
Yun. Pria keturunan Jepang. Anak pengusaha ternama dengan kekayaan nomor 5 di dunia. Hebat bukan? Lalu kenapa ia memilih berbaur dengan rakyat kecil. Bahkan ia sempat menjadi sopir taksi. Itu yang menjadi tanda tanya besar di kepala Asmira.
Semua itu di sebabkan karena Yun merupakan anak di luar pernikahan. Bu Ida hanya mengandungnya saja karena istri Takao Shuji tidak hamil, padahal mereka sudah menikah 8 tahun lamanya kala itu. Bu Ida bersedia melakukan itu semua, karena ia butuh uang untuk pengobatan suaminya. Namun, semakin hari perutnya semakin membesar. Tentu timbul pertanyaan dari suaminya, karena ia sendiri mandul. Penyakit jantung suami Bu Ida kambuh setelah mengetahui yang sebenarnya, dan ia meninggal dunia saat kehamilan Bu Ida semakin membesar.
Sejak kecil Yun terpisah dengan ibunya. Namun seiring berjalannya waktu, usianya semakin bertambah. Ia mulai merasakan perbedaan kala Istri Takao Shuji hamil. Lalu melahirkan putra dan putri yang hanya berselang beberapa tahun saja. Perlahan-lahan ia mulai terasa jauh dengan ibu yang ia sangka adalah ibu kandungnya.
Yun mengetahui yang sebenarnya, saat usianya menginjak 18 tahun. Kala itu ia bertengkar hebat dengan adik laki-lakinya. Karena kesal, istri Takao Shuji mengatakan semuanya pada Yun. Sejak saat itu Yun terus mendesak ayahnya agar mengatakan siapa ibunya yang sebenarnya. Dan Yun memilih pergi meninggalkan semua kemewahan itu, ia ikut Bu Ida kembali ke kota A.
“Kau tahu Mira ... demi kau, ia bertemu ayahnya dan meminta semua haknya, ia ingin menunjukkan padamu ia lebih dari Darwin suamimu.”
“Tapi kenapa kalian membohongiku?” tanya Asmira.
“Maafkan Ibu, Nak ....” Bu Ida memeluk Asmira, dan meyakinkan dirinya bahwa ia dan Yun tak berniat membohonginya.
Asmira teringat dengan percakapan Bu Ida melalui ponsel tadi. Yun mengatakan ingin membunuh Yunita. Asmira terperanjat kala mengingat itu semua. Ia berlari kecil ke kamarnya. Asmira menghubungi Darwin dan mengatakan semuanya.
Setelah menjemput Asmira, keduanya segera menuju rumah Yunita yang lumayan jauh dari apartemen. Asmira gemetar, keringatnya bercucuran, ia tidak bisa membayangkan jika Yun benar-benar serius dengan ucapannya.
“Mas, bisa lebih cepat. Aku takut terjadi sesuatu pada Yunita,” pinta Asmira, matanya mulai berkaca-kaca.
“Sayang, tenang, ya. Yunita akan baik-baik saja,” ucap Darwin. Sebenarnya ia pun takut terjadi sesuatu dengan Yunita.
Tiba di depan rumah Ferry. Suasana sangat sepi. Semua lampu padam. Jam semakin larut. Asmira memeluk lengan Darwin karena ketakutan. Lalu keduanya masuk ke dalam. Darwin menyalakan senter ponselnya.
“Mas, aku hubungi polisi, ya? Tak baik kita berdua di sini ...” pinta Asmira. Darwin menganggukkan kepalanya.
“Yunita! Kau di mana?” teriak Darwin. Pintu depan terbuka lebar. Kedua nekat masuk ke dalam.
“Yu, Yunita!” teriak Darwin lagi. Namun semuanya hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
__ADS_1
“Mas, darah ...” lirih Asmira, tangannya semakin gemetar. Ia genggam erat lengan Darwin. Darah berhamburan di lantai.
“Yun! Keluar kau!!” teriak Darwin lagi.
“Mas Yun. Kenapa kau tega melakukan ini semua!?” teriak Asmira, air mata mulai berlinang di pipinya.
Darwin mencari sakelar lampu, lalu ia menyalakannya. Asmira berteriak histeris saat menemukan Yunita tergeletak di lantai dengan darah berhamburan di sekujur tubuhnya. Tidak lama kemudian terdengar mobil polisi datang. Rumah segera dikepung. Namun Yun tidak ditemukan lagi di sana.
