
Pagi-pagi pasutri telah siap dengan rapi dan wangi, hari ini keduanya akan memeriksakan kandungan Asmira. Kemarin dokter Razia mengatakan jika hari ini sudah bisa dilakukan USG.
Kehamilan Asmira sudah memasuki usia 9 Minggu, seharusnya dokter Razia menyarankan Minggu lalu, namun Darwin begitu sibuk akhir-akhir ini, ia tak sempat menemani sang istri.
“Bu, saya berangkat dulu,” ujar Asmira tersenyum ketika ia menuruni tangga yang dipapah oleh suaminya.
“Baik, Nya. Hati-hati ....”
Darwin terus menatap Asmira, istrinya tampil cantik hari ini, dengan balutan busana berwarna biru muda tidak lupa sedikit polesan makeup tipis di wajahnya, serta blazer hitam, semakin menambahkan keanggunannya di awal kehamilannya itu.
“Mas, ngapain sih lirik-lirik, begitu?” tanya Asmira salah tingkah.
“Kamu cantik.” Darwin mencubit hidung mungil Asmira.
Hubungan pernikahan mereka sudah 7 tahun lamanya, namun Asmira masih saja tersipu malu ketika Darwin menggodanya.
Asmira menggenggam tangan kiri Darwin, ia letakkan di perutnya. “Papimu lagi merayu Mami, nih.” Darwin tersenyum, ia belai dengan lembut perut Asmira.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di klinik dokter Razia. Mereka segera masuk, berhubung hari ini bukan hari khusus untuk periksa kandungan, jadi tidak ada antrean yang perlu mereka lewatkan seperti kemarin.
“Selamat pagi, Dok,” sapa Asmira.
Dokter Razia tersenyum manis ia mempersilahkan keduanya masuk, sebelum memeriksakan kandungan ia berbincang-bincang hangat dengan Asmira, itu yang selalu Dokter Razia lakukan dengan pasiennya. Kliniknya merupakan salah satu klinik terkenal dengan kualitas terbaik dan keramahan ia dan semua karyawannya.
“Baik, sekarang kita mulai, ya?”
Dokternya Razia menyuruh Asmira berbaring di ranjang yang tersedia di ruang tersebut. Kemudian ia mulai meletakkan alat untuk USG kehamilan Asmira.
Darwin menggenggam erat tangan istrinya, ia tak sabar untuk melihat janin dalam kandungan Asmira.
Dokter Razia menunjukkan layar monitor yang menampilkan janin Asmira yang ke 9 Minggu, tanpa terasa air mata Asmira membasahi pipinya, ia sangat bahagia melihat janinnya yang mulai tumbuh dan berkembang.
“Sayang, lihat calon anak kita,” ujar Asmira di sela tangis bahagianya itu.
“Iya, sayang,” sahut Darwin, ia menyeka air mata di pipi istrinya.
“Itulah mengapa saya menyarankan setiap awal kehamilan sebaiknya kita USG, yaitu untuk menyingkirkan kemungkinan akan terjadi hamil ektopik,” ujar dokter Razia.
“Ya, Dok. Syukurlah istri saya benar-benar hamil,” ujar Darwin tersenyum.
“Ya, Pak Darwin. Saya turut senang, selamat sekali lagi untuk Anda berdua.”
Setelah pemeriksaan selesai, kemudian Dokter Razia memberikan suplemen vitamin untuk menghilangkan rasa mual dan menambahkan nafsu makan, ia juga menyarankan agar Asmira mengonsumsi susu hamil.
__ADS_1
“Terima kasih, Dok. Kami permisi dulu.”
Dalam perjalanan pulang, ponsel Asmira berdering, Nindy menghubunginya. Asmira segera mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
“Halo, Nindy.”
“Hai Mir, nanti malam aku ke rumahmu, ya?” sapa Nindy di balik telepon.
“Wah, boleh banget, kutunggu, ya.”
“Ya, mau request makanan apa nih, Santi lagi hobi masak tuh katanya,” ujar Nindy tertawa kecil, terdengar suara Santi di kejauhan berteriak, “Ya, ngidam apa, nih?”
Asmira menatap Darwin dengan tatapan tajam, kemudian ia menyipitkan matanya. “Pasti Mas kan yang beritahu mas Kelvin?” tanya Asmira berbisik, Darwin tersenyum ia mengangkat dua jarinya.
