah yakin, ini hanya permainan Yunita, Pak.”
“Kamu benar, bahkan pak Ferry tidak mengetahui sekarang Haris yang bertanggung jawab di proyek.”
Mereka segera kembali ke kantor. Kini sebuah kartu As Darwin pegang. Darwin tersenyum kecut. “Yunita, siapa di belakang mu sebenarnya?” gumam Darwin.
__ADS_1
Dalam perjalanan, ponsel Pratiwi berdering. Orang suruhannya kemarin menghubungi, Tiwi melebarkan matanya, ia berharap ada informasi tentang kejadian kemarin.
“Halo, ada apa?”
“Bu, mobil yang membawa wanita malam itu, di depan kantor pak Kelvin.”
Deg.
Jantung Pratiwi berdegup kencang, ia tak percaya jika Kelvin yang bekerja sama dengan mereka.
“Pantau terus!” ucap Pratiwi sebelum mengakhiri panggilan itu.
“Ada apa?” tanya Darwin.
“Mobil yang membawa wanita itu ada di kantor Kelvin.”
“Apa!” teriak Darwin. Tanpa sadar ia menekan rem mendadak.
Pratiwi memperlihatkan foto mobil hitam tersebut yang di kirim orang suruhannya. Mata Darwin terbuka lebar, ia mengusap wajahnya.
“Ini mobil baru Kelvin, kemarin ia sendiri yang mengatakannya padaku,” ujar Darwin.
5 menit kemudian sebuah pesan WhatsApp masuk. “Benar, Pak. Orang suruhan kita mengatakan itu mobil milik pak Kelvin.”
“Ya Tuhan ... ini semakin rumit,” gumam Darwin dalam hati.
•
Malam harinya, Darwin tidak bisa memejamkan matanya. Ia benar-benar tidak tidur, ia terus mengubah posisi tidurnya hingga membuat sang istri terbangun.
“Mas, ada apa?” tanya Asmira.
“Aku lapar, sayang.” Bohong Darwin.
“Ya sudah, ayo kita makan, aku juga lapar.”
Selesai makan, Asmira kembali tertidur. Kali ini Darwin tidak mau mengganggu istrinya lagi, ia tidur di sofa ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar.
“Aku harus meminta bantuan Mas Valen,” gumam Darwin.
Jam menunjukkan pukul 04:00 pagi. Darwin menguap, akhirnya ia merasa kantuk setelah semalaman mematut diri di depan laptop.
Darwin kembali ke kamar, ia rebahkan tubuhnya di ranjang, ia kecup kening sang istri pelan. Kemudian ia terlelap dalam tidurnya, dengkuran halus pun terdengar.
Jangan lupa like ya..
__ADS_1