
Asmira mengantar Evano sekolah dengan mobil pribadinya, ia mengendarai mobil dengan santai melewati bisingnya kota B. Jalanan cukup macet, untung saja sekolah Evano tidak terlalu jauh, jika tidak mungkin saja setiap hari Asmira harus bangun lebih pagi lagi untuk mengantar putranya sekolah agar tidak terlambat.
Sebentar saja mereka tiba di depan gedung sekolah Evano. Gedung yang menjulang tinggi itu mendapat predikat sekolah terbaik dan terfavorit di kota B. Anak-anak pejabat dan konglomerat banyak yang bersekolah di sana. Sehingga tidak heran kenapa Pak Yun memilih sekolah itu untuk Evano.
“Kau belajar yang giat, buat Mami bangga,” ujar Asmira ketika Evano turun dari mobil.
“Siap, Bos Mami!” ucap Evano dengan mengangkat tangan ke keningnya. Lalu ia berlari kecil memasuki gerbang sekolahnya.
Asmira tersenyum menatap punggung Evano yang menghilang di balik gerbang tinggi itu.
Asmira memarkir mobilnya ke pinggir jalan, ia menunggu beberapa wali murid yang memesan kue padanya datang. Sudah seminggu belakangan ia disibukkan dengan pekerjaan barunya itu. Setiap hari ia bangun jam 5 subuh untuk menyiapkan pesanan itu semua dengan di bantu oleh Bu Ida.
Hobi masak Asmira kini menghasilkan uang, semua berawal ketika ia buatkan bekal untuk Evano sekolah. Ada beberapa temannya yang menyukai makanan Evano, lalu mereka merengek minta dibuatkan yang serupa dengan Evano. Tentu itu membuat orang tua mereka bingung sekaligus juga penasaran, bentuk makanan seperti apa yang di sukai putra-putri mereka.
•• Beberapa Minggu yang lalu.
Setelah Evano turun dari mobil dan bersalaman dengan Asmira, ia segera masuk ke sekolahnya. Tiba-tiba seorang wanita memanggil Asmira, wanita tersebut kira-kira berusia tidak jauh darinya.
“Sebentar, Bu. Bisa kita bicara?” pinta wanita itu.
“Boleh, ada apa ya, Bu?” tanya Asmira penasaran.
“Itu tadi Evano putra Ibu, ya?” tanya wanita itu lagi.
Asmira merasa was-was, ia takut terjadi kejadian serupa saat Evano masih di sekolah yang lama terulang lagi. “Ya, kenapa ya, Bu?”
“Perkenalkan, saya Erna Ibunya Siska teman kelas Evano.”
“Saya Asmira,” sahut Asmira sembari menjabat tangan Erna.
“Kalau tidak sibuk mari kita mengobrol sebentar di Cafe tersebut,” ajak Erna.
Asmira tak menolak ajakan Erna, ia mengiyakannya. Lalu mereka menuju Cafe yang tidak terlalu jauh dari sekolah Evano tersebut.
__ADS_1
Erna membuka obrolan seputar kepribadian anak mereka masing-masing. Awalnya ia merasa penasaran dengan cerita Siska yang mengaku padanya bahwa ia berteman cukup baik dengan Evano. Hingga membuat Erna penasaran dan ingin bertemu dengan ibunda Evano tersebut.
“Kata Siska, ia selalu di beri makanan oleh Evano jika waktu istirahat tiba, anakku selalu merengek minta dibuatkan kue seperti yang Evano bawa,” ujar Erna sembari tersenyum.
“Wah, kalau tahu begitu tiap hari saya buatkan lebih untuk Siska,” sahut Asmira.
“Jangan, jangan seperti itu. Saya tidak mau yang gratis, kalau Ibu Asmira tidak keberatan, saya pesan saja setiap hari, anak saya susah makan. Saya kesulitan membuat ia mau makan. Makanya mendengar ceritanya seperti itu, saya berterima kasih pada Evano.”
“Gimana ya, Bu,” sahut Asmira berpikir sejenak.
“Terima saja tawaran saya, nanti saya rekomendasikan ke wali murid yang lain,” pinta Erna lagi.
“Tidak usah repot-repot, Bu. Baiklah, kalau begitu saya setuju,” ucap Asmira kemudian.
Setelah pertemuan dengan Erna tersebut. Kini banyak orang tua murid lainnya yang ikut memesan makanan buat bekal putra-putri mereka sekolah pada Asmira. Makanan sehat serta dibuat dengan higienis tersebut menjadi favorit mereka. Setiap hari semakin bertambah jumlah pelanggan Asmira. Tanpa terasa usaha kecil-kecilan itu yang semula berawal dari Erna kini berembus ke seluruh wali murid di sekolah Evano itu.
Hingga suatu malam ketika Yun berkunjung ke apartemen Asmira. Ia kaget melihat banyak bahan makanan di dapur, ia mengerutkan keningnya lalu bertanya pada Bu Ida, “Bu, ini bahan makanan untuk sebulan?”
