Eternal Promise

Eternal Promise
Part 54


__ADS_3

“Papi!” panggil Evano girang, ia berlari ke pelukan Ayahnya. Darwin mendekap erat putranya itu, air mata tak henti berderai di pipinya, ia mengecup kening dan pipi Evano.


“Papi aku sudah sekolah di tempat yang baru, loh” ujar Evano memberitahu pada ayahnya.


“Oya, kau tidak nakal, kan?” Darwin menyeka air matanya, ia tersenyum sembari mengusap kepala Evano dengan lembut.


Kemudian suasana menjadi canggung saat Darwin dan Evano mendekati Asmira. Wanita itu masih tak mau menatap Darwin, air mata terus berjatuhan di pipinya. Dadanya semakin sesak kala membayangkan suami dan wanita penggoda itu berlibur.


Yun menarik tangan Evano seraya berkata, “Aku akan mengajaknya bermain,” ucapnya pelan sembari menatap Asmira. Lalu Yun berlalu bersama Evano, Asmira menatap punggung keduanya yang semakin jauh melangkah darinya.


Setelah Yun menghilang dari pandangan mereka, Darwin mendekati Asmira, namun Asmira mundur ke belakang, ia menjauh dari pria yang masih sah suaminya itu.


“Sayang ...” panggil Darwin pelan, matanya kembali berkaca-kaca. Namun Asmira tanpa peduli, ia buang pandangannya ke laut.


“Aku tahu aku salah, aku minta maaf, jangan hukum aku seperti ini!” Darwin berlutut di hadapan Asmira, ia meraih tangan istrinya itu, namun Asmira menepisnya.


“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, ikutlah kembali bersamaku” ucap Darwin lagi.


“Jangan harap itu akan terjadi, Mas!” Akhirnya Asmira membuka suara.


“Hukum aku bagaimanapun yang kau mau, tapi jangan pergi dariku!!”


Asmira menyungging senyum sinis di wajahnya. “Mudah sekali kau berkata seperti itu setelah semua yang kau lakukan padaku, Mas!” teriak Asmira, air matanya tak terbendung lagi, ia menangis kencang.


“Sayang, aku mohon jangan seperti ini, aku mengaku salah, maafkan aku. Tampar aku, jambak rambutku, lakukan apa pun yang kau inginkan.” Darwin memelas pada Asmira, ia berlutut di depan istrinya. Terlihat dari wajahnya ia benar-benar menyesal. Namun itu tak membuat Asmira luluh.

__ADS_1


“Pulanglah, Mas. Percuma, kau sujud di kakiku pun itu tak akan mengubah keputusanku!”


Bagaikan petir di siang bolong. Darwin sangat syok mendengar jawaban Asmira, hingga membuat lututnya terasa lemah ia tersungkur ke tanah, ia menangis pilu. Hatinya terasa sangat sakit. “Tuhan ... inikah hukuman yang pantas untukku?” gumam ia dalam hati.


Asmira berlalu pergi meninggalkan Darwin, namun Darwin tak membiarkan Asmira pergi begitu saja, ia mengikutinya dengan kata maaf tak henti terucap dari bibirnya. Darwin masih belum putus asa, ia masih mencoba membujuk istrinya dengan segala cara. Lalu ia tarik tangan Asmira ia mencoba menghentikan langkah istrinya itu, dengan kasar Asmira menepisnya. Namun tanpa sengaja itu membuat kaki Asmira terpeleset. Yun melihat dari kejauhan, ia berlari kencang ia menangkap tubuh Asmira yang hampir terjatuh ke tanah itu, jika saja ia tak menangkapnya mungkin saja kehamilan Asmira jadi taruhannya.


“Apa yang kau lakukan, kau lupa kau sedang hamil!!” bentak Yun, nafasnya terengah-engah, ia sangat khawatir. Asmira menatap Yun tanpa berkedip, ia melihat kekhawatiran jelas di mata Yun.


“Sayang, maafkan aku,” ucap Darwin, ia memeluk Asmira. “Kau tidak apa-apa?”


“Lepas! Kau sengaja ingin mencelakakan anakku?” teriak Asmira, ia menjauh dari suaminya itu, lalu ia bersembunyi di balik tubuh Yun. Darwin tetap memaksa ingin memeluknya.


“Pak Darwin cukup!” ucap Yun dengan nada tinggi. Darwin terdiam.


“Vano, antar Mami ke kamar, ya?” pinta Yun lembut, ia usap pipi putra Darwin itu. Evano mengangguk lemah, ia masih terdiam, ia kaget mendengar teriakkan Asmira yang memaki Darwin. Lalu ia berlalu memeluk lengan Ibunya itu menuju penginapan mereka.


