Eternal Promise

Eternal Promise
Part 32


__ADS_3

Selesai mandi dan berpakaian santai, Darwin turun makan malam bersama keluarga kecilnya. Selesai makan, saat Asmira ingin mengajak Evano mengerjakan PR dan menidurkannya. Darwin berkata, “Sayang, di rumah Mbak Jessica saja, yuk?”


Asmira mengerutkan keningnya. “Mengerjakan PR Vano ke rumah mbak Jessica? Kenapa jauh sekali?”


“Kau ini, maksudnya aku ingin ke rumah mbak Jessica ada hal yang ingin aku urus bersama mas Valen,” ujar Darwin mencubit hidung mungil Asmira.


“Oh begitu, kalau begitu Mas pergilah. Aku tidak ikut,” sahut Asmira.


“Aku tidak tenang meninggalkan kau di rumah.”


“Sudah, Mas pergi saja. Ada Bu Ida yang menemaniku. Oya, ajak Pak Yun, aku tidak ingin Mas pergi sendiri.”


Tidak lama kemudian Pak Yun dan Darwin berangkat menuju rumah Jessica. Darwin sudah tidak sabar ingin mendengar semua penjelasan Valen. Pak Yun melirik Darwin, wajah majikannya itu terlihat tidak bersahabat. Ia tidak berani memulai pembicaraan.


Setengah jam perjalanan, mereka tiba di rumah Valen. Setelah masuk, mereka di jamu oleh Jessica dengan secangkir teh hijau dan beberapa kue kering. Jessica menatap Pak Yun dengan saksama, ia merasa seperti pernah melihat pria itu, wajahnya terasa sangat familiar di ingatan Jessica. Kemudian ia berlalu meninggalkan mereka bertiga karena ingin menidurkan Elia.


“Silakan di minum,” ujar Valen pada Pak Yun. Sopir pribadi Asmira itu hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum ramah.


5 menit kemudian Pak Yun berkata, “Saya permisi keluar sebentar.” Pak Yun bangkit dari duduknya ia ingin melangkah keluar.


“Mau ke mana, di sini saja,” ujar Darwin.


“Tidak, Pak. Kalian bicaralah, saya akan menunggu di luar,” ucap Pak Yun, kemudian ia melangkah keluar.


“Apa kegiatan Mas akhir-akhir ini?” tanya Darwin membuka obrolan.


“Seperti biasa, menerima tawaran pekerjaan dari berbagai kantor, yang cocok ya aku ambil, yang kurang memuaskan aku tolak,” sahut Valen.


“Apa proyek yang sedang Mas kerjakan sekarang?”


“Untuk saat ini aku sedang mendesain sebuah Cafe di kawasan Anggur, sebenarnya ini pekerjaan lumayan lama terbengkalai, dikarenakan aku sibuk mengurus proyek pembangunan bersama sebuah perusahaan ternama juga,” sahut Valen lagi.


Akhirnya Darwin mempunyai celah untuk menanyakan perihal yang menyangkut Haris. “Bagaimana hasilnya memuaskan?”


“Hasilnya cukup setimpal dengan kerja yang aku buat. Aku hanya melanjutkan proyek yang katanya dibiarkan begitu saja oleh sebuah perusahaan ternama di tanah air.”


Darwin tersenyum sinis mendengar ucapan Valen. Ini yang di katakan Haris bahwa ia yang telah menyelamatkan nama baik perusahaan dirinya? Dasar penipu kau Haris? Begitu umpat Darwin dalam hati.

__ADS_1


“Jadi semuanya sudah selesai?”


“Ya, bahkan mereka sudah membayar penuh.”


“Apa kau tahu siapa pemilik perusahaan itu, Mas?” tanya Darwin.


“Kalau tidak salah Direktur utamanya bernama Ferry.”


“Kau tahu apa yang terjadi, Mas. Karya yang kau lanjutkan itu merupakan proyek yang sedang aku garap bersama Haris menantunya pak Ferry.”


Valen terbelalak mendengar pengakuan Darwin, ia tidak tahu menahu bahwa Yunita merupakan putri dari Ferry. Tapi ia sudah sejak lama mengerjakan proyek itu, sementara Darwin baru-baru ini, bukankah waktu yang bertolak belakang?


“Aku tidak mengerti, Win.”


“Sama, Mas. Aku juga tidak mengerti. Kemarin baru saja aku bertemu pak Ferry ia mengatakan proyeknya berjalan cukup baik, sementara sekarang kau mengatakan dia yang memintamu untuk meneruskan proyek itu.”