“Boleh deh, aku mau capcay buatan Santi, aku rindu masakannya,” sahut Asmira. Setelah mengiyakan permintaan Asmira, Nindy pun mengakhiri panggilan itu.
Malam harinya di rumah Asmira, sebelum waktu makan malam tiba, rombongan Kelvin datang. Asmira segera keluar menyambut tamunya itu.
“Mas!” panggil Asmira sedikit berteriak.
Darwin segera turun, ia baru selesai mandi, setelah tadi sore ia cukup lelah bermain dengan Evano di taman kompleks.
“Hai Kak Vano,” sapa Kelvin begitu masuk, ia menggendong Adel.
Santi segera membantu Bu Ida menghidangkan makan malam, Setelah semuanya selesai, mereka siap menyantap hidangan tersebut.
“Mas, panggil pak Yun kemari,” pinta Asmira pada suaminya yang sedang asyik menggendong Adelia.
Sesaat kemudian Darwin masuk di ikuti Pak Yun di belakangnya. Mereka semua melangsungkan makan malam itu dengan khidmat.
Asmira melirik Pak Yun, kemudian ia melirik Santi. Rencananya kemarin akan ia lancarkan malam ini, ia berbisik pelan di telinga Nindy. Sang kakak mengangguk sambil tersenyum manis.
Setelah makan malam selesai, Asmira segera menghampiri pak Yun yang bergegas keluar setelah acara malam itu selesai.
“Buru-buru sekali, Pak. Mari duduk dulu, kita ngobrol sebentar,” pinta Asmira menepuk sofa di teras rumahnya.
“Ada apa, Nya?” tanya Pak Yun canggung.
“Masih ingat dengan pembicaraan kita kemarin?”
“Yang mana, maaf saya lupa Nyonya,” sahut Pak Yun.
“Itu loh Pak, yang saya mau kenali dengan adik teman saya.”
__ADS_1
Pak Yun tersenyum setelah kata di bibir Asmira terucap. Ia mengangguk tanda bahwa ia mengingat kejadian hari itu.
“Jadi gimana?” tanya Asmira.
“Terserah Nyonya saja, saya siap-siap saja,” sahut pak Yun malu-malu.
“Mari ikut saya, saya kenalkan dengan Santi.”
Asmira mengajak pak Yun masuk. Ia sudah merencanakan bersama Nindy, sementara Nindy sudah berbicara empat mata dengan Santi, membujuknya untuk mau menerima perjodohan itu, bila nanti setelah mereka saling kenal namun tidak ada kecocokan di antara keduanya, itu kembali ke pribadi mereka masing-masing.
“Santi, saya tinggal dulu, ya?”
Asmira dan Nindy bergegas pergi meninggalkan dua insan itu untuk saling berkenalan satu sama lainnya.
“Mari, silakah duduk,” ujar Santi.
“Ya ...” sahut pak Yun datar karena malu-malu.
“Mau saya buatkan minum?” tawar Santi. Namun Pak Yun menolak dengan alasan baru selesai makan.
“Perkenalkan saya Yun,” ujar Yun kemudian setelah cukup lama keduanya saling diam, hanya sesekali pandangan keduanya beradu.
“Saya, Santi.”
Sementara Asmira dan Nindy melihat dari kejauhan dengan senyum yang tak luntur dari bibir keduanya.
“Semoga mereka saling suka ya, Nin.”
“Aku berharap juga begitu,” sahut Nindy.
“Saya jadi malu sama Pak Yun,” ujar Santi kemudian.
“Malu kenapa, panggil Yun saja, saya tidak setua itu,” sahut Pak Yun mencoba mencairkan suasana.
“Pasti mbak Asmira yang memaksa Mas Yun untuk kenalan dengan saya, kan?”
“Oh, karena itu. Tidak, saya sama sekali tidak merasa terpaksa, santai saja,” jawab Pak Yun.
Santi tersenyum lega mendengar jawaban Pak Yun, keduanya saling melempar canda, sesekali terdengar tawa dari keduanya. Pak Yun menyukai keterbukaan Santi, ia wanita ramah dan periang.
“Boleh saya pinta nomormu?” tanya Pak Yun mulai berani.
Lalu keduanya saling bertukar nomor. Senyum tak henti-hentinya menghiasi bibir Pak Yun, ia tak pernah dekat dengan wanita selama ini, sifat pemalu yang ia miliki membuat ia susah mendekati wanita.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...