
Darwin melangkah masuk ke kantor dengan tergesa-gesa, pasalnya ia terlambat masuk kantor hari ini karena ia bangun kesiangan. Pakaiannya terlihat kusut, dasi serta bajunya sangat tidak cocok, Darwin terlihat sangat kacau.
“Hei, kalian tahu enggak, sih. Dengar-dengar Bos Darwin pisah sama istrinya,” ujar salah seorang karyawan Darwin.
“Kalau ngomong hati-hati dong! Jangan bawa gosip sembarangan!” sahut yang lainnya.
“Bener dong! Lihat saja Bos kita gimana kondisinya sekarang, memprihatinkan!”
“Parahnya lagi aku dengar rumah tangga mereka berantakan karena adanya orang ketiga,” bisik yang lainnya.
Tiba-tiba mereka semua terdiam begitu Pratiwi masuk ke ruangan itu. Pratiwi menatap tajam ke arah 5 gadis yang sedang bergosip tersebut.
“Laporan yang saya berikan kemarin hari ini harus selesai, ya! Saya tunggu di ruangan saya!”
“Mampus!” ucap salah satu mereka. Semuanya kembali bekerja setelah Pratiwi keluar dari sana.
•
Sudah 2 hari ini Darwin tidak menjawab panggilan dari Yunita. Bahkan ia tidak menyentuh ponselnya sama sekali, ia hanya menghabiskan hari-harinya dengan rokok dan kopi.
“Pak, Anda sudah terlalu banyak merokok hari ini,” ujar Pratiwi. Namun Darwin terus saja menghisap batang demi batang rokok yang sudah lama ia tinggalkan itu.
Darwin asyik menatap hingar bingar kota A dari gedung kantornya dengan pikiran yang menerawang entah ke mana. Sejak pagi tadi, belum satu suap pun makanan masuk ke perutnya. Hanya kopi yang entah berapa gelas telah ia habiskan.
“Win, kau kenapa!?” teriak Yunita yang baru masuk ruangan Darwin. Suami Asmira itu terperanjat dari duduknya.
“Maaf, Pak. Sudah saya larang Bu Yuni masuk,” ujar Pratiwi yang terengah-engah dari belakang mengikuti Yunita.
“Sudah tidak apa-apa Tiwi, kau kembali bekerja,” sahut Darwin.
Dengan sedikit geram akan sikap Yunita, Pratiwi kembali ke ruangannya. Wanita itu sangat agresif, pantas Darwin terjebak dengan sikapnya. Darwin lelaki pendiam, jika wanita yang mendekatinya lebih aktif maka dengan mudah ia akan terpikat. Batin Pratiwi.
“Win, kenapa kau tidak terima panggilan dariku?” tanya Yunita mendekati Darwin.
__ADS_1
“Maaf, Yu. Aku sedang dalam masalah,” sahut Darwin.
“Masalah apa? Bukankah kemarin kau bilang sekarang kita berteman? Seorang teman harusnya ada saat temannya dalam masalah,” ujar Yunita, ia menggenggam tangan Darwin dengan erat.
Darwin memeluk erat Yunita, perlahan air mata berlinang di pipinya. “Asmira pergi dari rumah, Yu,” lirih Darwin di pelukan wanita yang menyebabkan Asmira pergi dari rumah itu.
Yunita melepaskan pelukan Darwin, ia mundur beberapa langkah menjauh dari suami Asmira itu. “Aku penyebab istrimu pergi, kan? Aku memang wanita penggoda! Harusnya kau tidak pergi denganku!” umpat Yunita untuk diri sendiri, ia memukul dadanya dengan keras. “Aku penyebabnya!”
Darwin mendekati Yunita ia belai kedua pipinya. “Kau tenanglah, jangan seperti ini! Ini semua bukan salah kau, Asmira hanya salah paham, Ayu.”
“Tidak, Win. Aku yang salah, aku yang harusnya di salahkan!”
Darwin menenangkan Yunita, wanita itu tetap menyalahkan dirinyalah penyebab kepergian Asmira dari rumah. Darwin mencium kening Yunita, lalu kedua pipinya. Akhirnya Yunita terdiam, ia memeluk Darwin.
“Ini bukan salahmu,” lirih Darwin, ia usap dengan lembutnya rambut Yunita.
“Arghhhh!!!” teriak seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Darwin yaitu Martha. Darwin dan Yunita terkejut bukan main.
