Eternal Promise

Eternal Promise
Part 17


__ADS_3

Setelah sarapan pagi selesai, jam menunjukkan pukul 07:00 Darwin segera berangkat kerja, namun sebelum itu ia akan mengantar Evano sekolah terlebih dahulu.


“Bu Ida!” panggil Darwin sedikit berteriak saat ia menuruni tangga.


“Ada apa lagi, Mas?” tanya Asmira.


Bu Ida dengan sedikit berlari menghampiri mereka. “Ya, Tuan,” jawab Bu Ida ketika berada di teras.


“Nanti siang jemput Vano, ya?”


“Baik, Tuan.” Setelah mengiyakan permintaan bosnya, Bu Ida segera masuk ke dalam.


“Sayang, nanti siang aku enggak bisa makan bareng, ya.” Darwin mengelus pipi Asmira meminta pengertian darinya.


“Baiklah, Mas. Hati-hati di jalan, ya?”


Kemudian Darwin segera berangkat bersama Evano, Asmira melambaikan tangannya.


Setelah mengantar Evano, Darwin segera menuju kantor, Pratiwi sudah menunggunya siap dengan berkas-berkas. Sebentar lagi mereka akan menemui pengganti Yunita dalam menangani proyek kerja sama mereka.


Setelah tiba di kantor, Darwin mendapatkan informasi baru dari Pratiwi bahwa pertemuan mereka dibatalkan, orang pengganti yang di tunjukkan oleh perusahaan Yunita ingin mendatangi kantor Darwin.


“Ada sedikit kejanggalan, Pak,” ujar Pratiwi.


“Maksudmu?”


“Proyek ini cukup besar, dengan luas pembangunan 1000 hektar lebih, Pak,” ungkap Tiwi.


Darwin tersenyum simpul, matanya terus menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Kemudian ia bangkit dari duduknya ia melangkah menuju jendela yang menghadap bebas ke jalanan yang cukup ramai dan padat.


“Saya tahu Tiwi, mereka juga menggandeng beberapa perusahaan besar lainnya, tentunya dengan anggaran yang cukup besar dan dengan desain yang luar biasa pula yang mereka usulkan.” Darwin menyilang kedua tangan di dadanya.


“Karena itu saya khawatir, Pak.”


Darwin berpaling menatap Pratiwi, kemudian ia melangkah mendekatinya.


“Kamu ragu dengan kemampuan saya?” tanya Darwin.

__ADS_1


“Bukan demikian, Pak. Saya rasa ada maksud terselubung dari mereka ~”


Darwin menyela pembicaraan Pratiwi, “Kamu benar, mereka ingin menjatuhkan saya Tiwi. Tapi apa kamu lupa Tiwi? Mereka bukan yang pertama yang mencoba melakukannya.”


Pratiwi kembali mencoba mengingat kejadian tahun demi tahun yang lalu. Benar adanya, ini bukan yang pertama terjadi di dalam kurun waktu Darwin menjabat sebagai Direktur, telah banyak persoalan yang mereka hadapi bersama. Hingga detik ini belum ada satu pun yang mampu menggeser kan posisinya di peringkat utama dengan predikat perusahaan paling sukses di tanah air.


Namun entah mengapa ada rasa khawatir yang berlebihan di hati Pratiwi untuk kali ini. Mengingat Yunita merupakan teman masa lalu Darwin, tidak bisa di anggap remeh jika kini ia hadir begitu saja, Pratiwi tidak percaya jika ini terjadi tanpa di sengaja.


“Namun kali ini berbeda, Pak. Yunita teman masa lalu Anda,” ungkap Pratiwi, ia tidak bisa menahan pikirannya yang bergejolak.


Darwin kembali hanya melayangkan sebuah senyuman indah di bibirnya. Ia kagum melihat Pratiwi setia dalam pengabdiannya di perusahaan miliknya, ia tidak akan menemukan pengganti Pratiwi di mana pun.


15 menit kemudian, orang suruhan perusahaan Yunita pun datang. Darwin segera menuju lobi untuk menyambut kedatangan pria itu.


Darwin sedikit terpana dengan pria yang kini memasuki kantornya. Pria itu berwajah tampan dengan tinggi badan setara dengannya lengkap dengan penampilannya yang cukup elegan, harga pakaian yang ia kenakan diperkirakan cukup fantastis. Pratiwi menelan ludahnya.


“Selamat datang,” ujar Darwin menjabat tangan sang pria.


Pratiwi kembali menelan ludahnya ketika berhadapan dengan dua pria tampan di hadapannya dengan karakteristik yang hampir sama.


