
Malam harinya Asmira tidak tenang. Jam sudah menunjukkan pukul 23:00, tapi matanya sama sekali tidak mengantuk, ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya tidak tenang, hatinya gelisah.
Wajah suaminya tidak bisa hilang dari bayangannya. Setiap kali ia pejamkan matanya, wajah Darwin selalu muncul. Lalu bersamaan dengan itu pula, ingatan tentang perselingkuhan suaminya dengan Yunita juga selalu terngiang-ngiang di ingatannya.
Asmira menangis tersedu-sedu, kenapa semua itu harus terjadi padanya. Haruskah ia memisahkan anak-anaknya dari ayahnya?
Lalu Asmira bangkit dari duduknya, ia melangkah ke kamar mandi. Asmira mengambil air wudhu, lalu mendirikan dua rakaat Shalat sunah, ia bermunajat kepada-Nya agar diberi ketenangan jiwa dan raganya. Asmira tidak ingin gegabah mengambil keputusan, ia akan menyesal seumur hidupnya. Air matanya menjadi saksi bisu bagaimana ia memohon Kepada Sang Khalik malam itu, air mata tak berhenti berjatuhan di pipinya.
“Tuhan, beri aku yang terbaik. Jangan Engkau biarkan aku mengambil keputusan seperti kemauanku, aku percaya semuanya kepada-Mu Ya Rabb ...” lirih Asmira dalam doanya.
Setelah puas mencurahkan isi hati dalam doanya, Asmira mulai menguap, perlahan ia mulai merasakan kantuk. Setelah melepaskan mukena, ia kecup kedua putrinya, lalu ia baringkan tubuhnya di ranjang, tanpa menunggu lama, ia terlelap dalam tidurnya.
•••
Keesokan harinya Darwin berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, semalam ia tidak tidur, matanya tidak mau terpejam sedetik pun. Pratiwi kaget melihat bosnya datang terlalu awal, tidak biasanya itu terjadi.
Pratiwi mengetuk pintu ruangan Darwin yang tidak tertutup. Setelah dipersilahkan masuk oleh sang empunya ruangan, Pratiwi melangkah masuk, ia bisa melihat sesuatu sedang terjadi pada bosnya itu.
“Ada apa, Pak. Tidak biasanya Anda seperti ini?” tanya Pratiwi memberanikan diri. Hubungan mereka berdua, bukan lagi sebatas rekan kerja, ia sudah menganggap Darwin seperti adik kandungnya sendiri.
“Aku akan segera bercerai dengan istriku, Tiwi,” ujar Darwin kemudian setelah terdengar lenguhan panjangnya.
“Kenapa Anda menceraikannya, bagaimana nasib si kembar dan Evano?” tanya Tiwi heran.
Darwin menggelengkan kepalanya berkali-kali sembari berkata, “Bukan aku, aku memberinya kebebasan Tiwi, ia sudah tidak mencintaiku lagi, aku sudah tidak ada lagi di hatinya.”
Perlahan, air mata membanjiri pipi Darwin, ia tidak bisa berpura-pura tegar, hatinya sangat sakit, sudah terlalu lama ia memendam itu semua, sekarang ia tak mampu lagi membendungnya.
“Aku menyuruhnya untuk menggugat, aku akan menceraikannya di persidangan. Walau bagaimanapun, ini semua salahku Tiwi, aku pantas mendapatkan ini semua,” lanjut Darwin.
__ADS_1
Pratiwi terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa, persoalan yang dihadapi oleh bosnya itu terlalu berat.
“Aku ingin melihatnya bahagia, Tiwi. Meski aku sendiri yang terluka,” lirih Darwin tapi didengar jelas oleh Pratiwi.
“Bagaimana Anda bisa yakin pria itu bisa membuat Bu Asmira bahagia?” tanya Pratiwi spontan yang membuat Darwin berpikir keras.
“Entahlah, Tiwi. Aku sudah menyerahkan semua keputusan pada Asmira,” sahut Darwin lelah dengan pikirannya sendiri. Lalu ia hembuskan nafasnya dengan berat.