Belum sempat Bu Ida menjawab Asmira turun dari kamar Evano, ia baru saja membantu putranya membuat pekerjaan rumah serta menidurkannya hingga terlelap.
“Sudah lama, Mas?” tanya Asmira seraya memeluk Yun sebentar dan mengajaknya duduk.
Tanpa menjawab, pandangan Yun masih saja mengarah ke bahan makanan yang tersusun di dapur. Tidak lama kemudian, Bu Ida datang membawa segelas minuman di nampan untuk Yun, lalu ia segera kembali ke kamarnya.
“Di minum, Mas,” pinta Asmira. “Bagaimana pekerjaannya, lancar?” tanya ia lagi.
“Semuanya baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” tanya Yun, ia meneguk minuman yang dibuatkan Bu Ida.
“Aku baik, Mas.”
Yun memang jarang menghubungi Asmira langsung, jika tidak ada sesuatu yang penting. Yun bahkan lebih sering menghubungi Bu Ida untuk menanyakan kondisi Asmira dan Evano. Entah kenapa demikian, kadang Bu Ida juga merasa bingung, dengan sikap pria itu.
“Ada yang ingin kau ceritakan?” tanya Yun kemudian. Pertanyaan itu membuat Asmira terdiam.
__ADS_1
“Seminggu belakangan ini, aku lihat tidak ada pengeluaran dari kartu kredit yang aku berikan. Melihat bahan masakan di dapur, aku jadi penasaran dari mana kau dapat uang untuk membeli barang sebanyak itu,”ucap Yun panjang lebar.
“Kau tidak pernah menghubungiku, bagaimana bisa aku bercerita banyak,” sahut Asmira, ia menundukkan kepalanya.
“Jika memang ada yang penting kenapa tidak kau saja yang menghubungiku?”
“Aku takut mengganggu, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, Mas.”
Lalu suasana sedikit hening. Keduanya sama-sama terdiam. Asmira sedang merangkai kata-kata untuk menceritakan bahwa sekarang ia sudah mempunyai pekerjaan baru. Dari awal, ia merasa malu terus-terusan menerima bantuan dari Yun. Sekarang saat ia mempunyai penghasilan sedikit, rasanya ada perasaan tak enak jika sekarang ia menolak bantuan dari Yun lagi.
Asmira mengeluarkan kartu kredit yang di berikan Yun dari dompetnya, lalu ia letakkan di hadapan pria yang sudah banyak membantunya itu.
“Mas, ambillah kartu ini,” pinta Asmira.
“Kenapa?” tanya Yun kaget.
“Sekarang aku sudah punya penghasilan. Teman-teman sekolah Evano banyak yang pesan makanan sama aku, itu sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan kami bertiga, Mas.”
Sekali lagi Yun melihat bahan masakan yang tersusun di dapur. Yun tahu Asmira tidak akan tinggal diam serta duduk manis di rumah. Wanita itu pasti akan mencari pekerjaan, ternyata pikiran Yun tidak melesat.
“Sekarang kau tidak perlu kerja siang dan malam hanya untuk membantu aku, Mas. Kau terlihat lelah, kau pasti mendapat majikan yang kurang baik, kan?”
Yun menyunggingkan senyuman di wajahnya mendengar ucapan Asmira. Terlihat kekhawatiran di wajah ibu Evano itu.
“Ambillah, aku berjanji, jika aku punya uang banyak nanti akan aku lunasi semua hutang-hutangku,” ujar Asmira lagi.
Yun bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju jendela, ia menatap keluar dari ketinggian lantai 16 tersebut.
“Ambillah, tidak perlu sungkan. Kau terlihat kurus, jangan terlalu kecapaian. Rawat tubuh dan wajahmu, beli baju dan alat makeup, kau bisa pergunakan uang itu sesukamu. Kalau kau terima, aku akan sangat bahagia.”
Asmira terdiam, ia menyentuh pipinya ketika Yun mengatakan ia terlihat kurus. Lalu Asmira mendekati Yun. “Apa aku tidak cantik lagi?” tanya Asmira polos, sontak saja membuat Yun tidak bisa menahan tawanya.
Yun tertawa kecil sembari mencubit hidung mungil Asmira. “Ini yang membuat aku jarang menghubungimu. Aku takut tidak bisa mengontrol perasaan ini, aku tidak mau merebutmu dari Darwin, kalau memang suatu saat nanti kau suka padaku, biarlah perasaan itu datang sendiri dari hatimu. Untuk sekarang, semua bantuan ini, hanya karena aku merasa iba padamu, bukan sebuah cara untuk mendekatimu,” gumam Yun dalam hati, ia tersenyum manis dengan pandangan yang masih melekat dari Asmira.
__ADS_1
“Kau cantik, masih tetap cantik,” ujar Yun kemudian. Asmira tersenyum mendengar jawaban Yun yang mengatakan ia masih tetap cantik.
Jangan lupa like ya....