“Apa yang kau lakukan? Siapa perempuan ini!” teriak Martha histeris, ia menatap Yunita penuh kebencian.
Namun Martha tidak diam saja, ia menanyakan seribu pertanyaan yang bersarang di pikirannya. Ia baru saja dari rumah lama Darwin, tapi rumah tersebut telah berpindah tangan dan Martha sama sekali tidak menemukan Asmira dan cucunya di sana. Sejak kemarin ia menghubungi Jessica menanyakan tentang Darwin, putrinya itu selalu mengalihkan pembicaraan. Martha merasa ada yang tidak beres dengan sikap Darwin, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi kantor putranya itu.
“Jawab! Kenapa kau diam saja! Ke mana menantu dan cucuku!”
“Mama diam dulu, ayo kita bicarakan di tempat lain,” ajak Darwin, ia membawa Martha keluar dari ruangannya. Yunita mengikuti mereka.
‘Kau mau ke mana! Pergi kau!” teriak Martha pada Darwin.
“Ma, sudah dong. Ayu kau pulanglah,” pinta Darwin.
Akhirnya Darwin membawa Martha ke sebuah Cafe yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Keduanya cukup lama terdiam, Martha terus menarik nafasnya dalam-dalam, ia menahan semua emosinya.
“Asmira pergi dari rumah, Ma,” ucap Darwin kemudian.
__ADS_1
“Apa!?” teriak Martha histeris, ia bangun dari duduknya. “Kau jangan bercanda, aku tidak mau kehilangan cucuku,” ucap Martha kemudian, matanya berkaca-kaca.
“Ini semua salahku, Ma. Aku berjanji akan membawa pulang dia kembali bersama kita,” sahut Darwin, ia memeluk ibunya, ia menangis di pelukan wanita yang sudah melahirkan ia ke dunia itu.
Namun Martha menepisnya, ia menjauh dari putra kebanggaannya itu. “Kau temukan Asmira atau jangan anggap aku ini ibumu!” teriak ia kemudian.
“Ma, jangan seperti ini aku mohon,” lirih Darwin, ia menggenggam tangan Martha erat. Sekali lagi Martha menepis tangan Darwin.
“Kau tahu! Jika papamu tahu semua ini, ia bisa mati berdiri, sejak kemarin ia sangat merindukan Vano, ia menyuruh pak Samsul menjemputnya, sekarang apa yang akan kau katakan padanya!?” bentak Martha, untung saja suasa Cafe cukup gaduh sore itu, sehingga suara Martha tidak terdengar.
Darwin terdiam, ia menundukkan kepalanya di hadapan wanita yang sangat menyayanginya itu. Kini Darwin pasrah dengan semua masalah yang menimpa dirinya.
“Kalau sampai Mama tahu kepergian Asmira dari rumah karena hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga kalian, aku pasti akan sangat kecewa dengan sikapmu, Darwin,” ucap Martha geram dengan mengatupkan kedua bibirnya. Kemudian ia berlalu meninggalkan Cafe tersebut. Tinggalkan Darwin seorang diri yang masih terpaku dengan semua ucapan Martha barusan.
Darwin benar-benar frustrasi, ia tidak tahu akan mengadu ke mana. Bahkan ibu yang melahirkannya sendiri mendesak dan menyalahkan ia. Darwin meraih ponselnya.
“Cuma Ayu yang mengerti perasaanku kini,” gumam Darwin dalam hati. Ia menghubungi wanita itu lagi.
“Halo, Win,” sapa Yunita.
“Kau di mana, ayo bertemu,” ajak Darwin.
“Kau di mana, biar aku yang mendatangimu.”
Darwin menutup panggilan tersebut setelah membuat janji dengan Yunita. Ia menunggu wanita itu datang, pikirannya benar-benar kacau. Tidak lama kemudian Yunita tiba di Cafe tersebut.
“Maafkan soal sikap mamaku tadi, ya,” ujar Darwin.
“Tidak apa-apa, kau sendiri bagaimana?” tanya Yunita.
“Entahlah, Yu. Semua keluargaku terus saja menyalahkan aku.”
Yunita menepuk bahu Darwin, ia tersenyum manis. “Aku di sini untukmu, Win. Kau tidak sendirian.”
__ADS_1
Darwin merebahkan kepalanya di bahu Yunita. “Terima kasih, Yu. Sekarang cuma kau yang mengerti perasaanku.”
Jangan lupa like ya...