
Seminggu telah berlalu, kini Asmira telah bisa mengantar jemput Evano sendiri tanpa harus naik turun taksi lagi.
“Mami hati-hati, ya?” ujar Evano ketika mobil yang dikendarai Asmira keluar dari kompleks perumahan elitenya.
“Iya, tenang. Mami sudah mahir,” sahut Asmira mengerlingkan matanya pada Vano.
Meski awalnya Darwin gelisah membiarkan istri dan anaknya begitu saja dengan kondisi Asmira yang baru belajar, namun lambat-laun rasa gelisah itu hilang karena semakin hari Asmira semakin paham bagaimana cara menyetir dengan baik dan benar.
“Sayang, hati-hati. Aku enggak bisa jagai kalian berdua,” ucap Darwin.
Kehidupan Asmira semakin hari semakin sibuk dengan urusan rumah tangganya, pagi hari ia harus menyiapkan sarapan, kemudian membangunkan Evano dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya setelah itu ia akan mengantar Vano sekolah nanti jam 10:30 ia akan menjemputnya.
Tubuhnya semakin melemah, rasa pusing yang ia derita semakin hari semakin sering. Asmira ingin menceritakan pada Darwin, namun seminggu belakangan kesibukan Darwin bertambah dua kali lipat semenjak ia bekerja sama dengan Yunita.
proyek yang mereka garap bersama berjalan cukup baik. Dengan itu pula, waktu Darwin untuk Asmira dan Evano sedikit terbagi. Di mana biasanya ia pulang jam 17:00 sekarang ia pulang rata-rata di jam 10:00 malam.
“Aku harus ke dokter,” gumam Asmira ketika pusingnya tak tertahankan lagi.
Asmira punya waktu dua jam sebelum ia menjemput Evano pulang sekolah. Ia melaju dengan mobilnya menuju klinik terdekat, rasa pusingnya semakin menjadi ia takut terjadi sesuatu di jalan.
“Silakan masuk,” sapa perawat.
Asmira mengisi formulir pendaftaran, ia harus mengantre karena dokter sedang melayani dua pasien lainnya. Asmira terus memijat kepalanya yang terasa hampir pecah itu.
Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya nama Asmira di panggil juga. Ia segera masuk ke ruang dokter yang bernama Razia itu.
“Baik, apa yang Anda rasakan, Bu?” tanya Dokter Razia.
“Saya pusing, Dok,” sahut Asmira.
Dokter Razia menyuruh Asmira berbaring, kemudian ia memeriksa kondisinya dengan keluhan yang ia sebutkan satu persatu.
“Anda jangan terlalu kelelahan, banyak melakukan aktivitas bisa menyebabkan keguguran,” ujar dokter Razia.
“Apa, dok?” tanya Asmira kaget.
“Usahakan kurangi aktivitas, jangan terlalu lelah jaga baik-baik janin yang Anda kandung.”
“Saya hamil, dok?” tanya Asmira, ia sangat gembira mengetahui ia hamil lagi.
__ADS_1
“Benar, apa Anda tidak tahu bahwa sedang hamil?” tanya dokter Razia menyipitkan matanya.
Asmira menggelengkan kepalanya berkali-kali, dokter Razia tersenyum bagaimana bisa Asmira tidak mengetahui ada perubahan yang signifikan di tubuhnya.
Dulu saat ia mengandung Evano juga demikian, ia tidak mengetahui jika ia sedang hamil muda.
“Usia kehamilan Anda sudah menginjak 6 Minggu,” ujar dokter Razia.
“Tapi Dok, bulan lalu saya mengalami menstruasi,” ujar Asmira kemudian.
“Itu hal biasa, darah tersebut bukan darah mens, cuma efek dari kandungan yang sudah menempel di dinding rahim,” jelas dokter Razia.
Setelah keluar dari klinik Asmira segera menjemput Vano sekolah, ia pasti sudah menunggunya. Rasa pusing Asmira berangsur-angsur pulih ia tidak sabar ingin segera memberitahu suami dan anaknya berita bahagia itu.
Malam harinya.