Pria itu memutar pandangan ke sekelilingnya, ia menatap ke setiap sudut ruangan itu. Tidak ada celah untuk ia merendahkan martabat Darwin.


Kantor yang menjulang tinggi yang dicat warna putih itu mengusungkan tema minimalis modern, jika di luar tampak biasa saja, semua orang akan terpukau begitu memasuki ruangan tersebut.


Darwin mengajak pria itu masuk ke ruang meeting di ikuti Pratiwi di belakang. Keduanya kembali menjadi perhatian Pratiwi, namun aura elegan masih Darwin pemenangnya, ia tidak mudah untuk bersosialisasi dengan orang baru.


“Perkenalkan, saya Haris,” ujar pria itu akhirnya mengenalkan dirinya.


“Baik, Pak Haris. Sekarang kita mulai saja meetingnya.” Darwin mengambil berkas yang telah Pratiwi persiapkan secara matang dan telah di review olehnya sendiri.


Darwin menjelaskan cara kerjanya bersama tim dan beberapa proyek besar yang pernah ia garap dengan hasil yang cukup besar. Darwin tidak memberikan kesempatan lawannya itu untuk sedikit pun menyela pembicaraannya, dengan tatapan tajam, wajah yang serius, membuat Haris tidak berani meremehkan siapa rivalnya itu.


“Saya rasa, tidak perlu bertele-tele lagi, kontrak kerja pun telah di tandatangani, sebaiknya besok kita segera turun lapangan.” Darwin menatap Haris.


“Baik, besok siang kita berjumpa di lokasi,” ujar Haris tersenyum ramah.


“Maaf, untuk waktu, sepenuhnya kami yang akan mengaturnya, sepertinya ibu Yunita lupa mengatakan pada Anda. Kami sudah membahas semua itu dan ibu Yunita menyetujuinya,” jelas Darwin.

__ADS_1


Haris tampak canggung, ia tersenyum kecut seraya berkata, “Oh, begitu. Baiklah, email saya tentang jadwalnya, ya?”


Haris menatap Pratiwi saat mengutarakan permintaannya diikuti anggukan oleh asisten Darwin.


Pertemuan selesai setelah 1 jam mereka meeting bersama, Darwin mengantar Haris hingga ke depan.


Sementara itu, siangnya di rumah Asmira. Martha mengunjunginya serta membawakan makanan kesukaannya, ia tahu menantunya itu sedang mood makan. Martha menyuruh Marni membuatkan sup kepiting kesukaan Asmira, ia tidak mengetahui jika sekarang di rumah mereka ada pembantu baru yang kapan saja bisa membuatkan makanan untuknya.


Evano sangat girang ketika pulang sekolah ia mendapati Nany dan Grandpa mengunjungi rumahnya. Ia berhamburan ke pelukan keduanya.


“Sayangnya Nany baru pulang sekolah, ya?” Martha memeluk Vano erat serta menciumi pipinya.


Martha juga berkenalan dengan Bu Ida, ia tersenyum ramah. Lagi-lagi Bu Ida di buat kagum dengan keramahan keluarga itu, belum pernah ia temui di mana pun selama ini.


“Ternyata masih ada orang kaya yang baik seperti ini,” gumam Bu Ida dalam hati.


“Bu Ida, temani Vano ganti baju, ya?” pinta Asmira.


Bu Ida terkejut dari lamunannya, ia segera melaksanakan perintah nyonya majikannya. Evano juga sangat penurut, mereka berdua sudah sangat akrab, ia sepertinya nyaman bersama wanita tua itu.


“Sayang, hubungi Darwin dong,” pinta Martha.


“Aku maunya juga begitu, Ma. Tapi Mas Marcell enggak bisa,” sahut Asmira.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di luar rumah, Asmira melangkah ke depan melihat siapa yang datang. Namun ternyata Darwin, wajah Asmira seketika berubah ketika melihat kepulangan suaminya.


“Sayang,” panggil Darwin merangkul bahu Asmira mengajaknya masuk.


“Tadi Mas bilang ~”


“Ada perubahan jadwal sayang, kamu enggak senang aku pulang?” tanya Darwin, ia menciumi pipi Asmira berkali-kali dengan gemas.


“Mas, lihat suasana dong, kamu enggak malu?” tanya Asmira.


Darwin segera mengarahkan pandangannya ke depan, ia terkejut bukan main ketika melihat kedua orang tuanya, Bu Ida serta Vano sedang melihat ke arahnya. Lalu mereka tertawa bersama, Darwin jadi malu dengan tingkahnya sendiri.


Jangan lupa like ya..

__ADS_1


__ADS_2