Eternal Promise

Eternal Promise
Part 53


__ADS_3

Malam harinya Asmira duduk termenung seorang diri di teras rumah kayu yang beratapkan rumput ilalang itu. Pandangannya lurus ke depan, ia mengenang kembali masa-masa ia bulan madu ke pulau Venice bersama suaminya. Betapa bahagianya mereka, hingga indahnya malam pertama mereka ketika mahkota sucinya ia berikan dengan rela untuk suaminya tercinta. Semuanya kembali segar di ingatannya. Angin berembus kencang menerpa wajah cantiknya tak ia hiraukan, ia peluk kedua lengannya.


Yun keluar dari dalam, ia baru saja membacakan dongeng untuk Evano. Saat putra Asmira itu terlelap, baru ia keluar. Yun keluar dengan membawa selimut di tangannya, lalu ia letakkan selimut yang terbuat dari bahan bulu yang sangat lembut itu ke tubuh Asmira, hingga membuat wanita cantik itu terkejut.


“Maaf merepotkanmu, Mas. Dasar Evano,” ucap Asmira merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa, ia sudah tertidur,” sahut Yun.


Lalu keduanya sama-sama terdiam, hanya gelombang riak yang terdengar bersahut-sahutan. Cuaca semakin dingin, angin berembus sepoi-sepoi. Asmira merebahkan kepalanya di pundak Yun, membuat jantung pria itu berdegup kencang, ia diamkan saja, niat hatinya ingin ia membelai lembut kepala Asmira serta mengecup keningnya. Namun itu hanya suara hati yang tak akan kesampaian.


“Menangislah,” ucap Yun kemudian.


Tanpa di suruh pun air mata lolos begitu saja di pipi Asmira, ia tidak bisa menahan perih hatinya kala tentang suaminya kembali mencuat di ingatannya. Semua kenangan mereka, masa-masa yang telah mereka lalui, seakan tak akan ia bisa lupakan begitu saja. Asmira membelai lembut perut hamilnya yang sudah memasuki 5 bulan itu.


“Tidak mudah kau melupakan ayah dari anak-anakmu, Asmira,” gumam Yun dalam hati.


Dari awal, Yun sudah tak berani berharap apa pun, ia tahu betul tipikal wanita seperti Asmira. Wanita itu tidak akan mudah berpaling begitu saja dari masa lalunya. Hanya saja sekarang ia sedang menenangkan hatinya yang gelisah, mungkin saja jika ia bertemu ayah dari anaknya nanti, dengan mudah ia akan luluh begitu saja. Batin Yun.


“Santi apa kabar, Mas?” tanya Asmira kemudian, ia seka air mata dengan punggung tangannya.


“Hah!?” tanya Yun kaget mendengar pertanyaan Asmira.


“Santi baik-baik saja, kan? Aku rindu adik kakak itu?” tanya Asmira lagi, ia tersenyum di sela tangisannya.

__ADS_1


“Ya mereka baik, sangat baik,” sahut Yun asal-asalan. Yun berbohong, padahal ia sama sekali tidak berhubungan lagi dengan Santi, setelah kejadian malam di mana ia dinner dengan perempuan yang dijodohkan Asmira itu, keduanya tidak pernah lagi berkomunikasi. Malam itu, jika Yun tidak menguasai ilmu bela diri, mungkin saja ia akan babak belur dipukuli orang suruhan pria yang mencintai Santi. Setelah kejadian itu, Yun menjauh dari adik Nindy itu.


“Oh ...” sahut Asmira. Ada rasa kecewa di wajahnya kala ia menjawab satu kata dengan membulatkan mulutnya itu.


“Kau harus setia pada pasanganmu, Mas,” ucapnya Asmira lagi.


“Tentu! Tentu aku akan setia!” jawab Yun tegas.


Asmira tersenyum kecut, lagi-lagi ada rasa kecewa di hatinya kala mendengar jawaban pria di sebelahnya itu. Berbeda dengan Yun, pria itu sedang meyakinkan dirinya, bahwa ia akan setia menunggu Asmira, ia mulai jatuh hati pada wanita itu. Yun berjanji apa pun yang terjadi, ia akan menunggu cinta Asmira untuknya, walau ia tak yakin itu akan terjadi.


“Aku kantuk, Mas!” ucap Asmira, ia bangkit dari duduknya. Yun menarik tangannya.


