Eternal Promise

Eternal Promise
Part 73


__ADS_3

Setelah mengutarakan isi hatinya beberapa hari yang lalu. Darwin sengaja menghindari istrinya. Rindunya kepada buah hatinya sudah tak tertahankan. Namun, ia kuatkan hatinya untuk tidak mendatangi apartemen Asmira. Darwin tidak ingin membuat Asmira bingung dalam mengambil keputusan.


Sebaliknya dengan Yun, seakan peluang terbuka lebar untuk pria itu mendekati Asmira. Terlebih, semenjak Rose di sana, ia bisa kapan saja datang ke sana. Kaka Asmira itu, sangat menyukainya.


Yun mendapatkan lampu hijau dari kakak Asmira. Bahkan, pembahasan mereka selalu menjurus ke arah pernikahan. Secara tak sengaja, ia seperti menyuruh Yun untuk segera menghalalkan Asmira.


Hari terus berganti, Asmira semakin bingung dengan situasi yang ia hadapi kini. Rose terus mendesaknya untuk segera datang ke Pengadilan Agama. Sementara hati kecil Asmira tak ingin hal itu terjadi, tapi di sisi lain pula Darwin seakan tak mengharapkannya lagi. Begitu pikir Asmira.


“Mira, kau tunggu apa lagi?” tanya Rose duduk di sebelah adiknya itu.


“Apa lagi yang kau pertimbangkan, Darwin saja sudah memberimu kebebasan dalam memilih?” lanjut Rose.


Asmira menghela nafasnya dengan berat. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya ia buka suara, “Besok kita datangi Pengadilan Agama.”


Rose mengusap pundak adiknya itu seraya tersenyum manis. Rose bahagia mendengar keputusan Asmira. Lalu ia tinggalkan Asmira seorang diri di kamar, sementara ia kembali bergabung dengan Ryu dan anak-anak.


“Tuhan ... beri aku petunjuk-Mu ...” lirih Asmira dalam doanya.


Entah kenapa, semakin hari rasanya terhadap Yun semakin berkurang. Pria itu, tidak semenarik dulu lagi di matanya. Setiap kali mereka bersama, seakan ada yang kurang. Namun, pria itu telah melakukan banyak hal untuknya, ia tak bisa menolak pria itu begitu saja.


Keesokan harinya.


Rose menemani Asmira mendatangi kantor Pengadilan Agama kota A. Anak-anak tinggal bersama Bu Ida dan Ryu. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka tiba di sana. Tangan Asmira gemetar, ia tak percaya dengan keputusan yang telah ia ambil.


“Sayang, ayo turun?” ajak Rose.


Asmira cukup lama terdiam di mobil, ia sama sekali tidak beranjak dari duduknya. Setelah beberapa kali Rose memanggilnya akhirnya ia turun juga.


“Kau tenang, ini memang tidak mudah, tapi percayalah ... semuanya akan berakhir dengan baik,” ujar Rose sembari mengusap bahu adiknya itu.

__ADS_1


Asmira yang ditemani Rose akhirnya memantapkan langkahnya masuk ke dalam. Rose menunggunya di luar.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Asmira keluar juga. Dari kejauhan, Rose melihat Asmira meneteskan air mata. Ia tahu betul bagaimana berada di posisi Asmira, tidak mudah.


Baru sebentar mobil yang dikendarai oleh Rose berlalu pergi meninggalkan kantor Pengadilan Agama. Wartawan menyerbu masuk ke sana, mereka memastikan berita yang simpang siur selama ini mengenai rumah tangga Marcell Darwin Antonio. Dan benar saja, pihak Pengadilan Agama sendiri pun mengakui benar adanya bahwa Asmira menggugat cerai Darwin.


Tanpa menunggu lama, berita yang cukup menghebohkan seluruh kota A tersebut, berembus cepat. Semua stasiun televisi memberitakan perihal gonjang-ganjing rumah tangga Darwin dan Asmira.


Martha sangat syok mendengar berita yang ditayangkan di televisi. Tanpa menunggu besok, ia menghubungi Darwin untuk menanyakan perihal informasi yang berembus kencang di publik.


“Nak, apa semuanya benar?” tanya Martha dengan suara parau.


“Ma, tenang dulu. Ada apa?” tanya Darwin yang tidak tahu menahu soal berita yang beredar di luar sana.


