Eternal Promise

Eternal Promise
Part 36


__ADS_3

Darwin mengikuti Yunita kembali ke sekolah. Ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya mengenai permintaan wanita itu. Dengan langkah ragu, ia mendekati Yunita yang duduk di bangku taman sekolah.


“Ayu ...” panggil Darwin.


“Mmm,” sahut Yunita mendongakkan kepalanya, karena ia asyik menatap ponselnya.


“Mengenai permintaan kau tadi ....”


Belum selesai Darwin mengungkapkan isi hatinya, Yunita menyela perkataan Darwin. “Sudah ku duga kau tidak akan mengiyakannya,” ujar Yunita tersenyum.


“Bukan seperti itu, tapi aku belum siap, aku takut membuat istriku terluka,” sanggah Darwin.


Yunita tertawa terbahak-bahak, ia menutup mulut dengan tangannya. Terlihat gigi putihnya berjejer rapi, ia sangat manis. Darwin menelan ludah melihat Yunita tertawa seperti itu, wanita itu sangat cantik jika sedang tertawa.


“Kau terlalu berpikir jauh, Win. Aku bukan wanita murahan yang ingin kau tiduri. Aku hanya ingin berlibur denganmu ke suatu tempat, berdua denganmu dalam satu atap rumah. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jika kita bersama dalam satu rumah,” jelas Yunita panjang lebar, ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya, ia menggeleng kepalanya berkali-kali.


“Win, Win ...” lirihnya pelan.


Pipi Darwin merah seperti tomat, ia sangat malu dengan pikiran kotornya itu. Ia menggaruk tengkuknya sembari tersenyum malu-malu. “Kau ingin berlibur ke mana?” tanya ia kemudian.


“Kau serius mau mengikuti kemauan ku?” tanya Yunita tersenyum semringah. Darwin menganggukkan kepalanya.


“Aku ingin berlibur ke pulau B, aku suka pantai dan indahnya ombak. Terlebih, aku ingin menikmati senja bersamamu, melihat matahari terbenam denganmu,” ucap Yunita menatap wajah Darwin tanpa berkedip, ia raih tangan suami Asmira itu, ia letakkan di dadanya.


“Jantung kau berdegup kencang?” tanya Darwin. Yunita menganggukkan kepalanya, lalu ia membuang pandangannya ke depan.


Darwin terdiam, ia merasa serba salah. Satu sisi ia merasa kasihan dengan wanita di sebelahnya kini. Di sisi lain, ia sangat mencintai istrinya.


“Aku berjanji, setelah berlibur nanti. Aku tidak akan lagi menemui mu. Aku akan melupakanmu sebisa ku. Aku sudah terlalu banyak merepotkan mu.”


Darwin tersenyum, semoga saja kau bisa melakukan itu Yunita. Harap Darwin.



Malamnya, setelah makan bersama di sebuah restoran seafood. Darwin mengantar Yunita pulang. Jam menunjukkan pukul 19:30 Mereka tiba di rumah Ferry.


“Kau tidak masuk dulu, Win?” tawar Yunita.

__ADS_1


“Aku tidak enak dengan Pak Ferry, Yu.”


“Ya sudah, kau hati-hati di jalan, ya,” ucap Yunita, kemudian ia mengecup pipi Darwin sebentar sebelum turun dari mobil.


Darwin membuka kaca mobilnya, ia memanggil Yunita yang sudah berlari kecil menuju pintu gerbang rumahnya.


“Ayu!”


Yunita menghentikan langkahnya. Darwin turun dari mobilnya, ia mendekati wanita itu. “Aku atur jadwal dulu, kalau sudah, aku akan menghubungimu. Tolong jangan kau hubungi aku dulu,” pinta Darwin.


Yunita tersenyum, ia mengerti akan maksud Darwin. Ia juga tak ingin menjadi duri dalam rumah tangga mereka. Ia menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan pria yang ia cintai itu.


Setelah mengutarakan maksudnya, Darwin berbalik arah namun Yunita meraih tangannya seraya berkata, “Jangan terlalu lama, aku takut tidak bisa menahan rinduku.”


Darwin terdiam, ia berjalan menuju mobilnya. Wanita itu sangat berani dalam mengungkapkan semua isi hatinya, persis seperti Asmira. Kesamaan itu yang membuat Darwin sedikit bimbang. Yunita juga spontan dalam berkata-kata, sama seperti Asmira. Beberapa kesamaan itu membuat Darwin nyaman berada di dekat wanita cantik itu.


