Eternal Promise

Eternal Promise
Part 18


__ADS_3

Asmira asyik membaca buku, ia menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Darwin baru saja pulang kantor, ia sedang mandi. Sembari menunggu suaminya selesai mandi ia melanjutkan bacaannya yang tadi sempat terhenti karena ia menemani Evano tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Cuaca malam ini terasa sangat dingin, di luar hujan turun sangat deras. Asmira menarik selimut, ia menutupi sebagian tubuhnya kemudian ia kembali melanjutkan bacaannya.


Sesaat kemudian Darwin keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya. Ia mendekati Asmira lalu mencium pelan keningnya, ia duduk di samping sang istri.


Tanpa menoleh, Asmira berkata, “Mas, pakai baju dulu.” Ia terus melanjutkan bacaannya tanpa memedulikan suaminya.


“Enggak mau, nanti juga harus buka lagi,” jawab Darwin sengaja menggoda Asmira. Sontak membuat Asmira menatap tajam suaminya itu.


“Maksudmu apa, Mas?”


Darwin tersenyum, ia langsung menanggalkan handuknya ia menarik selimut yang menutupi tubuh Asmira lalu ikut berbaring di sampingnya.


“Mas, kamu enggak kedinginan?” tanya Asmira menatap heran pada suaminya itu.


“Enggak, kan ada kamu yang bisa menghangatkanku,” sahut Darwin, ia melingkarkan tangannya di pinggang Asmira.


“Mas, kenapa aku merasa mual, ya?”


Darwin bangun dari tidurnya, ia duduk bersila. “Kamu makan apa saja tadi?”


“Enggak makan apa-apa, Mas,” sahut Asmira.


“Lalu kenapa?” tanya Darwin mengelus pipi Asmira.


“Aku mual mendengar Mas ngomong seperti itu tadi,” jawab Asmira tertawa pecah.


“Kamu sudah berani menggoda aku, ya?”


Darwin menggelitik pinggang Asmira, ia mencubit hidung mungil istrinya dengan gemas kemudian seluruh wajah Asmira ia cium tanpa ampun.


Asmira tertawa terbahak-bahak karena merasa geli, ia paling tidak tahan jika pinggangnya di gelitik.


“Mas, sudah, sudah ...” ujar Asmira.


Darwin memeluk istrinya, ia tarik Asmira ke dalam dekapannya dengan erat, ia benamkan wajahnya di dada bidangnya, ia cium berkali-kali kening Asmira dengan penuh kasih sayang.


“Mas, aku hampir lupa,” ujar Asmira.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Darwin lembut.


“Besok aku ke dokter kandungan, ya. Aku pergi sama Bu Ida, kamu enggak usah khawatir,” ujar Asmira.


“Kenapa Bu Ida, kamu enggak ingin aku mendampingi mu?”


“Memangnya Mas enggak kerja, aku hanya tidak ingin merepotkan, Mas,” sahut Asmira.


Darwin menarik nafasnya dalam-dalam, ia tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran Asmira. Bagaimana bisa ia mengatakan tidak ingin merepotkannya, bukankah itu anaknya juga?


“Sayang, kamu jangan bicara seperti itu, kita pergi berdua besok, ya?” ujar Darwin kemudian. Asmira mengangguk sembari tersenyum.


Sejurus kemudian Darwin langsung melanjutkan aksinya, Asmira tidak bisa menolak hasrat suaminya itu. Setelah kejadian kemarin, mereka sudah lama tidak melakukan aktivitas di atas ranjang.


Malam itu Darwin sangat buas, jika saja ia tidak mengingat bahwa istrinya sedang hamil muda, ia pasti tidak akan memberi ampun pada Asmira.


Asmira terkulai lemas di samping suaminya, ia peluk erat Darwin, kemudian sebuah kecupan kembali mendarat di keningnya. Ia menguap berkali-kali, tidak lama kemudian mereka berdua pun tertidur karena kelelahan.


Keesokan harinya, setelah sarapan pagi mereka bertiga segera berangkat, sebelum ke dokter kandungan Darwin terlebih dahulu mengantar Evano sekolah.


Saat turun dari mobil, Evano mengedipkan matanya pada Darwin lalu dibalas dengan acungan jempol oleh sang ayah. Asmira mengerutkan keningnya.