“No, bukan dia. Di surat kontraknya tertera nama Handika Riski.”


Darwin terdiam, ia memutar otaknya mendengar nama yang asing di telinganya itu. Kemudian Valen bangkit, ia mengambil surat kontrak itu di ruang kerjanya ia perlihatkan pada adik iparnya itu. Darwin menjepret surat tersebut menggunakan kamera ponselnya. Besok akan ia pertanyakan pada Pratiwi.


“Licik sekali cara kerja mereka, Win. Kau sedang di permainkan habis-habisan,” ucap Valen.


“Handika Riski,” sahut Valen.


“Ya, itu. Di sini juga sama sekali tidak tertera nama pak Ferry, kan?”



Sementara itu, setelah menidurkan Elia, Jessica turun ke bawah. Ia melihat adiknya sedang bicara serius bersama suaminya. Bahkan saking seriusnya mereka saat ia melangkah keluar tidak ada yang menyadarinya.


Jessica mencari keberadaan sopir pribadi Asmira itu. Ia merasa penasaran, rasanya ia pernah bertemu dengan laki-laki itu. Ternyata Pak Yun sedang duduk di kursi halaman rumah Jessica, dengan sebatang rokok di tangannya. Sesekali ia hisap lalu ia hembuskan asapnya perlahan.


“Kenapa di sini?” tanya Jessica, ia duduk di samping Pak Yun.


“Eh, Nyonya. Saya takut mengganggu, rasanya pembicaraan mereka terlalu privasi,” sahut Pak Yun ramah.


“Panggil Jessica saja, saya bukan majikan mu.”

__ADS_1


“Baik, Mbak Jessica ....”


“Rasanya aku pernah melihatmu, tapi aku lupa.” Jessica menggaruk keningnya. Setelah lelah berpikir ia benar-benar melupakannya.


“Ingatan Anda bagus, Mbak,” ucap Pak Yun, kemudian ia tersenyum ramah pada Jessica.


“Maksudmu?” tanya Jessica bingung dengan ucapan Pak Yun.


Kemudian Pak Yun bercerita bahwa dirinya merupakan sopir taksi yang pernah menyelamatkan Jessica beberapa tahun silam, saat Jessica kabur dari rumah Hardi. Jessica tersenyum kecil mengingat kejadian itu, setelah diingatkan kembali oleh pria berwajah tampan di depannya kini.


“Sungguh luar biasa, kita di pertemukan kembali. Dunia ini sempit, ya?”


“Ya Mbak, bahkan sekarang aku bekerja di rumah adikmu.” Lalu mereka tertawa bersama.


Tidak lama kemudian terlihat Valen dan Darwin keluar, merek bingung melihat keduanya begitu akrab. Biar tidak terjadi kesalahpahaman, Jessica buru-buru bercerita tentang kejadian silam itu. Valen menjabat tangan Pak Yun. Ucapan terima kasih berulang kali terucap di mulutnya.


“Kau tahu, Mbak. Dia sedang dekat dengan adiknya Nindy sekarang,” beritahu Darwin, Pak Yun malu di buatnya, wajahnya memerah.


“Santi!?” tanya Jessica kaget.


Darwin mengangguk, lalu mereka tertawa bersama melihat Pak Yun yang tampak malu-malu, dengan pipinya yang memerah seperti tomat.


“Baiklah, Mas. Aku permisi dulu, ini sudah larut.”


“Baik, kalian berhati-hatilah di jalan. Kalau ada apa-apa segera hubungiku, tidak perlu berkunjung seperti ini,” pinta Valen.


Darwin mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka segera meninggalkan rumah megah milik Jessica itu. Dalam perjalanan pulang mereka berbincang-bincang hangat, keduanya kini semakin dekat.


Setelah cuci kaki dan membersihkan wajahnya, Darwin naik ke ranjang tanpa membangunkan Asmira. Ia kecup pelan kening sang istri lalu ikut berbaring di sebelahnya.


"Kau sudah pulang, Mas?"


“Iya sayang, tidurlah ...” ucap Darwin lalu memeluk tubuh Asmira dari belakang.


“Mas, nafas mu terasa dingin, aku geli.”


Darwin tersenyum, ia mengubah posisi tidurnya. Lalu Asmira pun membenamkan wajahnya di dada bidang Darwin. Lalu keduanya sama-sama terhanyut dalam mimpi masing-masing.

__ADS_1


Jangan lupa like ya ...


Note. Untuk kejadian Jessica yang di maksud di atas, merupakan penggalan cerita dari Novel PERJANJIAN. Buat yang belum mampir, yuk di baca.


__ADS_2