•••
Waktu terus berlalu. Setelah pertemuan dengan Darwin beberapa hari yang lalu, Asmira masih belum menemukan titik terang, ia belum bisa memutuskan untuk datang ke Pengadilan Agama. Yun diam saja, ia tidak ingin terlihat seperti memaksa, walau sebenarnya itu yang ia harapkan.
Siang itu, Asmira sedang menemani Evano bermain di halaman depan. Sementara si kembar digendong Bu Ida.
Tiba-tiba suara telepon berdering nyaring dari dalam rumah. Asmira segera masuk untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Mira ini Mbak Rose,” sapa Rose di balik telepon.
“Mbak sedang dalam perjalanan menuju ke kota,” beritahu Rose.
“Oya, aku tunggu kedatangan kalian, Evano sangat rindu pada Brandon,” ujar Asmira.
Lalu panggilan singkat itu pun berakhir. Hari semakin sore, Asmira mengajak anak-anaknya masuk untuk mandi. Bu Ida segera menyiapkan makan malam, tentunya untuk menyambut Rose juga. Setelah mengganti popok si kembar, Asmira juga turun untuk membantu Bu Ida di dapur.
Setelah semuanya tertata rapi di meja makan, Asmira menarik nafasnya perlahan, sembari tersenyum. Asmira sudah tak sabar, menunggu kedatangan Rose. Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Asmira segera ke depan.
“Sayang, Mbak rindu sekali,” ujar Rose sembari memeluk erat adiknya itu. Ryu dan Brandon tertawa kecil melihat mereka berdua.
Kemudian Asmira mempersilahkan mereka masuk lalu menjamunya dengan makan malam. Rose mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Evano dan si kembar telah bergabung dengan mereka, cuma Darwin yang tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
“Darwin masih saja suka lembur, dasar. Aku akan memarahinya habis-habisan jika bertemu besok,” ujar Rose sembari menekan sendok dengan keras di piring hingga menimbulkan suara sedikit keras.
Asmira terdiam, tentu kakaknya itu tidak tahu menahu persoalan rumah tangganya. Ada banyak hal yang sudah terjadi selama mereka tidak ada, Asmira menundukkan kepalanya. Rose melirik adiknya itu, ia merasa ada yang tidak beres. Rose masih ingat ketika Darwin datang mencari Asmira.
Setelah makan malam usai, Ryu sedang bermain dengan anak-anak. Sementara Bu Ida membereskan meja makan, Rose mencuri kesempatan untuk menanyakan semuanya pada Asmira.
“Banyak hal yang sudah kulewati selama aku di kampung, ya?” pancing Rose.
“Beberapa bulan yang lalu, kau ke mana saja? Darwin seperti orang gila saat mencari kau?” lanjut Rose dengan pertanyaan lainnya.
Asmira menarik nafas panjang sebelum menceritakan semuanya pada Rose. Asmira tidak mungkin menyembunyikan itu semua, sudah waktunya Rose tahu yang sebenarnya.
“Kalian cerai saja, Mira,” ujar Rose begitu marah.
Rose pernah di posisi Asmira sekarang, ia tahu betul bagaimana sakitnya diselingkuhi. Rose tidak setuju jika Asmira kembali ke pelukan Darwin.
“Apa yang harus aku lakukan, Mbak?” tanya Asmira bingung.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Bu Ida berlari kecil untuk membukakan pintu. Ternyata Yun, pria itu masuk mengikuti Bu Ida. Begitu melihat ada tamu di rumah Asmira, Yun merasa tidak enak.
“Mas, kenalkan, ini Mbak Rose, kakak kandung aku,” ujar Asmira.
Yun bersalaman dengan Rose dan Ryu secara bergantian. Rose tidak sabar, ia berbisik pada adiknya menanyakan siapa pria tampan itu.
“Mira, siapa, Mbak penasaran, nih,” tanya Rose lagi, ia belum puas sebelum mengetahui siapa gerangan pemuda yang bertamu malam-malam ke rumah adiknya. Terlebih, tempat yang sedang didiami Asmira adalah apartemen suaminya.
“Dia Yun, pria yang membantuku, ketika dalam masalah, dia yang selalu berada di sampingku,” sahut Asmira menatap Yun dari kejauhan, ia menaruh simpati pada pria di depannya itu kala mengingat semua kebaikannya.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1
Jangan di skip, hari ini up 2 ya...