Asmira tidak mendapatkan jawaban, kemudian mereka segera berangkat ke klinik dokter kandungan, yang dulu juga merupakan dokter yang sama ketika Asmira mengandung Evano.


Mereka tiba di klinik, di sana sudah banyak ibu-ibu hamil yang lain yang sedang menunggu antrean di temani suami masing-masing. Untung saja Darwin tidak membiarkan Asmira pergi dengan Bu Ida, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Asmira sendiri yang tidak di temani sang suami sementara yang lainnya ada suami yang mendampingi.


Darwin segera masuk, ia gandeng tangan sang istri kemudian memapahnya masuk ke dalam. Namun Asmira menarik tangannya perlahan.


“Mas, kita ambil nomor antrean dulu,” ujar Asmira.


“Tidak perlu, kamu diam saja.” Darwin segera masuk ke ruangan dokter.


Asmira melihat ke belakang saat suaminya menarik tangannya masuk ke dalam. Ibu-ibu yang sedang mengantre, mereka saling berbisik-bisik.


“Dasar orang kaya!” umpat salah satu di antara mereka.


Begitu melihat siapa yang masuk, Dokter Razia tersenyum ramah. Kemudian mempersilahkan mereka duduk. Ia menanyakan bagaimana keadaan Asmira selama di awal kehamilan, apa saja yang ia rasakan, lalu bagaimana kondisi tubuhnya.


Asmira menceritakan semuanya tentang kondisinya dalam 2 Minggu belakangan, moodnya sering naik turun dan juga pola makannya yang semakin meningkat.

__ADS_1


“Pak Darwin, abaikan saja jika Ibu Asmira tiba-tiba marah tidak jelas, ya?” ujar Dokter Razia tersenyum. Darwin membalas dengan senyuman.


“Mood bisa mempengaruhi kehamilan, Dok?” tanya Darwin.


“Itu pasti, usahakan moodnya jangan sampai down, ya?” pinta dokter Razia.


Pertemuan bulan depan Dokter Razia mengatakan Asmira sudah boleh melakukan USG 4D, namun untuk saat ini Dokter Razia hanya memberikan suplemen vitamin saja.


“Jaga pola makan, jangan banyak pikiran, ya?” pinta Dokter Razia sekali lagi saat konsultasi mereka selesai.


“Terima kasih ya, Dok?” ucap Asmira. Kemudian mereka berpamitan dan segera pergi dari klinik tersebut.


Saat mereka keluar dari klinik, Asmira meminta Darwin untuk mengantarnya ke supermarket, Darwin segera meluncur menuju tempat yang di inginkan oleh sang istri tercinta.


Setelah dari supermarket, Darwin segera meluncur dengan kecepatan sedikit lebih kencang, Asmira kaget saat Darwin berputar arah.


“Mas, kita mau ke mana lagi?” tanya Asmira.


“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat,” ujar Darwin tersenyum.


“Tapi aku lapar ...” ujar Asmira mengelus-elus perutnya. Darwin tertawa, ia segera mencari restoran yang pas lalu segera berhenti untuk mengisi perut Asmira yang terasa sangat lapar.


Setelah 30 menit, mereka kembali meneruskan perjalanan menuju sebuah tempat yang masih menjadi tanda tanya besar di pikiran Asmira.


“Mas, jangan jauh-jauh, kasihan Evano sama Bu Ida,” ujar Asmira.


Darwin tersenyum, ia usap pelan rambut Asmira tanpa memberinya jawaban. Ia hanya semakin mempercepat laju mobilnya. Ia menyalakan musik agar istrinya tertidur dan tidak terlalu banyak tanya. Dan benar saja, tidak lama kemudian Asmira tertidur.


“Syukurlah,” gumam Darwin dalam hati.


Ia usap Pelang keningnya ia belai lembut kedua pipinya secara bergantian dengan pandangannya masih fokus menatap jalanan yang cukup ramai.


Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari hingar bingar kota, akhirnya mereka sampai di puncak, suasana sejuk nan indah memanjakan mata Darwin.


“Sayang, sayang ...” panggil Darwin, ia menepuk pipinya lembut.


Asmira bangun, ia mengerjapkan matanya. “Kita ada di mana, Mas?” tanya ia kemudian setelah kesadarannya pulih.


Jangan lupa like ya .

__ADS_1


__ADS_2