Eternal Promise

Eternal Promise
Part 38


__ADS_3

Setelah menjenguk anaknya yang telah siuman, Pratiwi menyuruh suaminya menjaga putri mereka untuk sementara waktu, ia pergi sebentar, ada urusan yang harus ia bereskan sesegera mungkin.


Pratiwi merogoh ponsel dari tas jinjing besar miliknya. Ia menghubungi seseorang untuk menanyakan informasi tentang keberangkatan Darwin kemarin. Selesai bicara, Pratiwi menutup panggilan tersebut. Ia sedikit kaget melihat sopir pribadi Asmira berada di belakangnya.


“Kau, bikin kaget saja.”


“Kemarin saat mengantar pak Darwin ke bandara, aku melihat dia bersama seorang wanita cantik,” beritahu Pak Yun.


Pratiwi membuka ponselnya, ia perlihatkan foto seorang wanita pada Pak Yun. “Apa ini orangnya?”


“Ya, ini wanita kemarin. Wanita ini juga yang mengirimkan hadiah ke rumah beberapa hari yang lalu,” ujar Pak Yun lagi.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka yang tak lain merupakan Asmira. Wanita yang sedang mengandung itu, menutup mulut dengan tangannya, ia tahan suaranya untuk tidak menjerit. Bulir demi bulir air mata jatuh di pipinya. Ia belai lembut perutnya. Asmira menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya yang semakin pilu. Pahit sekali ia harus mengetahui bahwa suaminya membohongi ia untuk yang kedua kalinya.


“Tuhan. Berat sekali cobaan yang Engkau berikan,” lirih Asmira. Ia berlari ke ruang rawatan Evano.


Tiba di ruangan itu, ia lihat Evano sudah siuman. Wajahnya seketika semringah, ia dekati anaknya ia peluk cium bertubi-tubi. Evano memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


“Mami jangan menangis. Aku baik-baik saja,” ucap Evano.


“Ya, sayang. Mami menangis karena bahagia mengetahui kau tidak apa-apa,” balas Asmira.


Asmira melihat tidak ada Jessica di ruangan itu, ia mencari keluar juga tidak ia temukan.


“Bu, mbak Jessica mana?”


Namun Bu Ida juga tidak mengetahui ke mana perginya Jessica.


Tidak lama kemudian Pak Yun masuk ke ruangan itu, ia bawa buah-buahan untuk Evano. Bu Ida segera mengupasnya. Asmira tersenyum melihat anaknya begitu lahap, bagaimana tidak, ia sudah memuntahkan semua makanan yang tadi pagi ia makan. Tentu saja sekarang ia merasakan lapar yang amat sangat.


“Bu, saya ke ruang dokter sebentar, ya?”

__ADS_1


“Ya, Nya. Biar saya yang jaga Evano,” sahut Bu Ida.


Asmira segera menemui dokter, ia tidak sabar untuk segera pergi dari rumah sakit. Ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun, hatinya terlanjur lelah menghadapi prahara rumah tangganya. Tidak ada yang mengerti bagaimana perasaannya kini.


Setelah mendapatkan ijin untuk pulang dengan sedikit desakan. Asmira segera kembali ke ruangan anaknya. Ia seka air mata dengan punggung tangannya sebelum masuk.


“Bu, semuanya sudah beres. Sebentar lagi suster masuk untuk melepaskan cairan infus ini. Kita pulang sayang, ya?” Asmira mengecup kening Evano sebentar.


Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, ia menengadah ke langit-langit ruangan itu. Sedikit saja ia menundukkan wajahnya, air mata akan membanjiri pipinya, ia tak mau Vano melihat akan hal itu.


Asmira teringat wanita paruh baya yang datang kemarin sore ke rumah. Wanita itu menyukai rumah Asmira, ia ingin membelinya untuk menghabiskan masa tua bersama suami dan cucunya. Namun sayang Asmira menolaknya. Tapi hari ini ia berubah pikiran. Ia ingin menjual rumah tersebut dan pergi dari sana.


“Pak Yun, tolong hubungi nomor ini sebentar,” pinta Asmira. Ia menyodorkan kartu nama milik wanita itu.


“Nyonya, apa Anda yakin?” tanya Pak Yun. Kemarin ia mendengar pembicaraan Asmira dengan wanita itu, ia tahu siapa pemilik kartu nama tersebut.