“Terima kasih sudah menjaga istri dan anakku,” ucap Darwin kemudian setelah suasana cukup lama hening. Yun menyunggingkan senyum di wajahnya tanpa menjawab.


“Hari ini aku akan membawa mereka pulang, maaf telah merepotkanmu,” sambung Darwin lagi. Kali ini ucapannya itu berhasil membuat Yun menatap tajam padanya.


“Coba saja jika kau bisa,” gumam Yun dalam hati, ia tersenyum ramah.


“Silakan jika memang nyonya Asmira mau, saya tidak berhak ikut campur,” ucap Yun merendah, hati dan pikirannya tidak sinkron, ia telah berbohong pada dirinya sendiri. Kalau pun Asmira setuju kembali bersama Darwin, tidak ada yang bisa ia lakukan. Walau hatinya mengatakan ia ingin Asmira tinggal.


Yun penasaran kenapa Darwin menemukan mereka. Padahal baru kemarin pria itu mengajaknya bertemu. Saat Darwin ke toilet, Yun menghubungi seseorang untuk menanyakan informasi.

__ADS_1


“Ceroboh sekali kau!” teriak Yun di telepon. Lalu ia menutup panggilan sebelah pihak, terlihat wajahnya gusar. Bagaimana tidak, rupanya Darwin menguping pembicaraan mereka saat keluar dari Cafe, dan itu membuat Yun geram.


••


Malam harinya, Darwin kembali datang ke tempat penginapan Asmira. Tiba di sana, Yun sedang duduk seorang diri. Darwin menaiki tangga setelah melipat celananya agar tidak basah karena air laut yang menggenangi tangga.


Baru saja Darwin membuka mulutnya Yun berkata, “Masuklah, Asmira di dalam.”


Darwin segera masuk, ia mencari keberadaan Asmira. Terdengar suaranya dari kamar, ia sedang membacakan dongeng untuk Evano, Darwin mengintip di balik tirai.


Setelah Evano terlelap Asmira keluar kamar, ia kaget melihat Darwin di sana. “untuk apa lagi kau kemari, Mas?” tanya Asmira dengan suara pelan, ia tak ingin Evano kembali terbangun.


“Sayang, ayo kita kembali ke kota A besok,” ajak Darwin tersenyum.


“Aku tidak mau!”


“Sayang, ayolah. Kau sudahi marahmu, ikutlah bersamaku,” ajak Darwin lagi.


“Harus berapa kali aku bilang, aku tidak mau!” teriak Asmira. Yun tersenyum mendengar jawaban Asmira, ia senang mendengar Asmira tidak mau kembali bersama Darwin.


“Untuk apa aku kembali ke sana, jika kau masih seperti ini. Kau pria yang sibuk, kariermu bagus, hingga waktu untuk istri dan anakmu saja kau tidak punya! Kau tahu, bahkan Evano tidak bisa berenang, kau tidak punya waktu untuk mengajarinya. Aku malu mengakui kau sebagai bapaknya!”


Darwin terdiam, selama ini ia selalu menganggap kesibukannya dalam bekerja itu semua hanya untuk anak dan istrinya semata. Setiap hari, kala pagi menyapa dan senja berlalu hanya kerja yang ia fokuskan, ia tak pernah memikirkan, untuk menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya, ia ambil cuti hanya saat istri dan anaknya sakit, selebihnya ia tak pernah libur, bahkan di hari libur saja, ada hal yang membuatnya tak berada di rumah. Darwin lupa jika kebersamaan itu melebihi dari apa pun, bahkan uang yang banyak sekali pun tidak akan sanggup membeli keharmonisan yang telah ia lewati bersama keluarga kecilnya itu. Darwin sangat menyesal, ia telah kehilangan masa-masa itu, mulai di mana Evano bisa merangkak, berjalan, bisa bicara, dan segala sesuatu mengenai pertumbuhan Evano, ia lewati semua itu karena sibuk bekerja. Dan kini, Asmira tak mau lagi kembali bersamanya.


“Akankah aku kembali kehilangan masa-masa di mana Evano mulai sekolah SMP, SMA, kuliah lalu ia bekerja dan menikah? Akankah semua itu tak dapat lagi kunikmati dalam satu atap bersamanya?” gumam Darwin dalam hati, lagi-lagi lutut tak mampu menyangga tubuhnya, ia terjerembap ke sofa. Air mata berlinang di pipinya, Darwin menyesali semua yang telah terjadi.

__ADS_1


Jangan lupa like and vote ya...


__ADS_2