“Kau sudah pulang, Mas?” tanya Asmira.


Darwin sedikit terkejut, karena asyik melamun ia tak sadar Asmira sedang menunggunya di ruang televisi sembari menemani Evano mengerjakan tugas sekolahnya.


“Bagaimana kerjamu? Apa semuanya lancar?”


“Iya sayang, semuanya baik-baik saja,” sahut Darwin memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


Asmira membulat mulutnya sembari mengangguk pelan. Kemudian ia memanggil Bu Ida agar menemani Evano tidur karena tugasnya telah selesai.


“Mama kemari tadi siang, selisih beberapa menit setelah keberangkatan, Mas.”


“Oya, kasihan sekali aku tidak bertemu dengan mereka,” ujar Darwin.


“Ya, mereka melihatmu masuk ke pekarangan sekolah,” ujar Asmira.


Darwin terkejut mendengar ucapan Asmira. “Apa lagi yang mama katakan?” tanya Darwin mengulik informasi. Jantungnya berdegup kencang, bagaimana jika orang tuanya melihatnya.


“Enggak ada, cuma mama kemari karena bermimpi buruk tentang Mas katanya. Melihat Mas baik-baik saja, mama ikut senang.”


Darwin mengembuskan nafasnya perlahan, ia lega mendengarnya.

__ADS_1


••


Keesokan harinya, Darwin berangkat ke kantor. Setelah sarapan dan di antar Asmira ke teras, Darwin melaju pergi dengan kendaraan kesayangannya itu.


“Bagaimana sudah kau lakukan yang saya perintahkan?” tanya Darwin begitu berpapasan Pratiwi di lift.


“Sudah, Pak. Emailnya sudah saya kirimkan untuk pak Haris. Tapi saya belum mengeceknya apa beliau sudah membalas atau belum.”


“Semuanya baik-baik saja Tiwi. Ia mencoba menipu kita, halusinasinya untuk menjadi seorang direktur sangat besar.” Darwin menyunggingkan senyum di wajahnya.


Pratiwi menatap aneh Darwin tanpa berani berkomentar banyak, ia penasaran mengapa Darwin mengetahui banyak hal mengenai kebohongan Haris. Tapi sudahlah, asal semuanya baik-baik saja, itu lebih dari cukup. Batin Pratiwi.


Saat mereka keluar dari lift, Darwin menyuruh Pratiwi mengatur jadwal untuknya beberapa hari ke depan. Ia ingin berlibur sementara waktu.


“Untuk berapa hari, Pak?” tanya Pratiwi.


“Sebentar saya tanya A ....” Darwin menghentikan ucapannya, hampir saja ia mengatakan Ayu.


“Saya tanyakan dulu, nanti saya hubungi,” ucapnya kemudian ia berlalu ke ruangannya.


Darwin menghubungi Yunita. Wanita itu sangat gembira menerima panggilan dari Darwin pagi-pagi. Ia memberikan kebebasan pada Darwin, berapa hari ia ingin berlibur dengannya. Yunita hanya mengikuti saja.


“Pratiwi, atur waktu tiga hari ke depan, ya?”


“Aku rasa, 3 hari cukup untuk menemani Yunita berlibur,” gumam Darwin dalam hati.



Malam harinya, Asmira membantu Darwin mengemasi barang-barang yang perlu ia bawa. Darwin telah menitipkan Asmira dan Evano kepada Pak Yun dan Bu Ida. Untuk 3 hari ke depan ia akan ke luar kota.


“Sudah, Mas tidurlah. Aku baik-baik saja, kerja yang benar, Mas tidak perlu risau, ada si Baby yang menguatkan aku,” ucap Asmira.


Darwin terdiam mendengar ucapan Asmira. Ia merasa bersalah, tapi ia sudah terlanjur berjanji dengan Yunita. Darwin mengembuskan nafasnya kasar, ia mencium Asmira berkali-kali.


Malam itu mereka habiskan bersama, mengingat untuk 3 hari ke depan Darwin tidak bersama istrinya, ia pasti akan merindukan permainan ranjang mereka. Asmira tetap lihai walau ia sedang hamil. Darwin sangat puas menikmati pelayanan istrinya malam ini. Setelah keduanya mencapai puncak kenikmatannya, dan aktivitas malam itu pun selesai, lalu keduanya sama-sama tidur dan terlelap hingga pagi menyapa.


Jangan lupa like ya....

__ADS_1


__ADS_2