Eternal Promise

Eternal Promise
Part 49


__ADS_3

3 hari belakangan ini Darwin tidak masuk kantor, ia habiskan hari-harinya dengan mencari keberadaan Asmira ke mana pun yang ia bisa. Upaya terakhir yang tidak ia lakukan adalah mengiklankan orang hilang di surat kabar maupun radio-radio, ia tak mau anak dan istrinya dalam bahaya. Orang-orang yang tak bertanggung jawab bisa saja melakukan apa pun demi imbalan uang sebagai gantinya.


Keadaan kantor semakin kacau, Pratiwi kewalahan menangani semuanya sendirian. Darwin seakan tak mau ambil pusing akan itu semua. Ia masih belum jenuh mencari istri dan anaknya, ia belum putus asa, ia percaya Asmira tidak mungkin melupakannya begitu saja. Darwin yakin Asmira hanya sedang menghukumnya saja.


Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali terlihat Darwin sedang lari pagi di sekitar kompleksnya. Aktivitas tersebut sudah lama ia tinggalkan. Entah apa yang membuatnya melakukan itu kembali, sepertinya ia telah lelah merenungi nasibnya yang di tinggal pergi istri. 30 menit kemudian, ia pulang dan segera bersiap-siap menuju kantornya.


Setelah mandi dan sarapan ia sudah siap berangkat ke kantor. Namun saat keluar rumah ia cukup kaget melihat mobilnya berjajar rapi di garasi.


“Kau kaget?” tanya Valen mengejutkan Darwin.


“Mas, kenapa mobil ini di bawa kemari?”


“Kau mau papa tahu semua kejadian ini?” Valen balik bertanya. Darwin menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang sedang di marahi ayahnya.


“Ini ambillah semua kunci mobil mewahmu. Kupingku bisa meledak jika setiap hari mbakmu tidak berhenti mengomel. Aku heran, kau yang membuat masalah aku yang kena imbasnya!” gerutu Valen, wajahnya terlihat tak bersahabat.


Valen kesal dengan Jessica yang selalu mengomel setiap hari. Istrinya itu meminta dirinya untuk mengambil mobil Darwin dari rumah mertuanya. Jessica tahu Darwin tidak akan berani mendatangi rumah Marco.


“Maafkan aku,” ucap Darwin.


“Sudahlah, ayo kita berangkat,” ajak Valen.



Darwin kembali seperti biasanya, hari ini ia siap melanjutkan kembali pekerjaannya yang sudah lama ia tinggalkan, sudah hampir sebulan semua pekerjaannya terlantar begitu saja, banyak klien yang mengeluhkan tidak puas dengan kinerja perusahaan Darwin akhir-akhir ini.


“Semuanya kacau, Pak.” Itu Kata pertama yang diucapkan Pratiwi saat ia masuk ke ruangan Darwin.

__ADS_1


“Maksud kau?”


“Banyak klien yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita, Pak. Untuk hari ini saja sudah beberapa klien yang membatalkan pertemuan,” sahut Pratiwi.


“Apa penyebabnya?” tanya Darwin heran.


“Apa Anda tidak mengetahui informasi tentang perusahaan yang baru-baru ini dibuka?” tanya Pratiwi.


Dua Minggu yang lalu tanah air di hebohkan dengan hadirnya anak perusahaan cabang dari negeri sakura Jepang, yang juga bergerak di bidang infrastruktur. Baru-baru ini mereka membuka kerja sama umum. Tujuannya adalah upaya mereka untuk membuktikan kualitas kinerja mereka yang tak perlu di ragukan lagi.


Banyak perusahaan yang tertarik untuk bekerja sama dengan mereka. Bahkan ada beberapa perusahaan yang diam-diam memutuskan kontrak dengan perusahaan yang lain hanya untuk bergabung dengan perusahaan tersebut.


“Apa Anda pernah dengar nama Takao Shuji?” tanya Pratiwi setelah melihat kebingungan Darwin.


Mata Darwin terbuka sempurna mendengar nama itu di sebut Asistennya. Siapa yang tidak mengenal sosok Takao Shuji, Pria yang berusia sebaya dengan Marco tersebut adalah pengusaha sukses di negeri Jepang yang bergerak di berbagai bidang perusahaan, dengan anak cabang yang tersebar di beberapa negara. Istri Takao Shuji sendiri merupakan wanita asli kota A, namun mereka telah lama pindah dan menetap di Jepang.