“Yakin enggak yakin, saya harus melakukannya, Pak.” Asmira tersenyum manis, sekali lagi ia menahan nafasnya yang terasa berat. Perlahan air matanya kembali berderai. Pak Yun menjauh dari Asmira, ia tak sampai hati melihat majikannya itu.


“Bu, terima kasih sudah menjaga saya dengan baik selama ini,” ucap Asmira, air matanya kembali tumpah, ia peluk erat wanita yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.


“Nyonya, Anda mau pergi ke mana?” tanya Bu Ida. Ia juga menangis melihat Asmira sebentar lagi akan pergi yang tujuannya entah ke mana, di tambah dengan kondisinya yang sedang hamil.


“Entahlah, Bu. Saya ingin menenangkan diri.”


“Saya ikut ke mana pun Nyonya pergi!” ucap Bu Ida tegas, ia seka air matanya.


“Jangan, Bu. Saya tidak sanggup membayar gaji Ibu,” sahut Asmira.


“Saya tidak peduli, Nya. Saya akan ikut ke mana pun Anda pergi, titik!”


Asmira keluar dari rumahnya, ia bawa 2 koper besar, di bantu oleh Bu Ida. Wanita yang membeli rumah pun sudah datang. Ia tersenyum ramah pada Asmira. Ia sangat menyukai rumah itu, mendengar Asmira berubah pikiran untuk menjualnya, ia sangat gembira.

__ADS_1


“Bu, sebentar lagi mobil yang akan memindahkan semua barang-barang saya akan datang. Tolong Anda berikan alamat tujuannya kepada mereka, saya buru-buru, saya harus segera pergi,” ucap Asmira. Kemudian ia menyerahkan kunci serta sertifikat rumah tersebut kepada wanita itu. Lalu wanita itu memberikan selembar cek untuk Asmira, dengan tangan gemetar Asmira meraih cek tersebut, ia dekap erat di dadanya.


“Ya Tuhan, kuatkan aku,” gumam ia dalam hati, matanya kembali berkaca-kaca.


Begitu tiba di taman. Dari kejauhan Evano sudah melihat Maminya. Dengan langkah lesu, ia mendekati Asmira. Ia tidak bermain di taman, ia masih kurang sehat, ia hanya menonton film kartun di ponsel Pak Yun.


“Mami, ini koper siapa?” tanya Vano.


Asmira memeluk Evano erat, ia dekap anaknya itu. Ia cium pucuk kepalanya, ia tak tahu harus berkata apa pada Evano. “Sayang, kita pindah ke apartemen, ya?”


“Loh, kenapa?”


“Tempat kita sudah tidak aman, sayang. Bu Ida juga ikut pindah kok, kita pindah sama-sama, ya,” ucap Bu Ida mengusap-usap kepala Evano.


Evano terdiam, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa penasarannya.


“Kalau Bu Ida ikut, saya juga ikut!” ucap Pak Yun menyela pembicaraan mereka.


“Jangan, Pak. Bu Ida saja saya tidak sanggup membayar gajinya, apa lagi di tambah Pak Yun.”


“Anda butuh sopir, Nyonya. Anda tidak mungkin ke mana-mana sendirian. Lihat kondisi Anda,” ucap Pak Yun.


“Tapi, Pak.”


“Sudahlah, Nya. Ayo kita berangkat, soal uang tidak perlu di permasalahkan,” ucap Bu Ida.


Pak Yun segera menyalakan mesin mobilnya, lalu mereka bergegas meninggalkan taman itu. Pak Yun melajukan mobilnya masih tanpa tujuan. Setengah perjalanan, Evano sudah tertidur di pangkuan Bu Ida, mungkin pengaruh obat-obatan yang ia minum tadi siang.


Asmira menatap keluar jendela mobil, lalu lalang kendaraan, sibuknya jalanan tidak mengubah kegalauan hatinya. Lagi-lagi air mata berlinang di pipinya, ia tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani tanpa nama besar suaminya itu.


“Nyonya. Tenanglah, badai pasti berlalu,” ucap Bu Ida, mengelus-elus pundak Asmira. Asmira mencoba tersenyum di sela tangisannya.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2