
Menjelang siang Asmira tiba di kantor Pengadilan Agama, mereka cukup lama dalam perjalanan menuju ke sana. Dikarenakan jalanan macet total. Acara seharusnya telah di mulai setengah jam yang lalu. Namun Asmira harus menelan kecewa karena ia tidak sampai tepat waktu. Acara pasti sedang berlangsung. Pikirnya.
“Maaf, Mbak. Kita terlambat,” ujar Pak sopir.
Asmira menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa tidak apa-apa. Toh juga bukan salah beliau. Lalu ia segera turun dari taksi tersebut.
Perlahan air mata mulai berlinang di pipinya. Ia melangkah dengan rasa kecewa, pandangannya lurus ke depan. Tak ada lagi harapan yang tersisa, semuanya telah terlambat. Lagi-lagi Asmira membatin.
Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia melihat Darwin keluar dari sana. Asmira terpaku, jantungnya berdegup kencang, ia diam seribu bahasa, hanya air mata yang terus membasahi pipinya. Pupus sudah harapannya. Ia tak percaya pernikahannya benar-benar telah berakhir hari itu. Darwin pasti telah menjatuhkan talak untuknya. Aku terlambat, aku tidak berhasil menyelamatkan pernikahanku. Gumam Asmira.
Darwin juga tidak bisa berkata-kata, ia sudah hampir sebulan tidak menemui Asmira. Rindunya sudah tak tertahankan lagi. Semua itu ia lakukan agar Asmira tidak bingung dalam mengambil keputusan. Darwin terdiam, ia tak sampai hati melihat Asmira menangis seperti itu.
“Mira ...” panggil Darwin dengan suara pelan.
Asmira semakin dekat dengan Darwin, begitu keduanya berhadapan, ia segera memeluk suaminya itu dengan erat. Tangisannya pecah, ia tak dapat menahan gejolak di dadanya. Air matanya membasahi kemeja Darwin.
Darwin yang tak mengerti dengan sikap Asmira, ia cuma bisa terdiam. Asmira semakin mempererat pelukannya saat suaminya itu mencoba melepaskannya.
Darwin mengusap lembut kepala Asmira, ia belai penuh kasih sayang lalu ia memeluknya serta menciumi pucuk kepala istrinya itu.
Acara sidang pertama mereka dibatalkan, karena hakim ketua berhalangan. Oleh karena itu, Darwin segera keluar setelah mengetahui acara pada hari itu ditunda. Namun saat ia keluar ia menemui Asmira menangis histeris di pelukannya. Entah apa gerangan penyebabnya.
“Mas, maafkan aku. Aku sudah tahu semuanya, Yunita telah menceritakan kebenarannya padaku,” ujar Asmira masih dengan tangisnya yang belum usai. Ia menengadah menatap Darwin.
“Tapi percuma saja, saat aku mengetahuinya kau telah menceraikan ku!” Lanjut Asmira, ia pukul dada bidang Darwin berkali-kali.
“Bukankah ini yang kau mau?” tanya Darwin dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
Darwin tertawa kecil melihat tingkah Asmira, ia rindu masa-masa seperti itu terulang lagi. Ayah Evano itu sangat gembira mengetahui apa penyebab Asmira bersedih hati, tapi apa yang Yunita beritahu sehingga membuat keputusan Asmira berubah? Pikir Darwin lagi.
Asmira menggelengkan kepalanya. Ia belai pipi Darwin, ia pandang wajah suaminya dalam-dalam lalu ia berkata, “Sampai detik ini, aku masih Lestarimu, Mas ... aku tidak berharap pernikahan ini berakhir.”
__ADS_1
Lalu ia lepaskan pelukannya, ia menjauh. “Percuma saja, semuanya terlambat, aku tidak berhasil mencabut gugatan cerainya,” lirih Asmira lagi.
Darwin menarik lengan Asmira, ia genggam tangan ibu Evano itu. “Katakan padaku, apa yang membuatmu berubah pikiran?”
"Aku tidak bisa melupakanmu, aku tidak bisa hidup tanpa mu, Mas. Setelah amarah ini hilang, aku baru sadar, aku butuh kau, jika tanpa mu bagaimana nasib anak-anak kita,” sahut Asmira.
“Lalu apa hubungannya dengan yang Yunita ceritakan padamu?” tanya Darwin masih belum puas dengan jawaban Asmira.
“Itu yang membuat aku semakin yakin bahwa keputusanku memilih bercerai itu salah,” sahut Asmira.