Asmira baru saja selesai meninabobokan Evano. Setelah Evano terlelap ia memilih menonton televisi sembari menunggu Darwin pulang. Seperti biasa suaminya pulang sekitar jam 10:00 malam. Namun baru saja beberapa menit Asmira menghempaskan tubuhnya di sofa, ia langsung terlelap dalam tidurnya.
Darwin tiba di rumah Seperti biasanya, ia kaget mendapati istrinya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
“Sayang, kenapa tidur di sini?” gumam Darwin sembari menggendong tubuh istrinya itu.
Pagi hari.
Asmira sangat bersemangat, ia menyiapkan sarapan dengan riang, sekali-kali terdengar ia bersenandung kecil.
Rasa pusing yang biasa ia keluhkan pun tak ada. Ia terlihat fresh dan rileks sekali. Namun ketika Asmira sedang asyik-asyiknya menyiapkan sarapan Darwin turun lengkap dengan pakaian kantornya.
“Pagi sayang.” Darwin mengecup kedua pipi Asmira sebentar.
“Mas, kenapa enggak panggil aku?” tanya Asmira, ia merapikan dasi Darwin.
“Enggak apa-apa,” sahut Darwin tersenyum.
“Ya sudah, mari sarapan dulu,” ajak Asmira.
“Sayang, aku harus segera berangkat, jam 08:00 ada pertemuan dengan kepala proyek,” ujar Darwin seketika membuat wajah Asmira berubah.
Asmira harus mengurungkan niatnya untuk mengatakan ia sedang mengandung anak kedua mereka. Sarapan saja Darwin tidak sempat apalagi untuk mendengar ceritanya. Asmira sedikit bersedih dengan sikap Darwin pagi ini.
__ADS_1
Ia mengantarkan suaminya ke teras, Asmira melambaikan tangan ketika mobil Darwin keluar dari pekarangan rumahnya.
“Aku enggak boleh berpikir macam-macam, ini juga kan demi aku, Vano, dan buah hati yang di janinku ini,” ujar Asmira menenangkan diri sendiri ia mengelus-elus perutnya sembari tersenyum.
Siang hari setelah makan siang bersama Evano, Asmira duduk berdua dengan putranya itu di halaman dekat kolam renang. Ia mulai berbincang-bincang dengan sang anak seputar masalah sekolahnya, tentang teman-temannya hingga Asmira berniat untuk melihat bagaimana respons Evano jika ia tahu dirinya hamil.
“Sayang, kamu mau enggak kalau punya Adik lagi?” tanya Asmira.
Evano mengangguk berkali-kali, ia menghampiri Maminya lalu duduk di pangkuannya.
“Mau Mi, aku suka adik perempuan yang cantik seperti Elia,” sahut Vano dengan tingkah lucunya.
Sepintar apa pun Evano, dia tetaplah anak kecil yang tidak menutupi apa yang bersarang di pikirannya.
“Aku kesepian di rumah, kalau ada Elia aku suka banget, apalagi adik sendiri, di rumah enggak ke mana-mana.”
Tanpa terasa, mendengar semua isi hati Evano, air mata Asmira meleleh di pipinya begitu saja, ia buru-buru menyeka sebelum Vano melihatnya.
“Sayang, kan ada Mami di sini,” ujar Asmira.
“Ya, setiap hari cuma kita berdua, aku udah seminggu enggak liat Papi.”
Asmira tidak mampu membendung tangisnya, ia peluk putra kesayangannya itu, ia kecup pucuk kepalanya berkali-kali.
“Mami jangan menangis dong. Evano janji enggak akan mengeluh lagi.”
Tangan kecil itu menyapu air mata yang berlinang di pipi sang Ibunda. Ia kecup kedua pipi Asmira sembari ia menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Evano seminggu ini tidak bertatap muka dengan Darwin. Pasalnya, setiap ia berangkat Vano belum bangun pagi dan sepulangnya Evano sudah terlelap.
Asmira mendengus dingin dan ia tersenyum untuk menyudahi rasa bersedih di hatinya.
“Sayang, di perut Mami ada Dedek bayi,” ujar Asmira kemudian.
“Benarkah Mami?” tanya Evano. Ia sangat gembira ia menjingkrak-jingkrak saking senangnya mendengar berita ia akan punya adik lagi.
Jangan lupa like..
Happy reading 😘
__ADS_1