“Apa pun yang terjadi ingatlah, kau tidak sendirian, aku selalu ada untukmu, katakan apa yang kau inginkan pasti akan kulakukan,” ucap Yun.


Asmira tersenyum kecut. “Tidak usah repot-repot, Mas.” Asmira menepis tangan Yun, lalu ia melangkah masuk ke dalam.


“Kau mau mie rebus?” tanya Yun mencoba membujuknya. Asmira menggeleng kepalanya tanpa menoleh, Yun menarik tangan Asmira ketika ia hendak masuk ke kamarnya.


“Ada yang salah dari ucapanku? Apa aku melukai perasaanmu?” tanya Yun, ia menatap kedua manik mata Asmira. Lalu ia buang kembali pandangannya, ia tak sanggup melihat wanita itu, hatinya berdebar-debar, jantungnya berdegup kencang.


“Tidak, aku hanya lelah ingin istirahat,” sahut Asmira. Lalu ia tutup tirai kamar satu-satunya di ruangan itu. Asmira tidur di samping Evano, tinggallah Yun seorang diri yang di ruang tengah yang masih bingung dengan perubahan Asmira yang tiba-tiba jadi cuek padanya.


•••

__ADS_1


Beberapa jam yang lalu.


Darwin tiba di pantai pasir putih, ia hela nafasnya dengan berat. Ingatannya kembali ke masa 7 tahun silam saat ia berbulan madu ke Eropa bersama istrinya. Semuanya tak akan biarkan jadi kenangan begitu saja, ia belum siap jika benar-benar harus kehilangan istri dan anaknya, ia pasti akan menyesal sampai mati.


Darwin melangkahkan kakinya mencari tempat penginapannya, kunci kamar ia genggam di tangannya. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada seorang wanita yang sedang mengayunkan kakinya di riak gelombang. Wanita itu sangat mirip dengan Asmira jika dilihat dari belakang.


“Ah, mana mungkin, kalau begini terus aku bisa gila,” gumam Darwin, ia lanjutkan kakinya menuju kamarnya.


Malam tiba, Darwin duduk seorang diri di teras yang menghadap langsung ke laut lepas itu. Entah apa yang membuat ia begitu yakin melangkahkan kakinya ke pulau itu, ia merasa jiwanya terpanggil. Setelah makan malam dan menyelesaikan laporan kerja yang di email Pratiwi, ia memutuskan untuk tidur, besok ia akan mencari pria yang bernama Yuji, harapannya, semoga ia bertemu dengan pria yang ia gadang-gadang bisa membuat perusahaannya kembali naik.



Keesokan harinya, Darwin terbangun dari tidurnya menjelang siang, semalaman ia tidak bisa tidur, matanya tidak bisa terpejam, pikirannya terbang ke mana-mana, hatinya gelisah. Menjelang subuh baru ia terlelap.


Mentari bersinar cerah siang itu, Darwin berjalan di bibir pantai, sekali-kali riak menyapu kakinya yang tak beralaskan sandal. Darwin kembali melihat wanita yang mirip dengan Asmira, ia mengusap wajah dengan kedua tangannya.


“Ya Tuhan ...” gumam Darwin stres.


Tiba-tiba Darwin melihat Evano keluar bersama Yun. Dari pagi tadi Evano merengek minta diajari berenang oleh Yun, namun Asmira terus melarangnya, walau lengkap dengan pengaman, tetap saja ia tidak membiarkan putranya itu belajar berenang di laut bebas.


Darwin terpaku, ia seakan tak percaya dengan pemandangan di hadapannya itu. Langkahnya terhenti, lidahnya kelu, hanya nafas dan jantungnya yang berdegup kencang. Perlahan air mata berlinang di pipinya, lalu ia tersenyum. Darwin bersedih sekaligus gembira ia lihat istri dan putranya tepat di depan matanya kini.


“Asmira ....” Suara Darwin akhirnya terdengar, ia masih mematung di sana tanpa mendekat.

__ADS_1


Asmira menoleh mendengar namanya disebut. Tiba-tiba matanya terbelalak, ia mundur ke belakang beberapa langkah, ia tutup mulut dengan tangannya, air mata berlinang di pipinya, ia tak percaya melihat Darwin di depannya kini.


Jangan lupa like ya...


__ADS_2