Darwin tersenyum, ia belai lembut kedua pipi Asmira. “Kau tahu, persidangan di tunda,” bisik Darwin di telinga Asmira.
“Aku belum menceraikan mu, kau masih sah istriku ...” Sambung Darwin lagi.
Seketika pipi Asmira merah merona, ia lepaskan tangannya lalu ia membalikkan badannya dari Darwin. Ia menyipitkan matanya sembari mengoceh karena malu.
Asmira sangat bersyukur, Tuhan masih mengizinkan keduanya bersatu. Setelah sekian lama keduanya berpisah disebabkan oleh salah paham yang tiada ujung, kini mereka dipersatukan kembali, oleh wanita yang dulu menghancurkan semuanya.
“Kenapa? Kau menyesal mengatakan ini semua?” Darwin sengaja menggoda Asmira dengan pertanyaan yang diajukannya.
“Kalo begitu mari kita masuk lagi, biar semuanya selesai ...” lanjut Darwin, kali ini lebih serius.
“Jangan!” teriak Asmira saat Darwin mulai melangkah masuk.
“Kenapa?” tanya Darwin menahan senyumnya.
“Aku tidak menyesal, aku benar-benar butuh kau, Mas.” ucap Asmira, kali ini ia berani menatap mata Darwin.
“Kau serius? Kau telah memaafkan ku?” tanya Darwin, ia menarik dagu Asmira, lalu ia kecup kening istrinya itu sedikit lama.
“Sudah, kau jangan menggodaku seperti itu,” sahut Asmira, pipinya kembali merona.
__ADS_1
Lalu keduanya sama-sama masuk ke dalam. Darwin menemani Asmira mencabut gugatan cerai untuk dirinya. Senyum tiada habisnya terukir di bibirnya. Darwin sangat gembira. Doa yang ia panjatkan ke hadirat Tuhan, hari ini telah terkabul. Mereka kembali bersatu. Entah apa yang bicarakan Yunita, tapi Darwin sangat berterima kasih kepada wanita itu.
•
“Mas, ayo kita masuk?” ajak Asmira saat ia turun dari mobil.
“Aku harus segera kembali ke kantor. Masuklah dulu, nanti malam aku akan menjemputmu, kita akan kembali ke rumah,” sahut Darwin, ia usap kepala Asmira penuh kasih tidak lupa satu kecupan di keningnya.
Asmira melambaikan tangannya ketika mobil Darwin meninggalkan apartemen. Seorang pria yang sejak tadi memperhatikan mereka, berdiri mematung di belakang Asmira. Begitu Asmira membalikkan badannya, ia terkejut melihat Yun di sana.
“Mas, tidak masuk kantor?” tanya Asmira merasa canggung. Pria itu pasti kecewa mengetahui Asmira kembali akur dengan suaminya.
Yun segera berlalu dari hadapan Asmira tanpa mengatakan apa pun. Terlihat jelas dari matanya, kecewa yang teramat besar. Asmira memanggilnya dan mencegah pria itu pergi. Namun Yun segera menancap gas dan menghilang di hadapan Asmira.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak mungkin egois, anak-anakku butuh sosok ayah,” gumam Asmira masih menatap kepergian Yun.
Asmira menekan bel beberapa kali, tidak lama kemudian Bu Ida membukakan pintu. Ia segera masuk dengan rasa bersalah terhadap Yun. Asmira tidak sampai hati, pria itu telah berkorban banyak untuknya.
“Kau ke mana saja, persidangan dibatalkan, aku mencarimu ke mana-mana?” tanya Bu Ida.
“Aku sudah tahu, Bu,” sahut Asmira singkat.
“Jessica kemari, ia bertengkar hebat dengan Rose,” beritahu Bu Ida kemudian.
“Apa!?” tanya Asmira syok.
Jessica tak terima karena Rose mendesak Asmira menggugat cerai Darwin. Jessica merasa Rose tidak tahu apa-apa, kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang Asmira ketahui. Mereka dijebak. Rose juga tak tinggal diam, ia merasa berhak, karena ia kakak kandungnya.
Asmira menggaruk tengkuknya, baru sebentar ia pergi, ia sudah melewati banyak hal. Asmira menghempaskan tubuhnya ke sofa. Setidaknya, apa pun yang terjadi. Hari ini ia sangat puas, ia telah berhasil menyelamatkan pernikahannya yang hampir saja berakhir karena suatu kesalahpahaman. Jika tidak, ia pasti akan menyesal seumur hidupnya.
Jangan lupa like ya..
__ADS_1