
Asmira asyik membantu Bu Ida memasak di dapur, ia memang tidak pernah membangunkan Darwin di pagi hari, karena suaminya itu selalu bangun tepat waktu. Asmira hanya perlu menyiapkan semua keperluan kantornya saja. Sama halnya pagi ini, Asmira tidak membangunkan Darwin, ia tidak tahu jika suaminya masih terlelap dalam tidurnya setelah semalaman begadang.
Asmira menemani Evano makan dan menyiapkan bekal sekolahnya. Setelah siap Bu Ida segera panggilkan Pak Yun untuk mengantar Evano sekolah.
“Mami aku sekolah dulu, daa ....”
“Belajar yang benar, Nak!” teriak Asmira ketika Evano menghilang dibalik pintu bersama Bu Ida.
“Tuan enggak masuk kerja, Nya?” tanya Bu Ida ketika kembali ke dapur.
“Kerja,” sahut Asmira santai.
Seketika ekspresinya berubah, ia baru teringat pagi ini Darwin belum keluar kamar. Asmira berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.
“Nyonya hati-hati!” teriak Bu Ida panik.
Asmira mengembus nafasnya perlahan karena kelelahan. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya, ia belai lembut pipi suaminya yang masih tertidur nyenyak.
“Mas, bangun ...” panggil Asmira.
Darwin menggeliat sebentar, lalu ia kembali melanjutkan tidurnya, Asmira terus saja membangunkan Darwin. Namun tetap saja sang suami masih lelap dalam tidurnya.
“Mas! Banjir Mas! Banjir! Cepat bangun Mas, kita akan tenggelam!” teriak Asmira.
Seketika Darwin terbangun dengan kesadaran yang belum pulih, ia sangat panik. “Banjir, mana banjir, ayo lari!”
Asmira tertawa terbahak-bahak melihat suaminya. Darwin baru sadar jika tidak terjadi apa-apa, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa pusing.
“Harus apa banguni dengan cara seperti itu?” gumam Darwin.
“Sudah Mas, sudah berulang kali aku panggil, tetap saja Mas masih molor,” sahut Asmira.
Darwin bangun dari tidurnya, ia meneguk segelas air putih yang tergeletak di nakas. Saat mengambil handuk, ia melewati meja rias Asmira, ia mundur selangkah.
“Aaghhh!!!” teriak Darwin kencang, ia membuang pandangannya ke bawah.
“Mas, ada apa?” tanya Asmira kaget, ia sedang merapikan tempat tidur.
“Sayang, mataku kenapa begini?” tanya Darwin, ia menaruh tangan di wajah untuk menutupinya.
__ADS_1
“Kalau Mas tutup begitu gimana aku bisa lihat.” Asmira menarik tangan Darwin, ia tersenyum geli, Darwin kaget melihat dirinya sendiri di cermin karena ada mata panda, memang selama ini ia tidak pernah mengalami hal itu.
“Sudah, Mas mandi saja dulu, nanti kita pikirkan bagaimana caranya,” pinta Asmira.
Sekali lagi Darwin kaget ketika ia melihat jam di layar ponselnya. “Ya Tuhan, sudah jam 08:00 pagi!” Ia bergegas ke kamar mandi.
Sembari menunggu suaminya mandi, Asmira meminta Bu Ida untuk membawakan sepiring nasi goreng ke kamarnya.
Selesai mandi Darwin segera mengenakan pakaiannya satu persatu, Asmira gerak cepat, ia menyuapkan nasi sembari Darwin berpakaian.
“Lihat sini dong, Mas. Bajunya kotor,” pinta Asmira geram karena Darwin berputar-putar ke seluruh ruangan sibuk mengambil keperluannya.
Darwin meraih jus jeruk, ia teguk sampai habis. “Sayang, sudah makannya ya? Aku sudah kenyang.”
Asmira mengangguk sambil tersenyum, ia mengambil concelear di meja riasnya ia menyuruh Darwin duduk di tepi ranjang.
“No! Mau ngapain!” teriak Darwin, ia menepis tangan Asmira pelan.
“Sudah diam! Mas mau kerja dengan kondisi begini?” Dengan polos Darwin menggeleng lemah.
“Makanya kalau ada apa-apa cerita ke istri, jadinya enggak bisa tidur karena pendam masalah sendirian!” omel Asmira.
