
Darwin segera masuk, ia melewati meja yang sedang di duduki oleh dua orang dalam pengawasannya. Ia dengan sengaja melakukan itu untuk mencari perhatian mereka. Dan benar saja begitu melihat Darwin, Kelvin memanggilnya.
“Win!”
Darwin menoleh, ia tersenyum ramah. “Hai, selamat siang,” sapa Darwin.
“Mari bergabung Pak Darwin,” ajak Haris sedikit kaku.
“Boleh, sebentar saya tinggal, ada urusan yang harus saya bereskan segera.” Darwin segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari keduanya.
Setelah memberitahu pelayan wanita tujuannya nanti malam, ia segera bergabung dengan mereka.
“Kau sehat?” tanya Kelvin.
“Tentu, apa aku terlihat buruk?”
“Bukan, aku merasa kau tidak seperti biasanya.”
“Benarkah?”
“Lupakan. Oya, apa kabar istrimu?” tanya Kelvin kemudian, ia merasa tingkah Darwin sedikit aneh hari ini.
“Mereka baik,” sahut Darwin singkat.
Kelvin terus menatap Darwin, jika tidak ada Haris di sana ia ingin mengetahui apa yang sedang menimpa sahabatnya itu.
“Oya Win, kenali ini Haris sepupuku,” ujar Kelvin kemudian.
Darwin kembali menyipitkan matanya, jika Haris sepupunya berarti Kelvin juga kenal Yunita. Lalu mengapa Kelvin hanya diam saja ketika Darwin bercerita banyak hari itu?
Darwin menatap tajam mata Kelvin, lalu ia tersenyum simpul. “Kami sudah saling kenal, buka begitu, Pak Haris?” Haris mengangguk sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
Pikiran Darwin semakin tak menentu. Siapa sebenarnya musuhnya, apakah ia sedang berada di lingkaran merah yang kapan saja ia akan mati berdarah? Ataukah ia hanya salah paham dengan kekhawatiran yang berlebihan?
Selesai makan, Darwin segera mohon pamit pada keduanya. Ia tidak bisa terus berpura-pura baik jika berada di sana lebih lama. Namun di pintu keluar ia berpapasan dengan Dokter Razia.
“Dok, selamat datang,” sapa Darwin.
“Oh, hai Pak Darwin. Sendiri saja?” tanya Dokter Razia, ia bersama suaminya. Darwin mengangguk, Dokter Razia segera mengerti melihat Darwin dengan pakaian kantornya tentu saja tidak ada Asmira bersamanya.
__ADS_1
“Ya sudah, saya permisi dulu ya, Dok.”
“Baik. Oya, Minggu depan waktu cek kehamilan Asmira ya, Pak. Tolong Anda jaga supaya ia tidak banyak pikiran.”
Setelah mengiyakan, Darwin segera meluncur kembali ke kantor dengan mobilnya. Kata-kata Dokter Razia kembali terngiang di telinganya. Bagaimana cara ia memberi alasan pada istrinya nanti jika ia ditagih dengan sebuah cerita yang Darwin janjikan sendiri? Sementara Dokter Razia mengatakan ia tidak boleh stres.
•
Darwin menghubungi Valen ketika ia tiba di kantor, ia benar-benar butuh seseorang untuk mengungkapkan kekhawatirannya itu.
“Ya Win,” sahut Valen di seberang.
“Halo, Mas. Lagi di kantor?” tanya Darwin.
“Ada apa, Win? Aku lagi meeting di luar. Kebetulan tidak terlalu jauh dari kantormu.”
“Ayo bertemu, ada hal yang ingin aku katakan.”
Setelah memutuskan panggilan itu. Pikiran Darwin ia fokuskan sebisa mungkin untuk mengerjakan proyek bersama Haris. Minggu depan desain terbaru harus ia berikan segera. Proyek yang digadang-gadang akan selesai dalam waktu 6 bulan itu lumayan membuat Darwin meradang.
Selama ini ia tidak pernah mengalami kejadian serupa. Puluhan tahun ia geluti dunia bisnis belum pernah ia di permainkan sedemikian rupa.
“Permisi, Pak.”
“Saya membutuhkan tanda tangan Anda,” ujar Pratiwi, ia menyodor beberapa map kehadapan bosnya itu.
Darwin membuka satu persatu, sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Ada kepuasan tersendiri yang ia rasa dengan hasil kerja wanita di hadapannya itu.
