
Bel pintu berbunyi membuat Asmira tersadar dari lamunannya, ia sedang meninabobokan kedua putrinya di ruang tengah. Entah apa yang ada di pikirannya, sehingga membuatnya cukup lama terdiam. Begitu mendengar bunyi bel, Bu Ida berlari kecil menuju pintu depan.
Sesaat kemudian Bu Ida kembali dengan wajah kurang bersahabat. Dengan ragu-ragu, ia berkata, “Mira, ada Yun di depan ~”
“Aku tidak mau bertemu dengannya, Bu.” Potong Asmira sebelum Bu Ida meneruskan kata-katanya.
“Tapi, Mira,” lanjut Bu Ida.
Asmira menatap tajam Bu Ida, wanita tua itu menundukkan kepalanya sembari kembali menuju ke depan.
“Bagaimana, Bu?” tanya Yun tersenyum bahagia saat melihat Bu Ida kembali. Namun Bu Ida menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Maaf, Asmira tidak mau menemuimu, Nak,” ujar Bu Ida.
“Bu, apa tidak ada lagi harapan untuk aku bersatu dengan Asmira?” tanya Yun menatap Bu Ida dengan sendu.
“Tolong aku, Bu ....”
“Ibu bisa apa, Nak?” tanya Bu Ida bersedih hati.
“Bujuk Mira, katakan padanya aku benar-benar mencintainya, Bu ... sangat mencintainya,” sahut Yun, matanya mulai berkaca-kaca.
“Akan Ibu usahakan,” jawab Bu Ida.
Lalu dengan lemah Yun melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Darwin. Yun tak menyangka semuanya akan berakhir seperti itu, baru sebentar kebahagiaan ia rasakan, kini perlahan kebahagiaan itu mulai menjauh darinya.
Bu Ida menatap sayu punggung Yun, ia sedih melihatnya, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa, semuanya sudah terjadi begitu saja. Lalu Bu Ida kembali ke dalam dan meneruskan pekerjaannya.
“Sudah pergi, Bu?” tanya Asmira mengagetkan Bu Ida yang sedang termenung.
Dengan terbata-bata beliau menjawab dan menganggukkan kepalanya berkali-kali, kemudian kembali meneruskan pekerjaannya lagi.
“Dapat pesan apa?” tanya Asmira, ia tersenyum kecut.
“Hati-hati, Bu. Nanti bisa-bisa kita dibohongi lagi,” lanjut Asmira lagi.
“Nak Yun tidak sejahat itu Asmira, dia pria yang baik, semuanya tidak seperti yang kau bayangkan,” sahut Bu Ida.
__ADS_1
Asmira menatap Bu Ida dengan menyipitkan kedua matanya. Lalu ia bangkit dari duduknya mendekati Bu Ida.
“Sepertinya Ibu tahu banyak hal tentang Yun?” tanya Asmira dengan pandangan tak berkedip dari Bu Ida.
Kring!!! ... kring!!!
Suara dering telepon cukup nyaring, membuat obrolan mereka terputus. Asmira melangkah ke depan, ia tarik gagang telepon lalu ia letakkan di telinganya.
“Halo,” sapa Asmira.
“Ini aku,” ujar Darwin di seberang, “Bisa kau minta Bu Ida untuk menjemput Evano, aku ada meeting mendadak,” lanjut Darwin.
“Baiklah,” sahut Asmira. Lalu panggilan singkat itu berakhir.
Asmira kembali ke dapur lalu ia meminta Bu Ida menjemput Evano di sekolah. Tanpa menunggu lama Bu Ida bergegas pergi.
Asmira menatap punggung Bu Ida, ia merasa ada yang aneh dari Bu Ida semenjak mereka pindah ke apartemen Darwin. Tidak biasanya beliau bersikap demikian.
••
Asmira tak sendiri, Jessica dan Martha sering mengunjunginya. Semuanya kembali membaik, kecuali hubungan Asmira dan Darwin. Keduanya masih belum banyak bicara, pembasahan di antara mereka hanya menyangkut anak-anak saja.
Yun masih belum menyerah, ia tetap mencari cara agar Asmira kembali ke pelukannya. Namun sejauh ini, rencananya tidak membuahkan hasil. Asmira masih kecewa terhadapnya.
Tanpa terasa usia si kembar sudah sebulan. Asmira sangat menikmati hari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Semua urusan si kembar ia urus sendiri, selebihnya, tentang pekerjaan lainnya ia serahkan pada Bu Ida.