“Nanti aku ceritakan, janji.”
Asmira tidak menjawab, ia sibuk mengoles concelear di wajah suaminya. Darwin memeluk pinggang Asmira, ia tahu istrinya sedang marah, jika diam berati ia sedang marah.
“Nak, bilang Mami jangan ambekan, ya?” lirih Darwin.
“Aku dengar!”
“Ya udah sih, sayang. Gantinya, nanti malam kita dinner deh ....”
Seketika wajah Asmira berubah, ia tersenyum manis. “Yang benar?” tanya ia sembari memeluk lengan suaminya. Darwin mengangguk, lalu mereka turun bersama setelah semuanya beres.
“Bu, jaga istri dan anak saya, ya?” pinta Darwin ketika berpapasan dengan Bu Ida di ruang tamu. Bu Ida mengangguk dan menundukkan kepalanya.
“Dandan yang cantik, ya?” pinta Darwin mencium kening Asmira sebentar. Asmira mengangguk dan melambaikan tangannya ketika mobil Darwin keluar dari pekarangan rumah.
“Kok aku murahan banget, sih. Cuma makan malam doang langsung baikkan, dasar aku!” gerutu Asmira. Ia segera masuk ke dalam.
__ADS_1
30 menit kemudian, Darwin tiba di kantor. Ia segera menghubungi Pratiwi, menyuruhnya ke ruangannya. Ia berharap ada sesuatu informasi yang akan mengubah keadaan.
“Pagi, Pak.”
“Ini hampir siang! Kenapa kamu tidak menghubungi saya pagi ini?” tanya Darwin dengan suara keras, Pratiwi menundukkan kepalanya.
“Maaf, Pak. Saya pikir Anda sedang tidak baik-baik saja, telat sedikit tidak apa-apa, mungkin bersama istri dan anak di rumah bisa membuat kondisi Anda sedikit lebih baik.”
Darwin terdiam, ia mengusap wajah dengan tangannya, lalu ia hempaskan tubuhnya di kursi putarnya. “Maaf ...” ucap Darwin.
“Tidak apa-apa, Pak.”
“Ada informasi?” tanya ia kemudian.
“Tidak, Pak. Sudah saya kerahkan semua anak buah kita, namun tetap saja wanita itu tidak di temukan, ia menghilang sejak kejadian malam itu.”
“Sebenarnya wanita itu tidak akan penting, jika saja kita tidak butuh barang bukti untuk membuktikan kecurangan yang mereka lakukan,” ucap Darwin mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu saya kembali bekerja, Pak.” Darwin mengangguk tanpa menoleh, Pratiwi segera keluar dari ruangan bosnya itu.
Darwin menutup wajah dengan kedua tangannya. Kekhawatirannya bukan tentang ia akan rugi atau tidaknya dalam menangani proyek itu, tapi jika ia terbukti kalah dan tidak berhasil mengembangkan proyek itu hingga akhir. Nama baik perusahaan-perusahaannya menjadi taruhan. Pasti ada saja berita yang akan beredar. Ia menarik nafasnya perlahan.
Kring ... kring ...
“Ya halo,” sapa Darwin setelah mengangkat telepon yang ternyata dari Pratiwi.
“Pak, Tuan Kelvin sedang meeting di salah satu Cafe kita, di kawasan Mangga.”
Kebetulan Darwin ingin pergi ke sana, berhubung nanti malam ia akan mengajak istrinya dinner.
“Oke, ubah jadwal lain, aku ingin bertemu Kelvin.”
“Baik, Pak.”
Darwin meraih kunci mobilnya ia bergegas berangkat menuju Cafe milik keluarganya. Darwin sempat geram karena jalanan cukup macet, takutnya begitu ia tiba di sana Kelvin sudah pergi. Ia bisa saja menghubungi sahabatnya itu, namun ia ingin membuat seolah-olah pertemuan mereka tidak di sengaja. Ada hal yang sedang ia selidik dari sahabatnya itu.
Tiba di sana, di tempat parkir. Darwin di suguhkan dengan pemandangan mobil milik Kelvin yang kemarin Pratiwi perlihatkan padanya. Darwin segera masuk ke dalam, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Kelvin dan Haris di satu meja yang sama.
Darwin tertegun, ia mengusap dahinya. “Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahpahaman,” ujar Darwin menenangkan diri sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya ...