Eternal Promise

Eternal Promise
Part 47


__ADS_3

Darwin kecewa karena ia gagal bertemu dengan istri dan anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 14:30, tapi mereka masih berada di sebuah desa cukup terpencil. Darwin mengajak Yunita kembali ke kota agar tidak kemalaman dalam perjalanan.


“Win, kau istirahat dulu. Kau pasti lelah,” ujar Yunita.


“Aku tidak apa-apa, ayolah kita berangkat.”


“Tunggu sebentar, Win. Aku mau buang air kecil dulu, kau tunggu di sini, ya,” pinta Yunita, ia segera turun untuk menumpang buang air kecil di salah satu rumah warga di sana.


Sembari menunggu Yunita, Darwin menyalakan musik biar ia tidak ketiduran, sejak tadi ia tidak berhenti menguap. Namun tiba-tiba ponsel Yunita berdering. Awalnya Darwin tidak melirik sama sekali, ia hanya mendengar, lalu ia meneruskan senandungnya dalam hati. Tapi ponsel itu terus saja berdering, Darwin meraih ponsel tersebut.


“Nomor tidak dikenal, siapa ini?” Darwin bertanya-tanya. Lalu ia usap layar tersebut untuk mengangkatnya.


“Halo, kalian masih di desaku!” tanya seorang pria di balik telepon dengan nada yang tidak bersahabat. Darwin tidak menjawab, ia hanya mendengar.


“Katakan pada pria yang bersamamu, aku minta uang yang banyak untuk informasi penting ini!” ujar pria itu lagi.


Darwin masih tidak menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Pratiwi menghubunginya, namun ia matikan, ia masih serius mendengarkan suara pria di balik ponsel Yunita.


“Kalau Anda keberatan ya sudah. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu,” ucap pria itu.


“Tunggu,” pinta Darwin, ia tidak ingin pria itu mematikan panggilan tersebut sebelah pihak.


“Berapa yang kau butuh kan?” tanya Darwin mulai terpancing.


“10 M!”


“Apa!? Kau sudah gila, untuk sebuah informasi yang aku saja tidak yakin kau benar-benar melihat istriku kau meminta uang sebanyak itu?”


“Kalau kau tidak mau ya sudah. Hanya informasi untukmu, aku melihat seorang wanita hamil dengan anak kecil dan seorang pria tampan bersamanya,” ujar pria itu lagi.


Seketika wajah Darwin berubah, ia langsung terbakar api cemburu mendengar ucapan pria itu. Ia bertanya-tanya pada dirinya, siapa pria yang bersama istri dan anaknya. Ponselnya lagi-lagi berdering, Pratiwi menghubunginya berulang kali. Karena kesal dengan ucapan pria itu, ia matikan panggilan itu sebelah pihak.

__ADS_1


“Arghhh!” teriak Darwin, ia mengepalkan tangannya. Ia bersumpah, akan membuat perhitungan dengan siapa pun itu, yang berani macam-macam dengan istrinya.


Sementara di tempat lain, Pratiwi mondar-mandir di ruangannya. Ia sangat khawatir dengan bosnya, pasalnya setengah jam lagi ada pertemuan dengan klien penting, Tapi Darwin sejak pagi belum masuk kantor.


Karena terlalu khawatir, Pratiwi menghubungi seseorang untuk melacak posisi Darwin. Pratiwi takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu. Sesaat kemudian ia mendapatkan kabar bahwa Darwin sedang berada di Utara kota A. Pratiwi sangat terkejut mendengarnya, ia bertanya-tanya untuk apa Darwin pergi sejauh itu. Pikiran Pratiwi semakin tidak tenang, ia menghubungi Jessica.


Setelah panggilan dengan Jessica terputus, Pratiwi lagi-lagi menghubungi Darwin tapi tetap saja Darwin tidak menjawabnya. “Aku mohon, pak. Tolong di angkat sebentar saja,” gumam Pratiwi gelisah. Namun harapannya tidak kesampaian, Darwin tetap saja tidak menjawab.


“Aldi, coba kau lacak nomor yang saya kirimkan lewat WhatsApp barusan,” perintah Pratiwi lagi pada salah satu rekannya yang bekerja di bidang tersebut. Ia menyuruh Aldi melacak nomor Yunita, ia yakin wanita itu sedang mengelabuhi bosnya lagi. Dan benar saja, keduanya berada di Utara kota A.