Siang harinya. Setelah menjemput Evano sekolah, Darwin mengantarnya ke apartemen. Tiba di sana, Bu Ida sedang menyiapkan makan siang. Seperti biasanya, setelah mengantar Evano Darwin segera pergi. Bu Ida sempat menawarkan makan siang untuk ayah Evano tersebut, namun ditolaknya dengan halus. Bukan tanpa sebab, ia tak mau mengganggu Asmira, ia cukup menjaga jarak dengan istrinya selama ini. Darwin sebisa mungkin mencoba membuat Asmira nyaman di sana, walaupun dengan cara ia menjauhinya, ia rela. Asalkan, ia bisa melihat Evano dan si kembar kapan pun.
“Makanlah dulu, Mas,” ujar Asmira yang baru keluar kamar. Darwin menghentikan langkahnya. Setelah mendapatkan ajakan beberapa kali dari Asmira, akhirnya ia mengiyakannya.
Setelah makan, Darwin melihat si kembar sejenak sebelum ia kembali ke kantornya. Keduanya sedang terlelap, Darwin mengusap-usap lembut pipi kedua anaknya dengan ibu jarinya.
“Vani rewel banget semalam, Mas,” ujar Asmira mengagetkan Darwin yang sedang asyik menatap kedua putrinya terlelap.
“Kau lelah?” tanya Darwin. Asmira menggelengkan kepalanya.
“Mau aku cari baby sitter?” tanya Darwin lagi.
__ADS_1
“Tidak, aku mau rawat sendiri,” sahut Asmira cepat.
“Aku tidak mau kau terlalu lelah,” ujar Darwin.
Keduanya kembali terdiam, Darwin mendengus pelan. Lalu ia hembuskan nafasnya dengan berat.
“Kalau kau bosan, sekali-kali ajak mereka bertiga jalan-jalan, minta mbak Jessica temani kau,” ujar Darwin, ia menatap Asmira sekilas, lalu ia buang pandangannya ke samping.
Asmira tidak menjawab, lalu Darwin keluar dari kamar si kembar, Asmira mengikutinya dari belakang. Darwin harus segera kembali ke kantor, jam makan siang telah usai, Asmira mengantarnya ke depan.
“Aku pergi dulu,” ujar Darwin melangkah pergi dari hadapan Asmira.
Mulut Asmira sedikit terbuka, ia ingin mengucapkan sesuatu, namun seakan lidahnya kelu. Pandangannya lurus ke depan, ia menatap Darwin yang perlahan mulai menghilang di balik lift. Lalu ia hembuskan nafasnya perlahan, ia balikkan tubuhnya untuk kembali masuk.
“Bisa kita bicara sebentar?” pinta seorang pria yang cukup familiar suaranya di telinga Asmira, ia balikkan badannya untuk memastikan apa benar itu pria yang ia kenali.
“Kau,” ujar Asmira dengan wajah yang seketika berubah menjadi merah padam.
Yun menarik tangan Asmira lalu ia genggam erat. Yun terus memohon agar Asmira memberinya kesempatan untuk bicara. Namun Asmira menepis tangannya dengan kasar.
“Aku tidak mau mendengar apa pun lagi, Mas,” ujar Asmira.
“Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan,” ucap Yun.
“Kau tahu, Mas. Kau yang mengubah pandanganku kembali baik tentang pria, dan kau juga yang merusaknya lagi!”
Asmira menutup pintu lalu ia berlari kecil ke kamarnya. Bu Ida heran menatap Asmira menangis, lalu ia keluar untuk mencari apa penyebab ia berderai air mata. Yun masih di depan pintu, ia menundukkan kepalanya merapat ke dinding.
“Nak, Yun,” panggil Bu Ida.
“Bu, aku bersalah, aku telah membuat wanita yang kucintai kecewa ...” lirih Yun, namun masih terdengar jelas di telinga Bu Ida.
Melihat Yun begitu terpukul, Bu Ida mengatakan agar ia tak perlu bersedih hati, hubungan Asmira dan Darwin juga belum membaik, sehingga ia tidak perlu putus asa, mungkin saja ia masih punya kesempatan untuk bersatu dengan Asmira lagu, mendengar perkataan Bu Ida membuat Yun tersenyum di sela kesedihannya.
“Benarkah demikian, Bu?” tanya Yun bahagia, setidaknya masih ada harapan untuknya walau sedikit.
Jangan lupa like ya....
__ADS_1