Eternal Promise

Eternal Promise
Part 9


__ADS_3

Asmira menghubungi Rose, ia memberitahukan berita tentang kebahagiaannya. Rose ikut senang mendengarnya, ia ingin sekali mengunjungi Mereka di kota A, namun ia sibuk akhir-akhir ini.


Setelah menghubungi Rose, ia pun menghubungi Jessica dengan tujuan yang sama juga. Belum selesai Asmira bercerita Jessica menyela pembicaraan adik iparnya itu.


“Mira, mbak ke sana besok, ya?”


“Ya Mbak.”


Dan panggilan itu pun berakhir. Asmira duduk di tepi kolam renang dengan menjuntai kakinya ke dalam air. Ia menatap kosong ke depan. Hatinya merasa bersedih, berita bahagia itu bukan suaminya yang pertamakali ia beritahu.


“Aku ingin kamu orang pertama yang mengetahuinya, Mas.” Asmira mengelus-elus perutnya.


Asmira berkali-kali menepis pikiran anehnya, ia mencoba sebisa mungkin percaya pada suaminya. Kata orang, 1 sampai 5 tahun adalah awal-awal menikah banyak rintangan dan cobaan, itulah masa-masa sulit bagi pasangan yang baru berumah tangga. Namun ia sudah melewati itu semua.


Sementara Darwin fokus dengan proyek yang ia kerjakan bersama Yunita. Hubungan mereka semakin dekat, walau hanya sebatas teman namun bukankah jika Asmira mengetahui itu ia akan merasa sakit.


Pratiwi beberapa kali memancing pembicaraan yang mengarah kepada pertemanan mereka, namun Darwin dengan tegas membantahnya.


“Aku dan Ayu hanya berteman, Tiwi,” ujar Darwin.


Pratiwi merasa tidak punya hak untuk terlalu ikut campur dengan urusan bosnya itu. Cuma iya merasa ada yang aneh dengan sikap Yunita. Belakangan ini Yunita sudah terlalu agresif terhadap Darwin, padahal ia juga sudah punya anak dan suami.


“Ya tuhan, semoga rumah tangga Pak Darwin baik-baik saja.” Pratiwi mendengus pelan.


Malam ini Asmira tidak lagi menunggu Darwin, ia sudah terlelap bersama mimpi indahnya. Setelah menidurkan anaknya ia juga segera tidur. Suasana kamarnya sangat nyaman dengan AC dibiarkan menyala, namun keringat Asmira bercucuran di keningnya.


Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, perlahan air matanya mengalir, Asmira bermimpi tentang Darwin. Ia dan Evano sedang jalan-jalan, tiba-tiba ia melihat suaminya dari kejauhan. Ia panggil suaminya itu tapi tidak dihiraukan oleh Darwin.


“Mas, Mas ...” panggil Asmira dalam tidurnya.


“Mas, mau ke mana? Aku menunggumu bersama Vano, ayo kita pulang.” Ajak Asmira.


Namun Darwin semakin asyik mengobrol dengan seseorang, Asmira tidak bisa melihat suaminya sedang bersama siapa. Dan kemudian Asmira terbangun dari tidurnya.


“Astaghfirullah ... aku mimpi buruk.” Asmira meraup wajah dengan kedua tangannya.


Asmira meraih air putih di nakas ia meneguk sampai habis satu gelas minuman itu. Ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam ia melirik ponselnya, jam menunjukkan pukul 20:00 tapi suaminya belum pulang.


Asmira turun dari ranjang, ia keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, sebelum turun ia sempatkan melihat Evano di kamarnya yang bertepatan di sebelah kamar ia dan Darwin.

__ADS_1


“Ya tuhan, semoga Engkau menjaga suami dan keluarga kecilku.” Tanpa terasa, air mata perlahan jatuh di pipinya.


Kemudian di luar terdengar suara mobil, Darwin pulang. Asmira segera berlari ke kamarnya, ia selimuti tubuhnya dan berpura-pura tidur.


Darwin segera mengganti pakaiannya ia mandi dan segera tidur di samping Asmira. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung terlelap setelah seharian lelah bekerja.


Asmira mengubah posisi tidurnya, ia menatap sayu suaminya. Air mata Asmira kembali berlinang, ia belai lembut kepala Darwin, ia usap lembut pipinya lalu ia kecup perlahan.


Namun tidak lama kemudian ia tidak bisa lagi menahan kantuknya ia pun tertidur pulas.