“Coba kau lihat berita yang ditayangkan di Channel 5,” pinta Martha.


Darwin segera menyalakan televisi. Mulutnya terbuka sempurna ketika mengetahui apa yang dimaksud Martha. Lutut Darwin terasa lemas, ia terjatuh ke sofa.


Martha terus memanggil di balik telepon. Namun Darwin sudah tak berniat lagi untuk mengiyakan berita yang beredar luas tersebut.


Asmira sendiri sangat syok mendapati dirinya diberitakan begitu heboh. Asmira berlari kecil ke kamarnya, ia mengurung diri di sana. Beberapa kali Rose memanggil, namun Asmira tidak menggubrisnya.


“Maafkan aku, Mas ...” lirih Asmira menangis pilu.


Keesokan harinya. Setelah menyiapkan keperluan Evano sekolah, Asmira segera kembali ke kamarnya. Ryu mengantar Evano sekolah berbarengan dengan ia berangkat kerja. Ryu sedang mengerjakan proyek besar di kota A. Jadi, untuk sementara waktu mereka akan tinggal di sana.


Rose dan Bu Ida menunggu Asmira di meja makan, tapi sudah cukup lama, Asmira tidak jua turun. Karena khawatir, Rose memanggil Asmira.


“Sayang, sarapan dulu, yuk?” ajak Rose berkali-kali, tapi Asmira sama sekali tidak menggubrisnya.

__ADS_1


Hingga sore tiba Asmira masih jua belum mengisi makanan sedikit pun ke perutnya. Bu Ida sangat gelisah, ia mondar-mandir di depan kamar Asmira sembari terus membujuknya agar keluar dan makan.


“Nak, ayo makan, sedikit saja ... kasihan si kembar,” ucap Bu Ida.


Bu Ida tidak menyerah, ia terus memanggil sampai akhirnya Asmira keluar kamar. Tanpa basa-basi, Asmira turun ke dapur, lalu ia makan sedikit agar cacing di perutnya tidak mati kelaparan. Lalu setelah makan, ia kembali ke kamar dan mengurung dirinya.


“Biarkan saja, Bu,” ujar Rose pada Bu Ida, saat wanita tua itu ingin mengejar Asmira.


“Biarkan ia tenang dulu, tidak mudah menghadapi rumah tangga yang berakhir dengan perceraian,” lanjut Rose lagi. Bu Ida mengurungkan niatnya untuk mengejar Asmira.


Beberapa hari berlalu. Asmira mulai keluar kamar dan bergabung bersama lagi. Matanya membengkak karena tidak berhenti menangis. Asmira sepertinya sangat menyesal telah melayangkan gugatan cerai terhadap suaminya. Apalagi ketika ia mengingat mata Darwin yang tampak jelas pria itu telah menyesali perbuatannya.


“Sayang, Minggu depan sidang pertama kita,” ujar Rose memberitahu Asmira.


“Ya,” sahut Asmira singkat.


“Kau tidak sendirian, Yun dan Mbak akan temani kau ke sana,” ujar Rose lagi.


“Aku mau Bu Ida saja,” sahut Asmira tanpa menatap wajah kakaknya.


Rose sedikit terkejut dengan penolakan adiknya, namun ia tetap mengiyakan. Walau bagaimanapun, Asmira berhak memilih siapa yang menemaninya nanti.


Malam itu Asmira tidak menghiraukan kedatangan Yun. Setelah makan malam, ia kembali ke kamarnya bersama Evano. Yun menatap punggung Asmira tanpa berkedip, akhir-akhir ini ia merasa ada yang berbeda dari Asmira.


“Mi, Mami coba hubungi papi, sudah seminggu lebih papi enggak jenguk Vano dan si kembar, jangan-jangan papi sakit,” ujar Evano.


“Sayang, besok saja, ya?” pinta Asmira, ia belai lembut pipi Evano. Sudah beberapa malam berturut-turut, ia tidur di kamar Asmira.


“Sekarang boleh tidak, Mi?” pinta Evano lagi. Tangan kecilnya menggenggam erat lengan Asmira. Wanita itu tak sampai hati menolak permintaan buah hatinya, ia kecup pelan kening Evano. Dengan berat, ia menghubungi Darwin.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2