Yunita segera dilarikan ke rumah sakit. Darwin menghubungi Ferry. Namun ternyata, ayah Yunita itu sedang berada di luar kota.
Yunita terluka parah. Kepalanya terbentur benda keras dan 6 tusukan di perutnya. Dokter segera melakukan operasi. Asmira dan Darwin menunggu cemas di depan ruang operasi. Tidak lama kemudian satu-persatu keluarga Yunita mulai berdatangan. Polisi juga sedang mencari keberadaan Yun. Namun semua tempat yang didatangi kosong.
“Mas ... perasaan aku tidak enak. Bagaimana keadaan si kembar dan Vano, ya?”
Tiba-tiba mata Asmira terbuka sempurna. Yun pasti berada di apartemen, ia pasti mendatangi Bu Ida. Darwin segera menghubungi polisi dan menyuruh mereka mengepung apartemen miliknya.
“Sayang, aku pulang jemput Vano dan si kembar. Kau tunggu di sini tunggu dokter keluar,” ujar Darwin pada istrinya. Ia genggam kedua tangan Asmira, mengecup keningnya sebentar lalu bergegas pergi.
“Bagaimana, Pak?” tanya Darwin pada polisi di sana.
“Tidak ada siapa pun di sini, Pak.”
“Tidak mungkin, Pak. Lalu ketiga anak saya di mana?” tanya Darwin panik.
“Anak kecil? Tapi tidak ada siapa pun di sana,” ujar polisi itu sekali lagi.
Namun Darwin tetap masuk. Ia segera menuju lantai 16. Ia terus memanggil anaknya dan mencari di setiap kamar. Namun benar kata polisi, tidak ada seorang pun di sana.
“Vano! Kalian di mana! Sayang, ini Papi!”
__ADS_1
Darwin berlutut di lantai. Air matanya menetes di pipinya. Ia tak menyangka, jika Yun benar-benar menjadikan anaknya sebagai pelampiasan sakit hatinya.
“Bagaimana, Pak?” tanya seorang polisi saat Darwin turun ke bawah. Darwin hanya menggelengkan kepalanya. Ia putus asa karena tidak menemukan putra-putrinya.
“Tenang, Pak. Kita akan menemukan mereka, seluruh bandara dan pelabuhan telah dikepung.”
“Hubungi saya jika ada informasi, Pak,” ujar Darwin pada polisi tersebut. Lalu ia kembali ke rumah sakit.
Operasi berjalan lancar, Yunita telah di pindahkan ke ruang rawatan. Namun ia belum sadarkan diri. Asmira duduk di sampingnya air mata berlinang di pipinya melihat Yunita dalam keadaan seperti itu. Semuanya pasti ada kaitan dengan dirinya.
“Maafkan aku Yunita ...” lirih Asmira.
“Sayang, bagaimana keadaan Yunita?” tanya Darwin. Ia baru saja tiba di sana. Asmira menggelengkan kepalanya. Ia peluk suaminya.
“Mas, ini semua gara-gara aku!” jerit Asmira dalam tangisnya.
“Ssttt! sayang, jangan bicara seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja.” Darwin mengusap kepala Asmira lalu mencium pucuk kepalanya.
Asmira melepaskan pelukannya. “Kau sendiri? Mana Vano dan si kembar? Yun ditemukan?”
Darwin terdiam, ia kembali memeluk Asmira dan menenangkannya. Ia tidak tahu harus berkata. Asmira akan sangat syok jika mengetahui bahwa Yun telah membawa ketika anaknya.
“Jawab aku, Mas!”
“Sayang, tenang dulu, ya. Polisi akan menemukan anak kita secepatnya.” Darwin mengusap kepala Asmira.
Asmira menangis histeris. Ia tak menyangka Yun tega melakukan hal senekat itu pada mereka. Tidak seharusnya ia menjadikan anak-anaknya sebagai gantinya. Asmira menghubungi Bu Ida. Namun tidak tersambung begitu juga dengan Rose. Ke mana mereka sebenarnya, apa yang terjadi.
Yunita mengerjapkan matanya, ia sudah sadar. Yunita merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia merintih kesakitan, lalu ia memegang kepalanya yang terbalut perban.
__ADS_1
Jangan lupa like ya.