Pagi hari, seperti biasanya, Asmira melakukan semua tugas-tugasnya sebagai ibu dan istri. Setelah masak, ia bangunkan Darwin dan menyiapkan semua keperluannya.


Setelah sarapan, Darwin segera berangkat kerja. Tidak ada kesempatan Asmira untuk bercerita, sebelum berangkat ia kecup kening Asmira dan ia belai lembut pipinya.


“Sayang, doakan biar kita menang tender, ya?”


“Amin,” sahut Asmira tersenyum lebar. Setelah Darwin menghilang dari pandangannya, ia masuk ke dalam.


*


“Kalian ....” Asmira tersenyum saat ia turun dari mobilnya. Ia baru saja mengantar Evano sekolah, sepulangnya dari sana ia melihat Elia dan Jessica menunggunya di teras rumah.


“Mira, kamu enggak boleh terlalu capek,” ujar Jessica.


“Eh, turuni Elia. Kamu ini gimana, sih.” Jessica mengambil Elia di gendongan Asmira.


Asmira menyiapkan minuman untuk Jessica, serta membuatkan susu untuk Elia. Lalu mereka berbincang-bincang di halaman samping.


“Dokter beri kamu vitamin, kan?” tanya Jessica di sela pembicaraan mereka. Asmira mengangguk.


“Kamu harus rutin ajak Marcell cek up, biar pertumbuhan janin kamu bagus,” ujar Jessica mengelus-elus perut Asmira.


Asmira terdiam, ia menundukkan kepalanya, ada rasa sedih di hatinya kala Jessica mengatakan ia harus rutin cek up bersama suaminya.


Jessica menarik dagu Asmira. “Mira, ada apa?” tanya Jessica.


“Aku belum kasih tahu mas Marcell, Mbak.”


“Loh, kenapa?” tanya Jessica kaget.

__ADS_1


“Akhir-akhir ini mas Darwin sibuk banget, dia pergi pagi selalu pulang malam, aku enggak punya waktu untuk kasih tahu.”


Jessica menarik nafasnya lalu ia hembuskan kasar. "Marcell benar-benar keterlaluan, Mbak harus marahi dia!"


“Mbak, aku mohon jangan.” Asmira menggenggam tangan Jessica.


“Sesibuk apa pun dia, setidaknya ia harus punya waktu untuk kamu dan Vano,” ujar Jessica lagi.


“Ini semua juga demi aku dan Vano Mbak,” sahut Asmira.


Jessica tidak tahu harus berkata apalagi, dari dulu ia kenal betul sifat adiknya ini.


“Mbak pamit dulu, kalau kamu butuh apa-apa segera hubungi Mbak,” ujar Jessica saat Asmira mengantarnya sampai ke rumah.


“Iya, pasti Mbak Jessica dan mbak Rose orang pertama yang aku hubungi kalau ada sesuatu,” jawab Asmira.


Jessica melambaikan tangannya ketika mobil Asmira berlalu, ia akan menjemput Evano pulang sekolah.


“Coba tebak siapa yang barusan main ke rumah kita?” tanya Asmira.


“Siapa, Mi? Jangan bilang Elia,” sahut Evano.


“Memang benar, Elia.” Asmira tersenyum melihat kekesalan Evano karena ia tidak berjumpa dengan adiknya.


“Jeje kenapa cepat banget pulang, aku kan mau main bareng Elia, Mi.” Evano memonyongkan bibirnya karena kesal.


Jeje adalah panggilan Evano untuk Jessica, mereka sangat dekat, mungkin karena sering bertemu.


“Ya sudah sayang, kapan-kapan Jeje juga datang lagi, kok.” Asmira mengusap pelan kepala anaknya


“Ya udah iya. Oya Mi, besok weekend, ajak papi jalan-jalan dong,” ujar Evano.


Asmira terdiam, ia terus menyetir mobilnya tanpa menjawab ucapan Evano, ia bingung harus mengatakan apa pada anaknya itu.


“Kan, biasanya Vano ke rumah Grandpa.”


“Tapi Vano maunya jalan-jalan bareng Mami papi,” ujar Evano lagi.


Asmira tidak tahu harus berkata apa lagi, ia belai lembut pipi Vano.

__ADS_1


“Ya udah, nanti Mami coba bicara sama papi, ya?”


jangan lupa like ya...


__ADS_2