“Saya salut denganmu Tiwi.”
Pratiwi menundukkan kepalanya menerima pujian Darwin. Ia sudah menganggap Darwin sebagai sahabatnya, mereka sudah bekerja sangat lama. Mulai dari Pratiwi hanya pegawai biasa, sampai ia seperti ini.
“Terima kasih atas kerja kerasmu, Tiwi,” ucap Darwin saat ia menyerahkan kembali map itu. Pratiwi hanya tersenyum mendengar pujian yang berlebihan yang dinyatakan oleh bosnya.
Jam menunjukkan pukul 14:30. Valen sudah menunggu Darwin di sebuah Cafe di depan kantor Darwin. Orang yang di nanti pun tiba, Darwin hanya perlu menyebrang saja.
Mereka duduk di lantai dua dekat jendela, menghadap langsung ke jalan raya yang sedang banyak lalu lalang orang. Di temani secangkir kopi susu, mungkin akan membuat penat menghilang setelah hampir seharian beraktivitas.
“Ada apa?” tanya Valen.
__ADS_1
Darwin menyeruput kopi di tangannya sebelum ia menjawab pertanyaan kakak iparnya.
“Aku dalam masalah, Mas.”
“Katakanlah.”
Darwin mulai bercerita satu persatu. Ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap permasalahan yang sedang ia hadapi. Valen mendengar cukup baik, ia tidak menyela selama Darwin bertanya.
“Tenangkan diri dulu, Win. Jika kau terlihat kacau seperti ini, mereka dengan mudah menikammu.”
Darwin menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu ia hembuskan dengan kasar. “Entahlah, Mas.”
“Apa kau curiga dengan Kelvin?” tanya Valen tepat pada sasaran.
Darwin terdiam, ia tidak punya jawaban untuk mengelak bukan, namun ia tak punya bukti untuk mengatakan iya.
“Kau tahu betul bagaimana Kelvin, jangan mudah percaya, barang kali ada yang mengkambing hitamkan dia untuk kepentingan pribadi.”
Darwin menatap Valen, ada benarnya yang dikatakan oleh kakak iparnya itu. Soal kejadian di Cafe kemarin, pasti Haris tahu jika pihak Darwin telah mengetahui siasatnya. Bisa saja kali ini, dengan sengaja ia mengajak Kelvin bertemu di Cafe milik keluarganya Darwin sendiri untuk memancingnya dengan tujuan yang lain, yaitu untuk memecahkan persahabatan dirinya dan Kelvin.
Darwin menghubungi Pratiwi. “Apa mereka masih mengikuti Haris dan Kelvin?”
“Masih, Pak. Dari kemarin mereka mengikuti pak Haris dan pak Kelvin. Namun belum ada kejanggalan yang terlihat.”
“Sepertinya mereka bermain cukup rapi, Mas”" ujar Darwin kemudian setelah panggilan dengan asistennya berakhir.
“Ayo dong, Win. Kau pasti bisa, hadapi mereka, jangan biarkan ada sedikit celah pun untuk mereka jatuhkan mu.”
•
Darwin kembali ke rumah dalam keadaan sedikit lebih tenang. Ia merasa sedikit lega setelah bercerita pada Valen, terkadang mendengar pendapat orang lain membuat pikirannya kembali terbuka.
Dalam perjalanan pulang, ia berhenti sebentar di toko bunga, ia membeli seikat mawar merah untuk istri tercinta sebagai tanda permohonan maafnya. Untuk sekali lagi, ia tidak bisa bercerita pada Asmira, masalah ini akan membuat pikirannya stres. Darwin tidak ingin anaknya kenapa-kenapa.
“Ada ucapan, Pak?”
Darwin meraih kertas tersebut, sebuah kata indah ia tulis di sana. Kemudian ia segera pergi meninggalkan toko bunga tersebut.
Tiba di rumah, ia berpapasan dengan pak Yun, di pintu gerbang. Pria ia sedang menikmati senja dengan sebatang rokok dan kopi di hadapannya. Dari awal ia bekerja, Darwin merasa ada yang aneh, ia tidak terlihat seperti sopir pribadi pada umumnya.
__ADS_1
“Selamat sore, Pak,” sapa Pak Yun.
Darwin mengangguk dan tersenyum ramah, kemudian ia segera melangkah masuk dengan seikat bunga cantik di tangannya yang telah ia sembunyikan di balik badannya. Pak Yun tersenyum melihat tingkah majikannya itu.