Pratiwi tidak putus asa, ia terus menghubungi Darwin. Dan untuk yang ke sekian kalinya Darwin tetap saja tidak menjawab. “Ya Tuhan, ini yang terakhir, aku mohon tolong angkat pak Darwin.” Pratiwi kembali menghubungi Darwin.


“Halo, Tiwi.”


“Ya Tuhan, Pak. Akhirnya ... Anda ngapain jauh-jauh ke sana, Pak?” tanya Pratiwi tanpa basa-basi.


“Aku mendapat informasi ada orang yang melihat Asmira di daerah ini Tiwi,” sahut Darwin.


“Jangan percaya, Pak. Ibu Asmira tidak di sana, saya mengetahui di mana keberadaan beliau,” ucap Pratiwi kemudian. Dari awal ia tidak berniat memberitahu Darwin, jujur sebagai seorang wanita ia tahu bagaimana sakit yang Asmira rasa. Apalagi ia sedang mengandung, pasti ibu Evano itu sangat kecewa. Tapi untuk kali ini dengan terpaksa Pratiwi memberitahukan Darwin.


“Kau serius?” tanya Darwin tersenyum bahagia.


“Anda jangan percaya pada Yunita, Pak. Wanita itu pasti merencanakan sesuatu,” ucap Pratiwi mengingatkan.


Kali ini Darwin tidak membantahnya. Tiba-tiba ponsel Yunita kembali berdering, pria yang meminta uang itu kembali menghubungi. Sementara Pratiwi masih terus mengingatkan Darwin tanpa bosan, namun Darwin tidak menjawab, ia sedang memutar otaknya sembari terus menyimak perkataan Pratiwi.


“Jangan kau matikan, tunggu sebentar,” pinta Darwin. Ia turun dari mobilnya, Darwin ingin melihat ke mana Yunita pergi, sudah hampir 15 menit, wanita itu belum kembali juga.


“Bu, apa Anda lihat seorang wanita berpenampilan cantik kemari?” tanya Darwin pada salah seorang warga kampung itu. Ia sudah berjalan lumayan jauh dari mobilnya.


“Kalau tidak salah, perempuan cantik itu menuju ke sana, Nak.”

__ADS_1


Darwin segera mengikuti arahan wanita itu, ia mencari keberadaan Yunita. Dari kejauhan ia melihat Yunita sedang bersama tiga orang laki-laki yang bertubuh besar. Darwin mendekat perlahan, ia tidak mau Yunita mengetahuinya. Ponsel Yunita yang berada di genggaman Darwin terus bergetar. Namun Darwin tidak peduli.


“Tidak di angkat, bagaimana ini, Bu?” tanya salah seorang pria pada Yunita.


“Coba lagi, aku gak mau rencana kita gagal,” ucap Yunita.


Deg.


Jantung Darwin berdegup kencang. Ternyata itu semua akal-akalan Yunita untuk mengelabuhinya. Darwin kecewa mengetahui hal itu, ia bergegas kembali ke mobilnya sebelum Yunita tahu Darwin sedang memergokinya. Sesaat kemudian, Yunita kembali ke mobil. Ia tersenyum ramah pada Darwin.


“Apa aku terlalu lama?” tanya Yunita.


“Tidak,” sahut Darwin santai.


“Apa ponselku berdering?” tanya Yunita.


“Sepertinya nomormu sudah tidak aman lagi. Maaf tadi aku angkat karena berisik, ada yang meminta uang 10 M. Aku rasa kau sedang di tipu,” ucap Darwin santai.


Yunita gelagapan. Ia tersenyum kecut. “Benarkah seperti itu?”


“Ya, aku rasa begitu. Sinyalnya kurang jelas, aku tidak begitu tahu apa yang mereka katakan.”


Darwin mulai menyalakan mesin mobilnya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Dalam perjalanan, Yunita tak banyak bicara. Ia takut kecurangannya telah di ketahui Darwin, ia tampak gelisah tak tenang.


“Kau sakit?” tanya Darwin.


“Hah? Tidak, aku baik-baik saja,” sahut Yunita gelagapan.


Darwin mengelus pipi Yunita, ia belai dengan lembut, ia sengaja melakukan itu semua agar Yunita tak curiga bahwa ia telah mengetahui kebohongannya.


Jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2