
Darwin kembali kecewa karena pertemuannya dengan direktur utama perusahaan Jepang di batalkan. Setelah tiba di tempat pertemuan, bukan orang yang ia harapkan hadir di sana, melainkan perwakilannya.
“Maaf sekali lagi, Pak. Tuan Yuji sedang berlibur, pertemuan akan kita atur kembali Minggu depan,” ujar pria itu.
Darwin mangut-mangut, akhirnya ia mengetahui nama direktur utama perusahaan Jepang itu. Setelah berbincang-bincang dengan perwakilan Yuji sesaat, Darwin pamit terlebih dahulu, ia masih ada pertemuan dengan kliennya yang lain. Darwin keluar dari Cafe tersebut menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
“Baik, Pak. Segera saya siapkan tiket untuk penerbangan besok pagi dari kota B menuju pantai pasir putih untuk 3 orang,” ujar salah seorang pria yang berdiri di sebelah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil Darwin.
Darwin mendengar semua percakapan pria itu dengan telepon genggamnya, namun ia tidak menggubrisnya, ia terus melangkah menuju mobilnya. Setelah memasang safety belt, ia ingin segera meluncur pergi dari sana. Namun pria perwakilan Yuji tadi keluar dari Cafe dan menghampiri 2 pria itu. Darwin menghentikan mobilnya, ia membuka kaca mobilnya.
“Tuan Yuji meminta Anda siapkan tiket untuk penerbangan besok pagi.” Beritahu salah satu pria itu.
“Baik, ayo kita kembali ke kantor.”
“Pantai pasir putih,” gumam Darwin, ia tersenyum kemudian bergegas pergi dari sana.
Tiba di kantor, Darwin menghubungi Pratiwi dan meminta ia ke ruangannya. Tidak lama kemudian, asistennya itu datang memenuhi panggilannya.
“Bagaimana pertemuan dengan perusahaan Jepang?” tanya Tiwi memulai pembicaraan.
“Dibatalkan,” sahut Darwin singkat.
Pratiwi membulatkan mulutnya mendengar jawaban Darwin. “Oya, Pak. Tadi Yunita datang kemari mencari Anda,” ujar Pratiwi.
Darwin mengerutkan keningnya. “Yunita,” ulangnya.
“Iya, dengan bantuan Security saya berhasil menyuruhnya pergi,” sahut Tiwi.
“Untuk apa wanita itu mencariku lagi?” Darwin bertanya-tanya dalam hati.
Pasalnya, kurang lebih sebulan telah berlalu, Darwin tidak mencari keberadaan Yunita sama sekali. Meski Darwin tahu siapa dalang di balik semua itu, ia diamkan saja. Darwin sedang fokus membangun kembali perusahaannya dan mencari keberadaan Asmira. Namun, sekarang Yunita mencarinya tentu ada hal penting yang membuat wanita itu berani muncul lagi di hadapannya setelah semua kebohongannya ia ketahui.
“Lupakan Yunita, sekarang aku sedang tidak ingin berurusan dengan wanita licik itu. Urusan aku dengannya belum selesai, setelah semuanya beres, aku akan mengurus semuanya!”
“Saya tahu itu, Pak. Sekarang bukan waktunya memperpanjang masalah dengan mereka,” sahut Pratiwi.
“Kau atur penerbangan menuju pantai pasir putih besok pagi untukku,” ucap Darwin kemudian.
__ADS_1
“Pantai pasir putih?”
“Yuji ada di sana, aku ingin bertemu dengannya, aku tak sabar menunggu Minggu depan.”
Pratiwi semakin bingung, ia tak mengerti apa yang dibicarakan bosnya. Namun sebelum kebingungan Pratiwi semakin bertambah Darwin segera menjelaskan maksudnya.
“Anda yakin ingin menemui pak Yuji di sana?” tanya Tiwi. Darwin mengangguk penuh keyakinan.
•
Keesokan harinya.
Evano sangat gembira ketika Bu Ida membangunkannya serta memberitahu ia akan berlibur dengan Yun dan maminya ke pantai pagi ini. Bu Ida menyiapkan semua keperluan Evano dengan mudah pagi ini, tidak seperti biasanya, di mana Bu Ida dibuat kewalahan oleh putra Asmira itu.