“Anak Takao Shuji adalah pendiri perusahaan cabang yang ada di kota A,” ujar Pratiwi yang membuat Darwin terkejut bukan main. Bagaimana tidak, selama ini Takao sendiri tidak pernah mengekspos anaknya kepada publik, banyak yang bertanya-tanya bagaimana wajah dari putra-putri mereka dengan campuran indojepang.


“Tidak semudah itu, Pak. Banyak yang sudah mencoba namun belum ada yang mendapat lampu hijau, bahkan awak media saja belum mendapatkan informasi apa pun tentang anak Takao Shuji.”


“Kau coba dulu, mungkin saja bisa,” ujar Darwin lagi.


“Baiklah, Pak. Akan saya coba,” sahut Pratiwi.


Setelah mengetahui informasi perihal perusahaan baru tersebut, Darwin masih tidak habis pikir, semudah itukah ia kehilangan kepercayaan dari klien-kliennya dulu? Darwin sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, asam garam kehidupan telah ia lalui selama ini. Lalu semudah itukah di ambil alih begitu saja oleh perusahaan lain yang baru masuk di kota A?


“Ah sudahlah, aku lebih pusing memikirkan siapa pria yang bersama istriku dari pada siapa anak Takao Shuji,” gumam Darwin pada diri sendiri. Ia meneruskan pekerjaannya yang sudah lama terbengkalai.

__ADS_1


••


Sementara di tempat di lain. Rindu Martha kepada Evano sudah tidak terbendung lagi, siang dan malam ia selalu terpikirkan cucunya itu. Marco juga demikian, sudah 3 Minggu ia tidak bertemu dengan cucunya itu, setiap kali ia ajak Martha mengunjungi Evano, ada saja alasan yang diberikan Martha, entah sampai kapan ia bisa menutupi itu semua dari suaminya.


“Pa, ayo kita jalan-jalan?” ajak Martha sore itu. Pikirannya tidak tenang, sepertinya ia butuh udara segar di luar sana.


“Jalan-jalan ke mana, Ma. Tumben ...” ucap Marco melipat koran yang ada di tangannya.


“Ke mana saja, sudah lama kita tidak jalan berdua,” ucap Martha tersenyum, ia rangkul lengan Marco.


“Kau panggilkan Samsul biar kita segera berangkat,” pinta Marco kemudian.


Samsul terus saja menjalankan mobilnya tanpa tujuan yang pasti ke mana majikannya ingin pergi, ia enggan bertanya, pasalnya, kedua majikannya itu sedang terhanyut dalam pikiran masing-masing, suasana dalam mobil hening, sesekali hanya suara nafas yang terdengar berat.


Martha menyenderkan kepalanya di jok mobil, pikirannya berkelana ke mana-mana. Sementara Marco terus menatap Martha penuh penasaran, ia mencium bau masalah yang sedang di sembunyikan istrinya itu.


Mereka melewati sebuah danau indah yang berada jauh dari bisingnya kota. Martha teringat kenangannya dulu bersama Asmira, ia pernah ke sana berdua dengan menantunya itu.


“Pak Samsul, berhenti di sini sebentar,” pinta Martha.


“Ma, ini sudah hampir gelap,” ujar Marco.


“Ayolah, Pa. Sebentar saja.”


Martha turun dari mobilnya, ia berjalan menuju tempat yang pernah ia duduki bersama Asmira dulu, ia teringat dengan canda tawa menantunya itu. Asmira gadis polos yang telah mengubah sikap dingin Darwin, ia sangat berterima kasih kepada ibu dari cucu-cucunya itu.


“Jangan hukum kami seperti ini, Nak,” gumam Martha dalam hati, ia letakkan tangan di dadanya, ia memejamkan matanya menahan perihnya rasa rindu yang sudah memuncak di dadanya.

__ADS_1


“Ma, ayo pulang,” ajak Marco, membuat Martha tersadar dari lamunannya, ia rangkul lengan suaminya menuju mobil. Lalu mereka meninggalkan tempat tersebut sebelum hari semakin gelap.


Jangan lupa like ya ..


__ADS_2