
“Maafkan Ibu, Yun ...” lirih Bu Ida di hadapan Yun.
Yun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia buang pandangannya ke samping. Penyesalan selalu datang terlambat. Yunita tidak benar-benar mencabut gugatannya. Kemarin, mereka hanya menyenangkan Bu Ida agar beliau percaya pada mereka lalu mengatakan di mana keberadaan Yun yang sebenarnya.
Bu Ida menggenggam kedua tangan putranya itu. Untuk yang kedua kalinya, ia kembali harus berpisah dengan anaknya. Entah berapa tahun Yun akan mendekam di balik jeruji besi itu, ia tak tahu.
“Tinggallah bersama Mira, Bu.” Yun tersenyum setelah cukup lama ia terdiam hanyut dalam pikirannya yang menerawang hingga ke awan. Sebuah senyuman palsu yang ia pasang di hadapan ibundanya.
Bu Ida menggelengkan kepalanya. Ia menaruh kecewa pada Asmira. Setelah semua kebaikan yang telah Yun perbuat, apa balasannya. Bukankah semua kejahatan itu terjadi karena ia jua?
“Bu, tatap mata Yun ...” pinta Yun pada ibunya.
Dengan air mata yang tak berhenti menetes Bu Ida menatap Yun dengan sayu.
“Bu, hanya Mira yang mampu jaga, Ibu. Percayalah ...” Yun berusaha membujuk ibunya agar tak menaruh kecewa terhadap Asmira.
“Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu harus mengambil keputusan yang mana. Aku akan memohon pada ayah kau agar bersedia membebaskan kau dari tempat ini ~”
“Tidak, Bu. Jangan lakukan itu. Aku tidak seperti anak lelaki yang ia banggakan. Yang ada, ibu hanya menjadi bahan cacian dia saja. Biarkan aku di sini, Bu!” sergah Yun cepat, menyela kata-kata ibunya.
“Tapi, Nak ....”
__ADS_1
“Sudahlah, Bu. Aku di sini akan baik-baik saja. Ini salahku, aku harus menanggung semuanya.”
•••
“Mi ...” panggil Evano. Sejak tadi, ia perhatikan Asmira duduk termenung di depan televisi yang menyala.
“Ya, sayang,” sahut Asmira tersadar dari lamunannya.
“Mami kenapa?” Evano mendekat, lalu ia duduk di sebelah ibunya.
“Tidak, Mami oke. Mana lukisanmu tadi, Mami mau lihat, boleh?”
“Boleh, sebentar Vano ambilkan.” Evano berlari kecil mengambil hasil lukisannya.
“Wow, bagus. Pasti Papi suka lihat lukisan, Vano.” Asmira menciumi pucuk kepala Evano. Dipeluknya putra satu-satunya itu dengan belai kasih sayang.
Belakangan, selama tiga tahun terakhir. Evano kurang mendapatkan kasih sayang. Baik darinya maupun Darwin. Terlalu banyak hal yang sudah terjadi. Hingga Evano harus menanggung itu semua. Sekarang, semuanya telah berakhir. Asmira tidak ingin, anaknya tumbuh besar tanpa cinta dari kedua orang tuanya.
“Sebentar lagi Papi pulang, Mami mau masak. Mami titip Si kembar, ya?”
“Oke, siap, Mami.” Evano berlari kecil menuju kamar si kembar yang bersebelahan dengan kamarnya sendiri.
__ADS_1
•
“Sayang, Bu Ida mana?” tanya Darwin. Mereka baru saja usai makan malam bersama.
Asmira menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu. Disandarkan kepalanya di bahu kekar Darwin.
“Bu Ida pasti kecewa padaku, Mas.” Nafas Asmira terdengar berat.
“Tentu sayang, bagaimana pun, Yun putranya. Tapi, yang bersalah tetap salah.” Darwin mengusap kepala Asmira lalu mengecup keningnya.
Evano sedang bermain dengan si kembar. Kedua adiknya itu sudah mulai merangkak. Evano sangat girang. Ia selalu menanyakan pada Asmira. Kapan kedua adiknya bisa berjalan.
“Vani ... jangan makan, itu bukan makanan, ya? Kemari, Abang simpan.” Evano sangat telaten menjaga kedua adiknya itu. Asmira bisa mengharapkannya seratus persen.
“Mas, lihat Vano. Dia suka panggil dirinya Abang, aku gemas melihat dia seperti itu,” ujar Asmira. Darwin tersenyum, lalu ia bangkit dari duduknya lalu bergabung dengan mereka bertiga.
Asmira bahagia melihat keluarganya kembali berkumpul. Tuhan telah mengujinya dengan berbagai cobaan yang datang silih berganti. Namun, keduanya sanggup menghadapi badai dahsyat yang mencoba meluluh lantakkan bahtera cinta mereka.
Badai telah reda. Mentari kembali bersinar, pelangi pun ikut serta
Senyuman kembali merekah. Seribu harapan telah menanti bersama mimpi-mimpi yang akan terwujud bersama cinta dan kasih berpadu dalam bahtera rumah tangga bahagia.
__ADS_1
•••••
Tamat belum, nih???