“Bu, untuk besok dan lusa jangan terima pesanan, ya?” pinta Asmira ketika semuanya berkumpul di meja makan.
“Loh, kenapa Nyonya?” tanya Surti. Surti adalah karyawan baru Asmira yang membantu Bu Ida di dapur.
“Istirahatlah selama saya pergi, kalian terlalu lelah belakangan ini,” sahut Asmira.
Yun telah rapi dan wangi, ia asyik menyantap sarapannya, ia hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa menyahut sepatah kata pun, sekali-kali ia melirik Asmira dengan ujung matanya.
“Kau terlalu memanjakannya,” ujar Asmira tanpa menoleh pada Yun.
“Mami sirik banget, sih?”
“Sirik, siapa yang sirik?” sahut Asmira menyolot. Yun tertawa melihat ibu dan anak itu.
“Bilang saja Mami cemburu Om lebih perhatian padaku,” sambung Evano lagi.
Yun menatap Asmira. Pipi Asmira merah merona, ia tersipu malu dengan ucapan anaknya yang nakal itu, ia mencubit pipi Evano geram
“Aughh ... sakit, Mami!” teriak Evano.
Karena malu, Asmira menyudahi sarapannya, lalu ia menuju dapur dan membereskan meja makan tanpa menoleh pada Yun lagi.
Setengah jam kemudian mereka telah siap-siap untuk berangkat ke bandara. Bu Ida mengantar mereka hingga ke lantai bawah. Asmira memeluk erat wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu kala ia hendak berangkat bersama Yun.
__ADS_1
“Kita cuma pergi 2 hari, Mami,” ujar Evano di dalam mobil.
“Diam kau!” teriak Asmira kesal. Sontak membuat semuanya tertawa, Evano selalu berhasil membuat Asmira emosi karena sikapnya.
Setelah menempuh penerbangan 2 jam, mereka tiba di tempat tujuan. Evano tertidur pulas, Yun menggendongnya menuju mobil jemputan yang sudah menunggu mereka. Letak pantai dan bandara hanya 30 menit perjalanan.
“Mas, aku semakin ragu kalau pekerjaanmu itu hanya sebagai sopir pribadi,” ungkap Asmira.
Yun tertawa sembari berkata, “Apa seorang sopir tidak mampu mengajakmu berlibur?”
“Bukan, hanya saja aku ragu,” sahut Asmira lagi.
“Akan ada saatnya kau akan tahu semuanya,” gumam Yun dalam hati.
Tidak lama kemudian mobil yang membawa mereka tiba di pantai. Mentari bersinar cerah hari itu, jam menunjukkan pukul 11:00 siang.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh segera terbayarkan dengan pantainya yang indah, birunya air laut dipadu dengan pasirnya yang putih serta ombak-ombak kecil tanpa henti menyapu bibir pantai, semakin menambah keindahan pantai yang banyak di minati para turis itu.
Tempat penginapannya berada di bibir pantai, rumah yang terbuat dari kayu itu langsung terhubung dengan laut, sungguh tempat yang sempurna untuk menghabiskan masa liburan bersama orang-orang yang disayangi.
Setelah menidurkan Evano yang masih terlelap, Asmira keluar lagi. Hangatnya mentari menerpa wajah cantiknya, ia pejamkan matanya, ia tarik nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan. Asmira duduk di tangga, ia menjulurkan kakinya ke bawah, ia biarkan segarnya air laut menyentuh kakinya.
“Istirahatlah, kau tidak lelah?” Suara Yun mengagetkan Asmira yang sedang melamun.
“Aku masih betah di sini,” sahut Asmira. Yun mendekat lalu ia duduk di sebelah Asmira.
“Kau suka tempatnya?” tanya Yun.
“Suka, seperti yang di luar negeri, apa itu namanya?” tanya Asmira polos.
“Maldives,” sahut Yun tertawa kecil.
Kruuukk ... terdengar suara perut Yun yang kelaparan, sontak saja membuat Asmira tertawa terbahak-bahak.
“Baru jam 11:00, Mas. Kau sudah lapar lagi. Ayo aku buatkan makanan,” ujar Asmira, ia bangun dari duduknya.
“Buatkan makanan? No! Kita lagi liburan, kamu duduk manis di sini, sebentar lagi makan siang kita datang,” ujar Yun, ia tarik tangan Asmira agar kembali duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...